NovelToon NovelToon
Jarak Antara Kita

Jarak Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: ilham Basri

Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Detak Jantung Yang Memudar

Udara di depan gerbang utama Fasilitas Tatra terasa seakan membeku, bukan hanya karena salju yang turun semakin lebat, tetapi karena aura kematian yang memancar dari sosok di depan Arga. Elina berdiri di sana, gaun putih tipisnya berkibar tertiup angin kencang, kontras dengan latar belakang lorong beton yang gelap dan dingin. Di tangan kanannya, pisau bedah logam itu berkilat tertimpa cahaya merah dari lampu darurat yang berputar di atas mereka.

​"Elina..." Arga melangkah maju, mengabaikan tarikan peringatan dari Nadia. "Ini aku. Arga."

​Langkah Elina tidak berhenti. Gerakannya kaku, presisi, dan efisien seperti mesin yang telah diprogram untuk satu tujuan tunggal. Matanya yang biasanya penuh dengan kehangatan dan binar tawa kini sedingin es di puncak Tatra. Tidak ada kebencian di sana, yang ada hanyalah kekosongan mutlak. Baginya, Arga bukan lagi pria yang dicintainya; Arga adalah noise, sebuah gangguan sistem yang harus dihapus agar sinkronisasi The Prime Logic mencapai angka seratus persen.

​"Subjek teridentifikasi," suara Elina keluar, namun itu bukan suaranya. Itu adalah suara yang datar, kering, dan tanpa jiwa. "Anomali emosional terdeteksi. Protokol pembersihan: Aktif."

​Sret!

​Dengan kecepatan yang tidak manusiawi, Elina menerjang. Pisau bedah itu mengayun secepat kilat, menyayat udara tepat di depan leher Arga. Arga tersentak mundur, namun ujung pisau itu sempat menggores kerah jaketnya yang sudah hancur.

​"Arga, menjauh! Dia bukan Elina sekarang!" teriak Nadia dari balik tumpukan beton pagar. Nadia mengangkat senjatanya, namun jemarinya ragu di atas pelatuk. Dia tahu jika dia menembak, Arga tidak akan pernah memaafkannya—dan misi untuk mengamankan "aset" akan gagal total.

​"Jangan tembak!" raung Arga. Dia jatuh tersungkur di atas salju, namun matanya tetap terkunci pada Elina yang kini berdiri di atasnya, siap untuk ayunan kedua.

​Di kejauhan, Dani dan unit pembersihnya telah sampai di perimeter luar. Mereka berhenti, terpaku melihat pemandangan di depan gerbang. Dani mengangkat tangannya, memberi isyarat agar anak buahnya tidak menembak.

​"Lihat itu," gumam Dani dengan nada ngeri sekaligus kagum. "Dia sedang menghancurkan jangkarnya sendiri. Jika Arga mati di tangan Elina, maka eksperimen Pak Broto resmi berakhir, dan Hendrawan akan memiliki dewa dalam wujud manusia."

​Arga menatap ujung pisau yang kini terarah tepat ke tenggorokannya. Dia bisa merasakan napas Elina dingin dan dangkal. Dalam jarak sedekat ini, dia bisa melihat pupil mata Elina yang terus mengecil dan membesar secara ritmis, seolah-olah otaknya sedang berperang dengan barisan kode digital yang dipaksakan masuk.

​"El... ingat angka ini," Arga berbisik, suaranya bergetar namun penuh penekanan. Dia merogoh saku dalamnya, mengeluarkan anting perak berbentuk bintang itu dan menunjukkannya di depan mata Elina. "Ingat apa yang kakek katakan. Ingat perpustakaan tua itu. Ingat bau buku tua dan jam saku perak..."

​Elina berhenti sejenak. Pisau bedah itu bergetar hanya beberapa milimeter dari kulit leher Arga.

​"Tujuh..." Arga memulai.

​Di dalam ruang kontrol, Hendrawan memukul meja monitor. "Tingkatkan dosis stimulan! Jangan biarkan dia bicara! Hapus frekuensi audionya sekarang!"

​"Empat..." lanjut Arga.

​Kepala Elina mendadak miring ke samping dengan gerakan patah-patah. Sebuah rintihan kecil yang menyakitkan keluar dari tenggorokannya. Cairan hitam encer—sisa dari cairan nutrisi laboratorium—mulai merembes dari telinganya. Tubuhnya gemetar hebat seolah-olah ada arus listrik ribuan volt yang sedang menghantam saraf-sarafnya.

​"Dua... Sembilan..."

​"Hentikan!" suara Elina meledak, kali ini benar-benar suaranya sendiri, penuh dengan penderitaan. Dia menjatuhkan pisau bedahnya dan mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan. "Pergi! Pergi dari kepalaku! Arga... lari!"

​"Satu!" Arga menyelesaikan kodenya.

​Seketika, seluruh sistem di Fasilitas Tatra mengalami blackout total. Lampu-lampu sorot mati, pintu-pintu elektronik terkunci, dan suara raungan sirine mendadak senyap. Kesunyian yang jatuh setelahnya terasa lebih berat daripada ledakan bom.

​Arga segera menangkap tubuh Elina yang lemas dan jatuh ke pelukannya. Dia mendekap wanita itu erat-erat di atas salju yang dingin. Elina terengah-engah, matanya mulai kembali fokus, menatap wajah Arga dengan sisa-sisa kesadaran yang rapuh.

​"Ga... kamu... beneran datang?" bisik Elina. Tangannya yang gemetar menyentuh pipi Arga yang kasar karena luka. "Maaf... aku... aku hampir..."

​"Ssst, diamlah. Aku di sini. Jaraknya sudah habis, El," Arga mencium kening Elina, air matanya jatuh membasahi pipi wanita itu.

​Namun, momen haru itu tidak berlangsung lama. Dari pengeras suara darurat yang bertenaga baterai cadangan, suara Hendrawan kembali terdengar, namun kali ini penuh dengan kemarahan yang dingin dan gila.

​"Kamu pikir kode itu adalah penyelamat, Arga? Kamu salah besar. Kode itu bukan untuk memulihkan memorinya. Kode itu adalah perintah Self-Destruct untuk sistem biologisnya jika ada pihak luar yang mencoba mengambil alih. Dalam sepuluh menit, jantung Elina akan berhenti berdetak secara permanen agar data di otaknya tidak jatuh ke tangan siapa pun. Termasuk kamu."

​Arga membeku. Dia menatap Elina, dan benar saja, wajah wanita itu mulai membiru. Napasnya menjadi sangat pendek dan berbunyi lirih.

​"Tidak... kakek tidak mungkin sekejam itu!" raung Arga ke arah langit malam.

​Nadia berlari mendekat, wajahnya penuh kecemasan. "Arga! Kita harus membawanya ke ruang dekontaminasi di dalam! Hanya ada satu cara untuk membatalkan protokol itu, tapi kita harus masuk ke jantung server Hendrawan!"

​Di belakang mereka, Dani mulai bergerak maju dengan senjata terhunus. "Waktunya habis, Arga. Berikan dia padaku, atau kita semua mati tertimbun salju di sini."

​Arga berdiri, menggendong Elina di tangannya dengan protektif. Dia menatap gerbang fasilitas yang kini gelap gulita. Dia tahu, masuk ke dalam sana berarti masuk ke dalam mulut harimau, namun lari keluar berarti membiarkan Elina mati dalam pelukannya.

​"Nadia, berikan aku senjatamu," ucap Arga dengan suara yang sangat tenang. "Dani... jika kamu ingin Elina, kamu harus melangkahi mayatku terlebih dahulu."

​Arga melangkah masuk ke dalam lorong fasilitas yang gelap, membawa Elina yang sekarat menuju jantung konspirasi yang telah menghancurkan hidup mereka.

​Kegelapan di dalam lorong utama Fasilitas Tatra terasa seperti zat padat yang menghimpit dada Arga. Suara deru napasnya yang memburu beradu dengan suara napas Elina yang semakin dangkal dan berbunyi lirih—suara yang menyayat hati, seolah-olah setiap tarikan oksigen adalah perjuangan hidup mati bagi wanita itu. Arga mengeratkan pelukannya, merasakan tubuh Elina yang biasanya hangat kini mulai sedingin salju di luar sana. Kulit Elina yang pucat tampak kebiruan di bawah temaram lampu darurat yang hanya menyala di sudut-sudut koridor.

​"Tahan, El... tolong tahan sebentar lagi," bisik Arga, suaranya parau oleh isak tangis yang tertahan. Dia melangkah cepat menembus lorong beton yang licin, sementara Nadia berada di sampingnya dengan senjata terhunus, matanya liar menyisir setiap sudut bayangan.

​Nadia memeriksa jam digital di pergelangan tangannya. "Sembilan menit, Arga. Jika kita tidak sampai ke ruang Mainframe dalam waktu itu untuk menyuntikkan serum penawar dan meretas protokol Self-Destruct, jantung Elina akan berhenti secara permanen. Sistem biologisnya sedang menghancurkan dirinya sendiri karena kode yang kamu ucapkan tadi."

​Arga mengertakkan gigi. Rasa bersalah menghantamnya lebih keras daripada peluru mana pun. "Kakek... kenapa kau melakukan ini padanya? Kenapa cintaku justru menjadi pemicu kematiannya?"

​"Pak Broto tidak ingin 'aset' ini jatuh ke tangan musuh, Arga. Baginya, kematian Elina lebih baik daripada Elina menjadi senjata bagi Hendrawan," Nadia menjawab sambil menendang pintu baja menuju sektor medis hingga terbuka. "Dunia ini kejam, dan kakekmu adalah arsitek utamanya."

​Di belakang mereka, suara sepatu bot yang menghentak lantai beton terdengar semakin keras. Dani dan unit pembersihnya tidak lagi berteriak; mereka bergerak dalam diam yang mematikan, menyisir lorong demi lorong. Cahaya senter mereka sesekali menyapu dinding di belakang Arga, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti monster yang mengejar mangsa.

​"Dani tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan kepala kita atau tubuh Elina," Arga bergumam, matanya menyala oleh amarah yang dingin.

​Mereka sampai di depan sebuah pintu kaca tebal yang terkunci secara magnetis. Di baliknya, terlihat deretan server yang berkedip dengan lampu biru dan merah—jantung dari seluruh konspirasi ini. Di tengah ruangan, sebuah kursi medis yang dikelilingi oleh ribuan kabel menunggu seperti takhta bagi sang dewa baru.

​"Ini tempatnya," Nadia mencoba memasukkan kode akses ke panel pintu, namun layar merah menyala dengan tulisan: ACCESS DENIED - BIOMETRIC OVERRIDE REQUIRED.

​"Sial! Hendrawan mengunci pintunya dengan sidik jari atau retina miliknya sendiri!" Nadia menghantam panel itu dengan frustrasi.

​Tiba-tiba, sebuah layar monitor besar di samping pintu menyala. Wajah Hendrawan muncul di sana, kali ini tanpa senyuman. Dia tampak sedang berada di sebuah helikopter, baling-balingnya berderu di latar belakang.

​"Arga, keponakanku yang keras kepala," ucap Hendrawan dengan nada dingin. "Kamu sudah sampai di ambang pintu, tapi kamu tidak punya kuncinya. Elina punya waktu enam menit. Lihatlah dia, Arga. Lihat bagaimana nyawanya memudar hanya karena kamu bersikeras ingin memilikinya. Menyerahlah. Letakkan dia di depan pintu, menjauhlah, dan aku akan memerintahkan sistem untuk membukanya secara otomatis dari sini. Aku akan menyelamatkannya, meski dia tidak akan pernah mengenalmu lagi."

​Arga menatap Elina. Kelopak mata wanita itu bergetar hebat. Bibirnya yang membiru menggumamkan sesuatu yang tak terdengar. Air mata Arga jatuh, menetes ke pipi Elina yang dingin.

​"Arga... jangan..." bisik Nadia, tangannya menggenggam bahu Arga. "Jika kamu menyerahkannya, dia akan menjadi budak mereka selamanya. Tapi jika tidak..."

​Arga menatap pintu kaca itu, lalu ke arah layar yang menampilkan Hendrawan. "Hendrawan... kamu bilang kakekku adalah arsitek dunia ini. Tapi kamu lupa satu hal. Arsitek selalu meninggalkan pintu rahasia yang bahkan pemilik bangunan tidak tahu."

​Arga meletakkan Elina dengan sangat perlahan di lantai, bersandar pada dinding beton. Dia kemudian berdiri, mendekati panel pintu. Dia tidak mencoba meretasnya. Dia merogoh saku jasnya yang robek, mengeluarkan koin perak peninggalan kakeknya—koin yang tadinya dia pikir hanya kunci untuk koper di Zurich.

​Arga menekan bagian tengah koin itu dengan sangat kuat. Sebuah jarum kecil keluar dari pinggiran koin. Arga menusukkan jarum itu ke ibu jarinya sendiri, membiarkan darahnya membasahi permukaan koin yang berukir lambang keluarga kakeknya.

​"Kode 74291 bukan hanya untuk suara," desis Arga. "Itu adalah urutan DNA yang dimodifikasi."

​Arga menempelkan koin yang berlumuran darah itu ke sensor biometrik pintu.

​Beep... Beep... Beep...

​Sistem tampak ragu sejenak. Angka-angka di layar monitor mulai berputar liar. Wajah Hendrawan di layar mendadak berubah menjadi panik. "Apa yang kamu lakukan?! Berhenti, Arga! Kamu akan menghancurkan seluruh basis datanya!"

​"Jika Elina harus mati, maka rahasiamu juga harus ikut mati bersamanya, Hendrawan!" raung Arga.

​KREEEEK!

​Pintu magnetis itu terbuka dengan paksa. Sirine peringatan di seluruh fasilitas berubah menjadi suara ledakan pendek. Arga segera mengangkat kembali tubuh Elina dan berlari masuk ke dalam ruangan server yang dingin.

​"Nadia, amankan pintunya! Jangan biarkan Dani masuk!"

​Arga membaringkan Elina di kursi medis pusat. Dia melihat sebuah syringe otomatis berisi cairan neon hijau yang terhubung dengan sistem saraf pusat. Itu adalah serum penawar—atau mungkin racun terakhir.

​Waktu di monitor menunjukkan: 00:02:14.

​Arga menggenggam tangan Elina yang lemas. "El... jika ini adalah akhir, aku ingin kamu tahu... jarak di antara kita sudah tidak ada lagi. Aku mencintaimu, lebih dari rahasia apa pun di dunia ini."

​Arga menekan tombol Execute.

​Cairan hijau itu mulai mengalir masuk ke dalam pembuluh darah Elina. Tubuh Elina mendadak melengkung kaku. Matanya terbuka lebar, memancarkan cahaya putih yang menyilaukan sejenak sebelum akhirnya dia memekik dengan suara yang memecahkan kaca-kaca di sekeliling mereka.

​Di saat yang bersamaan, pintu ruangan hancur diledakkan dari luar. Dani masuk dengan senapan terhunus, wajahnya berlumuran jelaga dan darah.

​"Lepaskan dia, Arga!" teriak Dani.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!