Trauma sang Letnan akan masa lalunya bersama seorang wanita untuk kesekian kalinya, membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk berjenis wanita.
Rasa sakit di hatinya membuatnya betah 'melajang', bahkan sampai rekan letting dan juniornya banyak yang memiliki momongan.
Namun, cara Tuhan mempertemukan manusia dengan jodohnya memang sangatlah adil. Ia sangat tidak menyukai gadis ini tapi.............
KONFLIK TINGKAT TINGGI. SKIP bagi yang tidak bisa membaca alur cerita berkonflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Tergerak hati.
"Dimana??"
"Ijin, Danton.. Di rumah makan New Beijing." Kata salah seorang ajudan Bang Rinto.
"Oke.. Awasi dulu, saya jalan kesana." Jawab Bang Rinto kemudian memutuskan sambungan telepon melalui earphone nya.
Bang Rinto menambah laju kecepatan motornya, ia tak paham alasan dirinya mencemaskan Anye.
'Bisa-bisanya dia sampai di tempat itu. Hall private untuk kalangan elite. Sarang kejahatan pun ada disana.'
...
Bang Rinto terhalang oleh petugas keamanan yang berjaga di sekitar pintu utama. Ternyata tanpa kartu undangan, ia tidak bisa masuk ruangan tersebut.
"Saya ini kawalnya perempuan yang sedang nyanyi disana, masa nggak boleh masuk. Kalau sampai ada apa-apa sama dia, kalian akan saya tuntut..!!" Ancam Bang Rinto tak main-main.
Melihat berang wajah Bang Rinto, dengan suara penuh penekanan, para penjaga keamanan sekitar resto langsung mengijinkan Danton garang itu untuk masuk ke ruangan tersebut.
~
Tak menunggu waktu lama, Bang Rinto segera masuk dan memasang mata. Ia mengawasi Anye tanpa mengalihkan pandangan. Hingga kemudian tiga lagu yang di bawakan Anye sudah selesai, gadis itu pun turun.
Tapi.. Saat hampir sampai di ruang ganti, dua orang pria menghadangnya. Sontak saja Anye menjadi kaget.
"Siapa kalian??"
"Saya adalah anak buah dari pengantin pria. Beliau ingin bertemu besok malam denganmu di hotel Ria." Kata salah seorang anak buah tersebut.
Bang Rinto mengepalkan tangan, ia merasa jengkel mendengarnya.
"Apa Pak Jonathan mau pakai jasa saya lagi??" Tanya Anye dengan wajah polosnya.
Para pria saling pandang kemudian mengangguk dengan senyumnya.
"Benar, ayo ikut dengan kami dulu untuk kesepakatan pembayarannya..!!" Ajak salah seorang pria.
Anye pun mengikuti. Bang Rinto handak menyusulnya tapi tak sengaja dirinya menabrak seorang waiter hingga perhatiannya teralihkan. Disaat itu, ia pun kehilangan jejak Anye.
:
Bang Rinto menjelajahi seluruh area gedung. Ia memasang mata elang dan telinganya yang tajam untuk memastikan keberadaan Anye.
Tak lama ia mendengar suara ribut dari sebuah ruangan di ujung gedung. Bang Rinto segera menghampirinya.
jddrr..
Para pria terkejut setengah mati melihat seorang pria bertubuh tinggi tegap memasang wajah marah.
"Beraninya kalian menganiaya perempuan, banci kaleng..!!!" Bentak Bang Rinto.
Amarahnya Danton satu Kompi itu begitu luar biasa. Tak tanggung-tanggung, ia langsung menghajar dua pria tersebut tampa ampun.
:
Usai menghajar kedua pria, Bang Rinto sudah bisa membawa Anye kabur. Tapi karena Anye terus mengigau, ia tidak bisa membawanya dengan motor sport nya.
"Ijin, Danton. Saya sudah bawa mobil Danton. Ini susu dan air kelapa hijau yang Danton minta..!!" Laporan Prada Tegar selaku 'ajudan' Letnan Rinto.
Arah mata Prada Tegar mencuri lihat ke arah Anye yang terus bergelayut manja sembari meracau dengan banyak ocehannya. Tangan gadis itu tidak bisa diam.
"Terima kasih, kau bisa kembali bawa motor saya balik ke Markas Kompi. Saya mau tunggu sampai dia sadar." Perintah Bang Rinto. Tangannya mengusap kening Anye yang berkeringat.
Sesekali Bang Rinto mengalihkan tangan Anye yang tak jarang mulai nakal menjelajah ke segala arah.
"Ijin, Dan. Dia anak Kadis, ya?? mabok??" Tanya Prada tegar hati-hati.
"Iya, di kerjain orang." Jawab Bang Rinto.
Prada Tegar melihat Dantonnya mengurusi anak gadis orang dengan telaten, sambil membuka tumbler berisi air kelapa hijau yang di mintanya tadi.
"Ayo di minum dulu, dek..!!! Cepatlah kau sadar, ayahmu pasti mencarimu..!!!" Dengan telaten Bang Rinto membujuk agar Anye mau minum air kelapa itu.
Anye menolak, menepis tangan Bang Rinto, bahkan berkali-kali muntah.
"Kalau begini terus, bagaimana caranya Danton antar dia pulang. Bagaimana kalau Pak Herliz marah??" Sedikit banyak, Prada Tegar ikut mencemaskan keadaan Dantonnya.
"Yang namanya Ayah, wajar kalau marah melihat anak gadisnya dalam keadaan seperti ini, malah kalau seorang Ayah tidak marah, kita harus mempertanyakan cara didiknya. Tapi.. Anye harus pulang ke rumahnya." Jawab Bang Rinto.
"Ijin, Danton. Saya khawatir Danton akan di salahkan."
"Aman lah, tuh. Yang penting anak bebek satu ini pulang dulu ke rumah orang tuanya." Kata Bang Rinto.
"Danton, suka ya sama dia??"
"Halah, apa lah kau ini..!! Masa menolong orang saja harus suka. Selera saya bukan bayi. Lagipula, saya nggak mau ada sangkut pautnya sama perempuan." Ujar Bang Rinto kemudian kembali mencoba membujuk Anye agar mau minum air kelapa.
"Kamu siapa?? Ganteng sekali." Gumam Anye sambil menyentuh pipi Bang Rinto.
"Kau baru sadar kalau saya ganteng???" Balas Bang Rinto tenang meskipun pipinya mulai memerah.
"Tadi Anye bilang mau yang besar..!!" Rengek Anye merajuk manja, kesadarannya masih jauh dari kata jelas.
"Huusshhhh.. Ngomong apa kau, dek. Apa yang besar???" Bang Rinto sampai menjepit bibir Anye dengan ibu jari dan telunjuknya.
Prada Tegar terkikik mendengar ocehan Anye.
"Apa yang kau tertawakan??? Dia hanya mabuk, tak usah kau dengarkan..!!!!!!" Tegur Bang Rinto kesal.
"Siaapp..!!!"
.
.
.
.
memang rumit, percayakan kisah sesuai alur yang diinginkan othornya
semangat Thor.....sukses selalu