Kembali lagi dalam kisah seru perjalanan hidup seorang wanita dari keluarga Nugraha, siapa dia?, yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengejutkan
Sera lebih serius lagi, wajahnya mengeras setelah mendengar perkataan Grevan yang sudah jelas menyinggung harga dirinya.
"Baiklah, bukan hal sulit untuk mengatasi kecemasan anda, gak suka?, tinggal cari partner lain, buang proyek ini, soal kerugian akan aku ganti, tanpa harus membuat perusahaan Tuan Grevan rugi, bahkan aku bisa menambahkan nilainya sebagai kompensasi, Bagaimana?"
Seketika Mega merasa pusing kepala, jelas atasannya itu ngomong gak dipikir dulu dampaknya, proyek yang cukup besar akan menguras uang Megatan Company tentunya, dan ini tidak baik-baik saja.
"Nona_" sahut Mega sedikit cemas.
Dan di saat yang sama, Graven menyambar omongan.
"Sayangnya, aku bukan orang yang bekerja tanpa totalitas, Megatan dan Rudolf deal, sampai tuntas"
"Apa?!" Sera tak percaya.
"Kamu hari ini cukup untuk belajar, minimal mengerti bagian besar, selanjutnya pakai otakmu sepenuhnya, itu cukup mudah"
Sera makin melebarkan mata tak percaya, berani sekali laki-laki ini, batinnya.
"Dengar baik-baik Tuan Graven, aku adalah pemilik perusahaan ini, kau boleh bersikap arogan pada siapapun, memerintah sesuka hatimu, tapi tidak padaku"
Mega yang berada di dekatnya terperanjat dengan apa yang lakukan oleh Sera, dan selanjutnya lebih gila.
"Aku, adalah CEO disini, nama ku ada di gedung ini sejak dulu, lihat papan nama di meja ini, tentu anda bisa membaca dengan baik bukan?, dan asal kamu ingat, kamu adalah tamu di Megatan Company!"
Kalau dikira Graven akan diam, atau bahkan berpikir ulang, jelas salah, karena yang dilihat saat ini, justru dia menunjukkan senyum tipisnya, sialan!, batin Sera.
"Jangan banyak ngomong saja nona CEO, kamu punya waktu empat puluh lima menit" ucap Graven dengan tatapan tajamnya.
"Untuk?" Sera masih loading menerima perintahnya.
"Pelajari semua yang perlu kau tau dalam proyek ini, aku rasa kau punya semua berkas dan dokumennya, aku sudah sangat bermurah hati padamu, jangan sia-siakan hal itu, aku tunggu di ruang rapat!"
Sera terkejut, berkedip beberapa saat, "Kau gila?!, mana mungkin aku bisa mengerti semuanya hanya dalam waktu singkat, aku tidak bisa, butuh waktu lebih lama!" teriaknya saat Graven berbalik dan mulai melangkah untuk keluar dari ruang kerjanya.
"Gunakan kecerdasan otak yang sesaat lalu kau katakan padaku!" jawab Graven sebelum hilang dari pandangan
"Apa?!, kau serius harus membaca itu semua?!"
Graven menghentikan langkah dan berdiri diambang pintu, berbalik menatap Sera, "Bukan cuma baca, tapi_, MENGERTI" sengaja menekan kata-katanya.
"Mengeri?, dengan waktu secepat ini?" sahut Sera makin merasa bahwa memang laki-laki di depannya ini gak ada waras-waras nya.
"Aku peringatkan Nona Sera, lakukan semua dengan baik sebelum Rudolf Company benar-benar akan mengambil alih Megatan"
"WHAT?!" teriak Sera tak percaya.
"Perjanjian sudah legal sesuai kesepakatan, kalau CEO tak kompeten, yang akan aku ambil alih bukan hanya kepemimpinan nya, tapi_SEMUA"
Sera hampir saja hilang keseimbangan, seolah sedang ada badai yang menerjangnya.
"Kau_!"
"Dunia bisnis tidak hanya di bangun dengan kata-kata seenaknya Nona Sera, tapi dengan kontrak nyata, legal dan bisa di pertanggung jawabkan, jadi kalau kamu menyerah, aku ambil alih, selesai"
Terdiam, Sera hanya bisa melihat Graven pergi perlahan hilang dari pandangan, tatapan matanya beralih pelan, melihat tumpukan dokumen yang sudah di sediakan Mega sebelumnya diatas meja kerjanya.
Mega mendekat, berbisik lirih memberitahukan sesuatu.
"Maaf Nona, perlu saya beritahu hal pentingnya"
"Apa itu?"
"Bahkan Nilai proyek ini sama dengan enam puluh persen aset Megatan Company"
BLAR
Sera benar-benar hampir ambruk sekarang, beruntung ada kursi di dekatnya hingga Mega segera mendekatkan, duduk perlahan, seketika kepala Sera terasa berat seperti ketiban tangga sekalian orangnya.
"SEBANYAK ITU?"
Mega mengangguk pelan.
"Ya Tuhan, ini gila!, OMA!!" teriak Sera seketika menggema.
Sungguh tak bisa di percaya, bagaimana mungkin sang Oma bisa se nekat itu menandatangani kontrak kerjasama yang bisa membuat perusahaan miskin jika sampai gagal menjalankannya. SIAL!
Sera menutup mata, menarik nafas panjang, berusaha mengisi oksigen sebanyak-banyaknya, jangan sampai dia kehabisan nafas saat ini juga.
"Mega" panggil Sera lirih.
"Iya Nona?"
"Buka berkas penting yang aku butuhkan" perintah dengan nada dingin seperti badai salju.
"Baik Nona Sera"
Bukan hanya berkas yang di dekatkan pada atasan, tapi laptop yang sudah di siapkan juga kini sudah berada di depan Sera, perlahan Mega membukakan dan menghidupkannya.
Sera berdecak pelan, layar laptop menyala bukan seperti yang seharusnya, bagi Sera lebih mirip bocoran api neraka.
Saat File terbuka semua, lebih mirip lagi gambar kuburan baginya, apalagi melihat slide grafik pertumbuhan perusahaan di bulan-bulan terakhir, seperti detak jantung orang sekarat.
Tumpukan Dokumen diatas mejanya bahkan kini bagai dosa-dosa yang tak berkurang karena kurang melakukan kebaikan, ya Tuhan!, Sera sudah lelah duluan.
"Ini lagi, apa sih!" kesal rasanya Sera, lelah jiwa raga saat melihat layar monitor seperti musuh dalam selimut, susah untuk di bunuh.
"Aku sudah bilang gak betah dengan dunia digital, apalagi nge lihat layar, mual, scrolling bikin kepalaku pusing, ditambah ini angka-angka yang bikin rambut ku gatal!"
'Ketombe?" sahut Mega tanpa dosa.
"Bukan!, tapi Kutu digital!" sahut Sera kesal.
Mega menarik nafas dalamnya, dengan pelan terpaksa memberikan iPad dan ponsel seperti menyerahkan belati di tangan Sera saat ini "Anda harus tau garis besarnya Nona"
Sera menghela nafasnya, seolah ingin gantung diri saja, bagaimana dia bisa tau garis besarnya, sedangkan dirinya saja tak tau garis hidupnya sendiri.
Berusaha melakukan konsentrasi tingkat tinggi, Sera bahkan melihat laptop dan juga dokumen bergantian tanpa henti, tak peduli otaknya sudah ngebul saat ini.
Mega tak mau berdiam diri tentunya, membantu semaksimal mungkin, menjelaskan dengan ucapan yang jelas saat Sera menginginkan penjelasannya.
"Perusahaan anda mempunyai proyek total senilai dua puluh lima miliar USD, Fokus awal ada di infrastruktur dan Real estate, mungkin akan merambah ke yang lainya jika sudah terpenuhi"
Sera langsung berhenti sejenak, berpikir ulang tentang apa yang sudah dijelaskan.
"Oma sedang ingin beli planet Mars apa gimana sampai kerjasama segede itu proyeknya?"
"Maaf Nona, mungkin ada lagi hal penting lainnya dari pada anda mengeluh soal Oma anda"
"Apa itu?" perasaan Sera mulai tak enak, kini menatap serius ke arah Mega.
"Intinya begini, proyek ini akan berjalan delapan tahun, Tiga tahun pertama masih penjajakan, tes lah istilahnya, dan kita harus bisa ngasih keuntungan hampir 20 persen, kalau tidak, maka perusahaan ini akan rugi setengahnya"
"APA?!" Sera terkejut.
"Dan Graven Rudolf bukan investor pasif, dia tidak suka main-main dalam bisnisnya, kalau CEO nya dianggap tak mampu, maka dia akan takeover, bukan cuma proyeknya Nona, tapi juga Perusahaannya"
"Dasar gila!, itu namanya bukan investor!, dia lebih mirip vampir penghisap darah, semua di endus, semua di kuasai, lalu diambil dan mungkin dia akan takeover Neraka sekalian!" Kesal sekali Sera saat ini.
"Satu lagi Nona" sahut Mega dengan wajah horor nya.
"Apalagi Mega"
"Rudolf Company memegang 60 persen saham proyek ini"
"APA, DASAR SETAN!"
Yuk saatnya kasih VOTE.
tp tdk lepas jg dr titisan gestrek omanya 🤭🤭