NovelToon NovelToon
GADIS PEMBAWA SIAL, DI CINTAI DUDA KAYA RAYA

GADIS PEMBAWA SIAL, DI CINTAI DUDA KAYA RAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa idayu

Nayra Agata Kennedy, ia merupakan putri bungsu dari Lukas Kennedy, Nayra memliki saudari kembar bernama Nayla (Nayla lahir 45 menit lebih dulu), lahir dengan membawa duka. Ibunya meninggal dunia karena pendarahan hebat setelah berjuang melahirkannya, membuat Nayra dibenci ayah dan ketiga kakak laki-lakinya selama 21 tahun. Hanya Nayla yang selalu peduli padanya.

Takdir berubah saat Nayra bertemu seorang miliarder tampan. Dipersunting olehnya, hidup Nayra berubah drastis, dari yang dulu diabaikan, kini ia dimanjakan layaknya putri raja oleh suaminya yang penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa idayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Musibah Atau Anugrah

"Bi, nanti kalau kakak-kakak tanya tentang ku, bilang aja aku ke rumah sakit ya bi" ucap Nayra dengan menenteng tas nya menghampiri bi Surti yang berada di dapur

"Loh, belum sembuh juga ndok?" Tanya bi Surti yang memang sudah tahu keluhan Nayra beberapa bulan terakhir ini

"Belum bi, sudah dua Minggu dan haid ku masih saja deras" jawab Nayra menatap wanita paruh baya yang sudah merawat nya sejak kecil itu

"Ya Allah. Kenapa sekarang kamu sering seperti ini ya ndok?" keluh bi Surti mengelus rambut Nayra penuh perhatian

"Aku baik-baik saja kok bi, sebaiknya aku cepat periksa deh. Takut terjadi apa-apa nantinya. Soalnya ini urusan sama rahim juga bi" ucap Nayra berusaha menenangkan bi Surti

"Kamu pergi sama siapa ndok?" Tanya bi Surti khawatir

"Sendiri bi" jawab Nayra mengusap lengan bi Surti yang sudah ia anggap seperti ibu nya sendiri itu

"Bawa mobil?" Tanya bi Surti dengan dahi mengerut

"Aman bi, Nayra kan sudah lancar bawa mobil" jawab Nayra yang faham bi Surti tengah khawatir, sehingga bukan nya menjawab ia justru menenangkan

"Hati-hati Lo ndok. Apa bibi telpon mas mu aja? biar mas mu yang antar" ucap bi Surti, karena pak Tarjo sendiri memang sedang sibuk membantu Nagara sebagai supir

"Tidak perlu bi, kasihan mas Awan dan mas Alam pasti repot. Biar aku pergi sendiri saja bi" ucap Nayra tersenyum lembut

"Hati-hati ya ndok. Kalau ada apa-apa langsung kabarin ya" ucap bi Surti penuh kekhwatiran

"Siap bi" jawab Nayra kemudian mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dengan takzdim

ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

Hujan baru saja reda, meninggalkan bekas genangan air di setiap lorong dan kilauan menyilaukan pada permukaan aspal parkiran. Alam menginjakkan kaki dengan berat, tubuhnya terlihat acak-acakan seolah tak punya arah. Rambutnya yang sedikit kusut masih terlihat lembap oleh tetesan embun atau mungkin air keringat. Di genggaman kanannya, sebuah map kertas berwarna biru muda tampak sedikit kusut di sudut-sudutnya, di dalamnya terlipat rapi ijazah sarjana, surat lamaran, dan beberapa dokumen penting yang sudah ia persiapkan dengan sangat cermat selama seminggu terakhir.

Langkahnya terhenti saat sebuah suara pekik keras menyambar telinganya, menyebar ke seluruh sudut parkiran yang mulai ramai dengan kendaraan yang masuk dan keluar.

"MAS ALAM!"

Alam menoleh perlahan ke arah sumber suara, matanya yang sedikit lelah berusaha fokus pada sosok pria muda yang baru saja turun dari mobil mewah berwarna hitam mengkilap. Pakaian jasnya yang rapi dan sepatu kulit yang bersih membuatnya tampak sangat berbeda dengan diri Alam yang hanya mengenakan kemeja polos dan celana panjang yang sudah mulai memudar warnanya.

"Mas Nathan?" ucap Alam dengan suara yang hampir tak terdengar, bibirnya sedikit pucat saat menyapa pria yang merupakan anak dari majikan keluarga nya itu.

Nathan melangkah cepat mendekatinya, wajahnya yang biasanya ceria kini tertutup rasa prihatin. Ia berdiri tepat di depan Alam, mata nya memandang ke arah map yang masih digenggam erat oleh tangan kanan Alam.

"Sini mas!" panggil Nathan lagi, mengangkat dagunya ke arah sebuah bangunan besar dengan tulisan emas yang mencolok, "KEMANG GRILL & DINING". Cahaya lampu hias di dalamnya menerangi bagian depan restoran dengan sangat jelas.

Alam mengikuti langkah Nathan dengan kaki yang terasa berat, setiap langkahnya seolah membawa beban yang semakin menekannya. Setelah jarak mereka cukup dekat, ia akhirnya berani mengeluarkan suara.

"Mas kenapa di sini?" tanya Alam dengan nada yang lesu, matanya tetap menatap lantai.

Nathan menghela napas perlahan, kemudian tersenyum lembut. "Loh, ini salah satu restoran ku juga mas," jawabnya dengan nada ramah, tapi ada kedalaman perhatian yang terasa di setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Alam mengangkat pandangannya sedikit, melihat sekeliling restoran yang terlihat sangat mewah dengan dekorasi kayu asli dan taman kecil di bagian depan. Ia merasa diri semakin kecil di hadapan kemewahan yang ada di depannya.

"Mas dari mana?" tanya Nathan lagi, sambil menyilangkan tangan di depan dadanya, tetap memperhatikan ekspresi wajah Alam yang tampak sangat lelah.

"Dari sebrang, ngelamar kerjaan di perusahaan itu," jawab Alam sambil menunjuk ke arah gedung perkantoran bertingkat yang berdiri megah di seberang jalan raya. Suaranya semakin lesu, seolah sudah menyerah sebelum cerita itu bahkan dimulai.

Nathan mengangguk perlahan, seolah sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Alam selanjutnya. "Gagal?" tanya dia dengan nada yang lembut, tidak ingin membuat Alam merasa lebih malu dari yang sudah ia rasakan.

Alam hanya bisa mengeluarkan senyuman pahit, bibirnya sedikit menggigit bagian dalam pipinya sebelum ia mengangguk perlahan sebagai jawaban. Air mata yang sudah lama ia tahan hampir keluar, tapi ia segera menekannya dengan menutup mata sebentar.

"Sudah, masuk yuk. Istirahat dulu, pasti belum makan kan?" ucap Nathan dengan nada yang penuh perhatian, tangannya sudah mulai mengarah ke arah pintu masuk restoran.

Alam segera menggelengkan kepalanya, kedua tangannya bergerak seperti ingin menolak dengan sopan. "Ah, tidak perlu mas. Nanti mas rugi," kata Alam dengan suara yang lembut tapi tegas, ia tidak ingin merasa menjadi beban bagi siapapun, bahkan untuk majikan yang sudah lama mengenalnya. Apa lagi ia faham betul kakak-kakak Nayra terlihat tidak begitu menyukai nya, itu semua karena Alam di nilai terlalu memanjakan Nayra yang menurut mereka pembawa sial

Nathan tertawa sedikit, wajahnya kembali menunjukkan senyum yang hangat. "Tenang, duit ku banyak. Kalau cuma ngasih makan mas mah enggak mungkin rugi," kelakarnya sambil menepuk bahu Alam dengan lembut. Sentuhan itu terasa hangat dan memberikan sedikit kehangatan pada hati Alam yang sedang sangat dingin.

Alam masih ragu, matanya melihat ke arah pintu restoran kemudian kembali ke wajah Nathan. "Enggak papa nih, enggak merepotkan?" tanya dia sekali lagi, masih merasa tidak nyaman untuk menerima bantuan.

Pada saat ini, ekspresi wajah Nathan berubah menjadi lebih serius, tapi tetap penuh kasih sayang. Ia menarik lengan Alam dengan lembut, membuat mereka berjalan beriringan menuju pintu masuk. "Mas, kedua orang tua mas sudah lama kerja di rumah kami, apa lagi ibu mas. Beliau sudah kerja sejak kami kecil, mas juga. Udah merawat adik bungsu ku seperti adik kandung sendiri, itu artinya mas juga saudara ku, ayok lah," ucap Nathan dengan nada yang penuh keyakinan, membuat Alam tidak punya pilihan lain selain mengikuti langkahnya.

Setelah memasuki restoran, Alam terpana melihat suasana di dalamnya. Lampu gantung bergaya klasik menerangi setiap sudut ruangan, meja-meja kayu besar dengan taplak meja bersih tersusun rapi, dan aroma makanan lezat memenuhi setiap bagian udara. Pelayan-pelayan dengan seragam rapi tersenyum ramah pada setiap tamu yang datang.

"Hebat ya mas. Baru umur 27 tahun udah punya ratusan restoran mewah," puji Alam dengan suara yang penuh kagum, langkahnya menjadi lebih ringan saat mereka berjalan menuju salah satu meja di sudut ruangan yang lebih tenang.

Nathan tersenyum sambil mengangguk, kemudian membuka kursi untuk Alam dengan sopan. "Alhamdulillah mas, mas juga suatu saat pasti bisa sukses, tapi mas. Kenapa sih mas tidak mau menerima pekerjaan yang Kak Naga kasih? kalau mas tidak mau berkerja di perusahaan kak Naga mas bisa kerja di restoran ku Lo. Mas mau posisi apa aja aku kasih deh. Atau mas mau ku kasih beberapa restoran untuk di kelola?" tanya Nathan dengan penuh semangat, sambil duduk di kursi di seberang Alam.

Alam tertawa kecil dengan suara yang lembut, kemudian perlahan mendudukkan pantatnya di kursi yang sudah disediakan. Ekspresi wajahnya sedikit rileks setelah merasa diterima dengan hangat. "Kalau cuma mau sukses tanpa hasil keringat sendiri mah kecil banget mas, mas tahu sendiri ibu dan bapak ku kerja ikut keluarga mas sudah lama, tabungan mereka bahkan sudah ratusan juta mas, sampai di kasih warisan Miliran tuh sama mendiang almarhum papa mas," kelakar Alam sambil mengangkat bahu, namun di balik candaan itu ada keyakinan yang kuat yang terpancar dari matanya.

Nathan mengangguk dengan penuh penghargaan, kemudian menggelengkan kepalanya perlahan. "Ngomong-ngomong panggil aku Nathan aja deh, umur mas kan dua tahun lebih tua," ucapnya dengan sopan, ingin menghilangkan jarak antara mereka yang selama ini terasa karena hubungan majikan dan karyawan.

Alam sedikit merasa sungkan, wajahnya sedikit memerah. "Tapi mas kan anak majikan orang tua Saya," ucapnya dengan suara yang rendah, masih merasa tidak nyaman untuk menyebut nama langsung sang majikan muda.

Nathan menepuk meja dengan lembut, kemudian menatap Alam dengan mata yang penuh keikhlasan. "Anggap aja kita saudara, orang tua mas juga udah kaya orang tua ku kok," ucap Nathan dengan nada yang bijak, seolah usianya jauh lebih tua dari usia sebenarnya yang baru 27 tahun. Kata-katanya terasa begitu tulus hingga membuat Alam merasa sangat terhormati.

Setelah beberapa saat diam dan memikirkan kata-kata Nathan, Alam akhirnya tersenyum lebar, ekspresi wajahnya yang dulu lesu kini mulai bersinar kembali. "Baiklah Nathan," ucapnya dengan suara yang lebih tegas dan penuh rasa hormat, senyumnya terlihat begitu tulus.

Nathan tersenyum puas melihat perubahan ekspresi wajah Alam. "Gini kan enak, bentar aku minta pelayan siapkan makanan best seller buat mas ya," ucapnya sambil berdiri perlahan, kemudian memanggil salah satu pelayan dengan tangan yang mengangkat sedikit. Pelayan tersebut segera mendekat dengan senyum ramah dan siap menerima pesanan.

Setelah memberikan pesanan, Nathan kembali duduk dan menatap Alam dengan penuh perhatian. Ia ingin tahu lebih banyak tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan teman sekaligus saudara angkatnya ini. "Jadi Gimana mas tadi? Maksudnya mas pingin sukses dengan hasil keringat mas sendiri gitu?" tanya Nathan dengan nada yang penuh rasa ingin tahu, tapi tetap menghormati privasi Alam.

Alam menghela napas dalam-dalam, kemudian menatap mata Nathan dengan pandangan yang penuh keyakinan. "Iya Than, aku ini sarjana. Aku harus bisa buktikan bisa sukses tanpa modal orang tua atau pun bantuan dari orang terdekat orang tua Than," jawabnya dengan suara yang tegas dan jelas, setiap kata yang keluar dari mulutnya menunjukkan tekad yang kuat yang tidak bisa mudah diubah.

Nathan terdiam sejenak, kemudian mengangguk dengan penuh penghargaan. Ia melihat ke arah Alam dengan mata yang penuh kagum. "Wah, keren sih mas, salut aku sama mas," puji Nathan dengan tulus, benar-benar terkesan dengan tekad yang dimiliki oleh Alam. Di dalam hatinya, ia berjanji akan selalu mendukung Alam, bahkan jika Alam tidak mau menerima bantuan secara langsung darinya.

Saat itu juga, pelayan datang membawa hidangan panas yang aromanya sangat menggugah selera. Alam melihat makanan di atas meja dengan mata yang sedikit membesar, sudah lama sekali ia tidak makan makanan dengan porsi yang cukup besar dan rasanya yang lezat. Nathan melihat ekspresi wajah Alam dan tersenyum puas, tahu bahwa setidaknya pada saat ini, ia bisa memberikan sedikit kebahagiaan bagi orang yang dianggapnya sebagai saudara sendiri.

1
Monroe George
dunia Nayra msih baik" sja coz pnya saudara kembar yang peduli 👍
Monroe George
marathon aku kak, seru crita nya 💪
Monroe George
CEO ni nnti yang nikahi Nayra 🤭
Ardy Ansyah
teraniaya dulu bahagia kemudian 🤣. suka aku tuh kalau alur yang begini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!