Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.
Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.
Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Humor Garing di Meja Makan
Malam di Blitar selalu membawa kesunyian yang berbeda dengan Surabaya. Tidak ada deru mesin kendaraan yang liar, hanya suara jangkrik yang bersahutan di balik rimbun pohon mangga. Di dalam rumah keluarga Subroto, suasana di meja makan terasa jauh lebih dingin daripada udara di luar.
Cahaya lampu gantung yang kekuningan menyinari piring-piring berisi sayur lodeh, sambal goreng ati, dan kerupuk puli. Pak Subroto makan dengan tenang, sebuah kebiasaan kepala keluarga yang tak banyak bicara namun sangat berwibawa. Di sisi lain, Bu Subroto tampak sedang menata kata-kata di kepalanya, sebuah gelagat yang sudah sangat dihafal oleh Dimas.
Dinara duduk dengan punggung tegak, menyuap nasi sedikit demi sedikit. Ia berusaha tidak menimbulkan bunyi denting sendok pada piring, karena ia tahu, di rumah ini, tata krama makan adalah bagian dari rapor kepantasan seorang menantu.
"Din," buka Bu Subroto setelah meletakkan gelas tehnya.
Dinara tersentak kecil, refleks menghentikan kunyahannya. "Nggih, Bu?"
"Ibu kemarin ketemu Bu RT di pengajian. Anaknya, si Lilis itu, baru saja berhenti kerja di bank setelah nikah. Sekarang fokus di rumah, ngurus suami, masak, sama nyiapin perlengkapan bayi. Kelihatannya kok ayem tenan hidupnya," ujar Bu Subroto dengan nada datar, namun matanya melirik ke arah tas kuliah Dinara yang tergeletak di kursi sudut.
Dinara menunduk, jantungnya mulai berpacu. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"Kuliahmu itu kan sudah semester lima, Din. Sebentar lagi kan juga harus magang, skripsi, bolak-balik kampus. Apa nggak kasihan sama Dimas? Suami itu butuh dilayani penuh, bukan ditinggal-tinggal buat urusan buku. Toh, nanti kalau sudah punya anak, gelarmu itu ya bakal disimpan di laci, kan?" lanjut Ibu, kali ini sindirannya lebih tajam. "Wong wedok iku sing penting pinter noto omah (Perempuan itu yang penting pintar menata rumah). Eman-eman tenagamu kalau dipakai buat mikir yang berat-berat."
Suasana mendadak beku. Pak Subroto hanya berdeham, tidak membela namun juga tidak melarang istrinya bicara. Dinara merasa lidahnya kelu. Impiannya menjadi hakim, perjuangannya menjaga IPK tetap stabil, seolah sedang dipreteli satu demi satu di atas meja makan ini.
Dimas yang sejak tadi asyik mengunyah kerupuk puli, akhirnya meletakkan sendoknya. Ia menyeka bibirnya dengan tisu, lalu menatap ibunya dengan binar mata yang tetap jenaka, meski suaranya terdengar sangat yakin.
"Lho, Bu. Justru Dimas ini beruntung punya istri calon sarjana hukum," sela Dimas sambil meraih tangan Dinara di bawah meja, meremasnya pelan untuk memberikan kekuatan.
"Beruntung gimana, Dim? Wong ditinggal kuliah terus kok bangga," sahut Bu Subroto.
Dimas tertawa kecil, suara tawanya memecah ketegangan yang merayap. "Ibu ini gimana. Jaman sekarang itu saingannya berat, Bu. Dimas ini kan penulis, pemilik kafe juga. Nanti kalau anak Dimas lahir, Dimas nggak usah pusing-pusing cari guru les privat yang bayarnya mahal di Surabaya."
Dimas menoleh ke arah Dinara, lalu mengerling nakal. "Coba bayangkan, Bu. Anak kita nanti kalau mau nanya soal PR sekolah, nggak perlu cari di Google. Cukup tanya Ibunya. 'Bu, ini pasal berapa yang mengatur tentang hak asuh kucing tetangga?' atau 'Bu, tolong ajarkan logika hukum kenapa permen cicak ini rasanya manis'. Istri Dimas ini kamus berjalan, Bu. Pinter. IQ-nya tinggi."
"Halah, kamu itu kakehan alasan," gerutu Bu Subroto, meski sudut bibirnya sedikit bergetar menahan tawa karena imajinasi konyol putranya.
"Beneran, Bu. Malah Dimas sudah rencana, nanti kalau anak kita nakal atau telat shalat Subuh, nggak perlu Dimas marahi pakai urat. Cukup panggil Dinara, suruh dia bacakan amar putusan sidang di depan pintu kamar. 'Menimbang dan memperhatikan, bahwa terdakwa telah lalai dalam tugas kewajiban ibadah, maka diputuskan hukuman kurungan di meja belajar selama dua jam tanpa gadget'. Keren kan, Bu?"
Dimas beralih menatap ayahnya. "Iya kan, Pak? Daripada cari guru les sing bayarane larang (yang bayarannya mahal), mending investasinya di uang kuliah istri sendiri. Hasilnya cerdas, bonusnya sayang sama suami. Double untung ini namanya."
Pak Subroto akhirnya mengeluarkan tawa pendek. "Ada-ada saja kamu itu, Dim. Tapi ya benar, pendidikan itu penting buat ibu rumah tangga sekalipun."
Mendengar suaminya setuju, Bu Subroto akhirnya memilih untuk kembali menyuap nasinya, meski masih dengan wajah yang sedikit ditekuk. "Ya terserah kalian. Sing penting jangan sampai kewajiban di rumah ditinggal."
"Beres, Bu. Tenang saja. Kalau Dinara lagi sibuk skripsi, nanti Dimas yang bantu... bantu kasih semangat sambil buatkan kopi," canda Dimas lagi.
Dinara menghirup napas panjang, beban di pundaknya perlahan meluruh. Ia menatap suaminya dengan rasa terima kasih yang tak terhingga. Dimas tidak membalas sindiran ibunya dengan kemarahan atau konfrontasi yang kasar. Ia justru menggunakan humor satire untuk menunjukkan betapa berharganya nilai seorang wanita yang berpendidikan di matanya.
Selesai makan, saat mereka berdua mencuci piring di dapur—tugas yang bersikeras diambil alih Dimas meskipun dilarang ibunya—Dinara berbisik pelan.
"Mas... terima kasih ya. Tadi Mas keren banget."
Dimas yang sedang membilas piring dengan air mengalir, menoleh sambil nyengir. "Keren gimana? Mas beneran, lho. Mas itu aslinya pelit, Sayang. Mas nggak mau keluar uang buat guru les kalau Ibunya saja sudah pinter begini. Uangnya mending kita pakai buat beli martabak di Surabaya nanti."
"Mas ini... ujung-ujungnya martabak," Dinara mencubit pelan pinggang Dimas.
"Aduh! Iki lho, calon hakim kok main fisik," keluh Dimas sambil tertawa. Ia mengeringkan tangannya, lalu berdiri di depan Dinara, menatap istrinya dengan sorot mata yang hangat dan teduh. "Dek, dengerin Mas. Kuliahmu itu bukan beban buat Mas. Itu kebanggaan Mas. Mas mau dunia tahu kalau istri Dimas itu bukan cuma cantik wajahnya, tapi juga luas cakrawala berpikirnya. Jangan pernah terpikir buat berhenti hanya karena omongan orang, termasuk Ibu. Mas yang bakal jadi satpam di depan pintu kuliahmu."
Dinara terdiam, matanya sedikit berkaca-kaca. Di rumah yang penuh dengan aturan "apa kata orang" ini, Dimas adalah satu-satunya ruang baginya untuk menjadi diri sendiri.
"Nggih, Mas. Dinara janji nggak bakal menyerah."
"Sip. Begitu dong. Sekarang, cepat selesaikan cuciannya. Terus kita masuk kamar, Mas mau minta diajarkan 'hukum' cara memijat punggung yang sedang pegal ini. Kayaknya itu ada di pasal satu tentang hak asasi suami, kan?" goda Dimas sambil mengedipkan mata.
Dinara tertawa, kali ini tawanya lepas tanpa beban. Kecanggungan yang menyelimuti meja makan tadi telah hilang, digantikan oleh kehangatan kecil yang mereka bangun di tengah kerasnya standar lingkungan Blitar. Bagi Dimas, humor garingnya adalah cara terbaik untuk menyelamatkan kewarasan istrinya. Dan bagi Dinara, candaan suaminya adalah surat cinta paling jujur yang pernah ia terima.
Di luar, gerimis mulai turun membasahi bumi Blitar, namun di dapur itu, hanya ada rasa hangat yang menjalar di antara dua jiwa yang mulai belajar untuk saling menguatkan.