Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 14 — Percakapan Terlarang
Gudang itu berbau besi tua dan oli basi. Hujan di luar menabuh atap seng seperti drum kematian, menenggelamkan suara apa pun yang terlalu keras—dan justru itulah yang membuat tempat ini dipilih. Aman. Sunyi. Terlupakan. Dimas menahan napas di balik tumpukan peti kayu, tubuhnya menyatu dengan bayangan. Ponsel di tangannya menyala redup, kamera mengarah ke celah pintu samping yang terbuka setelapak.
Di dalam, Marco berdiri paling depan.
Lampu bohlam kuning menggantung rendah, memantulkan kilap keringat di pelipisnya. Di sekelilingnya ada sekitar lima belas orang—wajah-wajah yang tidak dikenal Dimas, tapi postur dan cara mereka berdiri bicara banyak: siap, waspada, terbiasa dengan urusan kotor. Percakapan mereka rendah, terputus-putus, seperti hewan yang berbisik sebelum menerkam.
“Kita sudah membantai keluarganya,” kata Marco, tanpa emosi. Kalimat itu jatuh begitu saja, dingin, seolah menyebut jadwal makan. “Dua puluh lima tahun lalu. Jangan pura-pura lupa.”
Dimas merasakan dunia berputar. Kata membantai menggema di tengkoraknya. Jari-jarinya menegang, hampir menjatuhkan ponsel.
Salah satu lelaki mengangkat tangan. “Tapi dua anak itu selamat.”
Marco tersenyum tipis—senyum yang membuat tengkuk Dimas dingin. “Kesalahan kecil. Sudah kita benahi sebagian.” Ia berhenti sejenak, menatap lantai. “Yang satu lumpuh. Yang satu lagi… keras kepala.”
“Perempuan?” tanya yang lain.
“Masalah,” jawab Marco cepat. “Saksi utama. Walau dia cuma sepuluh tahun saat itu, ingatannya tidak mati. Kita bikin dia gila supaya aman.”
Kata-kata itu menghantam Dimas lebih keras dari pukulan. Kita bikin dia gila. Aluna. Bros kupu-kupu. Lagu tiga sayap. Semua berputar menjadi satu pusaran.
“Jadi malam ini?” seseorang menyela, nada suaranya antusias.
Marco mengangguk. “Malam ini ketiganya harus mati.”
Hening sekejap. Bahkan hujan pun terasa berhenti. Dimas merapatkan punggung ke peti, menekan tubuhnya agar tak terlihat. Napasnya diatur pendek-pendek. Rekam. Jangan bergerak. Rekam semuanya.
“Polisi?” tanya seorang lelaki dengan jaket kulit.
“Tidak ada yang peduli kasus basi,” Marco menjawab. “Pensiunan itu? Sudah lama menyerah. Lagipula, kita rapi. Seperti dulu.”
Dimas teringat bunyi tok… tok… yang Aluna tirukan. Rapi. Seperti dulu.
“Alamatnya?” tanya yang lain.
Marco menyebutkannya tanpa ragu. Rumah tua mereka. Dimas meremas rahang. Nama rumah itu keluar dari mulut Marco seperti alamat toko kelontong—biasa, tak bermakna. Padahal di sanalah darah keluarganya pernah mengalir.
“Pastikan cepat,” lanjut Marco. “Tidak ada saksi. Tidak ada suara.”
Seseorang terkekeh. “Tenang. Senyap.”
Dimas menahan dorongan untuk muntah. Senyap. Kata itu menusuk.
Ia memperbesar zoom, memastikan wajah Marco tertangkap jelas. Bibir itu—yang dulu tersenyum ramah sebagai paman—kini mengucapkan vonis mati. Dimas memastikan audio bersih, sudut tepat. Ia tahu satu kesalahan kecil bisa mengubur bukti ini selamanya.
Percakapan berlanjut. Rencana masuk, waktu, pembagian peran. Dimas mencatat dalam kepala sambil merekam. Dua tim. Satu mematikan listrik. Satu masuk dari belakang. Cepat. Senyap. Seperti dulu.
Kakinya kesemutan. Waktu terasa lengket. Ketika rapat bubar, Dimas mundur perlahan, hati-hati agar sepatu tidak menyentuh pecahan kaca lagi. Ia menunggu sampai suara mesin mobil menjauh, baru berani bergerak.
Namun nasib menguji keberaniannya.
Sebuah pintu besi berdecit di belakangnya.
“Siapa di luar?” suara Marco terdengar tajam.
Dimas berlari.
Hujan menyambutnya dengan deras. Ia menunduk, berlari di antara bayangan, menyelinap ke lorong sempit di sisi gudang. Langkah-langkah mengejar terdengar sesaat, lalu berhenti. Dimas tidak menoleh. Ia mencapai motor, menyalakannya, dan melesat tanpa lampu selama beberapa ratus meter.
Jantungnya berdentam di telinga. Setiap tikungan seperti undian hidup-mati. Saat akhirnya ia berhenti di bawah lampu jalan, napasnya terengah. Tangan gemetar saat ia menghentikan rekaman dan menyimpannya ke dua lokasi—ponsel dan kartu cadangan. Ia memutar ulang satu potongan, memastikan kalimat itu terdengar jelas.
“Kita sudah membantai keluarganya… Malam ini ketiganya harus mati.”
Ada. Jelas. Tak terbantahkan.
Rumah gelap ketika Dimas tiba. Ia mengunci pintu, menutup gorden, menyalakan lampu seperlunya. Digo menunggu di ruang tengah, wajahnya tegang seperti senar.
“Mas?” Digo berbisik.
Dimas mengangguk dan menyerahkan ponsel. Mereka mendengarkan bersama. Setiap kata Marco memukul seperti palu. Saat rekaman berakhir, Digo menutup mata lama, lalu membuka dengan napas berat.
“Ini… cukup,” katanya. “Kita ke polisi.”
“Sekarang,” jawab Dimas. “Sebelum mereka bergerak.”
Dari lorong, Aluna muncul, rambutnya sedikit berantakan. Ia memeluk bros kupu-kupu erat-erat. “Sayap hitam bicara,” katanya pelan, seolah mendengar sesuatu yang tak mereka dengar. “Dia marah.”
Dimas berlutut dan memeluknya. “Mas di sini,” katanya, suara bergetar namun tegas. “Dan Mas tidak akan biarkan apa pun terjadi.”
Aluna menempelkan dahinya ke bahu Dimas. “Hati-hati,” bisiknya. “Malam suka menyembunyikan bunyi.”
Dimas menatap Digo di atas bahu Aluna. Mereka paham tanpa kata: waktu habis. Kebenaran sudah di tangan, tapi bahaya sudah di depan pintu.
Di luar, hujan terus turun—menyapu jejak, menenggelamkan suara. Dan di antara dentumnya, satu percakapan terlarang telah direkam, siap mengubah segalanya.