"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.
Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.
Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kata-Kata yang Mengubah Pandangan
POV Zhira
Ruangan itu mendadak hening setelah ucapan tegas Arfan meluncur begitu saja. Suasana yang tadinya tegang dan penuh intimidasi dari Ibu Zainal, kini berbalik menjadi canggung.
Aku bisa melihat jelas perubahan raut wajah ibuku. Matanya terbelalak sedikit, rahangnya mengeras, dan pipinya tampak memerah. Dia tidak menyangka ada laki-laki yang berani menatapnya setegas itu, apalagi berani "mengajarinya" cara memperlakukan anak sendiri.
Biasanya, kalau ada orang lain yang berbicara sedikit keras atau membantah, Ibu pasti akan langsung meledak marah. Tapi kali ini berbeda. Ada sesuatu dalam wibawa Arfan, dalam cara dia duduk tegap dan menatap tenang, yang membuat Ibu seolah kehilangan kata-kata.
"Kamu... kamu ini ngomong apa sih?" akhirnya Ibu Zainal bersuara, tapi suaranya tidak setinggi tadi. Sedikit terdengar terbata-bata. "Ibu kan ibunya, Ibu tahu apa yang terbaik buat anak sendiri. Zhira itu anak pertama, memang sudah kewajibannya dia kuat dan berbagi sama adik-adiknya."
Arfan tersenyum tipis, sangat sopan namun tetap mempertahankan ketegasannya.
"Zhira memang anak yang sangat berbakti, Bu. Bahkan bisa dibilang terlalu baik sampai sering mengorbankan dirinya sendiri. Selama bertahun-tahun, Zhira sudah membuktikan itu. Dia kuliah sendiri, kerja sendiri, bahkan hasil keringatnya selalu disisihkan buat keluarga di sini."
Arfan berhenti sejenak, lalu menatap Ibu Zainal lekat-lekat.
"Tapi Bu, manusia itu punya batas. Zhira juga butuh bahagia. Dia juga berhak diperlakukan lembut, dipuji, dan dijaga. Selama ini dia terlalu sering menangis sendirian karena merasa tidak dianggap. Saya datang ke sini bukan mau mengatur urusan keluarga Ibu, tapi saya mau bilang bahwa mulai sekarang, saya tidak akan membiarkan siapapun menyakiti hati wanita yang akan saya nikahi."
Deg!
Kata "nikahi" itu terlontar dengan begitu santai namun sangat berat maknanya. Aku yang mendengarnya saja sampai terkejut dan jantung berdegup kencang.
Ayah Alvin yang sedari tadi diam, akhirnya menghela napas panjang lalu tersenyum tipis. Dia menatap Arfan dengan pandangan baru, penuh rasa hormat.
"Mas Arfan..." panggil Ayah pelan. "Terima kasih ya sudah peduli sama Zhira. Ayah... Ayah minta maaf kalau selama ini kurang bisa membela anak saya. Ayah tahu sikap Ibu kamu memang keras, tapi Ayah tahu niatnya mungkin baik, cuma caranya salah."
"Sudah lah Yah, ngomong mulu!" potong Ibu Zainal kesal, tapi kali ini lebih ke arah malu dan gengsi. Dia beranjak berdiri. "Ya sudah kalau begitu, kalian duduk dulu. Ibu mau ke dapur masak buat makan siang."
Saat Ibu berjalan pergi, aku melihat bahunya sedikit melorot. Seolah ada beban atau topeng keras yang selama ini dia pakai, mulai retak sedikit demi sedikit.
Siang harinya, suasana makan siang jauh lebih cair dari yang kubayangkan. Ibu Zainal memang masih terlihat pendiam dan sedikit jutek, tapi dia tidak lagi memaki atau menuntut. Dia bahkan menyodorkan lauk ke arahku dan Arfan lebih dari sekali.
"Makan yang banyak, Mas. Maaf ya masakannya seadanya," ucapnya pelan, hampir tak terdengar.
"Alhamdulillah, masakannya enak sekali Bu. Rasanya kayak masakan rumah beneran," jawab Arfan ramah, membuat Ibu tersenyum tipis meski terpaksa.
Bimo dan Rara terlihat sangat senang. Mereka tidak peduli soal drama orang tua, yang mereka tahu Kakak Zhira datang membawa banyak barang dan punya pacar yang keren dan baik hati.
"Kak Zhira, Kakak makin cantik ya sekarang. Wajahnya cerah," puji Rara polos.
"Iya nih, sama Mas Arfan cocok banget," timpal Bimo.
Aku hanya bisa tersenyum malu. Arfan di sebelahku justru tertawa lebar dan mengelus kepala adik-adikku.
"Makasih ya. Kalian juga sehat-sehat terus ya. Belajar yang rajin biar bisa sukses kayak Kakaknya," kata Arfan bijak.
Selesai makan, Arfan membantu membereskan piring ke dapur. Ibu Zainal terlihat kaget melihat laki-laki setampan dan sekeren Arfan mau mencuci piring.
"Eh jangan Mas, biar Ibu aja! Laki-laki nggak boleh kerjaan dapur!" seru Ibu panik.
"Nggak apa-apa Bu, biasa kok. Di rumah juga saya sering bantu. Laki-laki itu harus bisa bantu istri atau keluarga, bukan cuma suruh-suruh," jawab Arfan santai sambil menggosok piring dengan cekatan.
Aku berdiri di pintu dapur menyaksikan pemandangan itu. Hatiku terasa sangat hangat. Arfan benar-benar pria idaman. Dia tidak hanya pandai bicara di depan, tapi tindakannya pun nyata.
Saat sedang berdua sebentar dengan Ibu di teras belakang, aku memberanikan diri bicara pelan.
"Bu..."
"Hm?"
"Arfan itu orang baik, Bu. Dia yang selalu dukung Zhira saat Zhira susah. Dia yang bikin Zhira bisa senyum lagi. Tolong... tolong terima dia ya Bu. Dia serius sama Zhira."
Ibu Zainal diam memandang jauh ke halaman. Wajahnya terlihat lebih lembut dari biasanya.
"Ibu tahu... Ibu lihat matanya. Dia tulus. Cuma... Ibu cuma khawatir kamu nanti disakiti. Ibu keras sama kamu karena Ibu mau kamu jadi orang kuat, jangan kayak Ibu yang lemah. Tapi ternyata... caranya Ibu salah dan malah bikin kamu sakit."
Mataku terbelalak tak percaya. Apakah aku baru saja mendengar Ibu mengakui kesalahannya?
"Bu..."
"Sudah ah, jangan dilihatin! Ibu mau masuk!" Ibu buru-buru masuk ke dalam rumah dengan wajah memerah, menyembunyikan rasa harunya.
Aku tertawa kecil sambil mengusap air mata. Langkah demi langkah, tembok tinggi itu perlahan mulai runtuh. Mungkin tidak secepat kilat, tapi perubahan itu mulai terasa.
Sore harinya, saat kami berpamitan pulang, suasana perpisahan kali ini benar-benar berbeda.
"Hati-hati di jalan ya Mas Arfan," kata Ayah Alvin sambil menjabat tangan erat. "Jaga Zhira baik-baik."
"Iya Pak, Insya Allah. Bapak dan Ibu sehat selalu ya di sini."
Ibu Zainal berdiri di depan pintu. Dia tidak memelukku, tapi dia menatapku dengan tatapan yang jauh lebih lunak dari sebelumnya.
"Kamu juga... jaga diri. Kalau ada apa-apa kabari rumah. Jangan pendam sendiri," ucapnya singkat, lalu dia buru-buru masuk sebelum air matanya jatuh.
Itu lebih dari cukup bagiku. Itu adalah bentuk kasih sayang yang paling indah yang pernah dia berikan selama ini.
Di dalam mobil, saat perjalanan pulang, aku memandang Arfan yang sedang fokus menyetir.
"Fan..."
"Hmm?"
"Makasih ya... hari ini luar biasa. Kamu berhasil bikin Ibu luluh. Kamu hebat banget."
Arfan tersenyum lalu menggenggam tanganku erat. "Bukan aku yang hebat, Sayang. Kamu yang hebat. Kamu sudah bertahan sejauh ini. Aku cuma bantu buka pintunya aja."
Malam itu, perjalanan pulang terasa begitu indah. Langit gelap di luar tidak membuatku takut, karena di sampingku ada orang yang menjadi pelita dan pelindung sejatiku.
POV End
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waduh, Ibu Zainal mulai luluh nih! 🥹💖 Makin manis dan haru banget kan ceritanya? Gimana Bab 22-nya? Lanjut Bab 23 lagi gas! Kita mau masuk ke tahap lamaran nih! 😍🔥📖