𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 25 - Kebahagiaan yang Disembunyikan
Pagi di Avermont datang perlahan, hampir tanpa suara.
Kabut tipis menggantung di antara pepohonan pinus yang menjulang di kejauhan. Udara dingin menyelinap lembut melalui celah jendela hotel, membawa aroma tanah basah dan daun yang masih menyimpan sisa embun malam.
Jam digital di meja samping ranjang menunjukkan 05.15.
Vhiena terbangun lebih dulu. Matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit kamar hotel yang luas dan terang remang oleh cahaya pagi. Untuk sesaat, ia lupa di mana ia berada. Lalu ingatan tentang perjalanan, Avermont, dan sosok yang tidur di ranjang tepat di sebelah nya datang bersamaan—membuat jantungnya berdegup pelan.
Rizuki masih tertidur. Wajahnya tampak jauh lebih tenang dibanding biasanya. Alisnya tidak berkerut, rahangnya tidak mengeras. Rambut hitamnya sedikit berantakan, jatuh ke dahi dengan cara yang membuatnya terlihat… manusiawi. Bukan sosok tenang dan penuh kendali seperti yang Vhiena kenal.
Vhiena tersenyum kecil. Pelan, ia menggeser tubuhnya, duduk di sisi ranjang. Ia memeluk lututnya sendiri, menatap Rizuki beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. “Selamat pagi, Rizuki…” gumamnya pelan, hampir seperti doa.
Tidak ada jawaban. Ia tertawa kecil tanpa suara. Vhiena lalu memberanikan diri mendekat. Ia duduk di sisi Rizuki, mencondongkan tubuh sedikit. Tangannya terangkat ragu, lalu menyentuh bahu Rizuki dengan lembut.
“Ki… bangun,” katanya pelan. “Kita di Avermont, bukan di sekolah.”
Rizuki bergeming.
Vhiena mengerucutkan bibir, lalu mencoba lagi. “Kamu mau tidur sampai siang? Katanya mau lihat kota pagi-pagi…”
Rizuki mengerang pelan, alisnya berkerut sedikit. “…jam berapa ini?” suaranya serak.
“Lima lewat lima belas,” jawab Vhiena jujur.
Rizuki membuka satu mata, menatap jam, lalu menutupnya lagi. “Ini masih malam.”
Vhiena tertawa kecil. “Pagi. Di sini pagi itu indah, Ki. Ayo… jalan pagi.”
Rizuki terdiam beberapa detik, lalu perlahan membuka mata sepenuhnya. Ia menatap Vhiena yang duduk di sampingnya—rambut cokelatnya diikat asal, wajahnya polos tanpa riasan, mata cokelatnya berbinar oleh antusiasme.
Rizuki menghela napas pelan. “…kamu selalu menang,” katanya akhirnya.
Vhiena tersenyum lebar.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah siap. Vhiena mengenakan jaket tipis berwarna krem, sementara Rizuki memakai jaket hitam sederhana. Mereka melangkah keluar hotel, disambut udara dingin Avermont yang segar dan menusuk lembut.
Langit mulai memerah di ufuk timur. Jalanan masih sepi. Hanya beberapa penduduk lokal yang terlihat, berjalan santai atau membuka kios kecil. Hutan pinus berdiri megah di kejauhan, kabut perlahan terangkat. Mereka berjalan berdampingan, awalnya dalam diam yang nyaman.
Lalu, tanpa banyak kata, Rizuki mengulurkan tangannya. Vhiena terkejut sesaat. Tangannya ragu menyambut, namun ketika jemari mereka bersentuhan, Rizuki langsung menggenggamnya—tegas tapi hangat.
Vhiena menunduk sedikit, pipinya memanas. “…Ki,” gumamnya.
Rizuki tidak menjawab. Ia hanya terus berjalan, genggaman tangannya tidak mengendur.
Vhiena merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Ini terasa aneh. Tapi juga… sangat membahagiakan. Ia menggenggam balik tangan Rizuki, lebih erat. “Aku senang,” katanya tiba-tiba.
Rizuki menoleh sedikit. “Tentang?”
“Semua ini,” jawab Vhiena jujur. “Avermont… jalan pagi… kamu.”
Rizuki diam.
Vhiena melanjutkan, suaranya lembut. “Biasanya hidupku itu… sekolah, rumah, Ayu, Lala. Sederhana. Tapi sekarang… rasanya seperti mimpi.”
Rizuki menatap jalan di depan mereka, rahangnya mengeras sedikit. “Aku senang kamu bahagia,” katanya pelan.
Mereka berjalan lebih jauh, menyusuri jalan kecil yang mengarah ke taman kota. Matahari mulai muncul, sinarnya menembus celah pepohonan.
Setelah beberapa saat, Vhiena bertanya, suaranya hati-hati. “Ki… setelah lulus nanti… kamu mau ke mana?”
Langkah Rizuki melambat sedikit. Ia sudah tahu pertanyaan ini akan datang. Ia sudah menyiapkan jawabannya. Tapi entah mengapa, pagi ini terasa lebih berat dari yang ia perkirakan.
Rizuki menghembuskan napas pelan. “Mungkin… aku akan kuliah di luar negeri.”
Vhiena berhenti berjalan. “Luar negeri?” ulangnya.
Rizuki ikut berhenti, menoleh padanya. “Iya,” katanya dengan nada tenang.
“Mungkin enam… atau tujuh tahun.”
Mata Vhiena sedikit membesar. “Lama sekali…”
Rizuki mengangguk. “Karena itu… aku mengajak kamu ke sini,” lanjutnya, tetap berbohong dengan wajah yang nyaris tanpa cela.
“Sebelum aku pergi.”
Hening.
Kabut pagi bergerak perlahan di sekitar mereka. Vhiena menunduk, menggigit bibirnya. Ada sesuatu yang menyusut di dadanya—rasa sedih yang datang tiba-tiba, tak diundang. Namun ia mengangkat wajahnya kembali dan tersenyum. “Itu… bagus,” katanya pelan.
“Pendidikan itu penting. Kamu pintar. Kamu pasti bisa.” Rizuki menatapnya lama. “Aku akan merindukanmu,” lanjut Vhiena, jujur meski suaranya sedikit bergetar. “Tapi… aku bangga.”
Rizuki merasakan sesuatu menekan dadanya. Ia menggenggam tangan Vhiena lebih erat. “Aku juga,” katanya singkat.
Mereka kembali berjalan. Di balik ketenangan wajah Rizuki, pikirannya kacau. Ia tidak akan pergi kuliah enam atau tujuh tahun. Ia tidak akan meninggalkan dunia ini. Ia sedang membangunnya.
Namun untuk saat ini, kebohongan ini adalah satu-satunya cara agar Vhiena tetap aman… dan bahagia.
Pagi Avermont terus berjalan.
Dan di antara kabut, genggaman tangan, dan langkah pelan itu—sebuah jarak masa depan mulai terbentuk, tipis namun nyata.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/