Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.
Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.
Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.
Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.
Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.
Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?
Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 : Hari Ini Giliranku
Cahaya pagi masuk perlahan melalui jendela kamar. Suasana tenang. Damai. Dan—hangat.
Ferisu yang masih setengah terlelap sedikit mengernyit. Ia merasa ada sesuatu yang… tidak biasa. Hangat. Dekat. Terlalu dekat.
Perlahan, matanya terbuka. Dan yang pertama kali ia lihat adalah—Noa.
Noa tidur tepat di sampingnya. Jarak mereka… hampir tidak ada. Rambutnya yang lembut terurai di atas bantal. Wajahnya—sangat dekat. Terlalu dekat.
Ferisu membeku beberapa detik.
“Oke… ini… situasi yang cukup sulit dijelaskan…” gumamnya dalam hati.
Seolah merasakan gerakannya—Noa membuka mata. Perlahan. Tenang.
“Pagi…” Suaranya lembut. Tidak seperti biasanya. Dan diiringi—senyum kecil yang jarang terlihat.
Ferisu hanya bisa berkedip.
“Pagi.”
Noa tetap menatapnya. Tanpa menjauh. Tanpa rasa canggung. Justru—terlihat nyaman.
“Kemarin sudah kencan sama Erica, kan?”
Nada suaranya pelan.
Hampir seperti bisikan.
“Sekarang giliranku.”
Ferisu terdiam.
Lalu—tertawa kecil. Kaku.
“Iya… sepertinya begitu.”
Ia perlahan bangun, mengambil posisi duduk. Masih mencoba memproses situasi tadi.
Biasanya—Noa adalah sosok yang tenang, dingin, fokus.
Namun sekarang—di hadapannya—ia seperti orang yang berbeda. Lebih lembut. Lebih… manja.
“Jadi kita mau ke mana?” tanya Ferisu.
Noa ikut duduk.
Lalu—
“Hmm?” Ia mengangkat jari telunjuk ke dagunya.
Berpikir.
Atau setidaknya—terlihat seperti itu.
“Soal itu…”
Ia tersenyum.
“Kamu yang putusin.”
Ferisu sedikit menghela napas.
“Kau yang mengajakku, tapi aku yang harus menentukan?”
Noa mengangguk ringan.
“Iya.”
Senyumnya tidak berubah.
“Karena…” lanjutnya pelan.
“Aku ingin tahu tempat seperti apa yang kamu pilih… saat bersamaku.”
Ferisu terdiam sebentar.
Lalu tersenyum tipis.
“Baiklah.”
Noa berdiri dari kasur.
Gerakannya anggun seperti biasa.
Namun—ia berhenti sejenak di samping Ferisu.
“Kalau begitu…”
Ia sedikit menunduk.
Mendekatkan wajahnya—cukup dekat untuk membuat Ferisu terdiam sesaat.
“Aku siap-siap dulu.” Nada suaranya lembut. Dan sedikit… menggoda.
Lalu ia menjauh. Berjalan ke arah pintu.
“Selesai sarapan…” Ia menoleh sedikit.
Senyumnya kembali muncul. “Temui aku di gerbang istana.”
Pintu terbuka.
Lalu tertutup pelan.
Ruangan kembali hening. Ferisu menghela napas panjang. Lalu menjatuhkan dirinya kembali ke kasur.
“Ini bakal jadi hari yang panjang.”
Namun—senyum kecil muncul di wajahnya.
Hari sebelumnya—Erica.
Hari ini—Noa.
Dan tanpa ia sadari—hubungan yang ia miliki dengan mereka—perlahan berubah.
Sementara itu—di luar sana—perjalanan menuju Elvengarden semakin dekat. Dan bersama itu—konflik yang lebih besar juga menunggu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gerbang utama istana Asterism, pagi itu cukup ramai. Para kesatria berjaga seperti biasa, beberapa pelayan keluar masuk membawa keperluan harian. Namun di antara kesibukan itu—ada satu sosok yang berdiri dengan tenang.
Noa.
Ia berdiri di dekat gerbang, tangan terlipat ringan di depan tubuhnya. Tidak gelisah. Tidak mondar-mandir. Namun matanya sesekali melirik ke arah dalam istana.
Menunggu.
Tak lama—langkah kaki terdengar mendekat. Ferisu muncul dari arah koridor utama. Pakaiannya santai, jauh dari kesan formal seorang raja.
Begitu melihat Noa—ia tersenyum kecil.
“Sudah lama menunggu?”
Noa menggeleng pelan.
“Tidak.”
Jawabannya singkat. Namun senyumnya—lembut. Berbeda dari biasanya. Ia memperhatikan Ferisu beberapa detik. Lalu bertanya—
“Jadi?”
“Kita mau ke mana?”
Ferisu menyilangkan tangan sebentar. Seolah memastikan kembali keputusannya.
“Pertama… kita ke pusat kota.”
Noa sedikit memiringkan kepala.
“Pusat kota?”
“Ada pameran kecil di sana.”
Ferisu melanjutkan dengan tenang.
“Pertunjukan jalanan berbasis sihir.”
Noa sedikit terdiam. Matanya berkedip sekali.
“Pertunjukan sihir?”
“Iya.” Ferisu mengangguk.
“Bukan yang formal. Lebih ke hiburan.”
Beberapa detik hening.
Lalu—ekspresi Noa berubah sedikit. Sangat tipis. Namun jelas—ia tertarik.
“Menarik.” Suaranya tetap tenang. Tapi ada nada halus yang berbeda.
“Setelah itu,” lanjut Ferisu, “kita ke perpustakaan.”
Kali ini—reaksinya lebih jelas. Noa benar-benar menoleh penuh.
“Perpustakaan?”
“Iya.” Ferisu tersenyum tipis. “Kau suka membaca, kan?”
Untuk pertama kalinya—Noa tidak langsung menyembunyikan reaksinya. Matanya sedikit berbinar.
“Iya.” Jawabannya pelan. Namun jujur.
“Kalau begitu, ayo.”
Ferisu mulai berjalan. Noa mengikutinya di samping. Langkah mereka sejajar.
Berbeda dengan kemarin bersama Erica—hari ini terasa lebih tenang. Lebih stabil. Namun bukan berarti kaku.
Noa melirik Ferisu sebentar. “Kau… memilih ini karena aku?”
Ferisu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke depan.
“Bukankah ini waktumu?”
Noa terdiam. Beberapa detik.
Lalu—senyum kecil muncul lagi.
“Terima kasih.”
Gerbang istana terbuka. Keduanya keluar menuju jalan utama. Kota Asterism menyambut mereka dengan suasana hidup seperti biasa.
Namun hari ini—bagi Noa—semuanya terasa sedikit berbeda. Bukan karena tempatnya. Bukan karena acaranya. Tapi karena—ia tidak sendirian. Dan di sampingnya—adalah seseorang yang dengan sengaja memilih dunia yang ia sukai.
Perjalanan kecil itu pun dimulai. Dengan langkah tenang. Dan perasaan yang perlahan—menjadi lebih dalam.
Pusat kota Asterism lebih ramai dari biasanya.
Bendera kecil berwarna-warni tergantung di antara bangunan. Suara musik ringan terdengar dari berbagai arah. Dan di beberapa sudut—orang-orang berkumpul membentuk lingkaran.
Ferisu dan Noa berjalan di antara kerumunan. Di depan mereka, seorang penyihir jalanan mengangkat tangannya. Cahaya kecil muncul dari ujung jarinya.
Lalu—berubah menjadi burung bercahaya.
Burung itu terbang rendah, mengelilingi anak-anak yang tertawa riang.
Noa berhenti. Matanya mengikuti pergerakan sihir itu. Tanpa sadar—ia melangkah sedikit lebih dekat.
“Struktur mananya sederhana…” gumamnya pelan.
“Namun stabilitasnya tinggi…”
Ferisu melirik ke arahnya.
Noa tidak menyadarinya. Ia benar-benar fokus. Burung cahaya itu perlahan berubah lagi—menjadi kelopak bunga yang berjatuhan. Disambut tepuk tangan penonton.
“Konversi bentuk tanpa pecahnya inti…” Noa menyipitkan mata, “menarik.”
Ferisu tersenyum kecil. Ia tidak menyela. Ia hanya—melihat. Melihat sisi Noa yang jarang terlihat. Bukan Noa yang dingin. Bukan Noa yang penuh perhitungan.
Tapi—Noa yang benar-benar menikmati sesuatu.
“Kalau kau yang melakukannya?” tanya Ferisu tiba-tiba.
Noa sedikit tersentak. Seolah baru sadar ia tidak sendirian.
“Aku bisa membuatnya lebih kompleks.” Jawabnya cepat. Refleks. Lalu ia terdiam. Dan sedikit memalingkan wajah.
“Tapi… ini sudah cukup bagus.”
Mereka berjalan lagi. Melihat berbagai pertunjukan lain: Ilusi api yang berubah warna, air yang membentuk pola di udara, bola cahaya yang berputar seperti planet kecil
Noa sesekali berhenti. Sesekali berkomentar. Dan tanpa sadar—ia mulai berbicara lebih banyak dari biasanya.
Di satu titik—mereka berhenti di depan pertunjukan sederhana. Seorang anak kecil mencoba menggerakkan cahaya kecil di tangannya.
Namun—gagal.
Cahaya itu berkedip lalu hilang. Anak itu terlihat kecewa.
Noa memperhatikan.
Beberapa detik.
Lalu—ia melangkah maju. Berjongkok di depan anak itu.
“Boleh aku lihat?”
Anak itu mengangguk pelan.
Noa mengangkat tangan anak itu sedikit.
“Kau terlalu menekan aliran mananya.” Suaranya lembut. Tidak menggurui.
“Coba lebih rileks.”
Ia mencontohkan sedikit. Aliran mana tipis muncul dari ujung jarinya. Tenang. Stabil.
Anak itu mencoba lagi.
Dan—cahaya kecil muncul.
Mata anak itu langsung berbinar.
“Berhasil!”
Noa tersenyum tipis.
“Bagus.”
Dari belakang—Ferisu melihat semuanya. Dan tersenyum.
Saat Noa kembali berdiri—ia melirik ke arah Ferisu. Seolah sadar telah melakukan sesuatu yang tidak biasa.
“Hanya kebetulan.” katanya singkat.
Ferisu mengangguk ringan.
“Iya. Kebetulan.”
Setelah beberapa waktu—keramaian mulai mereka tinggalkan. Langkah mereka beralih ke area yang lebih tenang. Bangunan besar mulai terlihat.
Dengan dinding batu tinggi dan jendela besar.
Di depan mereka—berdiri perpustakaan kerajaan Asterism. Megah. Sunyi. Dan penuh pengetahuan.
Noa berhenti.
Menatap bangunan itu.
Untuk beberapa detik—ia tidak bergerak.
“Sudah lama aku tidak ke sini.”
Ferisu membuka pintu. Kayu berat itu bergerak perlahan. Suara pelan bergema di dalam. Aroma buku tua langsung menyambut. Rak-rak tinggi berjajar rapi. Cahaya masuk dari jendela besar.
Noa melangkah masuk. Pelan. Seolah memasuki tempat suci. Dan untuk pertama kalinya hari itu—ia terlihat benar-benar… tenang.
Ferisu berjalan di sampingnya. Tidak terburu-buru. Tidak banyak bicara.
Karena ia tahu—tempat ini… bukan sekadar tujuan.
Tapi—dunia kecil milik Noa.
Dan hari ini—ia memilih untuk masuk ke dalamnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suasana perpustakaan begitu tenang.
Hanya suara langkah kaki pelan dan sesekali lembaran buku yang dibalik.
Cahaya matahari masuk dari jendela tinggi, menerangi debu halus yang melayang di udara.
Ferisu dan Noa berjalan berdampingan di antara rak-rak tinggi.
Noa sesekali berhenti.
Menarik satu buku.
Membaca judulnya.
Lalu mengembalikannya.
Gerakannya tenang.
Nyaris tanpa suara.
“Ada yang kau cari?” tanya Ferisu pelan.
Noa menggeleng tipis.
“Tidak.”
Ia menarik satu buku lagi.
“Aku hanya ingin melihat.”
Ferisu mengangguk. Tidak mengganggu. Langkah mereka berlanjut ke lorong berikutnya.
Dan di sanalah—mereka bertemu seseorang.
Seorang gadis dengan rambut terang berdiri di ujung lorong. Tangannya memeluk beberapa buku. Matanya sedang membaca judul buku di atas rak—hingga akhirnya ia menoleh.
Dan membeku.
Erica.
Beberapa detik—tidak ada yang berbicara.
Hanya keheningan.
“Kalian?” Suara Erica pelan. Namun jelas.
Ferisu sedikit terdiam. “Erica… kau di sini?”
Erica mengangguk kecil. “Iya. Aku sering ke sini…” Ia mengalihkan pandangan, “untuk membaca.”
Hening lagi. Canggung. Sangat canggung.
Tanpa peringatan—Noa melangkah lebih dekat ke Ferisu. Lalu—memeluk lengannya. Gerakannya halus. Namun jelas. Kepalanya sedikit bersandar. Ekspresinya tenang. Tapi ada sesuatu di baliknya.
“Maaf ya, Erica.” Suara Noa lembut. Namun mengandung arti, “tapi hari ini dia milikku.”
Udara terasa sedikit menegang.
Erica membeku. Matanya langsung menatap ke arah tangan Noa yang memeluk Ferisu.
Lalu—perlahan naik ke wajahnya.
“Hah?” Suaranya pelan. Namun jelas ada emosi di dalamnya.
Ia mengeratkan pegangan pada buku-buku di tangannya. “Apa maksudmu?”
Noa tidak melepaskan pelukannya. Ia hanya sedikit memiringkan kepala. Menatap Erica dengan senyum tipis.
“Hari ini adalah jatahku.” Nada suaranya santai. Seolah itu hal yang wajar.
Wajah Erica langsung memerah. Bukan karena malu—tapi karena kesal.
“Jatah? Kau pikir dia benda!?”
Ia melangkah satu langkah maju. “Dan sejak kapan kau jadi se-manja itu!?”
Noa tetap tenang. Tidak terpancing.
“Sejak aku memutuskan untuk tidak kalah.” Jawabannya singkat. Namun—tepat sasaran.
Erica terdiam sesaat.
Lalu—
“Menyebalkan.” Ia membuang muka.
Namun jelas—ia tidak senang.
Ferisu menghela napas kecil.
Ia melihat ke Noa.
Lalu ke Erica.
“Kalian ini…”
Ia tersenyum kaku.
“Ini perpustakaan, tahu?”
Erica mendecih pelan.
Lalu menarik napas panjang.
“Aku tidak mau ribut di sini.”
Ia menatap Ferisu sebentar.
Lalu memalingkan wajah.
“Nikmati saja waktumu.”
Nada suaranya sedikit dingin.
Namun sebelum pergi—ia berhenti.
“Tapi jangan pikir aku akan kalah.”
Ia melirik ke arah Noa.
Matanya tajam.
Lalu—berjalan pergi.
Hening kembali.
Noa masih memeluk lengan Ferisu.
Namun kali ini—lebih santai.
“Dia marah,” gumam Noa pelan.
Ferisu menghela napas.
“Iya.”
Noa tersenyum kecil, “Bagus.”
Ferisu menatapnya, “Bagus?”
Noa mengangguk ringan, “Berarti dia serius.”
Ferisu hanya bisa tersenyum tipis.
Di antara rak buku—di tengah ketenangan perpustakaan—hubungan mereka justru semakin… rumit.
Namun—entah kenapa—tidak terasa buruk.