NovelToon NovelToon
Akbar Muhammad Alfattah

Akbar Muhammad Alfattah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Tamat
Popularitas:921
Nilai: 5
Nama Author: camamutts_Sall29

Bayangin kalo kamu jadi Aku?

Aku punya sepupu di pesantren namanya Fattah!? dia itu populer banget di pondok guys! tapi anehnya Aku dan Fattah begitu terikat sampai banyak mata melihat ngiranya kita adalah pasangan Sah?

penasaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon camamutts_Sall29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa Duka

"Bagaimana proses pemakaman Abi?"

"Lancar mama, Fattah berusaha tegar.

Nathan masih ga nyangka liat detik-detik Abi meninggal."

 Nathan mengucapkan suara serak karna harus mengikuti orang tuanya ke London ada kabar penting dalam bisnis Ayahnya yang tidak bisa di tinggal.

Dengan mata setengah terbuka, Nathan mulai tidur lagi di dalam pesawat.

"Tidurlah perjalanan akan memakan waktu panjang hari ini,"

Nathan mengangguk masih memikirkan kejadian pilu dan isak tangis dirumah Fattah yang sedang berduka.

Ter akhir, Nathan terus memeriksa ponselnya, belum ada pesan apapun yang terbalas dari salah satu sahabatnya.

***

Sebelumnya...

Lampu jalanan yang temaram membayang di kaca mobil, menciptakan siluet yang berkejaran seiring laju kendaraan yang dikemudikan Hamdan. Jarum jam di dasbor menunjukkan pukul 23.40. Tubuhku terasa remuk, bukan hanya karena perjalanan panjang dari pesantren rumah almarhum Abi Rehadi, tetapi karena beban di dada yang belum juga luruh.

​"Sudah sampai, Sayang," bisik Hamdan lembut sembari mematikan mesin. Ia mengusap jemariku pelan, mencoba menyalurkan kekuatan yang ia sendiri mungkin sedang usahakan untuk tetap ada.

​Aku hanya mengangguk lemah. Menatap rumah kami yang tampak lebih hidup malam ini karena keberadaan Mama dan Daddy yang memutuskan menginap. Kehadiran mereka adalah jangkar di tengah badai duka yang menghantam keluarga kami hari ini.

​Kepergian yang Mengosongkan Jiwa

.

.

​Langkah kaki kami terasa berat menyusuri teras. Bayangan prosesi pemakaman Abi tadi siang masih terekam jelas; tanah merah yang basah, aroma bunga kamboja, dan lantunan doa yang menggema di seluruh penjuru pesantren. Abi Rehadi bukan sekadar sosok ulama bagi kami, beliau adalah kompas. Kini, kompas itu telah berpulang ke haribaan-Nya.

​Baru saja aku melepas kerudung di ruang tamu, ponselku bergetar. Sebuah pesan singkat dari Nathan masuk pada pukul 22.27 tadi, namun baru sempat kubaca sekarang.

​"Turut berduka sedalam-dalamnya. Maaf Gua ga bisa di sana lama. Malam ini gua dan keluarga harus berangkat ke London untuk urusan bisnis mendadak. Jaga diri ya Riana, be strong."

​Aku menghela napas panjang, meletakkan ponsel di atas meja kayu. Dunia terus berputar, bisnis tetap berjalan, sementara bagi kami, waktu seolah berhenti di nisan Abi.

​Di Sudut Ruang Tengah

.

.

​Langkahku terhenti saat melihat pemandangan di ruang tengah. Fattah masih terjaga, duduk bersandar di sofa dengan gurat kelelahan yang tak bisa disembunyikan. Di sampingnya, Bunda Syana tampak mengusap punggung Nisa, istri Fattah, yang terlihat sayu.

​Namun, fokusku tertuju pada sosok kecil yang terlelap di pangkuan Nisa. Abror. Bocah mungil itu tidur dengan sangat tenang, seolah tidak tahu bahwa dunia orang-orang dewasa di sekitarnya sedang runtuh.

​"Belum istirahat, Fatt?" tanyaku pelan, menghampiri mereka.

​Fattah mendongak, tersenyum tipis yang dipaksakan. "Belum, Ri. Nunggu Abror benar-benar nyenyak dulu. Kasihan kalau dipindah sekarang, tadi dia sempat rewel tanya kenapa Abi nggak ikut pulang ke rumah."

​Suasana mendadak hening. Kata-kata Fattah seperti sembilu yang menyayat luka baru. Bunda Syana mengusap air mata di sudut matanya dengan ujung pashmina.

​"Sudah, Nak. Abi sudah tenang di sana," suara Bunda serak, namun tetap berusaha tegar. "Kalian semua harus jaga kesehatan. Abi pasti sedih kalau melihat anak-cucunya tumbang karena meratap berlebihan."

​Dialog di Keheningan Malam

.

.

​Hamdan datang membawa beberapa gelas air hangat, membagikannya kepada kami semua. Ia duduk di sampingku, merangkul bahuku erat.

​"Mama dan Daddy sudah pulang, Bun?" tanya Hamdan padaku.

​"Sudah sejam yang lalu, Dan. Mereka juga kelelahan tadi di pemakaman," jawabku. Hamdan kemudian menatapku tajam namun lembut. "Kamu juga, masuklah ke kamar. Istirahat. Besok masih banyak kerabat yang akan datang takziah."

​Aku menatap Nisa yang sedari tadi diam membelai rambut Abror. "Nis, kamu gapapa?"

​Nisa mendongak, matanya sembap.

 "Hanya masih tidak percaya, Kak. Rasanya baru kemarin Abi menggendong Abror sambil membacakan salawat di telinganya. Sekarang..." Kalimatnya terputus oleh isak kecil.

​"Kita punya satu sama lain," kataku tegas meski suaraku bergetar. "Fattah, jaga Nisa dan Abror. Hamdan, terima kasih sudah menyetir sejauh ini tanpa mengeluh."

​Penutup Hari Pertama

.

.

​Malam semakin larut, menyisakan suara jangkrik dan embusan angin yang menyelinap lewat celah ventilasi. Duka hari pertama ini terasa begitu nyata dan menyesakkan. Kehilangan Abi Rehadi adalah lubang besar dalam narasi hidup kami, sebuah bab yang dipaksa tertutup sebelum kami siap membacanya hingga tuntas.

​Aku berdiri, melangkah menuju kamar diikuti Hamdan. Sebelum menutup pintu, aku menoleh sekali lagi ke arah ruang tengah, melihat keluarga kecil Fattah yang saling menguatkan. Di sana, di tengah kesedihan, aku melihat cinta yang tak luntur.

​Mungkin benar, kematian bukan hanya tentang perpisahan, tapi tentang bagaimana yang ditinggalkan belajar untuk tetap berjalan meski dengan langkah yang pincang.

​"Selamat jalan, Abi," bisikku lirih sebelum mematikan lampu. "Tenanglah di sana."

Karena tadi Aku sempat Ambil barang-barang dulu untuk pulang dan sampai ke rumah Fattah jadi terlalu malam.

Aku dan Hamdan terlambat Tahlilan h-2 tapi namanya di jalan, pasti macet parah.

 ---

 

TBC.

1
LEECHAGYN
sama2🤭
Dania
kayak dah nikah tapi yg tau cuma sebelah pihak aja ,cuma perasaan ku aja yak .
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!