Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:
Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.
Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.
Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.
Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.
Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.
Aku melihat kematianku sendiri.
Dan aku tersenyum.
Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.
Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Monster di Dalam Cermin
Malam itu, jam menunjukkan pukul 02.47. Alea tahu persis karena matanya tidak pernah lepas dari jarum jam sejak Damian Kecil menghilang ke balik dinding tiga jam lalu.
Dia duduk di tepi ranjang, punggung tegak, tangan terkepal di pangkuan. Pakaiannya masih sama seperti tadi malam—kemeja putih lengan panjang yang sekarang kusut karena keringat dingin. Di sudut kanan atas, kamera pengawas berkedip merah. Alea sudah tidak peduli lagi.
Yang ia pikirkan hanya satu hal: Damian tahu.
Lelaki itu tahu tentang Damian Kecil. Tahu tentang pertemuan mereka di lorong gelap. Dan bukan hanya tahu—dia mengakui kalau Damian Kecil adalah masa lalunya.
Tapi kalau Damian Kecil adalah masa lalu, lalu siapa yang berdiri di depannya tiga jam lalu? Siapa yang menarik lengannya dengan kasar keluar dari lorong itu? Siapa yang menatapnya dengan mata hitam penuh amarah dan—jika Alea tidak salah baca—ketakutan?
Di luar, angin malam menerpa jendela kaca tebal. Tidak ada suara lain. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada bisikan.
Hanya keheningan yang terlalu sempurna.
Alea menggenggam ujung kemejanya. Dia bilang jangan cerita ke siapa pun. Tapi dia juga bilang—
Pintu terbuka.
Alea tidak mendengar suara kunci, tidak mendengar derit engsel. Satu detik pintu itu tertutup rapat, detik berikutnya Damian sudah berdiri di ambang, memakai kemeja hitam yang sama seperti tadi malam. Tidak ada setelan jas. Tidak ada dasi. Rambutnya sedikit basah, seperti baru saja selesai mandi—atau membasuh sesuatu.
Damian menatapnya. Alea menatap balik.
Lima detik berlalu. Sepuluh.
Tidak ada yang bicara.
Alea tahu aturan main dengan pria ini. Siapa yang bicara pertama, dia yang kalah. Tapi dia juga tahu, malam ini, Damian tidak datang untuk bermain.
"Kau belum tidur." Suara Damian datar, tanpa nada tanya.
Alea menahan diri untuk tidak menyilangkan tangan. "Kau pikir aku bisa tidur?"
Damian tidak menjawab. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu berdiri dengan punggung menempel pada kayu. Seperti orang yang siap melarikan diri—atau yang takut dikejar.
Alea menajamkan tatapan. "Apa yang terjadi padanya setelah aku keluar dari lorong tadi malam?"
Damian mengalihkan pandangan. Ke jendela. Ke lantai. Ke mana saja kecuali ke arah Alea.
"Apa yang terjadi, Damian?"
Diam.
Alea turun dari ranjang. Kaki telanjangnya menyentuh karpet tebal, dan setiap langkah terasa seperti berjalan di atas bara. Damian tidak bergerak, tapi dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya.
Alea berhenti satu meter darinya. Cukup dekat untuk mencium aroma sabun dan kayu cendana. Cukup dekat untuk melihat urat di lehernya berdenyut.
"Dia bilang kau jahat," ucap Alea pelan. "Dia bilang kau menguncinya. Dia bilang kau ingin membunuhnya."
Damian akhirnya menatapnya. Matanya tidak lagi hitam pekat seperti biasanya. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang rapuh, seperti kaca retak yang siap hancur kapan saja.
"Menurutmu?" suaranya parau. "Apa kau percaya dia?"
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Alea menelan ludah. Jawabannya, sejujurnya, adalah tidak tahu. Tapi dia tidak akan mengatakannya.
"Aku percaya pada apa yang aku lihat."
"Kau melihat bocah lelaki yang ketakutan." Damian mendesis. "Tentu. Semua orang melihat itu. Tapi kau tidak melihat apa yang terjadi setelah dia kembali ke dalam."
Alea mengernyit. "Kembali ke dalam? Maksudmu—"
"Ke dalam sini." Damian menunjuk kepalanya sendiri. Satu gerakan kasar, seperti orang yang muak dengan sesuatu yang tidak bisa ia buang. "Setiap kali dia muncul, aku kehilangan waktu. Beberapa menit. Beberapa jam. Pernah tiga hari. Aku bangun dengan tangan berlumuran darah dan tidak ingat apa pun. Dan kau tahu apa yang paling menyiksa?"
Alea menggeleng perlahan.
Damian tersenyum. Bukan senyum bahagia. Senyum itu pahit, tajam, seperti pisau yang menusuk pelan-pelan.
"Aku tidak pernah menyesal."
Udara di kamar itu terasa lebih dingin. Alea merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Kau tidak menyesal membunuh?"
"Aku tidak ingat membunuh," Damian membetulkan. "Dan karena aku tidak ingat, aku tidak bisa menyesal. Logis, kan?"
Alea menggeleng. "Itu bukan logika. Itu—"
"Escape mechanism." Damian memotong. "Aku tahu. Aku bukan psikiater, tapi aku cukup pintar membaca Wikipedia."
Alea terdiam. Ia mencoba mencerna kata-kata itu. Damian dewasa—pria yang berdiri di depannya sekarang—tidak mengendalikan Damian Kecil. Damian Kecil muncul, melakukan sesuatu, lalu Damian dewasa bangun dengan amnesia disosiatif. Klasik. Tapi ada yang janggal.
"Kalau kau tidak ingat," Alea bicara perlahan, "bagaimana kau tahu bahwa dia—Damian Kecil—adalah masa lalumu?"
Damian tidak menjawab. Ia membuang muka lagi.
Alea menunggu. Di luar, angin mereda. Keheningan di dalam menjadi begitu pekat sampai Alea bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
"Karena aku menemukan buku hariannya," Damian akhirnya bicara. Suaranya kini datar. Mati. Seperti orang yang sudah berdamai dengan hal paling mengerikan dalam hidupnya. "Di ruang bawah tanah. Di tempat ayahku mengurungku. Ada buku tulis usang, sampulnya biru, gambar dinosaurus di depannya."
Alea menarik napas. Buku harian itu. Yang ia temukan di lorong sebelum Damian Kecil muncul.
"Di halaman terakhir," Damian melanjutkan, "dia menulis: Aku tidak mau jadi Damian lagi. Aku mau mati aja. Tolong, Tuhan, bunuh aku. Lalu coretan. Banyak coretan. Sampai kertasnya robek."
Jari-jari Alea menggigit telapak tangannya sendiri. Ia mencoba membayangkan—seorang anak laki-laki seusia itu, duduk di kegelapan, menulis surat bunuh diri untuk Tuhan yang tak pernah menjawab.
"Tapi dia tidak mati," Alea berbisik. "Dia bertahan."
"Dia diciptakan," Damian membetulkan. Suaranya tiba-tiba keras. "Aku yang menciptakannya. Karena Damian kecil—Damian yang asli—tidak bisa bertahan di ruang itu sendirian. Jadi dia membelah dirinya. Satu bagian tetap menjadi anak laki-laki yang ketakutan. Satu bagian lagi menjadi... sesuatu yang lain."
"Sesuatu yang lain?"
"Yang kuat." Damian menatap Alea. Untuk pertama kalinya, ada kejujuran mentah di matanya. Tanpa topeng. Tanpa dingin yang dibuat-buat. "Yang bisa membunuh tanpa gemetar. Yang tidak butuh siapa pun. Yang tidak akan pernah dikurung lagi."
Alea merasakan dadanya sesak. "Itu... kau, Damian. Damian dewasa."
Damian tersenyum pahit lagi. "Tebakan bagus. Tapi kau salah."
Alea mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Damian dewasa bukan aku." Suara Damian melemah. Hampir seperti bisikan. "Damian dewasa adalah topeng yang aku buat agar Damian kecil bisa tidur. Tapi lama-lama topeng itu tumbuh. Punya keinginan sendiri. Punya... aku."
Alea bingung. "Aku tidak mengerti."
"Kau pernah dengar tentang kepribadian ganda? Dissociative Identity Disorder?" Damian bertanya.
Alea mengangguk. Ia psikiater forensik, tentu dia tahu. Tapi ini bukan sekadar teori di buku teks. Ini tentang pria yang berdiri di depannya, yang matanya mulai basah meskipun ia berusaha mati-matian menahannya.
"Menurut psikiater yang dulu kuberi suap agar diam," Damian bicara datar, "Damian kecil adalah kepribadian asli. Aku—yang berdiri di sini sekarang—adalah kepribadian yang terbentuk untuk melindunginya. Aku yang kuat. Aku yang kejam. Aku yang bisa melakukan apa pun agar dia tidak perlu keluar lagi."
Alea terdiam. Ini masuk akal. Terlalu masuk akal.
Tapi kalau Damian dewasa adalah pelindung, lalu mengapa Damian Kecil takut padanya?
"Kalau kau melindunginya," Alea bertanya hati-hati, "kenapa dia bilang kau mau membunuhnya?"
Damian membuang muka. Tangannya mengepal di samping tubuh, lalu mengendur. Mengepal lagi. Mengendur.
"Karena aku mencoba," katanya lirih. "Beberapa kali."
Darah Alea membeku.
"Apa?"
"Bukan membunuh dalam arti fisik." Damian cepat menambahkan. Seolah itu membuat segalanya lebih baik. "Aku mencoba... menggabungkannya. Menghilangkannya. Membuatnya jadi bagian dari ingatan, bukan entitas yang bisa keluar kapan saja."
"Integrasi," Alea bergumam. "Itu tujuan terapi untuk DID. Tapi—"
"Tapi dia tidak mau." Damian menoleh, menatap Alea dengan mata yang kini benar-benar basah. Air mata tidak jatuh, tapi beningnya menyala di bawah lampu kamar. "Dia bilang dia takut. Kalau dia hilang, tidak ada yang mengingat apa yang terjadi di ruang bawah tanah. Tidak ada yang mengingat ibunya. Tidak ada yang mengingat bahwa Damian kecil dulu suka menggambar dinosaurus dan takut pada gelap dan menangis setiap kali ayahnya pulang."
Suara Damian patah di akhir kalimat.
Alea tidak pernah membayangkan bisa mendengar suara seperti itu dari pria yang dijuluki The Silent Reaper. Pria yang konon bisa membunuh tanpa berkedip. Pria yang tangannya sekarang gemetar di samping tubuhnya, seperti tidak tahu harus diletakkan di mana.
"Kau tahu apa yang dilakukan ayahku?" Damian bicara lagi, kini lebih cepat, seperti banjir yang tak bisa dibendung. "Dia mengurungku di ruang bawah tanah selama tiga bulan. Tidak ada makanan. Tidak ada air. Yang ada hanya mayat ibu tiriku yang membusuk di sudut, karena dia tewas dua minggu sebelum aku dimasukkan ke sana. Bau. Laron. Lalat. Aku masih ingat warnanya—ungu kehitaman, seperti daging busuk yang—"
"Damian." Alea melangkah maju tanpa sadar.
Tapi Damian mundur. Punggungnya membentur pintu, dan dia tampak seperti hewan yang terpojok.
"Jangan," katanya. "Jangan mendekat."
Alea berhenti. Tapi dia tidak mundur.
"Kau datang ke sini," Alea bicara lembut, "bukan karena kau ingin aku tahu. Kau datang karena kau butuh seseorang tahu."
Damian menggigit bibir bawahnya. Gigi serinya menekan daging sampai hampir berdarah.
"Tadi malam," Damian mulai, suaranya nyaris tak terdengar, "setelah aku menarikmu keluar dari lorong, aku menguncinya lagi. Aku pikir... aku pikir kalau aku menguncinya cukup lama, dia akan mati. Hilang. Tidak akan pernah muncul lagi."
Alea menahan napas.
"Tapi dia tidak mati." Damian tertawa kecil. Tertawa itu hampa, seperti orang yang sudah kehabisan air mata. "Dia malah berteriak. Di dalam kepalaku. Berjam-jam. Dia bilang aku jahat. Dia bilang aku monster. Dia bilang... dia bilang dia lebih pantas hidup daripada aku."
Alea mengepalkan tangan. Ia ingin berkata sesuatu—apa pun—tapi tenggorokannya terasa tersumbat.
"Lalu aku sadar," Damian melanjutkan, matanya kini kosong, seperti sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. "Dia benar. Dia lebih pantas hidup. Karena dia yang asli. Dia yang lembut. Dia yang masih bisa tersenyum walau semua orang menyakitinya."
Damian menunduk. Tangan di samping tubuhnya kini menggenggam erat, tapi bukan untuk menyerang. Untuk menahan.
"Sementara aku," katanya, "aku hanya monster yang dia ciptakan agar bisa bertahan."
Kata-kata itu jatuh di antara mereka seperti batu besar. Berat. Dingin. Tak terbantahkan.
Alea berdiri diam. Ia memandang Damian—pria yang selama ini ia lihat sebagai ancaman, sebagai algojo, sebagai musuh yang harus ditaklukkan. Tapi sekarang, di bawah lampu kamar yang remang, yang ia lihat hanyalah seseorang yang terlalu lama memanggul beban yang tidak pernah ia minta.
Monster yang dia ciptakan agar bisa bertahan.
Alea mengambil langkah. Satu. Damian tidak mundur.
Dua. Damian masih diam.
Langkah ketiga, Alea sudah berada cukup dekat untuk menjangkau tangannya. Tapi ia tidak melakukannya. Ia hanya berdiri di sana, menatap Damian yang kini menatap balik dengan mata yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Tidak dingin. Tidak angkuh. Tidak kejam.
Hanya kosong.
"Aku tidak tahu harus berkata apa," Alea akhirnya bicara. Suaranya serak. "Tapi aku tahu satu hal."
"Apa?"
"Kau bukan monster." Alea menegaskan. "Monster tidak akan pernah merasa bersalah. Monster tidak akan pernah ragu siapa yang lebih pantas hidup. Monster tidak akan pernah—" ia berhenti, menarik napas, "—datang ke kamar seorang wanita asing di tengah malam untuk menceritakan semua ini."
Damian menatapnya lama. Lalu, untuk pertama kalinya sepanjang malam, matanya bergerak—tidak ke lantai, tidak ke jendela, tapi tepat ke mata Alea.
"Aku tidak datang untukmu," katanya. "Aku datang karena dia minta."
Alea mengerutkan kening. "Dia? Damian Kecil?"
Damian mengangguk pelan. "Setelah kau keluar dari lorong, dia terus berteriak. Berjam-jam. Tapi satu jam yang lalu, dia berhenti. Tiba-tiba. Lalu dia bicara dengan suara... aneh. Tenang. Dewasa."
"Bicara apa?"
Damian menelan ludah. "Dia bilang, 'Kak Alea bisa lihat aku. Kak Alea tidak takut. Tolong, Damian, kasih tahu dia kalau aku tidak jahat. Kasih tahu dia kalau aku hanya ingin ditemani.'"
Udara di kamar terasa tipis. Alea merasakan sesuatu mengalir di dadanya—hangat, aneh, seperti air yang menggenang di tanah kering.
"Dan kau datang," Alea berbisik. "Kau datang untuk menyampaikan pesannya."
Damian tidak menjawab. Tapi ia tidak menyangkal.
Alea menatap pria di depannya dengan cara baru. Bukan sebagai mafia kejam yang harus ditaklukkan. Bukan sebagai tersangka pembunuh kakaknya. Tapi sebagai seseorang yang—di balik semua kekejaman yang ia tunjukkan—masih cukup peduli untuk menyampaikan pesan dari bocah laki-laki di dalam kepalanya.
Monster yang dia ciptakan agar bisa bertahan.
Mungkin itu benar. Mungkin Damian dewasa memang tercipta dari rasa sakit dan dendam dan keinginan untuk tidak pernah menjadi korban lagi.
Tapi di malam ini, di kamar ini, dengan tangan yang gemetar dan mata yang basah, Alea melihat sesuatu yang lain.
Dia melihat seseorang yang lelah menjadi monster.
Alea mengulurkan tangan. Perlahan. Tidak memaksa.
Damian menatap tangan itu seperti benda asing. Tapi setelah beberapa detik—entah karena lelah, atau karena tidak punya alasan untuk menolak lagi—ia meraihnya.
Telapak tangan Damian dingin. Sangat dingin. Seperti orang yang terlalu lama berada di ruang tanpa cahaya.
Tapi ketika jari-jari Damian menyentuh jari Alea, Alea merasakan sesuatu yang membuat jantungnya berhenti.
Visi itu datang.
Bukan kematian.
Bukan darah.
Damian kecil duduk di pangkuan seorang wanita—wajahnya kabur—di sebuah taman bermain usang. Ia tertawa. Sungguh-sungguh tertawa. Seperti anak laki-laki normal seusianya.
Wanita itu berkata, "Nak, kalau nanti kamu dewasa, kamu akan jadi orang baik."
Damian kecil menggeleng. "Aku mau jadi ksatria."
"Kenapa ksatria?"
"Biar bisa lindungi mama."
Wanita itu membelai rambut Damian kecil. Dan untuk pertama kalinya, Alea melihat senyum Damian kecil. Cerah. Tanpa beban.
Lalu visi itu bergeser.
Damian dewasa berdiri di samping Alea, di depan sebuah rumah sederhana dengan pagar putih. Ada anak perempuan berlarian di halaman. Damian menatap Alea, dan untuk pertama kalinya, ia tersenyum dengan mata.
"Terima kasih," katanya.
Visi itu pecah seperti gelembung.
Alea tersentak. Tangannya melepaskan Damian seolah tersengat listrik.
Damian menatapnya dengan curiga. "Apa?"
"Tidak—tidak ada." Alea mundur dua langkah. Kepalanya berdenyut. Apa yang baru saja ia lihat? Damian kecil bersama ibunya. Damian dewasa tersenyum di depan rumah dengan pagar putih.
Dan ia ada di sampingnya.
Itu tidak mungkin, batin Alea. Itu hanya harapan. Bukan kenyataan.
Tapi kenapa visi itu terasa begitu nyata? Begitu hangat?
Damian menatapnya dengan tatapan yang kembali dingin. Topeng itu kembali terpasang. "Kau melihat sesuatu."
"Aku tidak—"
"Jangan bohong." Damian melangkah maju. Kali ini Alea yang mundur. "Kemampuanmu. Kau bisa melihat masa depan, benar? Itu sebabnya kau di sini. Itu sebabnya kakekmu menjualmu ke keluarga mafia. Bukan karena utang, tapi karena kau bisa melihat sesuatu yang berguna untuk kami."
Alea membeku. Damian tahu? Sejak kapan?
"Aku melakukan riset," Damian bicara dingin. "Alea Anandara, psikiater forensik lulusan UI, direkrut Interpol karena kemampuan khusus. Bukan karena kecerdasanmu, tapi karena kau bisa 'melihat' pola kriminal sebelum terjadi. Kata mereka, kau spesialis menangani kasus yang melibatkan gangguan jiwa. Tapi sebenarnya, kau bisa melihat kematian."
Alea menggigit bibir. Tidak ada gunanya menyangkal.
"Benar," katanya lirih. "Aku bisa melihat bagaimana seseorang akan mati. Tapi hanya saat aku menyentuh mereka."
Damian terdiam. Lalu ia bertanya, suaranya serak, "Apa yang kau lihat saat menyentuhku tadi?"
Alea membeku. Ia tidak bisa memberitahu Damian tentang visi taman bermain itu. Apalagi tentang rumah dengan pagar putih. Terlalu personal. Terlalu... indah.
"Aku melihat... ibu kamu," Alea akhirnya bicara. Setengah jujur. "Dan Damian kecil. Di taman."
Damian terlihat seperti ditampar. Wajahnya pucat. "Ibu?"
"Ia bilang, 'Nak, kalau nanti kamu dewasa, kamu akan jadi orang baik.'"
Damian tidak bergerak. Tidak berkedip. Tidak bernapas.
"Dan Damian kecil bilang," Alea melanjutkan perlahan, "dia mau jadi ksatria. Biar bisa lindungi mama."
Udara di kamar berhenti bergerak.
Lalu Damian melakukan sesuatu yang tidak pernah Alea duga.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Bahu Damian bergetar. Tidak ada suara. Tidak ada isakan. Tapi getaran itu terlalu jelas untuk disangkal.
Alea tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak pernah melihat pria ini—tidak, ia tidak pernah melihat siapapun—menangis seperti ini. Tanpa suara. Tanpa air mata yang jatuh. Hanya getaran halus yang merambat dari bahu ke punggung, seperti tanah yang berguncang sebelum gempa.
Monster yang dia ciptakan agar bisa bertahan.
Tapi monster, ternyata, juga bisa terluka.
Alea mengambil keputusan. Ia melangkah maju, mengulurkan tangan, dan dengan lembut meletakkan telapak tangannya di punggung Damian.
Damian kaku. Seluruh tubuhnya membeku seperti patung.
"Dia masih ada di sini," Alea berbisik. "Damian kecil. Dia masih ada. Dan dia tidak ingin kau menghilang."
Damian tidak menjawab. Tapi getaran di bahunya perlahan mereda.
Mereka berdiri seperti itu entah berapa lama. Di tengah kamar mewah dengan kamera pengawas yang terus berkedip merah. Di tengah malam yang sunyi, di antara dua orang yang seharusnya menjadi musuh.
Akhirnya, Damian menurunkan tangannya. Wajahnya kering. Tidak ada bekas air mata. Tapi matanya sembab—merah di sudut-sudutnya, seperti orang yang baru saja selesai berenang melawan arus.
"Kau tidak boleh cerita ke siapa pun," katanya. Suaranya kembali datar, tapi tidak lagi dingin. Hanya lelah.
"Tentang apa?" Alea bertanya.
"Tentang apa pun yang kau lihat. Tentang dia. Tentang—" Damian berhenti, menelan ludah, "—tentang tadi malam."
Alea mengangguk. "Baik."
Damian menatapnya. Tatapan itu panjang, dalam, seperti mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik mata Alea.
"Kenapa kau tidak lari?" tanyanya tiba-tiba.
Alea mengerjap. "Apa?"
"Semua orang yang tahu tentang dia selalu lari. Psikiaterku kabur ke luar negeri. Mantan istriku pura-pura tidak tahu, lalu minta cerai. Anak buahku yang tidak sengaja melihatnya malam itu... mereka memilih mati daripada tinggal di sini." Damian menunduk. "Tapi kau masih di sini."
Alea terdiam. Ia sendiri tidak tahu jawabannya.
Mungkin karena ia sudah terbiasa dengan hal-hal aneh. Mungkin karena visi tentang taman bermain itu membuatnya penasaran. Atau mungkin—mungkin karena ketika Damian kecil memanggilnya "Kak", ada sesuatu di dadanya yang bergerak. Sesuatu yang sudah lama mati sejak kakaknya pergi.
"Karena aku tidak takut padamu," Alea akhirnya menjawab.
Damian mendongak. Matanya tajam. "Kau bodoh."
"Mungkin."
"Aku bisa membunuhmu kapan saja."
"Aku tahu."
"Kau tidak takut mati?"
Alea tersenyum tipis. "Aku sudah melihat kematian terlalu sering untuk takut."
Damian terdiam. Lalu, untuk pertama kalinya sepanjang malam, sudut bibirnya bergerak. Bukan senyum. Tapi bukan juga cemberut. Sesuatu di antaranya, seperti orang yang lupa bagaimana caranya menggerakkan otot-otot wajah untuk bahagia.
"Kau aneh," katanya.
"Aku psikiater. Kami semua aneh."
Damian menggeleng pelan. Lalu ia berbalik, membuka pintu, dan melangkah keluar.
Di ambang pintu, ia berhenti.
"Alea."
Alea menegang. Itu pertama kalinya Damian memanggil namanya tanpa embel-embel "Nona" atau nada merendahkan.
"Ya?"
Damian tidak menoleh. Punggungnya lurus, lebar, seperti benteng yang berdiri di antara Alea dan segala kegelapan di luar sana.
"Damian kecil bilang... terima kasih."
Pintu tertutup. Langkah kaki Damian menjauh, pelan, berat, seperti orang yang baru saja melepaskan beban yang dipikul selama puluhan tahun.
Alea berdiri di tengah kamar, masih merasakan dingin dari telapak tangan Damian di jari-jarinya. Ia menatap pintu yang tertutup, lalu ke jendela, lalu ke langit-langit—tempat kamera pengawas itu masih berkedip setia.
Dia tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Tapi satu hal yang ia tahu: Damian bukan monster yang ia bayangkan.
Dan mungkin, mungkin juga, Alea bukan satu-satunya yang punya rahasia tentang kematian.
Karena di dalam visi taman bermain tadi, ada satu detail yang tidak ia ceritakan pada Damian.
Wanita yang menggendong Damian kecil—ibunya—memiliki wajah yang sama dengan foto yang ia temukan di dompet kakaknya.
Foto yang bertuliskan di baliknya: "Untuk Arya, dari mama. Jaga adikmu, Nak."
---[Bersambung ]---
Alea tahu siapa ibunya Damian. Tapi ibunya Damian juga mengenal kakaknya. Pertanyaan besarnya: bagaimana? Dan mengapa foto itu ada di dompet kakak Alea?
Rahasia ini akan terungkap di bab-bab selanjutnya...
Halo, para Raiders! 💕
Bagaimana pendapat kalian tentang pengakuan Damian di bab ini? Jujur, waktu nulis adegan Damian menangis tanpa suara, saya sampai ikut nahan napas. Karakter yang kuat itu ternyata rapuh di dalamnya, dan Damian membuktikan bahwa di balik topeng dinginnya, ada luka yang belum pernah sembuh.
Apa yang kalian rasa setelah membaca bab ini? Apakah kalian semakin penasaran dengan hubungan ibu Damian dan kakak Alea? Atau kalian malah penasaran bagaimana kelanjutan hubungan Damian dan Alea setelah malam ini?
Dukung cerita ini dengan:
✅ Like dan komen pendapat kalian!
✅ Save biar gak ketinggalan update!
✅ Share ke teman-teman yang suka mafia romance dengan twist psikologi!
✅ Rate 5⭐️ kalau kalian suka dengan alur cerita yang gak terduga!
Sampai jumpa di Bab 14 lebih banyak konfliknya 😉
#TheDevilsWife #MafiaRomance #PsikologiGelap #NovelToonIndonesia