Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.
Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.
Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.
Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.
Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.
Ada sesuatu yang ikut berboncengan.
"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"
"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"
Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Negosiasi di Balik Kaca
Della berdiri mematung di depan bangunan yang tampak seperti puing-puing itu. Di dunia nyata, The Vintage Mirror hanyalah kerangka gedung tua yang terbengkalai dengan rumput liar setinggi pinggang. Namun, setiap kali Della melirik spion kirinya, gedung itu tampak utuh, hangat, dan mengundang dengan aroma kopi yang samar-samar tercium di udara.
"Del, jangan bengong! Tempat ini... kayaknya udah kosong dari zaman kakek gue," Geri mendekat, memegang pundak Della dengan waspada.
"Ger, loe nggak denger? Musik jazz itu..." Della menunjuk ke arah pintu kayu yang di dunia nyata sudah hancur, tapi di dalam spionnya tampak kokoh bercat merah marun.
"Gue cuma dengar suara jangkrik, Del. Lo jangan bikin gue takut," suara Geri bergetar.
Della melepas kacamata hitamnya, menggantinya dengan kacamata berbingkai tipis koleksi favoritnya. Ia menyadari sesuatu: ia harus menyinkronkan penglihatannya. Della memutar posisi motornya agar spion kiri itu menghadap tepat ke arah pintu masuk gedung.
"Geri, pegangin motor gue. Jangan sampai geser satu milimeter pun," perintah Della.
Della melangkah mendekati pintu yang hancur itu, tapi matanya tetap terpaku pada pantulan di spion. Ia berjalan mundur, menggunakan spion itu sebagai panduannya. Saat kakinya menyentuh ambang pintu di dunia nyata, suhu udara mendadak berubah. Dingin yang tadinya menusuk, berganti menjadi kehangatan ruangan ber-AC.
Ting!
Suara lonceng pintu terdengar jernih. Della tidak lagi melihat reruntuhan. Ia berada di dalam kafe yang megah itu lagi. Namun, Geri yang berdiri di luar tampak seperti bayangan hitam yang samar dan tak bergerak.
"Selamat datang kembali, Neng Della. Saya sudah menyiapkan meja terbaik untukmu," suara Pak Hendra terdengar dari balik meja bar yang penuh dengan cermin rias perak.
Della berbalik. Pak Hendra sedang memegang sebuah botol kristal kecil. Di dalamnya, sebuah cahaya berbentuk siluet gadis mungil tampak bergerak-gerak gelisah. Itu bayangan Sasha.
"Balikin bayangan Sasha, Pak," suara Della tenang namun tajam. Ia tetap memegang gagang spion motornya yang tadi sempat ia lepas secara paksa dari stang (dengan kekuatannya sendiri yang entah datang dari mana).
Pak Hendra tertawa, suaranya seperti pecahan kaca yang beradu. "Kakekmu dulu membayar mahal untuk setiap 'pemandangan' yang dia dapatkan melalui spion itu, Della. Dunia ini tidak ada yang gratis. Bayangan temanmu ini sangat murni... dia ceria, penuh warna. Sangat bagus untuk memperindah koleksi saya."
"Kakek saya sudah meninggal. Urusan dia bukan urusan saya," gertak Della.
"Oh, tapi darah tidak pernah bohong. Lihat retakan di tanganmu itu," Pak Hendra menunjuk ke telapak tangan Della. Retakan-retakan halus mulai muncul di kulit Della, polanya persis dengan retakan di kaca spion kirinya.
Della tersentak, Ia melihat ke arah cermin besar di dinding kafe. Di sana, pria berbaju changshan abu-abu Kakek Tan sedang berdiri di sampingnya. Kakek Tan memberikan isyarat agar Della mengangkat spionnya tinggi-tinggi.
"Pak Hendra," Della melangkah maju. "Bapak suka cermin karena mereka tidak pernah bohong, kan? Bagaimana kalau Bapak melihat pantulan asli Bapak di spion ini?"
Della mengarahkan permukaan spion tua yang retak lima itu tepat ke wajah Pak Hendra.
Seketika, cahaya biru menyambar dari retakan spion. Pak Hendra menjerit. Di dalam pantulan spion Della, wajah pria klimis itu berubah menjadi tumpukan serpihan kaca yang kusam dan menghitam. Rahasianya terbongkar: Pak Hendra bukanlah manusia, melainkan manifestasi dari ego dan obsesi para kolektor masa lalu keluarga Tan yang terjebak di dimensi cermin.
"TIDAAAAAK! JANGAN LIHAT!" Pak Hendra menutupi wajahnya.
Botol kristal di tangannya jatuh dan pecah. Cahaya berbentuk Sasha langsung melesat keluar, menembus tubuh Della, dan menghilang ke arah pintu keluar.
"Del! DELLA! SADAR!" suara Geri menarik Della kembali ke realita.
Blap!
Ilusi itu runtuh, Della tersungkur di atas tanah merah yang becek. Kafe megah itu hilang, digantikan oleh reruntuhan gedung yang pengap. Di tangan Della, spion tua itu terasa sangat panas hingga ia terpaksa menjatuhkannya ke tanah.
Retakan keenam muncul.
"Geri... Sasha gimana?" tanya Della terengah-engah.
HP Geri berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Mama Sasha.
Mama Sasha:
Neng, alhamdulillah Sasha baru saja bangun! Dia bilang dia habis mimpi jalan-jalan di kafe bagus sama Della. Mukanya sudah merah lagi, nggak pucat. Terima kasih ya, Neng!
Della menghela nafas lega, meskipun rasa perih di telapak tangannya semakin menjadi. Ia melihat ke arah spionnya yang tergeletak di tanah. Di dalam kacanya, pria baju changshan itu mengangguk pelan sebelum bayangannya menghilang sepenuhnya.
"Satu masalah selesai, Ger," bisik Della sambil mencoba berdiri. "Tapi retakannya nambah lagi. Gue ngerasa... benda ini makin lama makin haus."
Geri segera memungut spion itu menggunakan kain lap tebal. Ia tidak berani menyentuhnya langsung dengan kulit setelah melihat bagaimana telapak tangan Della memerah seperti terpanggang.
"Kita pergi dari sini, Del. Sekarang," ajak Geri. Ia membantu Della naik ke motor.
Sepanjang jalan turun dari Salabintana, Della tidak banyak bicara. Angin sore yang dingin menyapu wajahnya, tapi ia merasa ada yang berbeda dengan Scoopy-nya. Mesinnya terdengar lebih berat, seperti ada beban tambahan yang tidak terlihat sedang duduk di pundaknya.
Pukul 19.00 WIB – Bengkel Liem Performance
Geri meletakkan spion itu di atas meja kerja kayunya. Cahaya lampu neon bengkel yang sedikit berkedip membuat enam retakan di kaca itu tampak seperti sarang laba-laba yang mematikan.
"Lihat ini, Del," Geri menunjuk ke arah baut spion tersebut.
Della mendekat.
Di sela-sela drat besi yang tadi pagi ia pasang, kini tumbuh serat-serat halus berwarna putih keabu-abuan. Bukan lumut, bukan juga jamur biasa. Serat itu menyerupai rambut manusia yang sangat tipis dan kaku.
"Setiap kali lo pake kekuatannya buat 'berantem', benda ini mengambil bayaran dari motor lo sendiri," bisik Geri. Ia mencoba mencabut serat itu dengan pinset, tapi serat itu malah masuk lebih dalam ke dalam lubang stang.
"Gue nggak punya pilihan, Ger. Kalau gue nggak pake spion itu, bayangan Sasha nggak bakal balik," bela Della. Ia duduk di kursi plastik, menatap telapak tangannya. Retakan halus di kulitnya tadi sudah menghilang, namun menyisakan rasa kesemutan yang aneh.
"Gue tahu. Tapi ini baru bab Awal, Del. Kalau tiap sepuluh bab ada retakan baru, apa yang bakal tersisa dari motor ini pas loe nyampe bab 100?" Geri menghela napas, ia mengambil kaleng pelumas dan menyemprotnya ke stang Della.
Cisssss...
Cairan pelumas itu mendidih begitu menyentuh lubang spion.
Malam Hari – Di Depan Rumah Sasha
Della mampir untuk memastikan keadaan sahabatnya. Sasha sudah duduk di teras, sedang asyik makan bakso cuanki pesanan Mamanya. Wajahnya sudah kembali ceria, bahkan ia sudah mulai sibuk memilih filter foto untuk diunggah ke Instagram.
"Del! Sini! Loe harus coba cuanki ini, kuahnya pedes nampol!" teru Sasha, melambai dengan semangat.
Della turun dari motor, tapi ia sengaja memarkirkan Scoopy-nya agak jauh di bawah bayangan pohon mangga, agar Sasha tidak melihat spion tua yang makin mengerikan itu.
"Lo beneran gapapa, Sha?" tanya Della, duduk di sampingnya.
"Gapapa banget! Tadi siang tuh gue cuma kecapekan kali ya, makanya agak blank. Eh, tapi aneh deh, pas bangun tidur gue ngerasa kuku gue wangi mawar kering, padahal gue nggak pake parfum mawar," Sasha tertawa renyah, sama sekali tidak ingat tentang botol kristal atau Pak Hendra.
Della tersenyum getir. Ia bersyukur ingatan Sasha dimodifikasi oleh alam bawah sadarnya. Biarlah beban ini ia tanggung sendiri bersama Geri.
"Eh, Del," Sasha berhenti mengunyah, matanya menatap ke arah motor Della di bawah pohon. "Motor lo... kok lampunya nyala-mati sendiri?"
Della menoleh. Benar saja. Lampu depan Scoopy-nya berkedip pelan. Kedip... kedip... lama... kedip.
Della menyadari itu adalah sebuah pola. Ia teringat pelajaran pramuka dulu, Itu bukan gangguan listrik biasa. Itu kode Morse.
S–A–B–A–R
"Cuma kabelnya longgar kali, Sha. Maklum motor sering dipake touring," alibi Della, meski jantungnya berdegup kencang.
Saat ia berpamitan dan naik ke atas motor, Della melirik spion kirinya untuk terakhir kali malam itu. Di balik retakan yang keenam, ia tidak melihat jalanan rumah Sasha. Ia melihat sebuah lubang kunci besar yang terbuat dari emas, terkubur di dalam tumpukan mesin motor yang berkarat.
Della menarik gasnya. Ia tahu, masa tenang ini tidak akan lama. Spion itu baru saja memberinya peringatan: Sabar. Sesuatu yang lebih besar sedang menunggu di balik mesin motornya.