Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.
Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Hujan deras mengguyur Jakarta sore itu, menciptakan tirai air yang mengaburkan pandangan ke arah jalan raya Sudirman. Suara petir sesekali menggelegar, memantul di antara gedung-gedung kaca. Aku berdiri di lobi kantor, menatap lurus ke luar dengan perasaan hampa.
Gema masa lalu kembali mengetuk ingatanku. Dulu, setiap kali hujan seperti ini, Baskara adalah orang yang paling sibuk. Ia akan meneleponku berkali-kali hanya untuk memastikan aku tidak nekat menembus hujan, atau ia akan tiba-tiba muncul dengan payung besar dan jaket ekstra untukku. Dan dulu, aku selalu membalasnya dengan gerutuan, "Jangan lebay, Bas. Aku bisa naik taksi online sendiri."
Aku menghela napas, merapatkan blazerku yang tipis. Sekarang, tidak ada lagi telepon itu. Tidak ada lagi payung biru yang menungguku.
Saat aku bersiap menerobos hujan menuju pangkalan taksi, sebuah mobil putih yang sangat kukenali berhenti tepat di depan lobi. Kaca jendela terbuka sedikit, menampilkan sosok Baskara yang menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras. Di sampingnya, Rasya melambaikan tangan dengan ramah.
"Mbak Aruna! Ayo bareng aja! Hujannya awet banget ini, susah cari taksi!" seru Rasya dari dalam mobil.
Aku mematung. Melirik Baskara yang sama sekali tidak menoleh ke arahku. Ia memegang kemudi dengan erat, seolah-olah keberadaanku di sana adalah ujian kesabaran baginya.
"Terima kasih, Rasya. Tapi aku sudah pesan taksi online. Sebentar lagi sampai," bohongku. Aku tidak ingin merusak ketenangan mereka—atau ketenanganku sendiri—di dalam ruang sempit mobil itu.
"Yakin, Mbak? Ini banjir lho di depan," desak Rasya tulus.
"Yakin. Duluan saja. Hati-hati di jalan," jawabku dengan senyum profesional yang sudah kulas sejak pagi.
Mobil itu melaju pergi, membelah genangan air yang menciprat ke arah kakiku. Aku melihat lampu rem mobil itu menjauh, membawa Baskara pergi ke rumah barunya. Pria itu benar-benar menuruti permintaanku untuk menganggapku tidak ada. Tidak ada tawaran paksa, tidak ada tatapan cemas. Hanya keheningan yang dingin.
Aku berdiri sendirian di lobi yang mulai sepi. Hujan terasa semakin lebat, seolah-olah langit sedang menumpahkan seluruh rasa sesak yang kupendam. Aku baru menyadari satu hal yang paling menyakitkan: Dulu aku benci saat dia terlalu peduli padaku di tengah hujan. Sekarang, saat dia benar-benar acuh, rasanya jauh lebih dingin daripada air hujan yang mulai membasahi ujung sepatuku.
Aku merogoh ponsel, bukan untuk memesan taksi, tapi hanya untuk melihat layar yang gelap. Gema rasa bersalah itu kini tidak lagi bersuara, ia hanya terasa seperti dingin yang menusuk tulang. Aku menghancurkan Baskara yang hangat, dan sekarang, aku harus terbiasa dengan dunia yang membeku ini sendirian.
Satu jam berlalu. Lobi kantor sudah hampir kosong, menyisakan kegelapan yang hanya diterangi lampu-lampu darurat. Aplikasi di ponselku terus menunjukkan lingkaran berputar tanpa henti—semua taksi online seolah menghilang di balik banjir yang mulai mengepung kawasan ini.
Aku kedinginan. Ujung rok dan blusku mulai lembap karena tampias air yang dibawa angin kencang. Di titik ini, aku hanya ingin segera sampai di apartemen, mengunci diri, dan menangis sepuasnya tanpa ada yang melihat.
Tiba-tiba, sorot lampu mobil kembali membelah kegelapan lobi. Mobil putih itu lagi. Mobil yang seharusnya sudah berada jauh di sana bersama Rasya. Mobil itu berhenti tepat di depanku, dan kali ini, kaca jendela di sisi pengemudi turun sepenuhnya.
Hanya ada Baskara di sana. Sendirian.
"Mana taksimu?" suaranya berat, nyaris tenggelam oleh suara hujan yang menghantam atap mobil.
Aku tersentak, mencoba menyembunyikan getaran di tanganku. "Tadi... dibatalkan sepihak. Ini sedang cari lagi."
Baskara mendengus sinis, matanya menatapku dengan sorot yang sulit terbaca—perpaduan antara jengkel dan sesuatu yang ia tahan sekuat tenaga. "Naik. Aku tidak punya waktu semalaman untuk menunggumu dapat taksi yang tidak akan pernah datang di cuaca seperti ini."
Aku ragu sejenak. "Rasya mana?"
"Aku sudah mengantarnya pulang ke apartemennya. Dia yang memaksaku kembali ke sini karena dia khawatir kamu terjebak. Sekarang naik, sebelum air di depan semakin tinggi," perintahnya tegas.
Aku terpaksa masuk ke dalam mobil. Aroma parfum maskulinnya segera menyerbu indra penciumanku, membawa gema memori yang membuat dadaku sesak. Selama beberapa menit, hanya ada suara wiper yang bergerak cepat di kaca depan.
"Kenapa tidak bawa mobil?" tanya Baskara tiba-tiba tanpa menoleh.
"Mobilku sedang di bengkel. Ada kendala di mesin," jawabku pelan.
Baskara mengetatkan genggamannya pada kemudi. "Ke mana Aruna yang dulu? Yang selalu punya segalanya di bawah kendalinya? Yang tidak pernah mau merepotkan orang lain?"
Aku menatap ke luar jendela, melihat jalanan yang macet total. "Mungkin dia sudah lama hilang, Bas. Bersamaan dengan semua kesalahan yang dia buat."
"Dulu aku sering memaksamu untuk kubawakan mobilmu ke bengkel, tapi kamu selalu menolak. Kamu bilang kamu benci jika aku terlalu mengatur hidupmu," lanjutnya, suaranya kini terdengar getir. "Sekarang, melihatmu berdiri kedinginan di lobi sendirian seperti tadi... itu membuatku bingung. Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan: melihatmu yang dulu semena-mena, atau melihatmu yang sekarang begitu... kosong."
Aku hanya terdiam. Tidak ada jawaban yang bisa meredakan badai di dalam mobil ini. Gema rasa bersalah itu kembali berteriak, mengingatkanku bahwa pria yang sedang menyetir ini adalah orang yang paling kubuang kebaikannya, namun dia jugalah yang tetap kembali saat aku tak punya siapa-siapa di tengah hujan.