Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemeja Sutra dan Medan Tempur Keluarga
[Dua Minggu Kemudian, Sehari Sebelum Keberangkatan ke Sumatera]
Kawasan Menteng, Jakarta Pusat - Pukul 19.00 WIB.
Duduk di kursi penumpang sebuah SUV hitam yang membelah kemacetan akhir pekan Jakarta, Dr. Lyra Andini merasa seolah sedang menuju tiang eksekusi.
Telapak tangannya dingin dan berkeringat. Ia sudah mengusapkan tangannya ke atas gaun sutra selutut berwarna emerald green yang ia kenakan setidaknya lima belas kali dalam sepuluh menit terakhir. Ia melepas kacamatanya, mengelapnya dengan tisu pembersih lensa, lalu memakainya lagi. Kakinya yang terbalut sepatu hak rendah (kitten heels) terus mengetuk-ngetuk karpet mobil dengan ritme gelisah.
Di kursi kemudi, Kolonel Rayyan Aksara memutar kemudi dengan satu tangan. Pria itu menoleh sekilas, menangkap semua kegelisahan kekasihnya.
Rayyan hari ini tidak memakai perlengkapan taktis. Ia mengenakan kemeja linen berwarna biru gelap yang digulung rapi hingga siku dan celana panjang berwarna senada. Ia terlihat sangat elegan, mahal, dan entah bagaimana, justru semakin mengintimidasi dalam balutan sipil kelas atas itu.
“Lyra,” panggil Rayyan pelan. Ia melepaskan tangan kirinya dari kemudi, lalu menggenggam tangan Lyra yang sedingin es. Ibu jarinya mengusap punggung tangan gadis itu dengan gerakan menenangkan. “Ini hanya makan malam. Bukan sidang pengadilan militer.”
Lyra menelan ludah, menoleh menatap profil samping Rayyan. “Bagimu, mungkin. Bagiku, ini adalah invasi ke wilayah teritorial Jenderal Bintang Empat. Rayyan, ayahmu adalah mantan Panglima! Dan ibumu berasal dari garis keturunan diplomat. Aku? Aku menghabiskan seluruh hidupku mengobrol dengan batu dan kerangka manusia!”
Tawa bariton Rayyan meledak pelan di dalam kabin mobil yang kedap suara. “Mereka akan menyukaimu.”
“Bagaimana kalau aku menjatuhkan vas Dinasti Ming milik ibumu? Atau menyandung meja antik peninggalan kakekmu? Atau lebih buruk lagi, bagaimana kalau aku tidak sengaja membahas politik kolonial di tengah hidangan pembuka?” Lyra mulai mengoceh, napasnya memburu. “Aku harus memutar balik. Turunkan aku di halte terdekat, Rayyan. Kumohon.”
Rayyan meminggirkan mobilnya sedikit sebelum memasuki gerbang perumahan elit di kawasan Menteng. Ia menghentikan laju kendaraan, memutar tubuhnya menghadap Lyra, dan menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangan besarnya yang hangat.
Mata obsidian Rayyan mengunci tatapan panik Lyra, seketika menyedot habis seluruh ketakutan gadis itu.
“Dengarkan aku,” ucap Rayyan, suaranya rendah dan penuh otoritas yang tak terbantahkan, namun memancarkan kelembutan yang nyata. “Kau adalah wanita yang menekan kasa ke dalam luka tembakku tanpa berkedip. Kau menutup sarkofagus batu seberat berton-ton. Dan kau berdiri menantangku saat aku menyuruhmu berlindung.”
Ibu jari Rayyan membelai tulang pipi Lyra. “Kau tidak perlu membuat mereka terkesan, Lyra. Karena pria yang duduk disebelahmu ini sudah bertekuk lutut padamu. Jika mereka tidak menyukaimu, itu masalah mereka, bukan masalah kita. Mengerti?”
Kalimat itu meluncur dengan begitu mantap hingga Lyra tidak punya pilihan selain memercayainya. Udara di paru-parunya yang tadi terasa sesak perlahan kembali terisi. Lyra mengangguk pelan, menyentuhkan tangannya ke atas punggung tangan Rayyan yang berada di pipinya.
“Mengerti,” bisik Lyra.
Rayyan tersenyum tipis, mengecup kening Lyra sejenak, lalu kembali melajukan mobilnya memasuki sebuah gerbang besi tempa raksasa yang dijaga oleh dua petugas keamanan berseragam.
Kediaman Keluarga Aksara bukanlah sekadar rumah. Itu adalah sebuah estate megah bergaya kolonial Belanda yang dirawat dengan sangat apik. Pilar-pilar besar berwarna putih menyangga teras depan, dihiasi oleh lampu-lampu kristal hangat dan taman tropis yang sangat tertata. Bangunan itu memancarkan aura old money dan disiplin militer yang sangat pekat.
Saat mereka turun dari mobil, Rayyan langsung menawarkan lengan kanannya. Lyra mengaitkan lengannya disana, berpegangan pada otot bisep Rayyan layaknya pelampung di tengah samudra.
Pintu kayu jati berukir itu dibuka oleh seorang asisten rumah tangga. Mereka melangkah masuk ke dalam foyer (ruang depan) yang beralaskan karpet Persia tebal.
Lyra terhuyung ke depan dengan bunyi pekikan tertahan.
Namun, Rayyan Aksara adalah pria dengan refleks seorang pembunuh elit. Bahkan sebelum Lyra benar-benar kehilangan keseimbangan, lengan Rayyan sudah melingkar kuat di pinggang ramping gadis itu, menahannya tetap mengambang di udara, lalu menariknya kembali berdiri tegak dalam satu gerakan mulus yang nyaris tak terlihat.
“Tarik napas,” bisik Rayyan di telinga Lyra, tangan besarnya tidak bergeser dari lekuk pinggang belakang Lyra, memberikan proteksi fisik yang sangat menenangkan.
“Rayyan? Kalian sudah sampai?”
Sebuah suara wanita yang elegan dan merdu terdengar dari arah ruang keluarga.
Seorang wanita paruh bayu yang sangat cantik melangkah anggun mendekati mereka. Ibu Gayatri Aksara mengenakan kebaya modern berwarna biru navy yang sederhana namun memancarkan kelas. Rambutnya disanggul rapi. Wajahnya memiliki garis ketegasan yang sama dengan Rayyan, namun matanya memancarkan kehangatan yang membuat Lyra sedikit lega.
“Ibu,” Rayyan melepaskan pinggang Lyra sejenak untuk menyalimi ibunya dan mengecup pipi wanita itu.
Lalu, Rayyan kembali merangkul pinggang Lyra, menariknya maju dengan lembut. “Ibu, perkenalkan. Ini Dr. Lyra Andini. Rekan kerjaku, sekaligus… wanita yang kuceritakan.”
Lyra tersenyum sopan, mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan Ibu Gayatri dengan takzim. “Selamat malam, Ibu. Terima kasih sudah mengundang saya.”
Ibu Gayatri menahan tangan Lyra, menatap wajah gadis itu dengan saksama. Matanya yang tajam bak elang menyapu penampilan Lyra dari kacamata bulatnya hingga ke ujung sepatunya. Lalu, sebuah senyum tulus mengembang di wajah keibuan itu.
“Jadi ini gadis yang membuat anak saya yang keras kepala ini tiba-tiba meminta saran soal bunga dan reservasi restoran?” Ibu Gayatri terkekeh, membuat wajah Rayyan menegang menahan malu, sementara wajah Lyra merona merah. “Panggil saya Tante Gayatri, Sayang. Mari masuk, ayahnya sudah menunggu di ruang makan.”
Ruang makan itu dihiasi oleh meja kayu mahagony panjang yang muat untuk dua belas orang, diterangi oleh lampu gantung kristal. Di ujung meja utama, duduklah sosok yang paling ditakuti Lyra.
Jenderal (Purn) Baskoro Aksara.
Pria itu memiliki postur tubuh yang sama tegapnya dengan Rayyan, meski rambutnya sudah dipenuhi dengan uban. Wajahnya keras, dihiasi bekas luka samar di pelipis kanan. Tatapannya saat melihat Lyra masuk seolah sedang memindai ancaman keamanan nasional.
“Selamat malam, Bapak,” Lyra menyapa dengan sopan, berusaha menahan agar suaranya tidak bergetar.
Jenderal Baskoro hanya mengangguk singkat, sebuah gerakan mikro yang sangat militer. “Duduklah.”
Makan malam dimulai dengan keheningan yang kaku. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan porselen terdengar sangat nyaring. Ibu Gayatri mencoba mencairkan suasana dengan menanyakan hal-hal ringan seputar kemacetan Jakarta, namun Jenderal Baskoro terus menatap Lyra dengan intensitas yang mengintimidasi.
Saat hidangan utama berupa steik tenderloin dihidangkan, interogasi itupun dimulai.
“Jadi, Dr. Andini,” suara Jenderal Baskoro berat dan menggema, membuat Lyra refleks meletakkan pisaunya. “Rayyan memberitahu saya bahwa Anda adalah seorang arkeolog yang kini bekerja sama dengan Badan Intelijen. Dan kalian baru saja membentuk divisi baru.”
“Benar, Pak,” jawab Lyra, menegakkan punggungnya. Rayyan di sebelahnya menatap ayahnya dengan peringatan halus, namun Jenderal itu mengabaikannya.
“Saya membaca sedikit profil Anda,” lanjut Sang Jenderal, menyesap anggur merahnya. “Anda cemerlang dibidang akademis. Universitas terbaik, predikat summa cum laude, publikasi internasional. Namun, Anda menghabiskan hidup Anda di perpustakaan dan lubang galian.”
Jenderal Baskoro meletakkan gelasnya, mencondongkan tubuhnya ke depan. “Dunia anak saya adalah dunia yang dipenuhi peluru, darah, dan kematian. Keputusan yang terlambat satu detik bisa berarti kehilangan nyawa satu pleton. Saya tidak bermaksud tidak sopan, Dokter, tetapi apa yang bisa dilakukan oleh seorang akademisi sipil di medan perang? Bukankah kehadiran Anda hanya akan menjadi… beban keamanan baginya?”
Udara di ruang makan itu mendadak membeku. Ibu Gayatri menghela napas panjang. “Baskoro, tolong…”
“Bapak.” Suara Rayyan memotong dengan tajam. Rahangnya mengeras, matanya berkilat marah. Tangannya mengepal di atas meja. “Saya tidak membawa Lyra kesini untuk di uji kelayakannya. Dia menyelamatkan nyawa saya, dan dia menyelamatkan tim saya. Jika Bapak menganggapnya beban, maka—“
“Tidak apa-apa, Rayyan.”
Suara Lyra memotong kalimat Rayyan. Sangat tenang, sangat jernih.
Rayyan menoleh, terkejut melihat Lyra tidak menunduk ketakutan. Gadis itu menatap lurus ke arah Jenderal Baskoro tanpa berkedip di balik kacamata bulatnya. Insting akademisnya yang selalu menyala saat menghadapi teka-teki sulit kini bangkit untuk menghadapi Sang Jenderal.
“Anda benar, Jenderal,” ucap Lyra pelan, namun seluruh ruangan memperhatikannya. “Saya tidak tahu cara memegang senapan. Saya tidak bisa berlari sejauh sepuluh kilometer dengan beban tiga puluh kilogram di punggung. Dalam pertempuran fisik, saya adalah kelemahan mutlak.”
Lyra meletakkan kedua tangannya di atas meja, menautkan jari-jarinya dengan anggun.
“Namun, medan perang tidak selalu tentang siapa yang memiliki peluru paling banyak. Ribuan tahun yang lalu, Sun Tzu menulis bahwa peperangan tertinggi adalah mematahkan perlawanan musuh tanpa bertempur,” Lyra menatap mata Sang Jenderal lekat-lekat. “Musuh yang dihadapi divisi kami saat ini tidak menggunakan peluru. Mereka menggunakan sandi hidrolik berusia tiga ratus tahun. Mereka menggunakan jebakan seismik yang bisa meruntuhkan gunung. Dan mereka menggunakan senjata biologis yang sudah terkubur sejak era kolonial.”
Lyra memberi jeda sejenak, membiarkan bobot kata-katanya meresap.
“Kolonel Rayyan dan pasukannya bisa membunuh seratus tentara bayaran dalam satu malam. Tetapi satu kesalahan kecil dalam membaca relief kuno di dinding bisa membunuh jutaan warga sipil di pagi harinya,” suara Lyra semakin mantap. “Anak Anda adalah pedangnya, Jenderal. Dia luar biasa mematikan dan tak tertandingi. Namun, di dalam lorong gelap yang dipenuhi teka-teki purba… sayalah yang memegang obornya. Saya bukan bebannya. Saya adalah matanya saat taktik militernya tidak lagi berguna.”
Keheningan yang mencekam turun ke ruang makan itu. Rayyan menatap Lyra dengan mulut sedikit terbuka, terpesona hingga ke tulang sumsum oleh keberanian dan kecerdasan wanita di sampingnya.
Ibu Gayatri tersenyum sangat lebar, dengan elegan menyesap air putihnya untuk menyembunyikan tawa kemenangannya.
Jenderal Baskoro terdiam selama sepuluh detik penuh. Tatapannya tidak lepas dari mata Lyra yang menolak untuk tunduk.
Lalu, perlahan, dada pria tua itu bergetar. Jenderal Baskoro terkekeh pelan, kekehan yang kemudian berubah menjadi tawa berat yang renyah. Garis-garis keras di wajahnya seketika melunak.
“Pedang dan obor,” gumam Sang Jenderal, mengangguk-angguk puas. Ia mengangkat gelas anggurnya ke arah Lyra. “Saya akui, saya salah menilaimu, Lyra. Kau mungkin tidak memegang senjata, tapi lidah dan otakmu setajam bayonet. Rayyan… kau akhirnya menemukan seseorang yang bisa menundukkan arogansimu.”
Rayyan menghela napas lega, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan seringai bangga. “Sudah kubilang, Pak. Dia bukan warga sipil biasa.”
Makan malam berlanjut dengan suasana yang berputar seratus delapan puluh derajat. Jenderal Baskoro rupanya sangat menyukai sejarah militer, dan ia menghabiskan sisa malam itu berdiskusi dengan Lyra tentang strategi perang kuno era Majapahit, sementara Rayyan dan ibunya hanya bisa bertukar pandang penuh kelegaan.
Dua jam kemudian, setelah berpamitan, Rayyan dan Lyra berjalan menyusuri jalan setapak berbatu di taman samping kediaman keluarga Aksara untuk menuju mobil. Angin malam Jakarta terasa lebih sejuk.
Lyra menghela napas panjang, kakinya terasa lemas. “Astaga, aku seperti baru saja mempertahankan disertasi S3-ku untuk kedua kalinya.”
Rayyan terkekeh, melingkarkan lengannya yang kokoh di pinggang Lyra dan menarik gadis itu merapat ke sisinya. “Kau menghancurkannya, Lyra. Ayahku tidak pernah memberikan pujian seperti itu kepada siapa pun sejak tahun sembilan puluhan. Kau benar-benar menaklukkan markas besarku malam ini.”
“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya,” gumam Lyra, menyandarkan kepalanya ke bahu bidang Rayyan.
Rayyan menghentikan langkah mereka di bawah bayangan pohon kamboja besar yang diterangi lampu taman kuning temaram. Ia memutar tubuh Lyra, merengkuh gadis itu dengan kedua lengannya.
“Pedang dan obor,” bisik Rayyan, mengulangi kalimat Lyra dengan nada yang luar biasa intim. Ibu jarinya membelai rahang Lyra dengan memuja. “Kau tahu, saat kau mengatakan itu di depan ayahku… aku harus menahan diri mati-matian untuk tidak menciummu tepat di atas meja makan.”
Lyra tersipu, memukul pelan dada pria itu. “Rayyan! Ibumu bisa kena serangan jantung.”
“Biarkan saja. Mereka harus tahu bahwa putra mereka sudah kalah telak,” Rayyan menundukkan wajahnya.
Ia tidak memberi Lyra kesempatan untuk membalas. Bibir Rayyan menemukan bibir Lyra, melumatnya dengan gairah dan rasa bangga yang meluap-luap. Ciuman itu tidak terburu-buru, melainkan sebuah penegasan rasa memiliki yang sangat dalam. Tangan Lyra merayap naik, mengalung di leher Rayyan, merespons setiap sentuhan sang Kolonel dengan cinta yang sama besarnya.
Ketika mereka akhirnya melepaskan diri, Rayyan mengecup dahi Lyra cukup lama.
“Besok pagi kita ke Sumatera,” bisik Rayyan, menatap mata Lyra yang berkabut. “Sebuah lembah yang belum dipetakan. Menuju kristal kedua, atau apapu yang di proyeksikan hologram itu. Kau siap, Dr. Andini?”
Lyra tersenyum mantap, memperbaiki letak kacamatanya. Di balik pelukan pria terkuat yang ia kenal, rasa takutnya tak lagi memiliki tempat.
“Dengan oborku, dan pedangmu, Komandan? Aku siap menuju ke ujung dunia mana pun.”