Ibu hamil yang wafat di tempat kejadian,sebut saja Rini bersama dengan anaknya yang belum lahir. Rasa cinta yang dalam pada anaknya dan kemarahan pada mereka yang menyebabkan kematiannya membuatnya menjadi arwah penasaran yang tak bisa pergi ke alam lain. Setiap malam, dia muncul di jalan raya tempat kejadian itu terjadi—bayangan dia dengan perut membuncit dan tas yang masih tersangkut di bagian tubuhnya sering dilihat oleh sopir yang lewat, membuat mereka merasa dingin mendadak dan merasakan kesedihan yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Jelangkung
Terdengar suara tertawa kuntilanak yang sangat keras dan menusuk telinga terdengar dari arah jendela suara kuntilanak yang membuat semua orang langsung menutup telinga dengan tangan.
Suaranya semakin mengerikan, seperti menggeliat dan merintih sekaligus, bergema di setiap sudut ruangan. Bobi langsung menangis kecil, sementara Priya dan Putra saling memegang tangan dengan tubuh yang terus menggigil. Bayu tidak bisa berkata apa-apa, telinganya berdenging karena suara yang terlalu keras itu.
Tak lama kemudian, suara itu berubah menjadi tangisan bayi yang sangat menyakitkan telinga . Tangisan itu terdengar sangat nyaring dan penuh kesedihan, seolah bayi itu sedang dalam kesusahan luar biasa.
"TOLOL! KITA HARUS BERHENTI!" teriak Bobi dengan suara serak, mencoba bersaing dengan tangisan bayi itu.
Pada saat suara kuntilanak dan tangisan bayi masih bergema keras di telinga mereka, jelangkung yang sedang dipegang Priya dengan erat tiba-tiba mulai bergerak sendiri dengan cepat.
Tali benangnya yang sebelumnya terentang lurus kini mulai melengkung dan melilit di sekitar pergelangan tangannya tanpa ada sentuhan dari siapapun. Piring kecil yang menjadi bagian jelangkung itu bergoyang-goyang dengan sangat kencang, bahkan hampir terlepas dari tempatnya.
"AAAAH!" teriak Priya dengan suara penuh ketakutan. "Ini... ini bergerak sendiri!"
Jelangkung itu seolah punya kekuatan tersendiri, menarik tangan Priya ke arah berbagai sisi kadang ke atas, kadang ke samping seolah sedang mencoba menunjukkan sesuatu atau mengarahkan mereka ke suatu tempat. Putra mencoba membantunya melepaskan tali, tapi kekuatan yang keluar dari jelangkung itu begitu kuat sehingga mereka tidak bisa menggerakkannya sedikit pun.
"Kamu coba lepaskan tangan mu dari jelangkung itu!" teriak Putra dengan suara serak.
Priya sudah mulai menangis, tangannya terasa kesemutan karena digerakkan secara paksa. "gue udah coba! Tapi seperti ada yang menariknya dari dalam!"
Priya dengan gemetar mengangkat kepalanya, menatap piring jelangkung yang kini sudah tenang di tangannya. Dengan suara yang hampir tidak terdengar, dia bertanya:
"Siapa... siapa namamu?"
Tanpa berlama-lama, jelangkung itu mulai bergerak lagi dengan perlahan. Priya merasa tangannya digerakkan secara paksa menuju meja kecil di sudut kamar, di mana ada selembar kertas kosong dan pulpen yang tergeletak.
Piring jelangkung menekan ujung pulpen ke atas kertas, lalu mulai menuliskan huruf demi huruf dengan jelas. Ketika akhirnya berhenti, mereka semua bisa melihat dengan jelas apa yang tertulis di sana:
"RINI"
Bayu yang mengikuti dari belakang langsung terkejut dan mundur ke belakang. "R-Rini? Tante ku Rini?" bisiknya dengan suara penuh kekagetan.
Priya tidak bisa berkata apa-apa, matanya menatap tulisan itu dengan penuh ketakutan dan kebingungan. Putra dan Bobi juga berdiri terpaku di pintu kamar, tidak berani bergerak.
Jelangkung itu kemudian mulai menulis kalimat berikutnya di bawah nama itu:
"TOLONG AKU"
"APA YANG BISA KITA BANTU, TANTE?!" teriak Priya dengan nada gemetar, menatap jelangkung yang masih menempel di tangan nya.
Tak lama kemudian, suara tangisan bayi yang sangat keras dan menusuk telinga terdengar kembali kali ini jauh lebih keras dari sebelumnya, seolah datang langsung dari arah langit-langit. Mereka semua secara refleks mengangkat kepala dan menatap ke atas, mata melebar dengan ketakutan.
"BERISIK! BERHENTILAH!" teriak Putra sambil menutup kedua telinganya erat-erat. "Telingaku sakit sekali mendengarnya!"
Baru saja dia berteriak itu, Putra yang sedang duduk di lantai tiba-tiba merasa tubuhnya ditarik kuat ke belakang. Dia terjatuh terlentang, dan sebelum bisa berdiri kembali, jelangkung yang tadinya di tangan Bayu melesat dengan cepat ke arahnya tali benangnya mengelilingi pergelangan tangannya dengan erat.