NovelToon NovelToon
Diputusin Tunangan, Dilamar Aktor Tampan!

Diputusin Tunangan, Dilamar Aktor Tampan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Showbiz
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 – Bima

Bab 24 – Bima

Jalanan Jakarta yang macet. Naya yang ngotot, membuatku tidak bisa berhenti menggerakan kaki kananku. Gelisah.

“Aku jelasin dulu, oke?” tanyaku berusaha tetap tenang.

“Astaga, Bima!” Naya tiba-tiba teriak.

Seperti ada air es satu ember yang menyiram wajahku. Aku terhenyak mendengar Naya teriak seperti itu. Astaga Bima. Aku tidak pernah mendengarnya memanggil namaku – hanya benar-benar namaku saja. Antara sakit kena air es yang dingin, tapi juga wajahku jadi terasa segar.

Hening.

Tidak ada yang bicara.

“Oke!” kataku sambil tersenyum.

“Oke?” tanyanya heran.

“Oke, aku bilang sama Mutia soal kita. Tapi…,” aku memutar otak. Tidak ingin segampang itu menuruti keingingannya. Karena dia juga harus tahu apa yang sedang aku hadapi.

“Tapi apa?” tanya Naya heran.

“Kamu ikut aku.”

“Hah?”

“Kenapa?” samar-samar terdengar suara Devi, temannya di seberang telepon.

Naya bicara dengan Devi sambil berbisik. Tapi aku masih bisa mendengar semuanya.

“Bima ngajak aku ketemuan sama Mutia. Buat jelasin semuanya.”

“Deal!”

“Deal?”

“Iya, temuin aja sekalian. Biar si mumut itu tahu, kalau elu yang punya Bima!”

Aku tersenyum mendengar jawaban temannya itu. Sepertinya aku punya banyak sekutu, kataku dalam hati.

“Halo?” suara Naya membuyarkan semangatku.

“Devi bener. Biar dia tahu kamu itu punya aku!” kataku tegas.

Tiba-tiba kembali hening.

Apa aku salah bicara? Apakah terlalu memaksa?

“Nay?” tanya Bima membuyarkan lamunanku.

“Oke. Kita ketemuan sama Mutia. Di mana, kapan?”

--

Aku dan Celsi memperhatikan Naya yang sedang melihat-lihat poster film yang ada di kantornya Celsi.

“Rumahnya Amanda Mai, katanya kebakaran?” begitu Naya melihat poster film pertama Amanda Mai.

“Iya, sekarang lagi direnovasi,” jawab Celsi santai.

Naya manggut-manggut, lalu duduk di kursi. Kakinya bergerak naik turun. Gelisah. Sama seperti aku.

Aku tersenyum, lalu melirik Celsi.

Celsi yang duduk di kursinya, menggelengkan kepala, “Kayaknya kalian emang jodoh.”

“Kenapa?” tanya Naya heran, melihatku yang berdiri bersandar di dinding, lalu melihat Celsi.

“Bima itu, kalau lagi gugup juga suka goyang-goyangin kaki!” kata Celsi sambil menatap laptopnya.

Naya berhenti menggerakkan kakinya, “Oh.”

“Kayaknya bisa gempa kalau duduk di belakang kalian pas ijab kabul nanti,” kata Celsi terkekeh.

“Eh, Mutia udah dateng!” kataku menghilangkan gugup di antara aku dan Naya. “Aku jemput di depan ya?”

“Oke,” Celsi menutup laptopnya.

Aku bergegas pergi keluar ruangan, lalu menyambut Mutia yang turun dari mobil merahnya. Dia cipika-cipiki padaku sambil mengeluh, “Aduh GPSnya eror, susah banget nyari kantor ini! Kenapa sih kamu kantornya nggak di tengah kota aja?”

Kenapa juga elu yang repot, kataku dalam hati.

Aku mengajak Mutia langsung masuk ke ruang kerja Celsi. Mutia yang tadnya tampak ceria dan cerewet, langsung diam melihat Naya.

“Ini, orang WO ya?” Mutia melirikku.

“Duduk dulu yuk,” kataku mengajak Mutia duduk di hadapanku, sementara aku duduk di sebelah Naya.

“Ada apa sih ini? kok serius banget!” Mutia tampak mulai kesal.

“Kita mau bahas soal gosip akhir-akhir ini. antar kamu dan aku!” jawabku dengan tegas.

“Gosip apa?” Mutia memalingkan wajahnya, tidak mau bertatapan denganku.

“Kamu bilang, aku cari cincin buat kamu,” kataku pada Mutia.

Mutia terdiam, masih melihat ke langit-langit, poster di dinding atau ke Celsi, entah lah.

“Kamu bilang, kita akan menikah,” kataku lagi.

“Kata siapa?” Mutia membela diri.

“Udah lah, jujur aja. faktanya kamu ngomong sama banyak media,” Celsi membantuku dari balik meja kerjanya.

Mutia memutar bola matanya, berusaha mencari alasan.

“Kita nggak mau nyalahin siapa-siapa. Kita cuma mau cari solusi supaya gosip ini selesai. Biar gosip ini nggak belarut-larut. Supaya karirnya Bima nggak terhambat hanya karena gosip kayak gini,” jelas Celsi.

Mutia menghela napas.

“Aku memang mau nikah,” kataku kemudian.

“Hah!” Mutia kaget.

“Tapi bukan sama kamu, tapi sama Naya,” kataku sambil menatap Naya. Naya tampak memerah pipinya. “Aku juga beli cincin, buat Naya.”

“Hah!” Mutia tidak percaya.

“Yah belum sih. Soalnya ternayta aku harus tau ukuran jarinya Naya,” kataku sambil mengambil tangannya Naya, “Jadi belum aku beli. Kamu harus ikut ke toko, buat ngukur cincin.” Kataku sambil menatap Naya.

Mutia bangkit dengan kesal.

Aku dan Naya juga ikutan bangkit, bingung.

“Nggak ada kok yang ngira aku mau nikah sama kamu!” teriak Mutia, lalu pergi dari ruangan.

Aku, Naya, dan Celsi bengong.

“Gimana ini?” Naya bingung.

“Setidaknya kita sudah jujur sama dia,” jawab Celsi.

“Terus?”

“Terus, kita ke toko cincin, cari cincin yang pas buat kamu!” aku tersenyum padanya.

--

Hari-hari berikutnya sudah lebih tenang. Aku bisa beraktifitas lebih santai sambil memikirkan urusan gedung. Sedangkan Naya sudah minta maaf atas pemaksaannya terhadapku. Kami sudah pesan cincin juga. Tapi ternyata semuanya kejadian yang menenangkan ini, tidak berlangsung lama. Aku tahu, jalan tol saja pasti ada batu kerikil di atasnya.

Malam hari setelah aku dan Naya teleponan soal mengatur pertemuan keluarga, Celsi mengirimkan sebuah video.

Mutia membeberkan data-data Naya di media sosial dengan narasi Naya adalah pelakor, merebut aku dari Mutia.

Aku menepuk jidat, “Apa lagi siiiih!”

Naya langsung meneleponku.

Aku mengambil napas panjang, berusaha mengatur kewarasan, “Halo?”

“Kamu udah liat video wawancara si Mumut itu!” Naya langsung nyerocos marah, padahal sebelumnya dia mengucapkan selamat tidur dengan sangat amat manis.

“Tenang sayang,” kataku yang mulai terbiasa memanggilnya sayang.

“Gila ya dia itu. Kenapa sih? Pansos?”

“Oke, tarik napas. Tenang.”

Naya mengikutiku menarik napas, lalu tenang.

“Aku udah bilang sebelumnya, gimana pun juga pasti akan ada gosip-gosip terus.”

“Iya, aku tahu. Karena kamu itu artis!” Naya terdengar kesal.

“Tapi kan kamu tahu, sebenernya kita gimana? Aku nggak ada apa-apa sama dia,” kataku berusaha menjelaskan berulang-ulang. Dan mungkin ini yang harus aku lakukan terus menerus kalau mau menikah dengan Naya. Aku tidak keberatan, asalkan itu memang aku lakukan untuk Naya.

“Iya,” katanya mulai tenang.

“Udah lah, biarin aja. Mending kita tunjukin aja, kalau emang kita serius.”

“Maksudnya?”

“Ya kita jalanin aja berdua. Kemana-mana berdua.”

“Hemmm…,”

“Kalau dipikir-pikir, kita belum pernah pacaran. Iya nggak sih?” kataku mengalihkan pembicaraan dari emosinya ke sesuatu yang menenangkan. Semoga.

“Iya sih. Terus?”

“Kalau kamu mau, kita diner yuk?”

“Hemmm…,”

“Kayak date gitu. Pacaran. Gimana?”

“Kalau date gitu, kamu harus ajak aku dulu dong,” kata Naya menantang.

Oke. Aku suka tantangan, kataku dalam hati lalu tersenyum senang.

“Oke, ehem,” kataku mengambil ancang-ancang. “Nay, besok malem, kamu ada acara nggak?”

“Besok malem? Hem…, belum tau. Emangnya kenapa?”

“Aku mau ajak kamu diner. Mau nggak?”

Naya terkekeh geli. “Hemmm, boleh.”

“Oke. Aku jemput kamu di rumah ya, jam tujuh?”

“Jangan di rumah, di kafe aja.”

“Oke. Di kafe, jam tujuh?”

“Oke.”

“Sampe besok,” kataku tersenyum.

“Daaah,” jawabnya mengakhiri pembicaraan malam itu.

Aku lalu tidur sambil tersenyum, menunggu kencan pertamaku dengan Naya.

1
Q. Adisti
menyala bimaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!