NovelToon NovelToon
Tuan Muda Harta Langit

Tuan Muda Harta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:95.4k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tingkatan Beladiri

Gao Rui dan Bai Kai akhirnya sampai di taman. Langkah mereka melambat begitu memasuki area itu. Jalan setapak batu kecil membelah taman, diapit oleh semak-semak rapi dan beberapa pohon tua yang daunnya bergoyang pelan tertiup angin malam. Cahaya lampu gantung yang redup membuat suasana terasa tenang… hampir seperti dunia yang terpisah dari hiruk-pikuk kota.

Gao Rui berhenti. Ia sedikit mengangkat kepalanya… memandang langit. Langit malam itu bersih. Bintang-bintang bertaburan, samar tertutup cahaya kota, namun masih cukup jelas untuk dinikmati. Untuk sesaat, ia tidak berkata apa-apa.

Bai Kai berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ia tidak mengganggu. Hanya memperhatikan.

“Aku memang belum mengantuk,” kata Gao Rui akhirnya, suaranya santai. “Jadi kupikir… tidak ada salahnya datang ke sini sebentar.”

Bai Kai mengangguk kecil.

“Udara malam seperti ini memang jarang didapat,” jawabnya tenang.

Gao Rui tersenyum tipis, masih menatap langit.

“Menenangkan,” tambahnya.

Beberapa saat… mereka hanya berdiri seperti itu. Angin berhembus pelan. Suara dedaunan menjadi latar yang halus. Lalu Gao Rui mulai berjalan lagi, menyusuri jalan setapak. Bai Kai mengikutinya, menjaga jarak yang tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk bereaksi kapan saja.

Percakapan mereka pun mengalir ringan. Tentang kota ini. Tentang penginapan. Bahkan sesekali Gao Rui mengomentari bentuk taman yang menurutnya “terlalu rapi” dan kurang alami. Bai Kai hanya menanggapi seperlunya, meski dalam hati ia sedikit heran melihat sisi santai dari Tuan Mudanya itu.

Namun setelah beberapa saat… Bai Kai akhirnya membuka topik lain.

“Tuan Muda,” katanya pelan.

Gao Rui melirik sedikit.

“Ada apa?”

Bai Kai tampak ragu sejenak… tapi tetap melanjutkan.

“Aku mendengar sesuatu,” katanya. “Kau… sudah berada di ranah pendekar raja?”

Langkah Gao Rui tidak berhenti.

Ia hanya mengangguk ringan.

“Iya.”

Jawabannya sederhana. Tanpa nada membanggakan. Seolah itu hal biasa. Namun… Bai Kai tertawa pelan. Bukan mengejek. Bukan meremehkan. Tapi lebih seperti… tidak percaya.

“Menarik,” katanya sambil menggeleng kecil. “Pada saat aku seumuranmu… aku bahkan sangat jauh dari menyentuh ranah itu.”

Ia melangkah sedikit lebih cepat, kini sejajar dengan Gao Rui.

“Aku masih berjuang di tingkat yang jauh di bawah,” lanjutnya. “Bahkan bisa dibilang… tertinggal sangat jauh.”

Gao Rui meliriknya sekilas, tapi tidak berkata apa-apa.

Bai Kai tersenyum tipis.

“Kau tahu,” katanya lagi, “kalau kita seumuran… dan kau benar-benar serius…”

Ia berhenti sejenak. Tatapannya kini tertuju lurus ke depan.

“…mungkin kau bisa membunuhku.”

Kalimat itu jatuh dengan nada santai… namun maknanya berat.

Langkah Gao Rui akhirnya berhenti. Ia menoleh. Menatap Bai Kai. Beberapa detik… tidak ada suara. Lalu....

“Hm…”

Gao Rui menggaruk pipinya pelan, wajahnya terlihat agak canggung.

“Itu… agak berlebihan,” katanya.

Nada suaranya ringan, hampir seperti menolak pujian. Namun Bai Kai hanya tersenyum.

“Tidak,” jawabnya tenang. “Aku tahu menilai orang.”

Tatapan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya sejak tadi… suasana di antara mereka berubah sedikit. Tidak lagi sekadar santai. Ada sesuatu yang lebih dalam.

Gao Rui memandang Bai Kai beberapa saat… lalu menghela napas kecil.

“Kalau aku benar-benar harus melawanmu…” katanya pelan, “aku tidak yakin itu akan mudah.”

Ia tersenyum tipis.

“Tapi… aku juga tidak akan lari.”

Bai Kai terdiam. Lalu… ia tertawa lagi. Kali ini sedikit lebih lepas.

“Bagus,” katanya. “Setidaknya kau tidak hanya punya bakat… tapi juga keberanian.”

Gao Rui mengangkat bahu.

“Kalau tidak berani… untuk apa kuat?” balasnya santai.

Angin kembali berhembus. Namun kali ini… suasana terasa sedikit berbeda. Di balik percakapan ringan itu, ada pengakuan diam-diam.

Bai Kai tidak lagi melihat Gao Rui hanya sebagai “Tuan Muda”. Dan Gao Rui… juga mulai memperlakukan Bai Kai bukan sekadar pengawalnya.

Langkah mereka kembali berlanjut di taman yang sunyi itu… di bawah langit malam yang tetap tenang, seolah menyimpan banyak hal yang belum terucapkan.

* Tingkatan Ranah Kultivasi Pendekar:

Dari yang paling lemah ke yang paling kuat.

● Pendekar Dasar adalah seseorang  telah menguasai jurus dasar beladiri. Mereka mengandalkan kekuatan fisik, namun belum mampu menggunakan tenaga dalam.

● Pendekar Pertama adalah pendekar dasar yang telah membuka dantiannya. Mereka sudah mampu menggunakan tenaga dalam dalam pertarungan.

● Pendekar Menengah adalah pendekar pertama yang telah membentuk setidaknya enam puluh lingkaran tenaga dalam.

● Pendekar Ahli adalah pendekar yang telah memperkuat dirinya hingga batas ototnya telah mencapai tingkatan kawat,  dan tulang tingkatan baja. Pendekar ahli memiliki minimal seratus dua puluh lingkaran tenaga dalam.

● Pendekar Raja adalah pendekar ahli yang telah memperkuat dirinya. Kekuatannya setidaknya menyamai sepuluh pendekar ahli. Pada fase ini aura pendekar ini sudah berbeda dengan aura pendekar ahli.

● Pendekar Suci adalah pendekar raja yang berhasil membuka gerbang meridian pertama. Butuh sumber daya yang cukup besar untuk mencapai ranah kultivasi ini.

● Pendekar Bumi: adalah pendekar suci yang telah membuka sepuluh titik gerbang meridiannya. Saat berada di ranah ini, seseorang dapat mengolah tenaga dalam jenis lain bernama qi.

● Pendekar Langit adalah pendekar bumi yang telah mengumpulkan minimal sepuluh ribu lingkaran qi. Kehadirannya dianggap mampu menggetarkan langit.

● Pendekar Alam adalah pendekar langit dengan kemampuan mengguncang dunia. Pada saat  seseorang menembus ranah kultivasi ini, bumi akan bergetar hebat dan terjadi gempa dimana-mana. Seakan-akan sedang menyambut kelahiran pendekar alam.

● Pendekar Dewa adalah tingkatan pendekar di atas semua makhluk fana. Hanya dengan tatapan mereka, makhluk hidup tunduk. Alam pun menghamba, awan-awan menutupi mereka dari matahari agar sang dewa tak terusik dan marah.

* Tingkatan Tulang Manusia.

Dari yang paling lemah ke yang paling kuat.

● Tulang Kayu

● Tulang Besi

● Tulang Baja

● Tulang Perunggu

● Tulang Perak

● Tulang Emas

● Tulang Berlian

* Tingkatan Pusaka

Dari yang paling lemah ke paling kuat

● Pusaka Kelas Tiga

● Pusaka Kelas Dua

● Pusaka Kelas Satu

● Pusaka Raja

● Pusaka Bumi

● Pusaka Langit

● Pusaka Alam

...********...

Hari berganti… keesokan harinya. Cahaya matahari pagi perlahan masuk melalui celah jendela kamar, menyapu lantai kayu dengan warna keemasan yang hangat. Gao Rui mengerjap pelan… lalu membuka matanya.

Beberapa detik ia hanya berbaring, menatap langit-langit kamar. Ingatan semalam perlahan kembali. Percakapan di taman… angin malam… dan kata-kata Bai Kai.

“…kalau kita seumuran… mungkin kau bisa membunuhku.”

Gao Rui menghela napas kecil, lalu menutup wajahnya dengan tangan.

“Orang itu…” gumamnya pelan.

Ia lalu duduk perlahan di tepi ranjang. Tubuhnya terasa ringan, tapi pikirannya masih sedikit dipenuhi sisa percakapan semalam. Tanpa sadar… mereka memang berbincang cukup lama. Sangat lama. Bahkan lebih lama dari yang ia kira.

Gao Rui berdiri, meregangkan tubuhnya sedikit. Hari ini… Ia berhenti sejenak.

“…aku tidak punya apa-apa untuk dilakukan.”

Nada suaranya terdengar datar, tapi ada sedikit rasa aneh di dalamnya. Pagi ini… benar benar kosong.

Ia mengingat kembali. Malam nanti… ia hanya perlu menemani Bibi Ya menghadiri ulang tahun rekannya. Hanya itu.

Gao Rui mengangkat bahu.

“Yah… tidak buruk juga,” katanya santai.

Ia kemudian berjalan menuju kamar mandi. Suara air terdengar tak lama kemudian. Waktu berlalu cukup cepat, dan tak lama ia sudah selesai bersiap. Pakaian rapi, rambut diikat sederhana.

Ia membuka pintu kamar dan melangkah keluar. Niatnya sederhana, sarapan. Namun… langkahnya berhenti begitu melihat sosok yang berdiri tidak jauh dari pintu. Bai Kai.

Pria itu berdiri dengan santai, bersandar ringan di pilar, seolah sudah menunggu cukup lama. Melihat Gao Rui keluar, ia langsung tersenyum tipis.

“Pagi, Tuan Muda.”

Gao Rui mengangkat alis.

“Kau sudah di sini?” tanyanya.

“Sudah cukup lama,” jawab Bai Kai ringan.

Gao Rui menatapnya sebentar, lalu bertanya,

“Bibi Ya sudah bangun?”

Bai Kai justru tertawa kecil.

“Nyonya Ya?” ulangnya. “Ia bahkan sudah pergi ke toko sejak pagi buta.”

Gao Rui sedikit terkejut.

“Sepagi itu?”

“Ia tidak pernah benar-benar ‘beristirahat’,” jawab Bai Kai santai. “Itu sudah biasa.”

Gao Rui mengangguk pelan, lalu bertanya lagi,

“Dia tidak memintaku datang ke sana?”

Bai Kai menggeleng.

“Katanya… itu terserahmu.”

Gao Rui terdiam sejenak. Tatapannya sedikit kosong… seperti sedang menimbang sesuatu. Lalu… ia menghela napas kecil.

“Kalau begitu…” katanya santai, “temani aku berjalan-jalan di kota ini dulu.”

Ia melirik Bai Kai.

“Setelah itu… kita ke toko.”

Bai Kai tersenyum.

“Dimengerti, Tuan Muda.”

Tanpa banyak kata lagi, keduanya mulai berjalan.

Pagi di kota itu sudah cukup hidup. Pedagang mulai membuka lapak, suara tawar-menawar terdengar di beberapa sudut, dan aroma makanan hangat mulai memenuhi udara.

Gao Rui berjalan santai, tangannya di belakang punggung. Tatapannya menyapu sekitar. Namun kali ini… berbeda. Ia tidak sedang mengamati sebagai seorang pendekar. Ia hanya… berjalan menikmati suasana.

Sesekali ia berhenti melihat sesuatu, entah itu pedagang kecil, anak-anak yang berlarian, atau sekadar bangunan tua yang berdiri kokoh di tengah kota. Bai Kai mengikuti di sampingnya. Diam… tapi waspada.

Namun dalam diam itu, ia memperhatikan satu hal. Gao Rui terlihat… lebih santai dari biasanya. Seolah untuk pertama kalinya dalam waktu lama… ia benar-benar tidak memikirkan kekuatan, ranah, atau pertarungan.

Hanya berjalan. Sebagai dirinya sendiri. Dan pagi itu… tanpa mereka sadari… Hari yang tampak biasa itu… perlahan mulai bergerak menuju sesuatu yang tidak biasa.

1
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Rui emang numero uno 🔥🌽
Nanik S
Naga Baja... apakah akan mengubah Kerjasama Patriak Shoi dan Harta Langit terus berlanjut
Nanik S
Gao Rui... membuat kejutan gak main main....Bahkan tidak sebanding dg Emas dan Permata ..Baru Naga Baja
Arie Chaniago70
kapan Thor Gao rui ini melanglana buana seperti gurunya,,,masak main dikandang aja nggak paten,,,jadi kurang Greg ceritanya
Eka Haslinda
hadiah pertama.. hadiah kedua.. ketiga.. owalaahhhh buanyak.. gak payu lagi hadiah rumah dagang Naga Emas 🤣🤣🤣
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
tariii
ayo, Rui.. kamu mau kasih hadiah apa? yg pasti harus lebih wowwww dari si cincaooooo itu yaaa...😂😂
will
klo ada pil anti miskin..mau donk gao rui 🤭👍
Heri Victor Purba
maen kali ceritanya bah.. bikin dag dig dug ser.. jalan ceritanya macam jalan kelok 44 .. gas thor
y@y@
⭐👍🏾🌟👍🏾⭐
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe...hadiah yg melebihi hadiah orang lain🤣👍👍
Zainal Arifin
joooooooosssss 😍😍🤭
indrawanto djiwanto
hadiah pertama berarti ada hadiah lanjutan. hadiah kedua pil utk membantu kultivasi, hadiah ketiga pil kecantikan.
Jeffie Firmansyah: Bisa jadi pil kecantikan tuk istrinya
total 1 replies
Maz Shell
lagi update terbaru
sam
Jagoan turun tangan
Arie Chaniago70
🙂🙂🙂🙂🙂👍👍👍👍💪💪💪💪🍩🍩🍩🍩☕☕☕🌹🌹🌹
y@y@
👍🏿💥👍🏼💥👍🏿
Hadi Wahyono
hadiah 1 mawar dan vote
budiman_tulungagung
satu mawar 🌹 lagi
Andi Heryadi
sepertinya Gao Rui akan memberi ginseng seribu tahu buat tuan Shou,agar tuan Shou bisa perkasa dlm mantap2🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!