NovelToon NovelToon
Kekasih Yang Tak Akur

Kekasih Yang Tak Akur

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: I Putu Merta Ariana

Nono dan Ayu adalah sepasang kekasih yang unik. Mereka sering bertengkar soal hal-hal kecil—mulai dari soal baju, jalan mana yang lebih cepat, sampai soal makanan. Tetangga bilang mereka kayak air dan minyak, nggak pernah akur. Tapi siapa sangka, di balik setiap pertengkaran dan perdebatan, tersimpan rasa sayang yang besar dan perhatian yang tulus. Bagaimana kisah mereka bertahan dan tetap bersama meski sering beda pendapat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Putu Merta Ariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keindahan Pantai Selatan dan Kenangan Baru

Malam semakin larut saat Nono dan Ayu akhirnya tiba di kota kecil di dekat pantai selatan yang menjadi tujuan mereka. Kota itu terasa sangat tenang dan sejuk, jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Mereka langsung menuju penginapan kecil yang sudah dipesan Ayu jauh hari sebelumnya. Penginapan itu bernama "Rumah Senja", dan letaknya sangat strategis—tidak jauh dari pantai, dan suasananya sangat nyaman dan asri, dikelilingi oleh taman-taman yang indah.

"Wah, penginapannya bagus banget ya, Yu! Kamu emang jago milih tempat," puji Nono saat mereka masuk ke dalam kamar penginapan yang luas dan bersih. Kamar itu dihiasi dengan perabotan kayu yang hangat, dan di jendela besarnya, mereka bisa melihat sedikit pemandangan laut yang gelap di malam hari.

Ayu tersenyum bangga sambil meletakkan tasnya di atas kasur yang empuk. "Iya dong, kan aku yang ngurusin bagian ini. Aku pastiin tempatnya nyaman biar kita bisa istirahat dengan tenang abis perjalanan panjang. Kamu tuh ya, kalau kamu yang milih, bisa-bisa kita nginep di tempat yang sempit dan nggak bersih," seru Ayu dengan nada bercanda, tapi matanya berbinar penuh cinta.

Nono tertawa renyah. "Ya ampun, Tuan Putri. Iya deh, iya deh. Kamu yang paling hebat. Aku sih cuma suami yang beruntung punya istri yang teliti dan perhatian kayak gini. Puas?"

Ayu mendengus pelan tapi tersenyum lebar. "Hmph, baru tahu kamu. Dasar manis. Ya udah, cepetan mandi terus istirahat. Besok kita harus bangun pagi-pagi buat lihat matahari terbit di pantai. Jangan kamu malah bangun siang!"

"Siap, Tuan Putri! Aku janji bakal bangun pagi," jawab Nono sambil mengangkat tangan tanda setuju, lalu mereka pun sibuk bersiap-siap untuk tidur, memulihkan tenaga setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan namun menyenangkan.

 

Keesokan harinya, seperti yang sudah dijanjikan, mereka bangun pagi-pagi sekali. Langit masih agak gelap dengan sedikit cahaya samar di ufuk timur, menandakan matahari akan segera muncul. Mereka pun berjalan menuju pantai yang letaknya tidak jauh dari penginapan, hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit berjalan kaki.

Saat mereka tiba di pantai, pemandangan yang terbentang di depan mata mereka sungguh memukau. Pantai itu memiliki pasir putih yang bersih dan luas, dengan ombak besar yang bergulung indah menyapa pantai. Angin laut bertiup sejuk, membawa aroma garam yang khas dan menyejukkan. Di ufuk timur, langit mulai berubah warna dari ungu gelap menjadi merah muda, lalu oranye cerah, menciptakan pemandangan yang begitu indah dan menenangkan hati.

"Wah, indah banget..." bisik Nathan dan Nara serentak dengan mata terbelalak kagum. Mereka langsung berlari kecil di atas pasir yang masih dingin, tertawa bahagia melihat keindahan alam di depan mereka.

Nono dan Ayu duduk berdampingan di atas pasir, menatap anak-anak mereka yang sedang bermain dengan wajah penuh rasa syukur.

"Yu," panggil Nono pelan. "Ingat nggak waktu kita liburan ke pantai dulu, sebelum kita nikah? Kita juga duduk kayak gini, lihat matahari terbenam, dan janji bakal sering liburan kayak gini. Nah, sekarang kita udah bawa anak-anak kita juga. Rasanya bahagia banget ya."

Ayu mengangguk setuju, matanya berkaca-kaca karena terharu. "Iya, Mas. Aku ingat banget. Waktu itu rasanya mimpi bisa punya kehidupan kayak gini. Tapi sekarang, mimpi itu udah jadi kenyataan. Aku bersyukur banget Allah ngasih aku kesempatan buat lewatin semua ini sama kamu dan anak-anak."

Tiba-tiba, Nara berlari mendekati mereka dengan wajah antusias. "Bunda! Ayah! Ayo dong main air sama kami! Airnya dingin tapi seru banget!" seru Nara sambil menarik tangan Ayu.

"Ayo dong, Yu! Kita ikut main sama anak-anak. Kan kita udah janji bakal nikmatin waktu bareng-bareng," ajak Nono sambil berdiri dan menarik tangan Ayu.

Ayu mengangguk antusias. "Ayo! Tapi ingat ya, Mas, jangan bawa anak-anak masuk terlalu dalam. Ombaknya di sini kelihatan besar banget. Kita harus hati-hati."

"Siap, Bu Nono! Aku ngerti kok," jawab Nono tegas.

Mereka pun bermain air laut bersama-sama. Ombak besar datang dan pergi, membasahi kaki dan badan mereka. Mereka tertawa bahagia saat ombak menyapu mereka. Nathan dan Nara bersorak gembira, sangat menikmati momen bermain bersama orang tua mereka di pantai yang indah itu.

Setelah puas bermain air, mereka pun duduk kembali di pasir dan mulai membuat istana pasir. Tentu saja, kegiatan ini tidak lepas dari perdebatan kecil antara Nono dan Ayu.

"Yu, aku bilang tuh menara istananya dibikin yang tinggi dan ramping biar kelihatan gagah. Kenapa sih kamu maunya pendek dan lebar gini? Nanti kelihatan kayak gundukan pasir aja," kata Nono sambil melihat hasil karya Ayu yang sedang merapikan bagian dinding istana.

Ayu langsung menoleh dengan tatapan tajam. "Eh, jangan ngomong sembarangan dong, Mas! Kalau menaranya tinggi dan ramping, nanti gampang roboh kalau kena angin atau ombak dikit. Kalau pendek dan lebar kan lebih kokoh dan stabil. Kamu tuh ya, ngerti apa soal arsitektur istana pasir yang kuat!" seru Ayu tegas.

Nono tertawa lepas. "Ya ampun, Yu. Iya deh, iya deh. Kamu yang paling benar. Istana pasir kamu emang paling hebat. Aku sih cuma nawarin aja kok."

Mereka pun tertawa bersama, sementara Nathan dan Nara melihat orang tua mereka dengan wajah bingung tapi lucu. "Bapak sama Bunda kok sering ribut terus ya? Tapi kok senyum-senyum terus?" tanya Nara polos.

Nono dan Ayu saling pandang, lalu mereka tertawa lebih lebar lagi. Nono mengusap kepala Nara pelan. "Karena Bapak sama Bunda itu 'Kekasih yang Tak Akur', sayang. Kita sering beda pendapat, tapi kita saling sayang banget. Jadi nggak pernah ada yang marah beneran," jawab Nono lembut.

Nara mengangguk-angguk kecil seolah mengerti, lalu dia kembali bermain pasir.

Sore harinya, saat matahari mulai turun perlahan ke arah cakrawala, mereka duduk kembali di bangku kayu yang ada di pinggir pantai, menikmati es kelapa muda yang segar. Mereka menatap matahari terbenam yang melukis langit dengan warna-warna yang begitu indah dan memukau. Hati mereka terasa begitu damai dan penuh dengan rasa syukur.

"Yu," panggil Nono pelan sambil meraih tangan Ayu dan menggenggamnya erat. "Makasih ya udah bawa kita ke tempat yang indah ini. Aku senang banget bisa lewatin waktu ini sama kamu dan anak-anak. Ini bakal jadi kenangan yang nggak bakal kita lupa selamanya."

Ayu menoleh dan tersenyum manis, matanya berbinar penuh cinta. "Aku juga makasih banget, Mas. Makasih udah selalu ada buat kita, dan makasih udah bikin semua ini jadi kenyataan. Aku sayang banget sama kamu."

"Aku juga sayang banget sama kamu, Yu," jawab Nono pelan sambil mencium kening Ayu lembut.

Di pantai selatan yang indah itu, di bawah langit senja yang cantik, mereka kembali sadar bahwa perjalanan mereka masih panjang, masih banyak tempat indah yang akan mereka kunjungi, dan masih banyak cerita yang akan mereka tulis bersama. Tapi mereka yakin, dengan rasa sayang dan dukungan satu sama lain, setiap hari akan menjadi indah dan penuh dengan kebahagiaan.

1
Ayu Suryani
Bagus Banget Kak🥰
Ayu Suryani
Bagus kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!