"Keadilan di kota ini tidak ditegakkan, melainkan diperdebatkan dengan nyawa."
Bagi Dr. Saraswati, detektif psikolog jenius, semua kejahatan pasti tunduk pada logika dan akal sehat. Hingga "Sang Pembebas" muncul—pembunuh berantai misterius yang membantai para elit korup tanpa jejak, hanya menyisakan teka-teki berdarah yang mengejek hukum.
Di mata publik yang tertindas, pembunuh ini adalah pahlawan. Di mata hukum, ia monster anarkis.
Alih-alih bersembunyi, Sang Pembebas justru mengincar Saraswati. Melalui teror pesan chat rahasia, ia mengajak sang detektif bermain kucing-kucingan mematikan, menguliti trauma masa lalunya satu per satu.
Untuk menangkap entitas di luar nalar ini, Saraswati dihadapkan pada pilihan fatal: mempertahankan kewarasannya dan kalah, atau melepaskan logikanya untuk menyelami kegelapan pikiran sang pembunuh.
Siapa yang memburu, dan siapa yang sebenarnya sedang diburu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 ABU KETERASINGAN DAN LAHIRNYA LEVIATHAN BARU
[07:00 AM] TIGA HARI KEMUDIAN – KLINIK BAWAH TANAH SEKTOR 4
Bau tajam yodium, alkohol medis, dan darah kering adalah hal pertama yang menyambut kesadaran Dr. Saraswati saat ia kembali dari ketiadaan.
Ia membuka matanya perlahan. Pandangannya kabur, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu neon yang berkedip lemah di langit-langit beton yang rendah. Ia tidak lagi berada di ruang isolasi rumah sakit militer, dan ia tidak lagi berada di puncak Mercusuar Karang Hitam. Ia berbaring di atas ranjang medis sederhana di sebuah ruangan bawah tanah yang dindingnya dilapisi peredam suara berbahan busa usang.
Rasa sakit yang luar biasa segera menyergap bahu kanannya, mengirimkan sinyal bahaya ke seluruh sistem saraf pusatnya. Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Rasa sakit itu tidak lagi disertai oleh kepanikan instingtual. Dalam kerangka psikoanalisis Sigmund Freud, Saraswati akhirnya berhasil melepaskan diri dari rantai kompulsi pengulangan (repetition compulsion)—sebuah kecenderungan tak sadar untuk terus-menerus mereka ulang situasi traumatis dari masa lalunya. Kematian metaforis Kala dan kekalahan Abimanyu telah menutup gerbang trauma masa kecilnya. Kini, rasa sakit di bahunya murni merupakan konsekuensi dari realitas fisiknya, bukan lagi proyeksi dari hantu di dalam lemari.
Eros (insting untuk hidup) di dalam dirinya telah menang mutlak atas Thanatos (hasrat menuju kematian). Ia masih hidup. Ia telah selamat dari badai Dionysian yang mengamuk tiga malam yang lalu.
"Jangan bergerak terlalu tiba-tiba, Dokter. Otot bahumu baru saja kujahit ulang tiga belas jam yang lalu."
Sebuah suara perempuan yang tenang dan berwibawa terdengar dari sudut ruangan. Saraswati memutar kepalanya dengan susah payah. Di sana, duduk di depan sebuah meja yang dipenuhi instrumen bedah dan monitor komputer tua, adalah seorang wanita berusia akhir empat puluhan dengan rambut beruban yang diikat asal-asalan. Wanita itu mengenakan jas dokter yang sudah kusam.
"Di mana... di mana aku?" suara Saraswati terdengar seperti gesekan kertas pasir, pita suaranya masih dalam tahap pemulihan akibat paparan gas amonia dan karbon monoksida.
"Kau berada di Klinik Suaka Sektor 4. Tepat di bawah hidung distrik industri yang paling padat di metropolis ini," jawab wanita itu, bangkit dan berjalan mendekati ranjang Saraswati. "Namaku Dr. Aria. Aku adalah bagian dari jaringan medis independen bawah tanah. Organisasi hak asasi manusia yang kau hubungi dari pelabuhan Sektor 7 itu bekerja sama dengan kami. Tiga malam yang lalu, anak-anak yatim piatu itu membawamu ke ambang pintu kami dalam kondisi nyaris kehabisan darah."
Saraswati mencoba mengatur napasnya. "Anak-anak itu... Reno dan yang lainnya... apakah mereka aman?"
Dr. Aria tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan kelelahan namun penuh kelegaan. "Mereka aman. Kami telah memecah mereka ke dalam lima rumah aman (safe house) yang berbeda di luar jangkauan radar kepolisian. Mereka sedang dalam proses rehabilitasi psikologis. Dokumen diska lepas yang kau unggah telah mengubah nasib mereka. Dunia kini mengawasi, dan tidak ada satu pun elit korup yang berani menyentuh mereka sekarang."
Mendengar hal itu, sebuah beban mahaberat yang selama puluhan tahun menekan Superego Saraswati seolah terangkat ke udara. Logika Aristotelian yang ia pertaruhkan nyawanya—bahwa kebenaran material (Sebab Material) yang diungkapkan ke publik akan menghasilkan keadilan (Sebab Final)—telah terbukti berhasil.
Saraswati memejamkan matanya sejenak. "Bagaimana dengan kota ini? Bagaimana dengan Inspektur Bramantyo?"
Dr. Aria tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebuah remote kontrol dari sakunya dan menyalakan televisi tabung kecil yang menempel di dinding.
Layar televisi itu menyala, menampilkan siaran berita dari jaringan nasional. Namun, apa yang dilihat Saraswati bukanlah keadilan utopis yang ia bayangkan.
"...hari ketiga penerapan Darurat Militer di seluruh wilayah Metropolitan. Kerusuhan massal yang dipicu oleh kebocoran data Sektor 7 telah melumpuhkan tujuh puluh persen aktivitas ekonomi kota. Massa yang marah telah membakar gedung Balai Kota dan belasan kediaman petinggi bank. Inspektur Kepala Bramantyo dilaporkan tewas dalam insiden baku tembak dengan milisi sipil di depan Markas Besar Kepolisian..."
Saraswati menatap layar itu tanpa berkedip. Bramantyo tewas. Tatanan lama yang dipimpin oleh para politisi busuk itu benar-benar telah runtuh. Karl Marx memprediksi bahwa ketika kaum proletar menyadari alienasi mereka—menyadari bahwa nyawa mereka hanya dijadikan komoditas—mereka akan bangkit dan menghancurkan suprastruktur kapitalis yang mengurung mereka. Api revolusi yang dinyalakan oleh Kala dan Maya telah membakar segalanya.
Namun, siaran berita itu berlanjut, dan nada penyiar berita tersebut berubah drastis menjadi sangat formal dan steril.
"...Untuk memulihkan ketertiban dan menyelamatkan kota dari ancaman anarki absolut, Konsorsium Korporat Global 'Aegis Vanguard' telah mengambil alih kendali infrastruktur keamanan kota. Perusahaan militer swasta ini telah diberi mandat penuh oleh sisa-sisa kabinet darurat untuk menumpas segala bentuk pemberontakan. Jam malam diberlakukan. Setiap warga yang berada di jalanan setelah pukul delapan malam akan ditembak di tempat."
Layar televisi menampilkan rekaman barisan tank hitam dan ribuan tentara bayaran berseragam taktis tanpa logo negara, berbaris menyusuri jalanan kota yang dipenuhi puing-puing. Mereka menangkap para demonstran, memukuli buruh-buruh yang mogok kerja, dan mendirikan pos-pos pemeriksaan bersenjata berat di setiap persimpangan distrik.
Saraswati merasakan darahnya kembali mendingin.
"Kau menghancurkan monster yang lama, Saraswati," ucap Dr. Aria pelan, mematikan televisi tersebut. "Tapi alam semesta membenci ruang hampa. Ketika struktur Apollonian pemerintah runtuh oleh kekacauan revolusi, kekuatan yang jauh lebih besar dan jauh lebih tak terlihat turun tangan untuk mengisi kekosongan tersebut."
Di sinilah dialektika tragis dari sebuah revolusi terjadi. Kala memimpikan ketiadaan dan kehancuran institusi agar manusia bisa merdeka. Namun, dalam sistem kapitalis tahap akhir, modal selalu beradaptasi. Para elit politik seperti Menteri Hartono hanyalah wajah publik dari kekuasaan. Kekuatan yang sesungguhnya—mereka yang memiliki modal absolut—berada dalam bayang-bayang. Ketika pemerintah gagal melindungi aset mereka, korporasi mengambil alih fungsi negara itu sendiri. Aegis Vanguard bukanlah sekadar perusahaan keamanan; ia adalah Leviathan baru, sebuah mesin fasisme privat yang tidak lagi terikat oleh hukum konstitusi atau hak asasi manusia.
Tirani tidak mati. Ia hanya berevolusi menjadi bentuk yang lebih efisien.
[09:30 AM] SANG SUBJEK DAN TEOLOGI YANG BERJARAK
Saraswati meminta Dr. Aria untuk membantunya duduk. Dengan bantuan bantal, ia menyandarkan punggungnya ke dinding ranjang. Ia menolak obat penenang dosis tinggi yang ditawarkan sang dokter. Untuk menghadapi dunia yang baru ini, ia membutuhkan kesadarannya tetap tajam, betapapun menyakitkannya hal itu.
Ia merenungkan posisinya saat ini melalui lensa eksistensialisme Simone de Beauvoir. Dalam The Second Sex, Beauvoir menekankan bahwa seorang perempuan tidak boleh membiarkan dirinya direduksi menjadi objek pelengkap, baik oleh laki-laki maupun oleh sistem. Selama bertahun-tahun, Saraswati menjadi detektif untuk melayani sistem (menjadi objek negara). Kemudian, Kala mencoba menjadikannya sebagai instrumen pelengkap untuk revolusinya. Kini, setelah ia terbebas dari keduanya, ia menghadapi beban dari kebebasan absolut.
Kebebasan eksistensial bukanlah hadiah yang nyaman; ia adalah tanggung jawab yang mengerikan. Jika Saraswati memilih untuk diam di klinik bawah tanah ini dan melarikan diri ke luar negeri dengan identitas baru, ia akan mengkhianati filosofinya sendiri. Ia akan membiarkan Aegis Vanguard mereduksi warga kota menjadi objek tak berdaya. Ia harus tetap menjadi Subjek yang bertindak.
"Apakah kau menemukan barang-barangku saat anak-anak itu membawaku kemari?" tanya Saraswati.
Dr. Aria mengangguk. Ia berjalan ke sebuah lemari besi kecil, membukanya, dan mengeluarkan sebuah nampan berisi beberapa benda. Di atas nampan itu terdapat ponsel burner (ponsel rahasia) miliknya yang tahan air, dompet, dan sebuah gantungan kunci kuningan—kunci yang ujungnya masih menyisakan noda darah Abimanyu. Glock 19 miliknya tidak ada; senjata itu telah hilang ditelan badai di pelabuhan.
Saraswati mengambil ponsel burner tersebut. Ia menyalakannya. Enkripsi tingkat militernya masih berfungsi.
"Saraswati," Dr. Aria duduk kembali, menatap mantan detektif itu dengan raut wajah serius. "Kau adalah pahlawan bagi anak-anak itu. Kau membongkar salah satu konspirasi paling menjijikkan dalam sejarah negara ini. Tapi di mata Aegis Vanguard dan pemerintah darurat, kau masihlah 'Sang Pembebas'. Mereka masih menggunakan namamu sebagai dalang utama terorisme ini untuk melegitimasi darurat militer mereka. Selama kau berada di kota ini, kau adalah buronan nomor satu."
"Aku tahu," jawab Saraswati tenang, memutar-mutar ponsel hitam itu di tangan kirinya.
Konsep mistisisme Ibnu Arabi kembali hadir di benaknya. Ia memikirkan tentang Tanzih (transendensi, sesuatu yang berjarak dan tak tersentuh). Aegis Vanguard dan para dewan direksi global di balik perusahaan itu beroperasi murni dalam ranah Tanzih. Mereka berada jauh di atas awan, menekan tombol-tombol yang menghancurkan kehidupan di jalanan tanpa pernah harus menatap mata korbannya. Mereka adalah tuhan-tuhan palsu baru yang mendewakan modal.
Untuk menghancurkan mereka, Saraswati tidak bisa lagi beroperasi di ruang sidang atau menggunakan lencana kepolisian. Ia harus merangkul Tashbih—bergerak di antara penderitaan, dari bawah tanah, menjadi hantu yang imanen dan dekat, menggunakan kecerdasan Aristoteliannya untuk membedah anatomi korporasi raksasa tersebut satu demi satu.
"Aku tidak bisa lari, Dokter," ucap Saraswati, mengangkat wajahnya menatap Dr. Aria. "Kala, dalam kegilaannya, percaya bahwa menghancurkan satu server akan meruntuhkan dunia. Dia terlalu naif. Gurita kapitalisme ini memiliki banyak jantung. Jika kita ingin membunuh Leviathan ini, kita harus memenggal kepalanya langsung dari dalam."
"Bagaimana caranya?" tanya Dr. Aria, tampak terkejut oleh determinasi wanita yang sedang terluka parah di hadapannya itu. "Mereka memiliki ribuan tentara. Mereka mengendalikan jaringan komunikasi kota. Kau hanya sendirian."
"Aku tidak sendirian," Saraswati menyunggingkan senyum tipis yang memancarkan dominasi intelektual. "Aku memiliki sesuatu yang sangat ditakuti oleh orang-orang yang duduk di puncak kekuasaan: aku memahami bagaimana mesin logika mereka bekerja."
[11:00 AM] SURAT DARI KETIADAAN
Saraswati meminta Dr. Aria untuk meretas jaringan CCTV luar klinik menggunakan komputer tuanya. Ia perlu memetakan pola patroli Aegis Vanguard di Sektor 4. Sambil menunggu, Saraswati mencoba meregangkan otot-ototnya, menahan ringisan saat jahitan di bahunya terasa menarik kulitnya.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan namun berirama terdengar dari pintu baja klinik yang tersembunyi di balik lorong bawah tanah pembuangan air.
Tok. Tok... Tok.
Dr. Aria membeku. Ia langsung menarik sebuah senapan laras pendek dari bawah mejanya. "Tidak ada yang tahu tempat ini kecuali jaringan kurir medis kita. Dan kurir kita tidak dijadwalkan datang hari ini."
Saraswati memberi isyarat kepada Dr. Aria untuk diam. Ia turun dari ranjang, menahan rasa pusing yang menyerang kepalanya, dan berdiri di samping bingkai pintu, di luar garis tembak.
Dr. Aria mengintip melalui lubang intip (peephole) elektronik.
"Tidak ada siapa-siapa di luar," bisik Dr. Aria, keringat dingin mulai sebesar biji jagung muncul di dahinya. "Lorongnya kosong."
"Buka pintunya. Pelan-pelan," perintah Saraswati.
Dr. Aria membuka sistem pengunci ganda. Pintu baja itu bergeser terbuka sekitar dua puluh sentimeter. Di lantai beton yang basah tepat di depan pintu, terletak sebuah kotak hitam berbahan polimer halus. Kotak itu tidak memiliki label, tidak ada nama pengirim, hanya permukaan hitam pekat (matte) yang memantulkan cahaya dengan cara yang aneh.
Dr. Aria menggunakan laras senapannya untuk menggeser kotak itu ke dalam ruangan, lalu segera mengunci pintu kembali.
"Bisa jadi ini pelacak, atau peledak biologis," kata Dr. Aria tegang.
Saraswati menggeleng. Ia menggunakan nalar deduktifnya. Jika musuh menemukan lokasi mereka dan ingin membunuh mereka, mereka tidak akan mengetuk dan meninggalkan sebuah kotak; tentara Aegis Vanguard akan langsung meledakkan pintu itu dengan C4. Kotak ini adalah sebuah pesan. Sebuah pergerakan buah catur dari entitas yang mengamati mereka.
Saraswati berlutut. Dengan tangan kirinya, ia membuka kait logam kecil di sisi kotak tersebut.
Kotak itu terbuka. Tidak ada kabel peledak. Tidak ada sirkuit pelacak.
Di dalam kotak hitam itu, di atas bantalan beludru berwarna merah darah, terdapat dua benda.
Benda pertama adalah sebuah cip enkripsi data tingkat tinggi, jenis yang biasanya hanya digunakan oleh badan intelijen militer untuk mengunci server finansial internasional.
Benda kedua adalah sebuah amplop putih bersih berisi selembar kertas tebal.
Saraswati mengambil kertas itu dan membukanya. Tulisannya tidak dicetak dengan printer, melainkan diketik menggunakan mesin tik manual klasik. Tintanya menghujam tajam ke dalam serat kertas.
Sebuah silogisme Aristotelian yang ditulis dengan presisi mematikan menyapa matanya:
Premis Mayor: Setiap revolusi yang tidak dikendalikan akan selalu melahirkan diktator yang lebih kejam. Premis Minor: Aegis Vanguard adalah diktator yang tidak bisa dikalahkan oleh pedang, melainkan oleh informasi. Kesimpulan: Kita memiliki musuh yang sama, Dr. Saraswati.
Saraswati membaca kalimat selanjutnya yang tertulis di bagian bawah kertas itu.
Kala mungkin percaya pada ketiadaan, tapi aku percaya pada arsitektur kekuasaan. Kau berhasil bertahan hidup dari panggung teater psikopat itu. Sekarang, mari kita bermain di dunia orang dewasa. Di dalam cip ini terdapat akses menuju server bayangan milik Dewan Direksi Aegis. Namun cip ini terkunci oleh sandi yang hanya bisa dipecahkan oleh otak yang memahami struktur trauma manusia. Temui aku di Ruang Pameran Seni Kontemporer, Galeri Nasional, besok malam pukul 21:00. Jika kau tidak datang, anak-anak yatim piatu di rumah aman Sektor 3 akan menjadi eksperimen medis Aegis besok pagi.
- O.
Saraswati meremas pinggiran surat itu. Matanya menyipit, memancarkan aura Will to Power yang telah bangkit sepenuhnya.
Permainan kucing-kucingan psikologis dengan Sang Pembebas di masa lalu hanyalah ujian kelayakan. Babak pertama telah mengasah intuisinya dan membersihkannya dari kelemahan kompulsi traumatisnya. Kini, ia telah masuk ke dalam labirin yang jauh lebih megah dan mematikan.
Identitas pengirim berinisial 'O' ini menantangnya dalam sebuah duel intelektual tingkat tinggi, mempertaruhkan nyawa kaum terasing yang baru saja ia selamatkan.
"Apa isinya?" tanya Dr. Aria dengan cemas.
Saraswati mengambil cip enkripsi itu, menggenggamnya erat-erat di tangannya. Ia menegakkan tubuhnya, menahan rasa sakit di bahunya dengan stoikisme yang luar biasa. Tatapannya tidak lagi menyimpan keraguan atau kebingungan Hayra. Yang tersisa hanyalah fokus absolut.
"Isinya adalah sebuah undangan," ucap Saraswati, suaranya tenang dan menggema di ruang bawah tanah itu. "Undangan untuk meruntuhkan Olympus dari dalam. Tolong siapkan perban baru dan obat pereda nyeri, Dokter. Malam besok, aku harus menghadiri sebuah pameran seni."
Pertarungan melawan bayangan masa lalu telah usai. Perang gerilya melawan tuhan-tuhan korporat modern baru saja menabuh genderangnya.