Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: TEBUSAN DARAH DAN KODE
Rentetan tembakan senapan otomatis merobek dinding gubuk kayu itu seperti kertas basah. Suara peluru yang menembus papan, memecahkan tembikar, dan menghantam tiang bambu menciptakan simfoni kematian yang memekakkan telinga. Debu dan serpihan kayu beterbangan dengan ganas, menyatu dengan asap mesiu yang mulai mencekik udara di dalam ruangan sempit tersebut.
Aaliyah Humaira mendekap tubuh Zayn Al-Fatih di atas balai-balai bambu dengan sekuat tenaga. Ia memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan punggungnya menjadi perisai bagi pria yang sedang terluka parah di bawahnya.
Ya Allah... jika ini adalah akhir dari usia hamba, hamba rida. Namun hamba mohon, biarkan pria ini hidup. Dia telah membuktikan bahwa hatinya jauh lebih mulia daripada dosa masa lalu keluarganya. Jangan biarkan dia mati di tanah yang dingin ini.
Zayn, meskipun dalam kondisi setengah sadar dan dilanda demam tinggi, merasakan tubuh Aaliyah bergetar di atasnya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Zayn mencoba membalikkan posisi mereka. Ia ingin merengkuh wanita itu, ingin menjadi tamengnya, namun otot-ototnya menolak perintah otaknya. Lengannya yang terluka robek kembali, mengalirkan darah segar yang membasahi pakaian Aaliyah.
"Aaliyah... menyingkir..." geram Zayn dengan suara parau yang nyaris tenggelam oleh desingan peluru. "Biarkan... mereka membunuhku. Selamatkan dirimu."
Aaliyah menggeleng kuat, air matanya menetes mengenai wajah Zayn. "Tutup mulutmu, Zayn! Aku tidak akan pernah membiarkan mereka menyentuhmu!"
Di sudut ruangan, Ki Darma merayap di atas tanah yang lembap. Pria tua itu memeluk senapan angin tuanya dengan tangan gemetar. Ia tahu senapan burung itu tidak ada artinya melawan peluru kaliber militer yang ditembakkan dari luar, namun matanya memancarkan tekad yang belum pernah ia miliki selama dua puluh tahun pelariannya.
Lampu merah dari drone pemindai panas berkedip-kedip di atap gubuk yang berlubang, menyapu ruangan seperti mata iblis yang mencari mangsa.
Aaliyah menyadari kilatan cahaya merah itu. Otak jenius H_Zero-nya seketika mengambil alih rasa takutnya.
Drone termal! Mereka tidak bisa melihat ke dalam gubuk karena hujan lebat dan kegelapan, mereka hanya menembak membabi buta berdasarkan titik panas tubuh yang dikirimkan oleh drone itu. Jika aku bisa memutus sinyal drone tersebut, atau mengambil alih kendalinya, tembakan mereka akan kehilangan arah!
Aaliyah segera berguling dari atas tubuh Zayn. Ia menarik ransel kedap airnya dan mengeluarkan laptopnya yang masih menyala.
"Apa yang kau lakukan, Nak?! Tiarap!" teriak Ki Darma panik.
"Bapak, tahan mereka! Beri saya waktu dua menit! Saya akan membutakan mata mereka di udara!" teriak Aaliyah tak kalah keras.
Aaliyah meringkuk di balik lesung batu besar di dekat perapian, tempat yang paling tebal dan aman dari tembakan langsung. Jemarinya mulai menari di atas keyboard dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Layar laptopnya menerangi wajahnya yang pucat dan berlumuran debu.
Bismillah... Drone sipil yang dimodifikasi militer biasanya menggunakan frekuensi radio 2.4 GHz atau 5.8 GHz. Mereka mengandalkan sinyal lokal dari operator yang berada tidak jauh dari sini. Jika aku menggunakan antena Wi-Fi laptopku untuk melakukan 'packet sniffing', aku bisa mencegat frekuensi kontrol mereka.
Layar Aaliyah mulai memindai gelombang udara di sekitar hutan. Tiga baris kode muncul.
"Dapat!" gumam Aaliyah. "Mereka menggunakan protokol transmisi video yang tidak terenkripsi dengan baik. Bodohnya kalian, Rian tidak ada di sini untuk mengamankan jaringan kalian."
Namun, saat Aaliyah mulai meretas sistem kontrol drone itu, suara tembakan dari luar mendadak berhenti. Bukan karena mereka menyerah, melainkan karena mereka sedang bersiap untuk serangan akhir.
"Mereka mengisi ulang peluru! Bersiaplah untuk lemparan granat atau serbuan langsung!" teriak Ki Darma. Pengalaman pria tua itu sebagai mantan pekerja lapangan membuatnya peka terhadap taktik preman bayaran.
Terdengar suara langkah kaki berat dari puluhan sepatu bot yang menginjak ranting basah, bergerak merangsek maju mengepung gubuk dari jarak dekat.
Batin Aaliyah: Ya Allah... waktu proses dekripsi ini masih satu menit! Jika mereka melempar bahan peledak atau menerobos masuk sekarang, layar laptopku tidak akan bisa menyelamatkan kami. Hamba butuh pengalihan!
Zayn yang melihat kepanikan di wajah Aaliyah, mencoba bangkit. Ia menarik sebuah pecahan kayu tajam dari lantai, bersiap melawan dengan sisa nyawanya meskipun ia tahu itu sia-sia.
Batin Zayn: Jika ini adalah detik-detik terakhirku, aku akan memastikan mereka menginjak mayatku sebelum menyentuh sehelai rambut wanita ini. Aaliyah... maafkan aku karena gagal memberikan mahar pesantren itu.
Namun, sebelum Zayn sempat berdiri sepenuhnya, Ki Darma tiba-tiba bangkit. Pria tua itu melempar senapan anginnya yang tidak berguna ke lantai. Ia menoleh ke arah Aaliyah dan Zayn dengan tatapan yang sangat damai, kontras dengan kekacauan di sekeliling mereka.
"Nona Aaliyah," suara Ki Darma terdengar begitu tenang. "Dua puluh tahun yang lalu, Bapak berlari menjauhi api karena Bapak pengecut. Bapak membiarkan ibumu mati demi menyelamatkan diri sendiri. Malam ini, Allah memberikan Bapak kesempatan untuk tidak lari lagi."
Aaliyah menghentikan ketikannya sesaat. Matanya membelalak penuh kengerian menyadari apa yang akan dilakukan pria tua itu. "Bapak! Jangan! Apa yang mau Bapak lakukan?!"
"Bapak akan memberikan kalian waktu," Ki Darma tersenyum tipis. "Sampaikan salam hormat Bapak pada Tuan Besar Al-Ghifari di alam sana. Katakan padanya, mandor yang dulu pengecut ini akhirnya menebus dosanya."
Tanpa menunggu jawaban, Ki Darma menendang pintu kayu gubuk yang sudah hancur setengahnya. Ia berlari keluar menembus hujan badai, berteriak sekencang-kencangnya ke arah kegelapan hutan.
"Hei para iblis! Aku di sini! Tembak aku!"
Perhatian para eksekutor seketika teralih. Mengira itu adalah Zayn atau pengawalnya yang mencoba melarikan diri, seluruh moncong senjata langsung diarahkan pada siluet pria tua yang berlari di tengah hujan.
BRAT-TAT-TAT-TAT!
Rentetan tembakan kembali memecah malam. Kali ini, peluru-peluru itu menemukan sasarannya. Tubuh ringkih Ki Darma terhuyung hebat, ditembus timah panas dari berbagai arah. Pria tua itu jatuh berlutut di tanah berlumpur, darahnya mengalir deras menyatu dengan genangan air hujan.
"TIDAK! BAPAK!" jerit Aaliyah histeris. Ia hendak berdiri dan berlari keluar, namun Zayn dengan sisa kekuatannya menarik pergelangan kaki Aaliyah hingga wanita itu kembali jatuh di balik lesung batu.
"Jangan buang pengorbanannya! Selesaikan tugasmu, Aaliyah!" bentak Zayn dengan air mata yang menggenang di matanya. Sang Raja Es menangis melihat pengorbanan seorang pria tua demi nyawa mereka.
Aaliyah menggigit bibirnya hingga berdarah untuk menahan jeritan keputusasaannya. Tangannya yang gemetar kembali diletakkan di atas keyboard. Air mata menetes menderas ke atas tuts laptopnya.
Seratus persen. Dekripsi selesai. H_Zero mengambil alih.
"Kalian membunuhnya... kalian membunuh pria tua yang tidak bersalah," desis Aaliyah dengan kemarahan yang membekukan darah. "Sekarang rasakan pembalasanku!"
Aaliyah menekan tombol Enter dengan penuh kemarahan. Ia tidak hanya meretas kamera drone tersebut; ia mengambil alih kontrol motor penggeraknya dan sistem feedback pada layar kontrol para eksekutor di luar.
Di luar gubuk, tiga orang operator drone yang berdiri di belakang barisan penembak tiba-tiba berteriak kesakitan. Layar kontrol di tangan mereka meledak mengeluarkan kilatan cahaya putih yang menyilaukan dan suara feedback frekuensi tinggi yang memecahkan gendang telinga.
Tidak berhenti sampai di situ, empat drone militer yang mengudara mendadak berbalik arah. Aaliyah memprogram ulang target panas mereka. Bukannya menargetkan gubuk, drone-drone itu menukik tajam seperti peluru kendali langsung ke arah wajah para penyerang.
Baling-baling serat karbon yang berputar dengan kecepatan tinggi menghantam para penembak bayaran. Jeritan kesakitan dan kepanikan pecah di luar. Barisan pertahanan mereka hancur seketika saat senjata mereka sendiri berbalik menyerang.
Kekacauan itu berlangsung sangat cepat. Dan tepat di saat konsentrasi para penyerang buyar total, suara deru mesin mobil yang jauh lebih besar terdengar dari arah jalan setapak.
Tiga buah mobil rantis (kendaraan taktis lapis baja) berwarna hitam legam menerobos masuk ke dalam hutan pinus, menabrak barisan mobil SUV milik penyerang.
Dari dalam rantis, puluhan pasukan elit keamanan Al-Ghifari yang dipimpin oleh Ben melompat keluar dengan persenjataan lengkap. Mereka tidak memberi ampun. Dalam waktu kurang dari dua menit, sisa-sisa pasukan Sultan yang sudah buta dan panik akibat serangan drone Aaliyah berhasil dilumpuhkan tanpa syarat.
Keheningan perlahan kembali menguasai hutan pinus itu. Hanya tersisa suara hujan dan erangan kesakitan dari para eksekutor yang tertangkap.
Pintu gubuk didorong dengan hati-hati. Ben masuk dengan wajah cemas, senter taktisnya menyorot ke arah lantai.
"Tuan Muda? Nona Aaliyah?"
Aaliyah keluar dari balik lesung batu, menopang tubuh Zayn yang kini sepenuhnya kehilangan kesadaran. Napas Zayn sangat lemah.
"Ben... tolong dia. Bawa dia ke rumah sakit sekarang juga," ucap Aaliyah pelan, seluruh tenaganya telah terkuras habis.
Ben segera memerintahkan dua anggotanya untuk membawa tandu dan mengevakuasi Zayn.
Aaliyah berjalan terhuyung keluar dari gubuk. Hujan mulai mereda, menyisakan gerimis kecil. Ia melangkah menuju genangan lumpur di mana tubuh Ki Darma terkapar tak bernyawa.
Aaliyah jatuh berlutut di samping jasad pria tua itu. Ia menyentuh wajah Ki Darma yang sudah dingin dan memucat.
Batin Aaliyah: Innalillahi wa inna ilaihi raji'un... Bapak, Allah telah menerima tobatmu. Malam ini, engkau bukan lagi mandor yang pengecut, melainkan pahlawan yang mengembalikan takdir kami ke jalan yang benar. Darahmu yang tertumpah malam ini akan menjadi saksi di akhirat kelak. Hamba berjanji, pengorbananmu tidak akan sia-sia.
Ben berdiri di belakang Aaliyah, memegang sebuah payung hitam untuk melindungi wanita itu dari gerimis.
"Nona, kita harus segera pergi. Helikopter medis sudah menunggu di tanah lapang di bawah bukit untuk membawa Tuan Muda langsung ke ruang bedah di Jakarta," lapor Ben dengan hormat.
Aaliyah mengangguk pelan. Ia bangkit berdiri. Tatapannya menatap lurus ke arah kegelapan malam. Kesedihan di matanya telah mengeras menjadi sebuah tekad baja yang tak bisa dihancurkan.
Sultan... kau telah membakar pesantrenku dua puluh tahun lalu, kau memfitnahku dengan tuduhan paling keji, dan malam ini kau hampir membunuh calon suamiku serta menumpahkan darah pria tua yang tak bersalah. Permainan petak umpet ini berakhir malam ini. Jika kau menginginkan perang, aku akan membawanya langsung ke depan pintumu.
Saat Aaliyah melangkah menuju mobil evakuasi, ponsel satelit milik Ben berdering nyaring. Ben mengangkatnya, mendengarkan sejenak, lalu wajahnya seketika memucat. Ia menahan langkah Aaliyah.
"Nona Aaliyah... ada berita buruk dari Jakarta," suara Ben bergetar.
"Apa lagi, Ben? Sultan mengambil alih perusahaan? Kita sudah tahu itu," jawab Aaliyah datar, emosinya sudah mati rasa terhadap masalah uang.
"Bukan itu, Nona," Ben menelan ludahnya dengan susah payah. "Sultan tidak menghentikan pembayaran ventilator Kyai Abdullah. Dia melakukan hal yang jauh lebih gila."
Aaliyah membeku. Jantungnya kembali berdetak dengan ritme ketakutan. "Apa maksudmu?"
"Sepuluh menit yang lalu, sekelompok orang bersenjata menyerbu ruang VVIP Rumah Sakit Medika. Mereka membawa pergi Kyai Abdullah beserta peralatan medisnya. Sultan... dia menyandera ayah Anda."
Dunia di sekeliling Aaliyah mendadak gelap. Guntur kembali menggelegar di langit Subang, seakan menertawakan kemenangan mereka yang ternyata hanyalah sebuah ilusi. Babak terakhir pertempuran berdarah ini baru saja akan dimulai, dan kali ini, nyawa Kyai Abdullah berada tepat di ujung pisau Sultan.
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji