Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7:Hutan Yang Gelap Dan Pertemuan Yang Tak Terduga
Fajar menyingsing dengan cahaya yang redup, menembus celah-celah daun pohon yang lebat dan menyebarkan bayang-bayang yang aneh di tanah hutan. Lira terbangun karena suara burung hantu yang masih berkicau, seolah-olah malam belum mau berakhir. Dia membuka matanya dan melihat Kaelen sudah bangun, duduk di dekat pintu gua sambil menatap ke arah hutan yang gelap dan misterius di depan mereka. Punggung pria itu tampak tegap, namun Lira bisa merasakan ketegangan yang ada di dalam dirinya—seolah-olah Kaelen sedang merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Lira bangun dari tempat tidurnya yang sederhana, merapikan pakaiannya, dan berjalan mendekati Kaelen. "Selamat pagi, Yang Mulia," katanya lembut. "Apakah ada sesuatu yang salah?"
Kaelen menoleh, dan matanya yang biru menatap Lira dengan pandangan yang serius. "Selamat pagi, Lira. Tidak ada yang salah, tapi saya bisa merasakan aura yang aneh dari hutan ini. Aura yang gelap dan jahat. Sepertinya kekuatan gelap itu sudah menyebar sampai ke sini."
Lira merasa jantungnya berdegup kencang. Dia tahu bahwa mereka akan segera menghadapi bahaya, tapi mendengarnya langsung dari Kaelen membuatnya merasa lebih cemas. Namun, dia mencoba untuk tetap tenang. Dia tidak boleh menunjukkan rasa takutnya. Dia harus kuat, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk Kaelen.
"Baiklah," kata Lira, suaranya tegas. "Kita harus tetap waspada. Tapi kita tidak boleh mundur. Kita harus terus maju."
Kaelen tersenyum kecil, mengangguk setuju. "Benar. Kita tidak boleh mundur. Mari kita sarapan dulu, lalu kita akan melanjutkan perjalanan kita."
Mereka makan sarapan dengan cepat—roti kering dan sedikit buah yang mereka bawa dari Kerajaan Celestial. Setelah itu, mereka mengemasi barang-barang mereka dan siap untuk melanjutkan perjalanan. Mereka melangkah keluar dari gua, dan segera masuk ke dalam hutan yang lebat dan gelap itu.
Hutan ini sangat berbeda dengan hutan yang ada di sekitar Kerajaan Celestial. Di sana, pohon-pohon tertutup es dan salju, dan udaranya dingin namun bersih. Tapi di sini, pohon-pohon tampak kering dan mati, dengan dahan-dahan yang melengkung seperti tangan-tangan yang ingin menangkap siapa pun yang lewat. Tanah di bawah kaki mereka berlumpur dan licin, dan udaranya berbau busuk—bau seperti daging busuk dan asap hitam. Suara-suara aneh terdengar dari segala arah—suara binatang yang mengerang, suara daun yang berdesir, dan suara sesuatu yang bergerak di antara semak-semak.
Lira menggenggam pedang esnya dengan erat, matanya memindai sekelilingnya dengan waspada. Kaelen berjalan di depannya, juga dengan pedangnya yang terhunus, siap untuk menghadapi apa pun yang datang. Mereka berjalan perlahan dan hati-hati, tidak ingin membuat suara yang bisa menarik perhatian musuh.
Setelah berjalan selama beberapa jam, mereka tiba di sebuah tempat terbuka di tengah hutan. Di tengah tempat terbuka itu, ada sebuah sumur tua yang sudah rusak, dengan dinding-dindingnya yang retak dan air yang keruh di dalamnya. Di sekitar sumur itu, ada beberapa bangunan kayu yang sudah hancur, seolah-olah pernah ada sebuah desa kecil di sini yang kemudian dihancurkan oleh kekuatan gelap.
"Lihatlah," kata Lira, menunjuk ke arah salah satu bangunan kayu yang masih berdiri sebagian. "Ada seseorang di sana."
Kaelen dan Lira berjalan mendekati bangunan itu dengan hati-hati. Saat mereka semakin dekat, mereka melihat bahwa itu adalah seorang wanita tua yang sedang duduk di depan pintu bangunan itu, memegang sebuah tongkat kayu di tangannya. Wanita itu tampak sangat tua, dengan rambut yang putih dan wajah yang penuh dengan kerutan. Namun, matanya tampak tajam dan cerah, seolah-olah dia bisa melihat segalanya.
Wanita itu menoleh saat mendengar suara langkah kaki mereka, dan dia menatap Kaelen dan Lira dengan pandangan yang tajam. "Siapa kalian?" tanyanya, suaranya serak namun tegas. "Mengapa kalian datang ke sini? Hutan ini bukan tempat yang aman untuk orang asing."
Kaelen melangkah maju, menatap wanita itu dengan hormat. "Kami adalah pelancong, Ibu. Kami sedang dalam perjalanan untuk melawan kekuatan gelap yang telah menghancurkan banyak tempat dan menyakiti banyak orang. Kami melihat tempat ini dan memutuskan untuk melihat apakah ada orang yang membutuhkan bantuan."
Wanita itu mendengarkan kata-kata Kaelen, dan matanya memindai wajah Kaelen dan Lira satu per satu. Tiba-tiba, matanya membelalak saat melihat garis-garis cahaya biru yang bersinar di tubuh Kaelen, dan juga cahaya yang sama yang bersinar lembut di tubuh Lira.
"Kalian..." bisik wanita itu, suaranya gemetar. "Kalian memiliki kekuatan es. Kalian berasal dari Kerajaan Celestial, bukan?"
Kaelen terkejut. Tidak banyak orang di dunia luar yang masih tahu tentang Kerajaan Celestial, apalagi bisa mengenali kekuatan es yang dimiliki oleh rakyatnya. "Ya, Ibu," jawab Kaelen. "Saya adalah Raja Kaelen dari Kerajaan Celestial. Dan ini adalah Lira, keturunan dari kerajaan kami juga."
Wanita itu tersenyum, dan air mata mulai mengalir di pipinya yang keriput. "Akhirnya... akhirnya kalian datang. Saya sudah menunggu kalian selama bertahun-tahun. Saya tahu bahwa suatu hari nanti, seseorang dari Kerajaan Celestial akan datang untuk menyelamatkan kami dari kegelapan ini."
Kaelen dan Lira saling menatap dengan heran. "Ibu tahu tentang kami?" tanya Lira.
Wanita itu mengangguk. "Ya, saya tahu. Saya adalah seorang peramal. Saya bisa melihat masa lalu, masa kini, dan masa depan. Bertahun-tahun yang lalu, saya melihat sebuah penglihatan—penglihatan tentang seorang Raja Es dan seorang wanita muda yang memiliki kekuatan yang sama, yang akan datang dari dunia es untuk melawan kekuatan gelap dan membawa kedamaian kembali ke dunia ini. Saya tidak pernah lupa penglihatan itu. Dan sekarang, kalian ada di sini, di depan mata saya."
Kaelen dan Lira terdiam. Mereka tidak pernah berpikir bahwa perjalanan mereka sudah diramalkan sejak lama. Itu membuat mereka merasa lebih yakin bahwa mereka berada di jalan yang benar, bahwa mereka memang ditakdirkan untuk melawan kekuatan gelap itu.
"Terima kasih, Ibu," kata Kaelen. "Kata-kata Ibu memberikan kami kekuatan dan harapan yang baru. Tapi sekarang, kami ingin bertanya—apakah Ibu tahu di mana kekuatan gelap itu berada? Apakah Ibu tahu di mana markas mereka?"
Wanita itu mengangguk lagi. "Ya, saya tahu. Kekuatan gelap itu dipimpin oleh seorang pria yang bernama Malakar. Dia dulunya adalah seorang penyihir yang kuat, tapi dia tergoda oleh kekuatan gelap dan menjadi jahat. Markasnya berada di sebuah benteng tua yang terletak di puncak Gunung Hitam, yang terletak di sebelah timur dari sini. Di sana, dia sedang mengumpulkan kekuatan untuk melancarkan serangan besar-besaran ke seluruh dunia."
"Gunung Hitam..." bisik Kaelen, memikirkan nama itu. "Saya pernah mendengar tentang tempat itu. Itu adalah tempat yang berbahaya dan penuh dengan kegelapan."
"Benar," kata wanita itu. "Tapi itu adalah satu-satunya cara untuk menghentikan Malakar. Jika kalian ingin mengalahkan dia, kalian harus pergi ke sana dan menghadapinya. Tapi hati-hati. Malakar sangat kuat, dan dia memiliki banyak pasukan monster dan penyihir jahat di sisinya. Perjalanan ke Gunung Hitam tidak akan mudah, dan kalian akan menghadapi banyak bahaya di sepanjang jalan."
"Kami siap menghadapi apa pun, Ibu," kata Lira, suaranya tegas. "Kami tidak akan berhenti sampai kami mengalahkan Malakar dan membawa kedamaian kembali."
Wanita itu tersenyum lagi, dan dia mengulurkan tangannya ke arah Lira. Di telapak tangannya, ada sebuah batu kecil yang berwarna merah menyala, yang bersinar dengan cahaya yang hangat. "Ini adalah Batu Api," katanya. "Batu ini memiliki kekuatan untuk melindungi kalian dari dingin dan kegelapan. Ini juga bisa digunakan untuk melawan musuh-musuh kalian. Saya memberikannya kepada kalian sebagai tanda harapan saya agar kalian berhasil dalam perjalanan kalian."
Lira mengambil batu itu dengan hati-hati, dan dia merasakan kehangatan yang mengalir melalui tubuhnya saat dia menyentuhnya. "Terima kasih banyak, Ibu," katanya. "Kami akan menjaga batu ini dengan baik."
"Dan ini juga untuk kalian," kata wanita itu, mengambil sebuah gulungan kertas dari saku bajunya dan memberikannya kepada Kaelen. "Ini adalah peta yang menunjukkan jalan ke Gunung Hitam. Peta ini dibuat oleh nenek moyang saya, dan itu sangat akurat. Ini akan membantu kalian menemukan jalan yang benar dan menghindari bahaya-bahaya yang ada di sepanjang jalan."
Kaelen mengambil gulungan kertas itu dan membukanya sedikit. Dia bisa melihat garis-garis yang menggambarkan hutan, sungai, gunung, dan jalan-jalan yang menuju ke Gunung Hitam. "Terima kasih, Ibu," katanya. "Peta ini sangat berharga bagi kami. Kami tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan Ibu."
"Tidak perlu membalas apa pun," kata wanita itu. "Yang saya inginkan hanyalah kedamaian kembali ke dunia ini. Dan saya tahu bahwa kalian adalah orang-orang yang bisa melakukannya. Sekarang, pergilah. Waktu tidak menunggu. Kalian harus segera pergi ke Gunung Hitam sebelum Malakar siap untuk melancarkan serangannya."
Kaelen dan Lira mengangguk dengan hormat. "Terima kasih lagi, Ibu," kata Kaelen. "Kami akan pergi sekarang. Semoga Ibu selamat dan sehat selalu."
Mereka berpamitan dengan wanita itu, lalu melanjutkan perjalanan mereka. Mereka berjalan meninggalkan tempat terbuka itu, kembali ke dalam hutan yang gelap dan berbahaya. Namun, kali ini, mereka merasa lebih kuat dan lebih yakin. Mereka memiliki peta yang menunjukkan jalan ke tujuan mereka, mereka memiliki Batu Api yang melindungi mereka, dan mereka memiliki harapan yang besar di dalam hati mereka.
Selama perjalanan mereka selanjutnya, mereka terus berbicara tentang apa yang mereka pelajari dari wanita peramal itu. Mereka berbicara tentang Malakar, tentang kekuatan gelapnya, dan tentang benteng tua di Gunung Hitam. Mereka juga berbicara tentang penglihatan wanita itu, tentang bagaimana mereka ditakdirkan untuk bertemu dan untuk melawan kekuatan gelap itu bersama-sama.
Semakin mereka berbicara, semakin mereka merasa dekat satu sama lain. Mereka menyadari bahwa perjalanan mereka bukan hanya tentang melawan kekuatan gelap dan menyelamatkan dunia, tapi juga tentang menemukan diri mereka sendiri, tentang menemukan cinta dan persahabatan yang sejati, dan tentang menemukan tujuan hidup mereka yang sebenarnya.
Malam itu, mereka beristirahat di sebuah tempat yang aman di tengah hutan, di bawah sebuah pohon besar yang rindang. Kaelen menciptakan api es seperti biasa, memberikan kehangatan dan perlindungan bagi mereka. Mereka duduk di dekat api itu, memakan makanan mereka, dan menatap langit malam yang berbintang.
"Lira," kata Kaelen tiba-tiba, menatap matanya dengan serius. "Saya ingin kamu tahu sesuatu. Apa pun yang terjadi di masa depan, apa pun yang kita hadapi di Gunung Hitam, saya akan selalu ada di sisimu. Saya akan melindungimu, dan saya akan mencintaimu selamanya."
Lira merasa air mata mengalir di pipinya. Dia tahu bahwa kata-kata Kaelen datang dari hati yang tulus. "Saya juga, Yang Mulia," katanya, suaranya gemetar. "Saya akan selalu ada di sisimu. Saya akan mencintaimu selamanya."
Mereka saling memandang, dan di bawah cahaya bintang dan cahaya api es, mereka merasakan cinta yang semakin tumbuh di antara mereka—cinta yang kuat, cinta yang tulus, dan cinta yang tidak bisa dipadamkan oleh apa pun.
Dan esok pagi, mereka akan melanjutkan perjalanan mereka, menuju Gunung Hitam.