Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Bandara Soekarno Hatta sudah ramai bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi. Deretan mobil hitam, suara trolley, dan lalu lalang penumpang membentuk ritme khas kota yang tak pernah benar-benar tidur.
Selena menyesuaikan langkahnya di samping Elvano, tentu dengan jarak yang pas supaya tidak menimbulkan kecurigaan orang lain. Kacamata hitam besar dan masker menutupi sebagian wajahnya.
Elvano berjalan tenang seperti biasa. Posturnya tegap, langkahnya terukur, seolah semua perhatian itu adalah hal biasa yang sudah lama tidak lagi ia rasakan sebagai gangguan.
Begitu keluar dari area kedatangan, seorang pria paruh baya sudah menunggu dengan sikap rapi.
“Selamat pagi, Tuan muda. Nona Selena,” sapa pria itu sopan.
Selena sedikit mengangguk. “Pagi, Pak…” jawabnya ragu.
“Pagi juga, Pak Basuki,” lanjut Elvano singkat.
Selena langsung mengerti. Ini pasti orang kepercayaan keluarga.
“Silakan ikut saya. Mobil sudah siap,” ujar Pak Basuki sambil mempersilakan.
Tanpa banyak kata, mereka bertiga berjalan menuju sedan hitam mewah yang terparkir di area khusus.
Pintu dibukakan. Selena masuk lebih dulu, diikuti Elvano. Aroma kulit mobil yang bersih dan wangi langsung menyambut. Pintu tertutup, meredam suara bising luar seketika.
Mobil mulai melaju keluar dari bandara, masuk ke jalan tol yang padat khas Jakarta.
Beberapa menit awal hanya diisi keheningan, Selena menyandarkan kepala sejenak. Lelah perjalanan mulai terasa setelah semua adrenalin beberapa hari terakhir perlahan turun.
Pak Basuki akhirnya membuka percakapan. “Saya mendapat amanah dari Nyonya Ratna untuk mengantar Tuan muda dan Nona Selena ke tempat tinggal,” ujarnya dari kursi depan.
Selena langsung menoleh. “Tempat tinggal?” tanyanya.
Elvano sedikit mengangkat alis, menunggu penjelasan.
“Iya, Nona. Villa pribadi. Hadiah pernikahan dari Nyonya Ratna,” jelas Pak Basuki tenang.
Selena otomatis menoleh ke Elvano, tatapan mereka bertemu. Ada jeda kecil, seolah mereka sama-sama sedang memproses informasi itu.
“Kita… dapat rumah?” tanya Selena pelan, setengah tidak percaya.
Elvano menghela napas pendek. “Sepertinya begitu,” jawabnya. Nada suaranya santai, tapi matanya sedikit berubah—lebih waspada daripada terkejut.
Selena tertawa kecil.
“Padahal aku mikir kita bakal bolak-balik apartemen sama rumahku,” katanya.
Pak Basuki tersenyum tipis melalui kaca spion. “Lokasinya sudah dipilih dengan pertimbangan matang, Nona. Dekat dengan rumah sakit tempat Nona bekerja, dan juga tidak jauh dari kantor Zenithra,” jelasnya.
Selena mengangguk pelan. Itu… terlalu pas, seperti semuanya sudah direncanakan jauh sebelum mereka sempat memikirkannya sendiri. Selena menatap Elvano sekilas, melihat Elvano menyilangkan tangan di dada, matanya melihat keluar jendela. Jakarta kembali menyambutnya, gedung tinggi, jalan padat, ritme cepat. Namun kali ini berbeda, ia tidak pulang sendirian.
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil keluar dari jalan utama dan memasuki kawasan yang jauh lebih tenang. Pepohonan rimbun di kiri kanan jalan, pagar tinggi dengan sistem keamanan modern, dan suasana yang jauh dari hiruk-pikuk kota.
Mobil berhenti di depan gerbang besar, gerbang itu terbuka perlahan. Selena menahan napas tanpa sadar, menatap villa itu… bukan sekadar rumah.
Bangunan dua lantai dengan desain modern tropis, dikelilingi taman hijau yang tertata rapi. Kolam renang terlihat dari samping, memantulkan cahaya pagi. Kaca besar di bagian depan membuat rumah itu terasa luas dan terbuka, namun tetap privat.
Mobil berhenti tepat di depan pintu utama, Pak Basuki turun lebih dulu dan membuka pintu untuk mereka.
“Silakan, Tuan muda. Nona,” ujarnya.
Selena turun perlahan, matanya menyapu seluruh area. “Ini… serius?” gumamnya.
Elvano berdiri di sampingnya. “Iya,” jawabnya singkat.
Mereka masuk ke dalam, interiornya bersih, elegan, tanpa berlebihan. Warna-warna netral mendominasi, dengan sentuhan kayu yang hangat.
Semua sudah siap, bukan sekadar rumah kosong. Tapi rumah yang sudah dihuni… tanpa penghuninya dan tentu membuat Selena terkejut.
“Ini ruang utama,” jelas Pak Basuki sambil berjalan. Ia membuka satu pintu besar di lantai atas.
“Dan ini kamar utama untuk Tuan muda dan Nona Selena.”
Selena melangkah masuk. Ranjang besar, jendela menghadap taman, walk-in closet, hingga kamar mandi luas dengan desain hotel bintang lima. Semuanya terasa… terlalu sempurna.
“Semua kebutuhan sudah disiapkan,” lanjut Pak Basuki. “Dari sandang hingga pangan.” Ia memberi isyarat ke arah luar.
“Ini Bibi Rima, yang akan membantu memasak. Dan Pak Hari untuk kebersihan.”
Dua orang paruh baya menunduk sopan.
Selena membalas dengan senyum hangat. “Terima kasih,” ucapnya.
Elvano hanya mengangguk singkat. Setelah memastikan semuanya, Pak Basuki kembali menatap mereka.
“Kalau begitu, saya pamit. Jika ada kebutuhan, silakan hubungi saya kapan saja.”
“Terima kasih, Pak Basuki,” kata Selena.
Pintu tertutup, mobil menjauh meninggalkan villa mewah itu dan untuk pertama kalinya…rumah itu benar-benar hanya milik mereka berdua.
Selena kembali masuk ke kamar utama mereka dan Selena langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.
“Capek…” keluhnya panjang.
Ia menatap langit-langit kamar. “Gila… Oma benar-benar nyiapin semuanya,” lanjutnya pelan.
Elvano berjalan masuk, melepas jam tangannya, lalu duduk di tepi ranjang di samping Selena.
“Aku sudah tidak kaget,” jawabnya.
Selena menoleh. “Kok bisa?” tanyanya.
Elvano menyandarkan tangannya di kasur.
“Cara Oma bekerja selalu seperti itu,” katanya. “Dia tidak memberi setengah-setengah.”
Selena tersenyum kecil. “Berarti kita harus bilang terima kasih yang proper nanti,” ujarnya.
“Aku akan mengurusnya nanti,” balasnya.
Selena menghela napas, lalu memejamkan mata sebentar.
Sunyi. Namun kali ini… bukan sunyi yang asing lebih seperti jeda setelah perjalanan panjang.
Elvano menatap Selena beberapa detik, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya lelah tapi tetap terlihat hangat. Tanpa sadar, ia mengulurkan tangan, merapikan helai rambut yang jatuh di dahi Selena.
Selena membuka mata, tatapan mereka bertemu.
“Kenapa?” tanya Selena pelan.
Elvano tidak langsung menjawab. “Hanya memastikan kamu benar-benar di sini,” katanya akhirnya.
Selena tertawa kecil. “Aku bukan ilusi, Tuan Bintang,” balasnya.
“Kadang sesuatu yang terlalu cepat datang… terasa tidak nyata,” ujar Elvano.
Kalimat itu membuat Selena diam sejenak. Ia bangkit sedikit, bersandar pada siku.
“Kamu menyesal?” tanyanya hati-hati.
Elvano langsung menggeleng. “Tidak.” Jawabannya cepat. Tegas.
“Lalu?” tanya Selena.
Elvano menatapnya lebih dalam. “Aku hanya tidak terbiasa berbagi hidup,” katanya jujur.
Selena tersenyum. “Kita sama,” ujarnya.
Ia menarik napas pelan. “Tapi aku mau coba,” lanjutnya.
Elvano menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu perlahan mengangguk.
“Aku juga.”
Suasana kembali tenang, seperti dua orang yang mulai menemukan titik tengah.
**
Sore itu turun perlahan, seperti sengaja memberi ruang bagi dua orang yang baru saja pulang dari perjalanan panjang—dan dari sebuah pernikahan yang bahkan belum sepenuhnya mereka pahami.
Cahaya matahari yang tersisa menyelinap masuk lewat tirai tipis kamar utama vila, membentuk bayangan lembut di atas ranjang luas tempat Selena dan Elvano tertidur.
Selena memeluk tanpa sadar, Elvano tidak menolak. Tubuh mereka berdua berada dalam jarak yang seharusnya canggung—terlalu dekat untuk dua orang yang belum benar-benar saling mengenal sebagai pasangan, tapi terlalu nyaman untuk disebut kebetulan.
Tok… Tok… Tok…
Ketukan pintu memecah suasana.
Selena mengerjap pelan. Kelopak matanya terasa berat, seperti masih enggan meninggalkan mimpi. Tangannya bergerak sedikit, tanpa sadar semakin mencengkeram kain kaus yang dikenakan Elvano.
“El…?” suaranya serak, setengah sadar.
Di sisi lain, Elvano sudah membuka mata sejak ketukan pertama. Refleksnya cepat, tapi gerakannya tetap tenang. Ia menoleh, menatap wajah Selena yang masih dipenuhi sisa kantuk.
“El… ada yang ketuk…” Selena bergumam lagi, mencoba bangun.
Namun sebelum ia sempat benar-benar bergerak, tangan Elvano menahan lembut bahunya.
“Tidur saja,” ucap Elvano pelan, suaranya rendah dan stabil. “Aku yang buka.”
Selena tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap sekilas, seolah memastikan. Lalu, dengan sisa tenaga yang hampir habis, ia mengangguk kecil.
“Iya…” balas Selena lirih.
Elvano mengusap puncak kepala Selena sekali—gerakan yang begitu natural sampai ia sendiri tidak menyadarinya—lalu perlahan melepaskan diri dari pelukan itu.
Begitu berdiri, ia berjalan menuju pintu dengan langkah pasti, membuka sedikit tanpa suara berlebih.
Di depan sana, Bi Rima sudah berdiri dengan sikap sopan.
“Tuan muda, Nona… maaf mengganggu,” ucap Bi Rima pelan. “Apakah ingin makan sekarang? karena sudah hampir malam.”
Elvano mengangguk singkat. “Iya, Bi. Tolong siapkan saja,” jawabnya tenang.
“Ada yang diinginkan khusus, Tuan?” tanya Bi Rima lagi.
Elvano sempat berpikir sejenak. Matanya sekilas melirik ke arah dalam kamar, ke arah Selena yang masih berbaring.
“Makanan ringan saja dulu. Yang hangat,” katanya.
“Baik, Tuan. Saya siapkan,” jawab Bi Rima.
“Terima kasih.”
Bi Rima mengangguk hormat, lalu undur diri.
Elvano menutup pintu kembali dengan pelan. Tidak terburu-buru. Tidak berisik. Begitu berbalik, pandangannya langsung kembali pada satu titik—Selena. Perempuan itu kini sudah setengah duduk, rambutnya sedikit berantakan, matanya masih berat, tapi berusaha tetap sadar.
“El… siapa?” tanya Selena, suaranya masih lembut karena kantuk.
“Bi Rima. Tanya mau makan sekarang atau tidak,” jawab Elvano sambil berjalan mendekat.
Selena menghela napas pelan, lalu mengusap wajahnya.
“Kita tidur berapa lama?” tanyanya.
“Hampir tiga jam,” jawab Elvano jujur.
Selena membeku sebentar. “Tiga jam?” ulangnya, sedikit kaget. “Serius?”
Elvano mengangguk tipis. “Kamu capek,” katanya singkat.
Selena tersenyum kecil, tapi ada sedikit rasa malu yang muncul.
“Aku bahkan nggak sadar…” gumamnya.
Elvano duduk di tepi ranjang, jaraknya tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat suasana terasa… berbeda.
“Wajar,” katanya. “Dari kemarin kamu belum benar-benar istirahat.”
Selena menoleh, menatap Elvano sejenak. Ada sesuatu di cara pria itu bicara—tidak banyak, tidak berlebihan, tapi tepat. Seolah ia memperhatikan… tanpa harus menunjukkan secara terang-terangan.
“Kamu juga sama,” balas Selena pelan. “Kamu lebih capek dari aku, harus mengurus semuanya.”
Elvano hanya tersenyum tipis. “Aku sudah biasa,” jawabnya.
Selena ingin menanggapi, tapi urung. Ia hanya mengalihkan pandangan, lalu menghela napas pelan.
“Aku mau mandi dulu deh,” katanya.
Elvano mengangguk. “Iya. Aku juga,” jawabnya.
Selena berdiri perlahan, lalu melangkah ke arah kamar mandi tanpa banyak bicara. Begitu pintu kamar mandi tertutup, suasana kamar kembali sunyi.
Elvano masih duduk di tempatnya.
Diam.
Tangannya bertumpu di lutut, matanya menatap kosong ke arah depan. Pikiran yang sejak tadi tertahan… hingga Elvano menghembuskan napas pelan, lalu mengusap wajahnya.
Beberapa menit kemudian, suara pintu kamar mandi terbuka. Selena keluar dengan pakaian santai, rambutnya sedikit basah, wajahnya tampak lebih segar.
“El, kamu belum mandi?” tanyanya.
Elvano menoleh.
“Belum,” jawabnya singkat, lalu berdiri. “Duduk sini, aku bantu keringkan rambut kamu.”
Selena mengangguk. “Iya.”
Elvano mengambil hair dryer, mengeringkan rambut Selena dengan telaten. Selena sesekali menatap cermin yang menampilkan sosok Elvano.
“Kenapa?” tanya Elvano menyadari tatapan Selena.
Selena tersenyum, “Kamu jago juga.”
Elvano pun membalasnya dengan tersenyum kecil, ” Sudah terbiasa.”
“Besok aku langsung kerja, ya?”
“Iya, besok aku antar kamu kerja.”
“Tidak usah, nanti kamu repot. Lebih baik mobilku di bawah kesini.”
“Nanti aku akan minta Darian mengurusnya, tapi besok tetap aku antar kamu kerja.”
“Baiklah, Tuan Bintang.” Selena mengangguk patuh.
Elvano meletakkan hair dryer oti, sambil menatap rambut panjang Selena. “Sudah selesai, sekarang giliran aku yang mandi.”
“Terima kasih.” Selena menunjukkan deretan gigi putihnya.
“Sama-sama istriku.”
Elvano lalu masuk ke kamar mandi. Begitu pintu tertutup, Selena menatap wajahnya di cermin sambil menepuk kedua pipinya yang memerah.
***