NovelToon NovelToon
GERBANG COSMIC

GERBANG COSMIC

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Sistem / Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: EsyTamp

akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19 – Raja Zombi dan Perpecahan

Suara gemuruh terdengar dari arah pusat kota.

Bukan raungan biasa.

Lebih dalam.

Lebih berat.

Leoni menurunkan senjatanya perlahan. “Itu… bukan zombi biasa.”

Dari balik gedung runtuh, sesosok makhluk raksasa muncul.

Tubuhnya tinggi hampir dua kali manusia dewasa. Kulitnya keabu-abuan, dipenuhi urat hitam yang berdenyut seperti nadi hidup. Matanya merah menyala, dan setiap langkahnya membuat tanah bergetar.

“Itu... Raja zombi…” gumam Boy.

Makhluk itu mengangkat tangannya, dan zombi-zombi lain di sekitarnya bergerak serempak, seolah dikendalikan oleh satu pikiran.

Sila menggertakkan gigi. “Jadi dia yang mengatur mereka.”

Rey maju satu langkah. “Saatnya kita coba senjata dari gerbang emas.”

"Senjata?" Sila menatap Rey.

Ia membuka ruang dimensinya.

Cahaya gelap beriak di udara.

Beberapa peti muncul di tanah.

Rey membuka salah satunya.

Di dalamnya, sebuah senjata tembak berlapis cahaya biru.

“Leoni, ini untukmu.”

Ia menyerahkan senapan panjang berukir simbol Cosmic. “Pelurunya bukan logam biasa. Ini senjata energi.”

Leoni memegangnya, matanya berbinar. “Ringan… dan nyaman dipakai.”

Boy mendapat tombak berujung api kristal.

"Wouu.. ini keren Apiku jadi lebih kuat dan stabil."

Sila menerima gelang konduktor petir yang langsung menyatu dengan kekuatannya, dengan gelang itu Sila lebih mudah mengontrol listrik dari tubuhnya.

"Terimakasih kak"

Deva diberikan liontin Giok emas.

“Ini kalung?” tanyanya ragu.

Rey berlutut. “Ini bukan sekedar kalung. Coba kamu buka liontinnya.”

Deva mengangguk serius dan membuka liontin barunya.

"Ini.. Jam?" Deva tampak masih ragu.

"Benar, dengan Liontin ini kamu bisa lebih mengontrol kekuatanmu, waktu di liontin itu akan mengingatkanmu"

Deva tersenyum, matanya berbinar.

Raja zombi mengaum.

Gelombang makhluk terinfeksi bergerak maju.

“Serang!” teriak Rey.

Leoni menembak.

Cahaya biru melesat dan menembus barisan zombi seperti menembus kabut.

Boy memutar tombaknya, api kristal membentuk lingkaran besar, memaksa makhluk-makhluk itu mundur.

Sila melompat ke depan.

Petir menyambar tanah, memecah jalanan di depan raja zombi.

Makhluk itu terdorong ke belakang beberapa langkah, tapi masih berdiri.

Ia mengangkat lengannya, dan puluhan zombi bergerak menutupinya.

“Dia pakai mereka sebagai perisai!” teriak Leoni.

Rey mengangkat tamengnya.

Lapisan energi transparan membentuk kubah di depan timnya.

Benturan makhluk-makhluk itu terdengar seperti hujan deras menghantam kaca.

“Serang dari samping!” kata Rey.

Boy melompat ke kanan, melempar tombaknya.

Ledakan api kristal menghantam bahu raja zombi.

Makhluk itu meraung.

Sila mengangkat kedua tangannya.

Petir berkumpul, lebih besar dari biasanya.

“Ini… untuk semua yang mati karena kalian!”

Sambaran petir menghantam langsung ke dada raja zombi.

Cahaya putih memenuhi udara.

Saat cahaya meredup, makhluk raksasa itu jatuh berlutut.

Zombi-zombi lain berhenti bergerak.

Satu per satu, mereka roboh.

Hening.

Debu beterbangan di udara.

Leoni menurunkan senjatanya. “Kita… menang?”

Rey mengangguk pelan. “Untuk sekarang.”

Namun sebelum mereka sempat bernapas lega, kendaraan militer datang dari arah barat.

Beberapa tentara turun bersama petugas pemerintah.

Seorang pria berjas panjang maju ke depan.

“Rey, kami mengamati pertempuran kalian tadi.”

Tatapan pria itu tajam. “Senjata apa itu? Dari mana kalian mendapatkannya?”

Rey diam.

“Dan kemampuanmu,” lanjutnya, “kami yakin kamu menyembunyikan sesuatu dari negara.”

Boy melangkah maju. “Kami baru saja menyelamatkan kota ini!”

“Justru itu,” kata pria itu dingin. “Kekuatan sebesar ini harus berada di bawah kendali pemerintah.”

Rey mengepalkan tangan.

“Di bawah kendali?” suaranya meninggi. “Kalian datang setelah semuanya selesai.”

“Ini demi keamanan,” jawab petugas itu.

“Keamanan siapa?” Rey membalas. “Rakyat? Atau kekuasaan kalian?”

Leoni berdiri di samping Rey. “Kami bertarung di garis depan. Kalian cuma datang untuk menanyakan rahasia.”

Sila menatap Rey. “Kak…”

Rey menarik napas panjang.

Lalu ia berkata tegas, “Mulai hari ini… kami tidak berada di bawah perintah pemerintah.”

Suasana menegang.

Petugas itu mengernyit. “Itu berarti kalian dianggap kelompok liar.”

“Kalau jadi kelompok liar berarti kami bisa bebas,” jawab Rey, “aku lebih memilih itu, kami memilih kebebasan.”

Boy melangkah ke samping Rey. “Aku ikut Rey.”

Leoni mengangguk. “Aku juga.”

Sila berdiri di belakang kakaknya. “Aku tidak akan meninggalkan kakakku.”

Petugas itu terdiam beberapa detik.

“Kalian akan tetap diawasi,” katanya akhirnya. “Kalau kalian membahayakan stabilitas…”

“Kami tidak peduli stabilitas, dulu dan sekarang itu berbeda,” potong Rey. “Kami peduli hidup kami.”

Mereka berbalik.

Meninggalkan pasukan pemerintah.

Menuju kota yang masih gelap dan rusak.

Deva menggenggam tangan Rey. “Paman… kita jadi musuh?”

Rey menatap langit kelabu.

“Bukan musuh,” katanya pelan. “Kita hanya… memilih jalan sendiri.”

Di kejauhan, suara sirene dan raungan makhluk lain mulai terdengar lagi.

Perang belum selesai.

Dan mulai hari itu…

Tim Rey bukan lagi bagian dari pemerintah.

Mereka menjadi regu bebas.

Regu yang bergerak demi hidup mereka sendiri, bukan perintah.

1
Mahlubin Ali
itu itu aja dialognya🤣🤣🤣. Bab lalu sama bab sekarang dialog hampir sama. novel aneh
EsyTamp: thanks bang koreksi ny, akan lebih sy perhatikan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!