NovelToon NovelToon
The Phantom

The Phantom

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Kriminal
Popularitas:357
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.

Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.

Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…

Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 — Gangguan

“Dia masuk ke dalam.”

Suara Leon terdengar sangat pelan, namun mengandung tekanan yang mampu memecahkan kaca. Di bawah helmnya, rahang Leon mengeras. Ia tidak bisa membiarkan predator itu berada dalam satu ruangan dengan Alice tanpa pengawasan.

Motor hitamnya langsung meraung hidup, memecah kesunyian gang dengan suara bariton yang mengancam. Gray menjawab cepat dari pusat kendalinya. “Leon, tunggu! Jangan gegabah. Amati dulu gerakannya melalui sensor termal yang baru aku aktifkan!”

Leon sudah memutar gas hingga maksimal. Ban belakang motornya memercikkan kerikil dan debu jalanan Distrik 6 saat ia meluncur cepat menuju klinik. “Aku tidak punya waktu untuk mengamati, Gray.”

“Rook belum melakukan gerakan agresif! Kau hanya akan membuat kekacauan jika menerobos sekarang!” Gray memperingatkan dengan nada otoriter.

Leon tidak menjawab. Gang sempit itu melesat di sisi matanya. Klinik Arden berdiri di sana, tampak rapuh. Motor besar milik Rook terparkir tepat di depan pintu, seolah-olah sedang menandai wilayah kekuasaan baru.

Leon menarik rem tangannya dengan keras. Ban motornya berdecit di atas aspal basah, menciptakan suara melengking yang memekakkan telinga. Ia melompat turun bahkan sebelum mesin motornya benar-benar mati.

Gray masih terus berbicara di telinganya. “Leon, dengarkan aku! Jika kau masuk sekarang dengan aura membunuh seperti itu, Alice akan ketakutan! Kau akan merusak segalanya!”

Leon sudah berada di depan pintu. “Sudah terlambat untuk bernegosiasi.”

Ia mendorong pintu klinik dengan kekuatan yang tidak tertahankan.

BRAK!

Pintu kayu tua itu terbuka menghantam dinding bagian dalam dengan bunyi dentuman keras yang menggetarkan pigura-pigura di ruangan itu. Leon melangkah masuk dengan cepat, tangannya bergerak secara refleks menuju senjata di balik jaketnya. Matanya yang tajam langsung menyapu setiap sudut ruangan, mencari ancaman.

Ia sudah membayangkan skenario terburuk: darah di lantai, atau Alice yang disandera dengan pisau di lehernya. Ia sudah siap untuk melepaskan tembakan pertama yang akan mengakhiri kontrak ini dengan cara yang paling kacau.

Namun, pemandangan di dalam membuatnya mematung di tempat.

Alice berdiri dengan tenang di samping meja pemeriksaan medis. Rook, si pembunuh bayaran internasional, duduk dengan santai di kursi pasien. Jaket kulit Rook sedikit terbuka, dan lengan baju kirinya sudah digulung sampai siku, memperlihatkan sebuah luka sayatan yang cukup dalam namun sudah tidak banyak mengeluarkan darah.

Alice sedang memegang stetoskop di satu tangan dan sepotong kapas di tangan lainnya. Keduanya menoleh secara bersamaan ke arah pintu, menatap Leon yang berdiri di ambang pintu seperti malaikat maut yang salah alamat.

Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Hanya suara detak jam dinding tua yang mengisi kekosongan.

Alice berkedip beberapa kali, ekspresinya berubah dari terkejut menjadi bingung, lalu sedikit kesal. “Kurir? Apa yang kau lakukan?”

Leon tetap berdiri tegak di pintu, tubuhnya masih dalam posisi siap tempur. Matanya tetap terkunci pada Rook, tidak membiarkan pria itu melakukan gerakan sekecil apa pun.

Rook tersenyum tipis, sebuah senyuman provokatif yang sangat tenang. “Ah,” ia menyandarkan tubuhnya ke kursi pasien, tampak sangat menikmati ketegangan ini. “Phantom. Kau datang tepat waktu untuk melihat prosedur medis.”

Alice mengerutkan kening, menatap Leon dengan tajam. “Apa yang kau lakukan dengan pintu itu? Dan kenapa kau terlihat seperti ingin menembak seseorang?”

Leon tidak menjawab pertanyaan Alice. Suaranya keluar dengan nada yang rendah dan sangat mengancam. “Keluar dari sini, Rook.”

Alice langsung menyela dengan nada yang lebih tinggi. “Apa? Dia adalah pasienku!”

Rook mengangkat kedua tangannya sedikit, menunjukkan sikap menyerah yang palsu. “Tenang saja, Dokter. Sepertinya temanmu ini sedang mengalami hari yang buruk.”

Leon melangkah maju satu langkah, auranya memenuhi ruangan kecil itu. “Aku bicara padamu, Rook. Keluar dari sini sekarang juga sebelum aku menyeretmu keluar.”

Alice menaruh stetoskopnya di atas meja logam dengan bunyi denting yang keras. “Cukup! Leon, berhenti!”

Leon terdiam sejenak mendengar Alice menyebutkan nama palsunya dengan nada memerintah. Ia menoleh ke arah Alice, yang kini menatapnya dengan kemarahan yang nyata.

“Ini adalah klinikku,” Alice berkata dengan suara yang gemetar karena emosi namun tetap terkendali. “Dan di tempat ini, akulah yang memberikan perintah, bukan kau.”

Leon berkata pendek, matanya kembali melirik Rook yang tampak sangat menikmati pertengkaran ini. “Pria ini bukan pasien yang kau kira, Alice. Dia berbahaya.”

Rook mengangguk setuju dengan nada mengejek. “Benar sekali, Dokter. Pisau dapur di apartemenku ternyata memang tidak ramah semalam. Itulah kenapa aku butuh bantuanmu.”

Alice menatap Leon lagi, wajahnya memerah karena kesal. “Aku tidak peduli siapa dia di luar sana! Dia datang ke sini dengan luka yang butuh jahitan, dan itu menjadikannya pasienku.”

Leon mengepalkan tangannya di samping tubuh. “Kau tidak mengerti situasinya.”

“Aku mengerti bahwa kau baru saja merusak pintuku untuk kedua kalinya dalam dua hari!” Alice membalas dengan tajam. “Dan sekarang kau mencoba mengusir seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan medis hanya karena kecurigaanmu yang paranoid?”

Leon tidak bisa memberikan alasan yang jujur. Ia tidak bisa mengatakan bahwa Rook dikirim oleh korporasi global untuk menghapus keberadaannya.

Alice melanjutkan, suaranya kini melunak namun penuh otoritas. “Selama seseorang masuk ke sini dan meminta bantuan sebagai pasien, dia adalah tanggung jawabku. Itu adalah sumpahku sebagai dokter.”

Rook berbisik pelan, hampir menyerupai gumaman kekaguman. “Dokter yang punya prinsip. Sangat langka di kota yang busuk ini.”

Alice menunjuk ke arah pintu yang masih terbuka lebar. “Sekarang, Leon. Jika kau tidak punya luka yang perlu diobati, aku minta kau keluar.”

Leon tidak bergerak. Ia merasa seperti pecundang yang tidak bisa menjelaskan kebenaran kepada orang yang ingin ia lindungi.

Rook berkata santai, “Aku bisa kembali lain waktu jika kehadiranku membuat suasana jadi tegang bagi kurir favoritmu, Dokter.”

Alice menggeleng dengan tegas. “Tidak perlu. Luka itu harus segera dibersihkan agar tidak infeksi. Dia yang harus pergi.”

Leon merasa dadanya sesak oleh frustrasi. Ia menatap Rook sekali lagi, sebuah tatapan yang menjanjikan kematian jika pria itu menyentuh sehelai rambut Alice pun. Rook hanya membalasnya dengan kerlingan mata yang penuh kemenangan.

Leon akhirnya mundur satu langkah, lalu berbalik dan berjalan keluar dari klinik. Ia menutup pintu kayu itu dengan sentakan yang cukup keras, namun tidak sampai merusaknya lagi.

Di luar, Leon bersandar pada motornya, menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang liar. Suara Gray muncul kembali. “Sudah kubilang, jangan masuk. Kau hanya membuat dirimu terlihat seperti monster di depannya.”

Leon tidak menjawab. Ia hanya menatap pintu klinik dengan kebencian yang mendalam.

Beberapa menit kemudian, pintu klinik terbuka. Rook keluar dengan lengan yang sudah terbalut perban putih bersih. Ia mengenakan kembali jaket kulitnya dengan gerakan santai. Rook berjalan mendekati Leon, berhenti tepat di depannya dengan jarak yang sangat provokatif.

“Doktermu sangat berbakat,” bisik Rook, suaranya hanya bisa didengar oleh Leon. “Tangannya sangat stabil saat memegang jarum. Sayang sekali jika tangan seindah itu harus berhenti bergerak.”

Leon menatap Rook dengan mata yang memancarkan kebencian murni. “Jika kau menyentuhnya, aku akan memastikan kau memohon untuk mati.”

Rook tertawa kecil, suara tawa yang dingin. Ia memasang helmnya, lalu menatap Leon dari balik visor gelap. “Besok pagi, Phantom. Saat matahari terbit. Jika kau masih belum menyelesaikan kontrakmu dari Helix... maka aku yang akan mengambil alih tugas itu dengan caraku sendiri.”

Mesin motor Rook meraung hidup, menggelegar di gang sempit itu sebelum melesat pergi, meninggalkan kepulan asap dan aroma karet yang terbakar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!