Dia Xuan Huan. seorang pejuang tingkat sembilan. Programmer sekaligus hacker yang sangat ditakuti. Banyak lawan yang sudah ditaklukkan, bahkan ada yang berkeinginan untuk menjalin kerja sama.
Proyek terakhir yang Ia kerjakan, adalah proyek kecerdasan buatan, yang bisa menjelajahi alam semesta. Penuh dengan kode kode rumit dan mencengangkan.
Quantum Xuan, itulah nama programnya. Tapi karena program itu dia harus mati, dan jiwanya ditempatkan pada tubuh seorang gadis lemah 12 tahun ke belakang, yang juga mati karena penganiayaan. Lalu bisakan tubuh dengan jiwa Xuan membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aditya Jetli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Penaklukan
"Oleh karena itu aku berniat ingin terus menambah anggota, termasuk mencari sekutu, untuk melawan kekuatan kekuatan tersebut."
"Jadi untuk masalah mereka...?"
"Hei..! Apa yang kalian bicarakan? Cepat beri keputusan, mau menyerah atau tidak?"
Tiba tiba tetua ke-lima yang terkenal temperamental membuka suara, karena dia tidak suka keberadaan mereka diremehkan.
Sambil berkata sambil pula memberi kode pada yang lainnya. untuk bersiap siap bila tenaga mereka dibutuhkan.
"Apakah kau tidak bisa menunggu sebentar pak tua? Aku sedang merundingkannya dengan bawahanku ini. tapi kau sudah tidak sabar menunggu jawabannya."
"Kalau begitu kami tidak jadi menyerah? Kami lebih memilih untuk melawan kalian." jawab Nindya.
"Kurang ajar! Kau pikir kami ini apa, ha! Pajangan?"
"Tak tahukah kamu bahwa aku ini adalah anggota Perhimpunan Tenaga Dalam, yang mempunyai hak untuk menghukummu karena telah berani melawan seorang penguasa?" respon tetua ke-lima, sambil memperlihatkan tingkat kekuatannya pada Nindya. Tapi Nindya malah tidak terpengaruh sama sekali.
"Oh, anggota Perhimpunan Tenaga Dalam, ya. Kenapa aku baru dengar. Apakah kau salah satu tetuanya?" respon Nindya, masih tetap main tarik ulur di depan musuh musuhnya.
Padahal sebenarnya dia sedang menunggu Quantum Xuan menyelesaikan pekerjaannya, yaitu membungkus alam kesadaran setiap musuh tuannya agar mudah ditaklukkan. Juga membuka dunia dimensi agar bisa ditinggali.
"Jangan kurang ajar kau! Katakan saja bersedia tunduk atau tidak? Kalau tidak, jangan salahkan kami kalau bertindak tegas pada kalian!"
"Baik! kalau itu keinginan kalian. Sekarang aku nyatakan, bahwa organisasiku ini tidak akan tunduk kepada siapapun, termasuk kepada kalian. yang hanya demi ambisi, sanggup mengatasnamakan nama orang lain!"
"Aku tahu diantara kalian ini tidak ada seorangpun anggota Perhimpunan Tenaga Dalam. karena biasanya mereka tidak akan mau mencampuri urusan sebuah organisasi, apalagi organisasi yang aku dirikan ini legal!"
"Kalian datang dari sebuah Klan besar, yang berlokasi di pinggiran kota. Terisolasi dengan pemukiman lainnya."
"Tapi demi ambisi untuk menguasai, kalian menggunakan segala macam cara untuk menekan kami!"
"Untuk kalian ketahui, Pemburu Darah tidak akan takut kepada siapapun, yang mencoba untuk merongrong kewibawaan kami, Karena tujuan kami jelas, dan sudah mendapatkan Surat Rekomendasi persetujuan dari penguasa setempat"
"Jadi jika kalian berani bertindak sewenang wenang di wilayahku. Maka jangan salahkan aku akan menghabisi kalian, termasuk menghabisi dua leluhur kalian itu!" jawab Nindya.
Lalu mengeluarkan aura intimidasi tingkat 6 puncak, dan segera menekan orang orang yang ada di depannya. Setelah itu tubuh tubuh tak berdaya berjatuhan ke lantai.
Lutut mereka melemas. Badan badai ditindih ribuan gunung. Mata melotot, hidung perih dan telinga berdengung kuat.
Dari mulut, hidung serta telinga mereka keluar darah, pertanda organ dalam mulai terluka. Delapan orang tetua dan ratusan petarung kuat pun ikut tersungkur ke lantai. Begitu juga dengan prajurit biasa lainnya.
Mereka jelas tidak mampu menahan kuatnya tekanan tersebut. Kalau hanya tenaga dalam setingkat dengan level mereka, maka mereka bisa melawan. Tapi ini energi spiritual, yang kekuatannya dua kali lebih kuat dari tenaga dalam biasa.
Jadi yang bisa mereka lakukan adalah menerima nasib saja. Dalam hati menyesal karena telah menuruti keinginan ketua Klan juga tetua agungnya.
Jika mereka tahu bahwa musuhnya bukanlah orang sembarangan, mana mungkin mereka mau memprovokasinya.
Ternyata informasi yang mereka dapatkan itu salah. Mereka mengira Nindya hanya seorang petarung biasa. Paling paling setingkat dengan mereka.
Jadi dengan pedenya membawa pasukan yang melebihi instruksi dari atasannya, yaitu ketua Klan mereka, Sagara.
Mereka malah membawa prajurit sebanyak 1.500 orang. delapan tetua dan 100 petarung level 1 dan dua. Untuk menunjukkan pada dunia bahwa mereka itu kuat juga serius, dan sedikitpun tidak boleh diintimidasi.
Tapi kenyataannya sangat berbeda. Sekarang semuanya sedang berlutut, dan berbaring di lantai, sambil menahan rasa sakit yang tidak terhingga.
Darma yang ada dalam rombongan itu pun tidak sanggup menahan tekanan tersebut, karena levelnya berbeda. Tetua pertama dan tetua lainnya juga demikian.
Sebagai praktisi tenaga dalam tingkat menengah juga tinggi, atau tingkat dua dan tiga, sangat tahu akan kekuatan tersebut.
Biasanya orang yang sudah bisa menekan orang lain apalagi banyak, kekuatannya tidaklah rendah. Setidaknya sudah berada di tingkat tiga atau lima.
Berarti yang mereka hadapi sekarang adalah orang tersebut. Nindya adalah petarung tingkat tinggi. Sudah bisa disejajarkan dengan ketua Klan, bahkan kemungkinan bisa disejajarkan dengan leluhur mereka.
"Nona. Tolong hentikan tekanan ini. Kami mengaku salah, dan tidak tahu tingginya gunung!"
"Jika kami tahu bakal begini, maka kami lebih milih untuk bergabung, dan menjadi sekutu Nona untuk memberantas kejahatan." ucap Darma, sambil terus menempelkan keningnya di lantai.
"Ji Quan, apakah kau sudah siap?"
[Sudah tuan, bahkan sudah dari tadi]
"Kenapa kau tidak bilang. Dasar kau ya. Sudah berbuih mulut ini berdebat dengan mereka, kau malah diam saja?"
"Sebagai hukuman. Masukkan mereka ke dalam dimensi mu, dan cuci hati serta pikiran mereka di sana. Aku sedang banyak pekerjaan!" reaksi Nindya, melalui persepsi jiwanya.
[Tapi tuan. Quan ingin melihat tuan bertarung, dan...?]
"Lakukan saja kalau kau masih ingin hidup. Jangan banyak tanya!"
[Baik tuan]
Wush
Maka dalam sekejab saja. ribuan orang yang sedang terbaring juga berlutut di lantai itu menghilang, meninggalkan jejak jiwa yang samar.
Delapan bawahannya dari dalam formasi hanya terpaku diam. Begitu juga dengan ribuan bawahannya yang lain.
Mau bertanya tentu tidak berani. Apalagi mencoba mendekatinya. Yang bisa mereka lakukan adalah menunggu, apa instruksi yang akan diberikan pada mereka.
"Dengarkan semuanya!" seru Nindya. "Masalah yang terjadi hari ini, jangan sampai bocor keluar!"
"Mereka yang mencoba menyerang kita tadi sudah aku amankan, untuk menambah kekuatan kita dalam memberantas kejahatan di muka bumi!"
"Di mulai dari Klan yang di pimpin oleh Sagara, yang mencoba menindas kita tadi. Setelah itu menyasar pada yang lainnya!"
"Untuk itu, aku perintahkan pada delapan panglima utama, dan 18 ninja, serta beberapa komandan level dua sampai lima, untuk mulai bergerak!"
"Sasar kelompok kelompok yang selalu meresahkan. Tangkap atau habisi mereka di tempat. Kemudian amankan jasadnya lalu bakar!. Paham.....!?"
"Paham ketua!"
"Lapor Nona! Di bagian barat kota ini ada kelompok preman yang sangat meresahkan. Mohon Nona tugaskan kami untuk mengatasi mereka, karena tanganku sudah sangat gatal ingin memberi pelajaran pada mereka!" ucap seorang komandan level tiga, yang memang berasal dari sana.
"Apa kau asli berasal dari tempat itu?" tanya Nindya.
"Benar Nona. Eh, maksudku ketua. Saya memang berasal dari sana."
"Lalu kenapa kau ikut bergabung dengan kelompokku. Apa ada tujuan lain?"
"Ya. Jujur saja saya katakan, bahwa kelompok itu sudah menghabisi kedua orang tuaku, juga memaksa adikku untuk ikut mereka."
"Jadi saya sangat dendam dengan mereka, Namun karena kekuatanku belum cukup, maka untuk sementara saya menyingkir dulu, sambil mencari kesempatan untuk menaikkan level kekuatanku." jawab Sena.
"Baiklah kalau begitu. Kau ikut kelompok tiga saja, karena mereka akan menuju ke sana."
"Siap Ketua!"