Di dunia di mana takdir ditentukan oleh kemurnian akar spiritual, Wang Tian terlahir sebagai kutukan. Memiliki lima elemen dasar yang saling bertabrakan, ia dicap sebagai "sampah abadi" dan dibuang ke Perpustakaan Terlarang yang terlupakan. Namun, di balik debu sejarah, ia menemukan Sutra Kaisar Sembilan Unsur—sebuah teknik terlarang yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kemurnian, melainkan dari kekacauan primordial.
Demi mengubah nasib, Wang Tian menempuh jalan yang diharamkan: menghancurkan pusat energinya sendiri untuk membangun Pusaran Primordial yang mampu melahap segala elemen alam semesta. Dari murid pelayan yang dihina, ia bangkit menjadi anomali yang mengguncang tatanan langit.
Perjalanannya penuh darah dan pengkhianatan. Ia harus menyembunyikan kekuatannya dari 12 Klan Kuno yang angkuh dan 4 Sekte Penguasa Arah Angin yang mengincarnya sebagai ancaman dunia. Di tengah pelariannya, ia dipertemukan dengan empat wanita luar biasa—termasuk sang Ratu Kegela
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Penghakiman dari Langit yang Terbelah
Langit di atas Lembah Naga Terlupakan yang biasanya kelabu mendadak dipenuhi oleh ribuan titik cahaya keemasan dan perak. Itu bukan bintang, melainkan Armada Kapal Perang Udara dari Koalisi 12 Klan Kuno dan 4 Sekte Penguasa. Kapal-kapal raksasa yang terbuat dari kayu besi purba itu melayang dengan angkuh, masing-masing membawa ratusan kultivator elit. Di barisan paling depan, kapal induk Klan Langit yang berlapis emas murni memancarkan tekanan yang membuat hutan di bawahnya bergetar hebat.
"Wang Tian! Keluar dan terima hukumanmu!" suara itu bergema melalui teknik pengeras suara spiritual, menghantam gendang telinga siapa pun dalam radius sepuluh mil.
Di tepi danau emas, Wang Tian berdiri dengan tenang. Di tangan kanannya, Pedang Primordial: Dragon’s Wrath berdenyut pelan, cairan emas di dalam bilah kristalnya tampak mengalir mengikuti irama napasnya. Lin Xuelan, Sui Ren, dan Mora berdiri di belakangnya, senjata mereka sudah terhunus, mata mereka menatap tajam ke arah armada yang menutupi matahari.
"Tiga kapal induk, lima puluh kapal penjelajah, dan setidaknya sepuluh master Ranah Nascent Soul Puncak," gumam Lin Xia, matanya menyipit. "Mereka benar-benar takut padamu, Wang Tian. Mereka membawa setengah dari kekuatan tempur Benua Tengah hanya untuk satu pemuda."
Wang Tian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mengandung kehangatan sedikit pun. "Mereka tidak takut padaku. Mereka takut pada kebenaran bahwa takhta mereka hanyalah tumpukan tulang yang rapuh."
Serangan Pertama: Hujan Api dan Es
Tanpa peringatan, armada kapal perang itu melepaskan serangan pembuka. Ribuan meriam spiritual yang terpasang di lambung kapal menembakkan bola-bola api raksasa dan tombak es yang dilapisi segel penghancur. Langit seolah runtuh menimpa lembah.
"Pertahankan posisi!" teriak Wang Tian.
Ia menghentakkan kakinya ke tanah. Elemen Tanah Primordial melonjak, membentuk kubah pelindung raksasa yang transparan namun sekeras berlian. Ledakan beruntun menghantam kubah tersebut, menciptakan getaran yang memekakkan telinga, namun tidak satu pun serangan yang berhasil menembus.
"Giliran aku," ucap Wang Tian.
Ia melompat tinggi ke udara, menembus kubah pelindungnya sendiri. Dengan satu ayunan Dragon’s Wrath, ia melepaskan tebasan horizontal.
"Hukum Primordial: Pemisah Angkasa!"
Bilah energi emas raksasa, sepanjang satu mil, membelah udara. Kapal-kapal penjelajah di barisan depan tidak sempat mengaktifkan perisai mereka secara penuh.
CRAAAKKK!
Sepuluh kapal penjelajah terbelah menjadi dua bagian secara sempurna, meledak di udara dan jatuh seperti hujan meteor api ke dalam hutan. Ribuan kultivator jatuh menjemput maut sebelum mereka sempat mengayunkan pedang.
Pertempuran di Atas Awan
Melihat kapal-kapalnya hancur, para master Nascent Soul dari kapal induk melompat keluar. Mereka melayang di udara, mengepung Wang Tian dari segala penjuru.
"Iblis kecil! Kau berani menghancurkan harta karun klan kami?!" raung seorang penatua dari Klan Api.
"Harta karun?" Wang Tian menatap pedangnya. "Ini adalah harta karun. Kapal-kapal kalian hanyalah tumpukan kayu yang menunggu untuk dibakar."
Pertempuran udara yang sesungguhnya pecah. Wang Tian bergerak seperti kilat abu-abu di antara para penatua. Setiap benturan senjatanya dengan senjata lawan menciptakan gelombang kejut yang menyapu awan.
Mora, Sui Ren, dan Lin Xuelan tidak tinggal diam. Mereka menggunakan teknik gerak cepat untuk naik ke salah satu kapal induk yang posisinya paling rendah. Di sana, mereka mengamuk. Mora membelah barisan pengawal dengan sabitnya, Sui Ren menciptakan badai di atas geladak yang melemparkan musuh ke jurang, dan Lin Xuelan membekukan mesin penggerak kapal hingga kapal itu kehilangan kendali.
"Mereka bukan lagi gadis-gadis yang butuh dilindungi," batin Wang Tian sambil menangkis serangan serentak dari tiga master Nascent Soul.
Puncak Amukan: Teknik Sembilan Segel
Wang Tian merasa energinya mulai mendidih. Ia memutuskan untuk menguji batas dari Kitab Sembilan Segel. Ia memejamkan mata di tengah kepungan musuh, membiarkan serangan mereka menghantam perisai auranya.
"Sembilan Elemen... Penyatuan Mutlak!"
Tubuh Wang Tian memancarkan cahaya sembilan warna yang kemudian menyatu menjadi putih murni yang menyilaukan. Pedang Dragon’s Wrath berubah bentuk, memanjang menjadi tombak cahaya yang dikelilingi oleh naga petir ungu.
Ia melakukan satu putaran tubuh di udara.
"Napas Naga Primordial!"
Sebuah gelombang energi berbentuk naga raksasa keluar dari senjatanya, melahap segala sesuatu di jalurnya. Tiga master Nascent Soul yang mengepungnya lenyap seketika, berubah menjadi debu atom. Kapal induk utama Klan Langit yang berada di jalur serangan itu kehilangan seluruh bagian depannya, miring dengan sudut berbahaya sebelum akhirnya mulai jatuh perlahan.
Sisa-sisa armada koalisi gemetar ketakutan. Mereka melihat rekan-rekan mereka yang paling kuat musnah dalam sekejap mata.
"Mundur! Mundur sekarang juga!" teriak komandan koalisi yang tersisa.
Armada yang dulunya angkuh itu kini melarikan diri dalam kekacauan. Wang Tian tidak mengejar mereka. Ia mendarat kembali di danau emas, napasnya sedikit berat namun matanya tetap tajam. Kemenangan ini mengirimkan pesan yang jelas ke seluruh benua: Kaisar Primordial telah kembali.
" Darah Naga dan Sumpah Persaudaraan"
Setelah pertempuran besar di langit, Lembah Naga Terlupakan kembali sunyi, meski bekas-bekas kehancuran terlihat di mana-mana. Wang Tian memutuskan untuk menjelajahi bagian terdalam lembah, mengikuti getaran yang hanya bisa dirasakan oleh pemegang pedang Dragon’s Wrath.
Ia berjalan sendirian ke arah Gua Petir Abadi, sebuah tempat di mana sambaran petir tidak pernah berhenti menghantam tanah. Di sana, ia menemukan sebuah kawah raksasa yang dikelilingi oleh mayat-mayat dari Sekte Pemburu Langit—kelompok tentara bayaran paling kejam yang spesialis memburu binatang buas legendaris.
Di tengah kawah itu, seorang pemuda dengan rambut merah membara dan sisik-sisik emas tipis di sepanjang lengannya sedang berlutut. Tubuhnya penuh luka, dan sebuah pedang beracun tertancap di bahunya. Di depannya, pemimpin pemburu sedang bersiap untuk memenggal kepalanya.
"Naga terakhir... kepalamu akan bernilai lebih dari seluruh kerajaan!" tawa si pemburu.
SHUT!
Sebuah kilatan cahaya abu-abu memotong lengan si pemburu sebelum pedangnya sempat turun. Wang Tian muncul dari balik debu.
"Siapa kau?!" teriak si pemburu sambil memegang lengannya yang buntung.
Wang Tian tidak menjawab. Ia hanya mengayunkan tangannya, dan sebuah tekanan gravitasi yang luar biasa menghancurkan tubuh si pemburu menjadi bubur daging di atas tanah.
Pertemuan dengan Long Wei
Wang Tian mendekati pemuda bersisik itu. Pemuda itu menatapnya dengan mata emas vertikal yang penuh kemarahan namun juga kelelahan. "Jika kau... ingin hartaku... bunuh aku sekarang... jangan menghinaku..." bisiknya.
Wang Tian berjongkok. Ia tidak mengambil senjatanya. Sebaliknya, ia meletakkan tangannya di atas luka di bahu pemuda itu. Elemen Kayu Primordial mengalir, menetralkan racun dan menutup luka tersebut dalam hitungan detik.
Pemuda itu tertegun. Ia merasakan energi yang sangat akrab, energi yang hanya dimiliki oleh leluhur naga-naganya. "Kau... kenapa kau membantuku?"
"Namaku Wang Tian. Dan aku tidak butuh hartamu. Aku mencium aroma kesepian yang sama dengan apa yang kurasakan selama sepuluh tahun dipukuli di sekte," jawab Wang Tian tenang. "Dunia ini membencimu karena kau istimewa. Aku membantumu karena aku membenci dunia yang seperti itu."
Pemuda itu perlahan bangkit. Kekuatan regenerasi naga di dalam dirinya mulai bekerja berkat bantuan Wang Tian. "Namaku Long Wei. Aku adalah pangeran terakhir dari Klan Naga Emas. Aku telah diburu sejak lahir seperti binatang."
Sumpah Darah di Bawah Petir
Long Wei menatap Wang Tian dengan tatapan yang berubah dari curiga menjadi rasa hormat yang mendalam. Ia merasakan pedang di pinggang Wang Tian. "Kau... kau memegang Dragon's Wrath. Pedang itu memilihmu."
Long Wei kemudian melukai telapak tangannya sendiri dengan kukunya yang tajam, membiarkan darah emasnya menetes. "Klan naga tidak pernah berhutang budi. Kau menyelamatkan nyawaku dan menjaga kehormatan ras naga. Di bawah saksi petir abadi ini, aku, Long Wei, bersumpah untuk menjadi saudaramu."
Wang Tian terkejut, namun ia melihat ketulusan di mata naga itu. Selama ini ia hanya memiliki para wanita di sampingnya dan Lin Xia sebagai mentor. Memiliki seorang saudara pria yang sejati adalah sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.
Wang Tian memotong telapak tangannya sendiri, membiarkan darah merahnya bercampur dengan darah emas Long Wei di atas tanah.
"Mulai hari ini, hidupmu adalah hidupku. Musuhmu adalah musuhku," ucap Wang Tian. "Kita akan menghancurkan langit ini bersama-sama, Saudaraku."
BOOM!
Sebuah sambaran petir raksasa menghantam tepat di tengah mereka, menandakan bahwa sumpah tersebut telah diakui oleh alam semesta.
"Kakak Tian!" Long Wei menyeringai, menunjukkan taringnya yang kuat. "Sekarang setelah kita bersaudara, izinkan aku memberitahumu rahasia sebenarnya dari lembah ini. Di bawah kuil tua di depan, terdapat Ruang Waktu Naga, di mana satu tahun di dalam hanya sama dengan satu hari di luar. Kita butuh itu untuk bersiap sebelum klan-klan itu kembali dengan leluhur mereka."
Wang Tian tersenyum lebar. Dengan seorang naga sebagai saudaranya dan tempat latihan yang melampaui logika ruang waktu, kebangkitannya kini tidak akan bisa dihentikan oleh siapa pun.
Statistik Bab 19 :
Karakter: Wang Tian, Long Wei (Saudara Angkat), Lin Xuelan, Sui Ren, Mora.
Pencapaian: Menghancurkan Armada Koalisi, Mendapatkan Saudara Angkat dari Klan Naga.
Status Kultivasi: Wang Tian (Mencapai setengah langkah ke Ranah Nascent Soul setelah menggunakan Penyatuan Mutlak).
Lokasi: Lembah Naga Terlupakan -> Persiapan menuju Ruang Waktu Naga.
jalur kultivasi lebih panjang,adegan baku hantam,,,,tar kita bikin dia berdarah