Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!
Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
Dentum musik techno dari dalam klub perlahan memudar, digantikan oleh kesunyian udara malam yang menusuk kulit. Valerie melangkah keluar dengan kepala yang terasa sedikit mengambang.
Gaun selutut tanpa lengan yang melekat di tubuhnya tampak kontras dengan aspal jalanan yang gelap, namun ia tetap berusaha menjaga punggungnya tetap tegak.
Malam ini adalah pesta penyambutan mahasiswi baru, dan sebagai mahasiswi yang baru saja menginjakkan kaki di dunia kampus, dia pun ikut serta dalam perayaan itu.
Begitu kesadarannya mulai terasa tipis akibat beberapa gelas cocktail, Valerie tahu kapan harus berhenti. ia langsung memutuskan untuk angkat kaki dari ruangan itu, yang di penuhi para mahasiswa baru yang sebagian sudah teler.
Ia terlalu pintar untuk membiarkan dirinya menjadi sasaran empuk pria-pria hidung belang di dalam sana.
"Gila, kalau aku pingsan di dalam, bisa habis aku diterkam mereka," gumamnya pelan sambil bergidik ngeri.
Valerie mendengus kesal saat melirik jam tangan mewahnya. Sudah pukul dua belas malam. Ia berdiri di pinggir jalan, berusaha memindai keberadaan taksi, namun jalanan di depan klub itu tampak mati. Hanya ada beberapa kendaraan pribadi yang melintas cepat.
Kakinya mulai terasa pegal. Heels setinggi 7 sentimeter yang ia kenakan memang membuatnya tampak jenjang dan berkelas, tapi berjalan sempoyongan dengan sepatu itu bukanlah ide yang bagus.
"Ck, kenapa susah sekali cari taksi di sini?"
Valerie teringat sesuatu. Di samping gedung klub ini, ada sebuah gang yang berfungsi sebagai jalan pintas menuju jalan raya utama di sisi lain. Setahunya, jalan di seberang sana jauh lebih ramai dan peluang mendapatkan taksi akan lebih besar.
Meski kepalanya masih berputar, keberaniannya tidak luntur. Ia memutar arah menuju jalan tikus tersebut. Ia hanya ingin cepat sampai di apartemen, melempar sepatu mahalnya, dan tidur.
Tanpa ragu, Valerie melangkah masuk ke dalam kegelapan jalan pintas itu, tidak menyadari apa yang mungkin menunggunya di balik bayang-bayang tembok tua di sana.
Langkah kaki Valerie yang mengenakan heels terdengar bergema di antara dinding beton jalan tikus yang sempit itu. Suaranya seolah menjadi satu-satunya tanda kehidupan di sana.
Ia melangkah dengan harap-harap cemas, sesekali memegang dinding untuk menjaga keseimbangan.
"Jangan sampai ketemu orang mabuk.." bisiknya merapal doa dalam hati.
Tiba-tiba, rasa pening menghantam kepalanya lebih keras dari sebelumnya. Pandangan Valerie mengabur, membuat garis-garis dinding di sekitarnya tampak bergoyang.
Ia terpaksa berhenti sejenak, memejamkan mata rapat-rapat, dan menarik napas dalam-dalam untuk menormalkan penglihatannya.
Saat ia kembali membuka mata, jantungnya seakan merosot ke perut.
Di pertengahan jalan yang hanya diterangi satu lampu redup yang berkedip-kedip, Valerie menangkap sebuah bayangan. Ada siluet tubuh yang bersandar santai di tembok gedung.
Valerie mematung. Ia mengucek matanya dengan kasar, memastikan apakah alkohol tadi membuatnya berhalusinasi.
"Itu... manusia atau hantu?" pikirnya dengan bulu kuduk yang mulai meremang.
Logikanya berperang hebat. Haruskah ia berbalik arah dan kembali ke depan klub yang sepi, atau terus maju? Ujung jalan raya yang lebih ramai sudah terlihat di depan sana, hanya tinggal beberapa belas meter lagi.
Valerie menegakkan bahu, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, lalu melangkah perlahan mendekati siluet tersebut.
Semakin dekat, ia mulai menyadari bahwa itu adalah sosok seorang pria dewasa. Postur tubuhnya tegap, namun wajahnya masih tertutup bayangan kegelapan lorong.
Pria itu diam tak bergerak, seolah-olah memang sedang menunggu seseorang—atau mungkin hanya sedang menikmati kesunyian malam dengan cara yang sangat mencurigakan.
Valerie menahan napas, berusaha melewati pria itu tanpa kontak mata, meski rasa penasaran dan waspadanya mencapai puncak.
Langkah Valerie melambat. Meski kepalanya masih terasa berat, instingnya menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengan pria itu. Alih-alih lari menjauh, sisi kemanusiaan—dan mungkin sedikit sifat keras kepalanya—mendorong Valerie untuk memastikan keadaan pria misterius itu.
"Permisi... Anda baik-baik saja?" tanya Valerie pelan sambil memberanikan diri menepuk pundak pria itu.
Detik berikutnya, segalanya terjadi begitu cepat.
Pria itu tersentak hebat, napasnya terdengar memburu dan berat, seperti seseorang yang sedang menahan rasa sakit atau emosi yang meluap. Begitu menyadari sosok Valerie berdiri di dekatnya, pria itu bergerak secepat kilat.
Sebelum Valerie sempat bereaksi, tangan kokoh pria itu sudah menarik lengannya dan mendorong tubuh ramping Valerie ke dinding beton yang dingin.
Brak!
Sentakan itu begitu keras hingga rasa pusing akibat cocktail yang dirasakan Valerie menguap seketika, digantikan oleh adrenalin yang memuncak. Matanya terbelalak lebar, jantungnya berdegup kencang hingga terasa ingin melompat keluar.
"Hei! Apa yang kau laku—"
Kalimat Valerie terputus di udara. Sebuah tangan besar yang hangat langsung membekap mulutnya dengan rapat, meredam teriakan yang hampir lolos dari bibirnya.
Tidak berhenti di situ, pria itu semakin menghimpit tubuh Valerie, menindihnya hingga tidak ada celah di antara mereka.
Dalam jarak sedekat itu, Valerie bisa merasakan panas tubuh pria itu dan deru napasnya yang tidak beraturan tepat di telinganya.
Aroma maskulin yang tajam bercampur dengan sesuatu yang misterius menusuk indra penciuman Valerie, membuatnya mematung dalam dekapan yang terasa sangat mengintimidasi sekaligus menyesakkan.
Valerie mencoba memberontak, namun kekuatan pria ini jauh di atasnya. Di lorong yang remang-remang itu, ia hanya bisa menatap tajam ke arah pria misterius yang kini telah mengunci pergerakannya.
"Ssst... jangan berisik," bisik pria itu tepat di telinga Valerie. Suara berat dan seraknya mengirimkan getaran dingin yang membuat bulu kuduk Valerie meremang seketika.
Valerie terpaku, matanya masih membulat sempurna, menatap bayangan pria di depannya dengan penuh tanda tanya. Apa-apaan ini? Siapa dia? Pikirannya berputar mencoba mencerna situasi yang mendadak berubah menjadi film aksi ini.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah sepatu bot yang berat dari ujung lorong. Beberapa pria berpakaian serba hitam muncul, bergerak taktis seperti sedang memburu seseorang.
Mereka berpencar, dan dua di antaranya mulai melangkah masuk ke dalam lorong gelap tempat Valerie dan pria misterius itu bersembunyi.
Saat kedua pria asing itu semakin mendekat, pria yang masih menghimpit tubuh Valerie itu kembali berbisik. Kali ini suaranya terdengar lebih rendah, hampir seperti gumaman putus asa.
"Maaf..."
Valerie mengerutkan kening. Maaf? Untuk apa dia meminta maaf—
Belum sempat logika Valerie menjawab, tangan besar yang membekap mulutnya terlepas. Namun, sebelum Valerie sempat menarik napas untuk berteriak, pria itu langsung membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman yang dalam dan menuntut.
Valerie terkejut bukan main. Tubuhnya menegang, ia mencoba meronta dan mendorong dada bidang pria itu, namun tenaganya kalah telak.
Pria itu justru semakin menekan tubuh Valerie ke dinding, memperdalam lumatannya seolah mereka adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara di tengah kegelapan malam.
Di sudut matanya yang masih terbuka karena syok, Valerie melihat dua orang asing tadi berhenti hanya beberapa meter dari posisi mereka. Kedua orang itu tampak mondar-mandir sejenak, memperhatikan sekeliling dengan waspada.
Namun, melihat "sepasang kekasih" yang sedang asyik berciuman panas di pojok lorong, mereka mendengus dan mengalihkan pandangan.
Merasa orang yang mereka cari tidak ada di sana, kedua pria itu akhirnya berbalik dan kembali ke ujung jalan raya untuk bergabung dengan kelompok mereka yang lain.
Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan deru napas yang saling beradu di antara Valerie dan pria misterius yang masih belum melepaskan pagutannya.