NovelToon NovelToon
Hutang Yang Harus Kubayar

Hutang Yang Harus Kubayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:725
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Rio menatap punggung Nadia yang setengah membeku di tepi halte. Lampu jalan memantulkan cahaya pucat di aspal basah, menciptakan bayangan panjang yang memisahkan mereka. Ada jeda aneh sebelum ia akhirnya membuka suara lagi jeda yang biasanya hanya muncul ketika ia ragu, ketika ia tahu satu kalimat bisa mengubah banyak hal.

“Nona,” ucap Rio pelan, “apakah Anda mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan angka tujuh pada Tuan?"

Nadia tidak menjawab.

Ia menatap lurus ke depan, memperhatikan orang-orang berlalu-lalang, bus yang datang dan pergi, seolah semua itu lebih penting daripada percakapan yang sedang berlangsung. Di dadanya, ada perasaan campur aduk lelah, bingung, dan sedikit getir. Ia tidak tahu harus berkata apa. Bagaimana ia menjelaskan percakapan yang bahkan dirinya sendiri belum sepenuhnya pahami?

“Atau…” Rio melanjutkan dengan nada lebih hati-hati, “apakah Anda mengatakan ingin meninggalkan Tuan?”

Pertanyaan itu akhirnya membuat Nadia bergerak. Ia menoleh perlahan, menatap Rio dengan ekspresi datar bukan marah, bukan takut, melainkan dingin.

“Apa pun yang terjadi pada Arya,” katanya akhirnya, suaranya tenang namun tegas, “bukan urusanku.”

Rio mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawaban itu.

“Tapi,” lanjut Nadia, matanya menyipit sedikit, “yang ingin aku tahu… apa yang akan dia lakukan setelah aku menyinggungnya?”

Rio terdiam sejenak. Ia tahu ke mana arah pertanyaan ini. “Maksud Anda…?”

“Apakah dia akan menyingkirkanku?” tanya Nadia tanpa basa-basi.

Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan tidak nyaman. Rio menghela napas panjang sebelum menjawab. “Itu… mungkin saja.”

Nadia menahan napas.

“Terutama,” lanjut Rio, “melihat bagaimana kemarahan Tuan tadi.”

Jantung Nadia berdegup lebih kencang. Namun ia tidak terkejut. Ia sudah menduga kemungkinan itu sejak awal, sejak ia memutuskan untuk tidak diam, sejak ia memilih berbicara dan menawar, sejak ia menyentuh sisi rapuh seorang pria yang hidupnya dibangun di atas kendali.

“Namun,” tambah Rio cepat, “sejauh ini belum ada perintah apa pun.”

Nadia menoleh lagi. “Maksudmu?”

“Keberadaan Anda,” jelas Rio hati-hati, “masih dibutuhkan untuk beberapa waktu ke depan.”

Kata-kata itu membuat Nadia kebingungan.

“Dibutuhkan?” ulangnya. “Untuk apa?”

Bukankah sejak awal ia hanya alat? Jalan pintas untuk melunasi hutang ayahnya? Cara cepat agar Arya terbebas dari masalah yang tidak ingin ia tangani secara langsung?

Rio menangkap kebingungan itu. Ia tahu, apa pun yang akan ia katakan selanjutnya tidak lagi bisa ditarik kembali.

“Tidak lama lagi,” katanya, menatap lurus ke depan, “nyonya besar akan datang.”

Nadia menegang.

“Ibu Tuan Arya?” tanyanya.

“Bukan,” jawab Rio. “Ibu tiri.”

Nadia terdiam, memberi isyarat agar Rio melanjutkan.

“Beliau,” kata Rio, “berniat menjodohkan Tuan dengan wanita pilihannya. Seperti biasa.”

Nadia mengerutkan kening. “Seperti biasa?”

Rio tersenyum pahit. “Sudah beberapa kali.”

Kata-kata itu jatuh satu per satu, membentuk gambaran yang semakin jelas. Nadia mulai memahami potongan-potongan yang sebelumnya tidak masuk akal.

“Dan kebetulan,” lanjut Rio, “ayah Anda membuat masalah besar pada waktu yang tidak tepat.”

Nadia menghela napas pelan.

“Saya,” kata Rio, “yang menyarankan Tuan untuk menikahi Anda.”

Nadia membeku.

Jadi itu.

Bukan belas kasihan. Bukan ketertarikan. Bukan amarah semata.

Strategi.

Nadia menunduk, pikirannya berputar cepat. Jadi ketika Arya tahu ayahnya membuat masalah—masalah yang cukup besar untuk membuatnya seharusnya disingkirkan pria itu justru menikahinya. Memberinya tempat tinggal. Kehidupan yang, dari luar, tampak layak.

Bukan karena ia peduli.

Melainkan karena ia… berguna.

“Jadi,” ucap Nadia pelan, suaranya nyaris berbisik, “meskipun dia membenciku dia tidak akan membiarkanku pergi?”

Rio mengangguk.

“Selama kondisi ini masih berjalan,” katanya, “ya.”

Nadia mengangkat wajahnya, menatap langit malam yang tertutup awan. Ada rasa sesak yang sulit dijelaskan. Bukan kaget. Bukan sedih. Lebih seperti kepastian pahit yang akhirnya terucap.

“Lalu,” tanya Nadia, “apa yang harus aku lakukan?”

Rio tampak sedikit lega dengan pertanyaan itu. “Belum ada perintah apa pun dari Tuan,” jawabnya. “Untuk sementara, Anda bisa menjalani hidup seperti biasa. Tinggal di kos. Bekerja.”

Nadia menatapnya. “Seperti tidak terjadi apa-apa?”

Rio mengangguk. “Kurang lebih.”

Ada jeda singkat sebelum Nadia kembali bertanya, “Nyonya yang akan datang itu… apakah dia yang membuat Arya membenci angka tujuh?”

Pertanyaan itu membuat Rio terhenyak.

Ia menoleh cepat, menatap Nadia dengan keterkejutan yang tidak ia sembunyikan. Tidak banyak orang yang bisa menghubungkan potongan-potongan cerita secepat itu. Dan fakta bahwa Nadia melakukannya tanpa informasi lengkap membuatnya tidak nyaman.

“Bukan,” jawab Rio akhirnya, sedikit tergesa. “Itu… istri kedua Tuan besar.”

Nadia mengangguk pelan.

Ia mulai melihat gambaran yang lebih utuh  seorang ayah yang menikah lagi setelah istri pertamanya pergi. Seorang anak yang ditinggalkan di usia tujuh tahun. Keluarga yang tidak pernah benar-benar utuh. Ibu tiri yang mencoba mengatur hidup seorang anak yang bukan darah dagingnya.

Dan seorang pria dewasa yang tumbuh dengan kemarahan yang tidak pernah benar-benar dipahami.

“Jadi,” kata Nadia pelan, “hubungan Arya dan keluarganya… tidak baik.”

Rio tidak membantah.

“Dan ibu tirinya,” lanjut Nadia, “terus mencoba menjodohkannya.”

Rio terdiam.

“Benar-benar seperti novel,” gumam Nadia tanpa senyum.

Ia menoleh lagi. “Apakah ada orang lain yang tahu semua ini?”

Pertanyaan itu membuat jantung Rio berdetak lebih kencang.

Ia baru menyadari, terlambat bahwa ia telah menceritakan terlalu banyak. Kelemahan tuannya. Luka lama yang menjadi sumber kemarahan Arya. Informasi yang, jika jatuh ke tangan yang salah, bisa menjadi senjata.

Apakah Anda akan menyebarkannya?

Pertanyaan itu tidak terucap, namun jelas terbaca di wajah Rio.

“Apakah Anda akan menyebarkannya?” tanya Rio akhirnya, suaranya kaku.

Nadia menatapnya dengan kening berkerut. Ia benar-benar terlihat tidak mengerti mengapa pertanyaan itu muncul sekarang.

“Sudahlah,” katanya akhirnya, berbalik. “Bukan urusanku.”

Ia melangkah pergi.

Namun tiba-tiba, lengannya tertahan. Tangan Rio mencengkeram pergelangan lengannya, tidak terlalu keras, namun cukup untuk menghentikannya.

“Nona,” ucap Rio tegas, “saya peringatkan Anda. Jangan membuat masalah dengan Tuan.”

Nadia menoleh, matanya menyala. Dengan satu gerakan cepat, ia menghempaskan cekalan Rio.

“Kalian,” katanya dingin, “yang membuat masalah lebih dulu denganku.”

Rio terdiam.

Nadia menatapnya lurus, lalu tersenyum kecil—senyum yang tidak mengandung kehangatan.

“Dan percayalah,” lanjut Nadia, “aku tidak tertarik pada rahasia siapa pun. Tapi jika kalian terus menekanku… aku juga bisa belajar melindungi diriku sendiri.”

Ia berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi.

Di kejauhan, Rio berdiri terpaku. Dadanya naik turun, pikirannya kacau. Ia baru saja melakukan kesalahan besar.

Ia masuk ke mobil, menutup pintu dengan kasar, lalu memukul setir dengan telapak tangannya. “Sial!”

Ia mengeluarkan ponsel dan segera menghubungi Melia.

Begitu sambungan tersambung, ia berkata cepat, “Melia, aku butuh bantuanmu. Awasi pergerakan Nadia.”

Di seberang, suara Melia terdengar tajam. “Apa yang kamu lakukan, Rio?”

“Aku—” Rio terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Aku kecolongan.”

“Kecolongan?” Melia mendengus. “Kamu menceritakan apa?”

Rio tidak menjawab, tapi keheningan itu sudah cukup.

“Bodoh,” potong Melia dingin. “Kamu tahu betul itu kelemahan Tuan.”

“Aku tahu,” jawab Rio frustrasi. “Tapi aku tidak menyangka dia akan bertanya sejauh itu.”

“Sekarang meskipun kamu menyuruhku mengawasi dia” suara Melia naik. “Kamu pikir itu memperbaiki keadaan?”

Sambungan terputus sepihak.

Rio mengumpat panjang.

Bukannya memperbaiki situasi, ia justru menciptakan masalah baru, masalah yang berpotensi lebih besar dari sebelumnya.

Di sisi lain kota, Nadia berjalan menuju kosnya dengan langkah lebih ringan daripada yang ia duga. Bukan karena beban hidupnya berkurang, melainkan karena ia akhirnya memahami posisi di papan permainan ini.

Ia mungkin bukan pemain utama.

Tapi setidaknya sekarang, ia tahu di mana celahnya berada.

Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, Nadia tidak hanya bertahan ia mulai berpikir bagaimana caranya keluar dengan kepalanya tetap tegak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!