Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Cahaya di Balik Jeruji
Langkah Arjuna membawa kakinya berhenti tepat di depan gerbang besi besar Penjara Kota. Malam itu gerimis turun, membasahi sarung hijaunya yang kusam. Arjuna tidak melakukan kejahatan, namun ia sengaja duduk di depan gerbang sambil terus memutar tasbihnya, menunggu "takdir" menjemputnya.
.
"Heh! Gelandangan! Jangan tidur di sini! Ganggu jalan saja!" teriak seorang petugas sipir muda yang sedang patroli.
.
Arjuna hanya menunduk diam. "Nyuwun ngapunten, Pak. Kulo mboten nggadhahi griya. (Mohon maaf, Pak. Saya tidak punya rumah.)"
.
Karena dianggap mengganggu ketertiban dan tidak memiliki identitas, petugas itu akhirnya menarik paksa Arjuna masuk ke dalam. Arjuna tidak melawan, ia justru tersenyum tipis. Di dimensi gaib, Kyai Loreng berjalan pelan di sampingnya, menembus tembok penjara tanpa hambatan.
.
Arjuna dimasukkan ke dalam Sel Nomor 13, sebuah sel pengap yang berisi narapidana kelas kakap. Bau keringat, asap rokok, dan aroma permusuhan menyengat hidung.
.
"Wah... ada 'mainan' baru kita, Bos!" seru seorang pria kurus dengan tato di sekujur lehernya.
.
Di pojok sel, duduk seorang pria bertubuh raksasa dengan luka parut di wajahnya. Dialah Baron, preman yang paling ditakuti di penjara itu karena kasus pembunuhan berencana. Baron menatap Arjuna dengan tatapan predator.
.
"Sini kamu, Gembel! Bawa apa kamu di tas kusam itu?" gertak Baron. Suaranya berat, membuat tahanan lain gemetar.
.
Arjuna mendekat dengan tenang, lalu duduk bersila di depan Baron. Ia mengeluarkan seikat Lontar Gaib-nya. "Niki namung godhong garing, Mas. Kagem ngukir donga. (Ini cuma daun kering, Mas. Buat mengukir doa.)"
.
Baron tertawa terbahak-bahak sampai urat lehernya menonjol. "Doa?! Di sini tidak ada Tuhan, Bocah Gendheng! Di sini yang ada cuma setan dan darah!"
.
Baron merampas tas Arjuna dan hendak membakarnya dengan korek api. Namun, tiba-tiba tangan Baron kaku di udara. Korek apinya jatuh. Matanya melotot, napasnya tersengal-sengal.
.
Di mata Baron, sel itu mendadak berubah menjadi lautan api yang sangat panas. Dan di tengah api itu, ia melihat Arjuna duduk di atas punggung seekor harimau putih raseksa (Kyai Loreng) yang mripate (matanya) menyala seperti matahari.
.
"Ampun... Panas! Ampun...!" Baron menjerit-jerit sambil bersujud di kaki Arjuna. Tahanan lain kebingungan, mereka hanya melihat Baron ketakutan pada seorang gelandangan yang diam saja.
.
Arjuna memegang pundak Baron yang gemetar hebat. "Mboten nopo-nopo, Mas. Niku namung bayangan duso panjenengan sing sampun ngebaki ati. (Tidak apa-apa, Mas. Itu cuma bayangan dosa Anda yang sudah memenuhi hati.)"
.
Seketika ilusi itu hilang. Baron lemas, ia menangis tersedu-sedu seperti anak kecil di pangkuan Arjuna. "Mas... kulo pun mboten kiat... duso kulo kakehan... (Mas... saya sudah tidak kuat... dosa saya terlalu banyak...)"
.
Malam itu, pemandangan luar biasa terjadi di Sel 13. Arjuna mulai mengukir aksara di atas lontarnya. Cahaya bening keluar dari setiap goresan tangannya. Satu per satu narapidana di sel itu mendekat, mereka merasa tenang hanya dengan menghirup aroma wangi melati yang keluar dari tubuh Arjuna.
.
"Zikir niki nggo ngresiki ati, dudu nggo pamer. (Zikir ini buat membersihkan hati, bukan buat pamer.)" ucap Arjuna lembut.
.
Keesokan paginya, sipir penjara terkejut setengah mati. Biasanya Sel 13 penuh dengan teriakan dan perkelahian, tapi pagi ini, semua narapidana sedang duduk rapi, mengikuti Arjuna melantunkan Zikir Sirri dengan suara yang sangat halus namun menggetarkan dinding penjara.
.
"Siapa sebenarnya orang ini?" bisik sang Kepala Sipir yang berdiri di balik jeruji. Ia merasakan wibawa yang luar biasa dari Arjuna, seolah yang ada di dalam sel itu bukan gelandangan, melainkan seorang raja yang sedang menyamar.
.
Arjuna hanya menoleh sedikit, lalu kembali memejamkan mata. Tugasnya di sini belum selesai. Ia tahu, di luar sana, keluarganya sedang mencari "Sang Penulis" yang dulu mereka buang, tanpa sadar bahwa Sang Penulis itu kini sedang mendekap dosa-dosa manusia di dalam penjara yang paling kotor
Suasana di blok narapidana kelas kakap berubah total. Tidak ada lagi suara teriakan kasar atau bau asap rokok yang menyesakkan. Sebagai gantinya, aroma wangi melati dan kayu cendana seolah merembes dari celah-celah dinding beton Sel 13.
.
Baron, yang dulunya singa penjara, kini duduk bersila di samping Arjuna. Wajahnya yang sangar kini tampak lebih teduh. Ia sedang belajar memegang tasbih kayu pemberian Arjuna.
.
"Mas Juna, nopo kulo sing duso niki isih pantes dingapura? (Mas Juna, apa saya yang berdosa ini masih pantas dimaafkan?)" tanya Baron dengan suara bergetar. Tangannya yang penuh tato tampak gemetar.
.
Arjuna menghentikan goresan pisau kecilnya di atas daun lontar. Ia menatap Baron dengan sorot mata yang sejuk. "Mas Baron, Gusti Allah niku mboten nate nutup lawang sepurane. Sing nutup niku awake dhewe mergo sombong karo dusone. (Mas Baron, Tuhan itu tidak pernah menutup pintu maaf-Nya. Yang menutup itu diri kita sendiri karena sombong dengan dosanya.)"
.
Tiba-tiba, pintu besi sel berderit nyaring. Pak Baskoro, Kepala Sipir penjara yang dikenal sangat galak dan tegas, berdiri di sana. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya tampak kurus dan ia terus-menerus terbatuk darah ke sapu tangannya.
.
Pak Baskoro sudah berbulan-bulan menderita sakit paru-paru kronis yang tak kunjung sembuh. Dokter sudah angkat tangan. Malam itu, ia datang ke Sel 13 karena mendengar laporan anak buahnya tentang "Gelandangan Ajaib".
.
"Kowe... sing jenenge Arjuna? (Kamu... yang namanya Arjuna?)" tanya Pak Baskoro sambil terbatuk hebat.
.
Arjuna bangkit berdiri pelan, menghormati pria tua di depannya. "Nggih, Pak. Kulo namung musafir ingkang numpang tilem. (Iya, Pak. Saya hanya musafir yang menumpang tidur.)"
.
Pak Baskoro menatap tajam ke arah Arjuna, lalu matanya beralih ke arah pojok sel. Ia tersentak hebat hingga hampir jatuh. Di mata batin Pak Baskoro yang sedang di ambang maut, ia melihat sosok Kyai Loreng sedang duduk mendekam di belakang Arjuna, menjaga pemuda itu dengan wibawa yang luar biasa.
.
"Harimau... putih..." bisik Pak Baskoro dengan bibir gemetar.
.
Arjuna segera mendekat dan memegang lengan Pak Baskoro. "Sampun, Pak. Mboten usah wedi. Kyai Loreng mboten badhe ngganggu wong sing atine pengen resik. (Sudah, Pak. Tidak usah takut. Kyai Loreng tidak akan mengganggu orang yang hatinya ingin bersih.)"
.
Arjuna mengambil selembar Lontar Gaib yang baru saja ia ukir. Ia mencelupkan ujung lontar itu ke dalam segelas air putih, lalu memberikannya kepada Pak Baskoro. "Ngunjuk niki, Pak. Niatno kagem ngresiki duso, sanes namung ngresiki penyakit. (Minum ini, Pak. Niatkan untuk membersihkan dosa, bukan cuma membersihkan penyakit.)"
.
Pak Baskoro meminum air itu dengan ragu. Seketika, ia merasakan hawa dingin yang luar biasa menjalar dari tenggorokannya menuju paru-parunya. Rasa sesak yang menyiksanya selama berbulan-bulan hilang dalam sekejap. Ia batuk sekali lagi, namun yang keluar bukan darah, melainkan gumpalan cairan hitam berbau busuk.
.
"Astaghfirullah... kulo krasa enteng banget... (Astaghfirullah... saya merasa ringan sekali...)" Pak Baskoro langsung bersujud di depan jeruji besi. Air matanya tumpah ruah. Ia merasa seperti bayi yang baru lahir kembali.
.
Kejadian itu disaksikan oleh para sipir lainnya dari CCTV dan lorong penjara. Mereka semua terpaku. Seorang gelandangan kucel bersarung hijau baru saja menyembuhkan penyakit mematikan hanya dengan selembar daun kering.
.
Namun, di saat suasana penuh haru itu, sebuah perintah datang dari pusat. Keluarga Wijaya, melalui Guntur, memberikan donasi besar untuk merenovasi penjara tersebut dan meminta izin untuk "mempekerjakan" beberapa narapidana sebagai kuli proyek di rumah mewah mereka yang baru.
.
Guntur dijadwalkan datang besok pagi untuk memilih orang-orangnya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa kakak yang sangat ia benci, kini menjadi "Gusti" yang disembah di dalam penjara itu.
.
Arjuna kembali duduk bersila. Ia tahu, ujian Malamatiyah selanjutnya akan segera tiba. Ia harus tetap terlihat seperti gelandangan bodoh saat adiknya datang besok, meski seluruh isi penjara kini tunduk padanya.
Pagi itu, suasana penjara mendadak sibuk. Karpet merah digelar di lorong utama untuk menyambut kedatangan donatur besar, Guntur Wijaya. Guntur melangkah dengan sombong, mengenakan setelan jas desainer dan sepatu kulit yang mengkilap, kontras dengan lantai semen penjara yang dingin.
.
"Pak Baskoro, saya butuh sepuluh orang yang tenaganya kuat untuk angkut-angkut material di rumah baru saya. Pilihkan yang paling patuh, ya," ucap Guntur sambil mengibas-ngibaskan tangan, merasa risih dengan bau penjara.
.
Pak Baskoro, yang kini tubuhnya terasa segar bugar berkat air doa Arjuna, menatap Guntur dengan tatapan aneh. Ia tahu siapa yang ada di Sel 13, tapi ia teringat pesan Arjuna semalam: "Sampun, Pak. Kulo tetep dadi gembel nggih. (Sudah, Pak. Saya tetap jadi gelandangan ya.)"
.
"Silakan pilih sendiri di blok narapidana, Mas Guntur," jawab Pak Baskoro singkat.
.
Guntur berjalan menuju Sel 13. Di sana, para tahanan sudah berdiri rapi atas instruksi Baron. Namun, di pojok sel, Arjuna tetap duduk bersila dengan sarung hijaunya, wajahnya tertutup debu dan rambutnya acak-acakan. Ia sengaja menunduk dalam-dalam.
.
"Heh! Kamu yang di pojok! Bangun!" teriak Guntur sambil menendang jeruji besi. Teng! Suaranya memekakkan telinga. "Kenapa kamu malas sekali? Penjara bukan tempat buat tidur-tiduran!"
.
Arjuna bangkit perlahan, tubuhnya tampak ringkih. Ia tetap menunduk, menyembunyikan sorot matanya yang tajam. "Nggih, Den. Nyuwun sewu. (Iya, Tuan. Mohon maaf.)"
.
Guntur tertawa mengejek melihat penampilan Arjuna yang sangat "hancur". "Pak Baskoro, saya ambil gelandangan ini satu. Kelihatannya dia bodoh dan penurut. Cocok buat bersihkan septic tank atau angkut kotoran bangunan. Hahaha!"
.
Baron yang ada di samping Arjuna mengepalkan tangannya hingga uratnya menonjol. Ia hampir saja menerjang Guntur karena tidak terima "Gurunya" dihina, tapi Arjuna memegang tangan Baron dengan lembut. Isyarat batin Arjuna berkata: "Sabar, Mas. Iki lakuku. (Sabar, Mas. Ini jalanku.)"
.
"Bawa dia ke truk! Kasih baju kuli yang paling murah!" perintah Guntur kepada anak buahnya.
.
Arjuna pun diborgol dan digiring keluar. Saat melewati Guntur, aroma melati yang sangat lembut tercium oleh Guntur. Guntur sempat tertegun sejenak, ia merasa aroma itu sangat akrab, seperti aroma kamar kakaknya dulu. Tapi ia segera menepis pikiran itu. "Mana mungkin gembel ini baunya wangi? Pasti imajinasiku saja," pikirnya sombong.
.
Sebelum naik ke truk, Arjuna menoleh ke arah Pak Baskoro dan memberikan selembar Lontar Gaib secara sembunyi-sembunyi. "Niki kagem njagi penjara niki saking bala', Pak. (Ini buat menjaga penjara ini dari mara bahaya, Pak.)"
.
Truk pun melaju menuju kediaman mewah Keluarga Wijaya. Arjuna duduk di pojok truk, di antara tumpukan semen dan besi tua. Di dimensi lain, Kyai Loreng melompat ke atas atap truk, matanya mengawasi Guntur dengan tajam.
.
Arjuna memutar tasbihnya di balik borgol. Ia akan kembali ke rumah yang pernah mengusirnya, bukan sebagai pewaris, melainkan sebagai kuli yang paling rendah.
.
"Malamatiyah niku mboten nate kalah, Kyai... (Malamatiyah itu tidak pernah kalah, Kyai...)" bisik Arjuna sambil menatap langit kota yang mulai mendung. "Mung Gusti sing ngerti kapan wayahe drajat niku dibalik. (Hanya Tuhan yang tahu kapan waktunya derajat itu dibalik.)"
.
Perjalanan Arjuna memasuki babak baru. Ia akan bekerja di rumah orang tuanya sendiri, menyaksikan kesombongan adiknya dari dekat, sambil terus mengukir takdir gaib di atas daun lontarnya.