Aira Putri Manggala tidak tahu arti kata menyerah. Sudah 99 kali ia menyatakan cinta, dan 99 kali pula Leonel menolaknya tanpa ragu.
Cowok paling cuek di sekolah itu seperti tembok es. Sulit didekati, mustahil ditaklukkan.
Tapi Aira bukan tipe gadis yang mundur hanya karena ditolak.
Bagi Aira, cinta bukan soal harga diri. Ini soal perjuangan.
Seluruh sekolah mengenal obsesinya. Sebagian menertawakan, sebagian menunggu keajaiban.
Yang tidak pernah mereka tahu…
AIRA-LEONEL DI SINI!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Gerah.
Mobil Aira membelah halaman sekolah jauh lebih pagi dari biasanya. Begitu mesin mobil mewahnya mati, ia melangkah keluar dengan dagu terangkat, menampilkan tatapan percaya diri yang selama ini menjadi ciri khasnya. Ia melangkah tegap memasuki koridor, namun rentetan bisik-bisik yang tertangkap indra pendengarannya sempat membuat gerakannya tertahan, meski sedetik kemudian ia kembali memaksakan kaki untuk terus melangkah.
"Kasihan ya. Siapa yang berjuang, siapa yang dipilih. Benar-benar miris."
"Padahal Aira sudah berkali-kali menembak, tetap saja Leonel pilihnya Cleo. Sepertinya tipe cewek Leonel itu yang kalem, bukan yang berisik apalagi yang effort-nya sampai mengubah lapangan sekolah jadi lautan bunga romantis. Percuma saja ternyata."
"Sudah kubilang, cuma Cleo yang pantas bersanding dengan sikap tegas Leonel. Kebayang kalau dia sama cewek yang visi misinya di luar nalar, bisa sakit kepala Leonel menghadapinya."
"Tapi menurutku tetap lebih cocok sama Aira daripada Cleo. Dari sisi mana Leonel melihatnya? Kalau soal cantik, Aira menang. Kaya, apalagi."
"Tapi kalau soal pintar dan lembut, Cleo menang telak. Cowok kaya dan tampan seperti Leonel tidak butuh orang yang dominan seperti Aira. Cukup yang lemah lembut, itu baru cocok!"
Setiap kalimat perbandingan itu menghujam telinganya tanpa ampun. Setiap langkahnya diiringi penghakiman orang-orang, hingga nyaris saja Aira ingin berbalik untuk menyumpal mulut mereka satu persatu, atau setidaknya menjambak rambut mereka sampai habis. Namun, gadis itu masih mencoba menahan diri sekuat tenaga.
Hingga langkahnya terhenti tepat di depan papan majalah dinding. Rasa gerah yang luar biasa tiba-tiba menyergap, membuat napasnya terasa pendek. Tangannya terkepal kuat saat melihat mading itu telah dipenuhi foto-foto Leonel dan Cleo, sama persis dengan potret yang merusak suasana hatinya di media sosial kemarin.
"Minggir kalian semua! Minggir!" teriak Aira, suaranya menggelegar memecah kerumunan di depan papan mading. Ia merangsek maju, mendorong siapa pun yang menghalangi jalannya tanpa peduli.
Tanpa menunggu lebih lama, tangan Aira bergerak cepat. Ia merenggut semua foto tidak jelas itu, potret-potret yang menurutnya hanya merusak estetika mading yang susah payah dijaga. Satu per satu poster itu ia turunkan paksa, lalu ia remas kuat-kuat dengan kedua tangannya sampai benar-benar hancur mengkerut.
Tanpa babibu, Aira melempar gumpalan kertas itu ke lantai dan menginjaknya dengan ujung sepatu mahalnya.
"Foto sampah seperti ini kenapa dipasang di majalah dinding? Memangnya sepenting itu sampai harus dipajang di sini, hah?" serunya dengan nada yang kian meninggi.
Napasnya memburu, matanya menatap tajam ke sekeliling. Ia tidak peduli pada tatapan sinis maupun terkejut dari orang-orang di sekitarnya. Tidak ada satu pun yang berani menegurnya. Mereka semua tahu, di Manggala High School, Aira punya kuasa yang tak tersentuh, bahkan oleh guru sekalipun. Baginya, menghancurkan beberapa lembar foto adalah hak kecil yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapa pun.
"Sialan kamu, Leonel! Kenapa harus memilih cewek jelek itu!" teriaknya lepas, suaranya melengking tinggi hingga membuat orang-orang di sekitar sana seketika bungkam.
Dengan napas yang masih memburu dan dada yang naik-turun menahan amarah, Aira memutar tubuh. Ia meninggalkan kerumunan yang masih terpaku itu tanpa menoleh lagi, melangkah dengan hentakan kaki yang keras menuju kelasnya. Setiap langkahnya seolah menyebarkan aura permusuhan yang pekat, membuat siapa pun yang berpapasan dengannya memilih untuk menepi dan memberi jalan.
.
.
.
Brughhh!!
Langkahnya yang terlalu cepat dan emosi yang menutup mata membuat Aira tanpa sadar menabrak dada seseorang dengan keras. Aira berdesis kesakitan, ia mendongak dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Namun, emosinya justru semakin memuncak saat melihat wajah Aldaren di depannya. Cowok itu hanya tersenyum seperti biasa—senyum yang bagi Aira pagi ini terasa seperti ejekan telak untuk hatinya yang sedang terbakar.
"Kenapa wajahmu seperti habis tertiban tangga, Kak?" tanya Aldaren ringan.
"Awas!!" sentak Aira, berusaha menerobos lewat. Sepertinya efek hari kedua datang bulan benar-benar membuat kontrol emosinya menguap entah ke mana.
Namun, Aldaren tidak bergeming. Ia justru sengaja menghalangi langkah Aira, bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti arah gerak gadis itu.
"ALDAREN SIALAN! AWAS KUBILANG, SEBELUM SEPATUKU INI MENDARAT DI KEPALAMU!" teriak Aira meledak.
Aldaren hanya terkekeh rendah, sama sekali tidak merasa terancam. "Butuh kipas, Kak? Kelihatannya hatimu lagi panas banget," ujar Aldaren santai.
"Tidak, terima kasih tawarannya!" tolak Aira mentah-mentah. Jawaban ketus itu justru membuat Aldaren tertawa lebar.
"Tapi aku benar-benar bawa kipas, Kak. Mau ya? Aku maksa, nih. Kasihan wajah Kak Aira memerah terus, pagi-pagi sudah kayak singa yang lagi mengaung," goda Aldaren lagi.
Aira mendelik tajam, matanya menatap Aldaren seolah ingin menelannya hidup-hidup. "Kau samakan aku sama singa?" tanyanya dengan nada rendah yang berbahaya.
Tanpa membuang waktu, gadis itu mulai melepas salah satu sepatunya.
"Sialan, sini kamu!!" teriak Aira. Sepatu mahal yang kini sudah berpindah ke tangannya diayunkan tinggi-tinggi, sangat bersiap untuk mendaratkan pukulan telak ke kepala Aldaren yang masih saja terkekeh tanpa rasa takut.
"Payah! Masa tidak kena?" seru Aldaren sambil tertawa, tubuhnya lincah meliuk-liuk menghindari amukan Aira.
Aira sudah tidak peduli lagi dengan citranya. Ia benar-benar melepaskan kedua sepatunya dan melemparkannya bergantian ke arah Aldaren. Koridor yang tadinya tegang kini berubah menjadi tontonan, membuat beberapa orang tertawa geli melihat aksi kejar-kejaran mereka. Aira dan Aldaren benar-benar seperti Tom dan Jerry, yang satu hobi memancing emosi, sementara yang lain sedang benar-benar murka.
Dari sudut pandang orang lain, pemandangan itu terlihat intim dan manis, seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar manja di pagi hari. Namun, bagi Leonel yang berdiri tak jauh dari sana, pemandangan itu justru terasa seperti duri yang menghujam jantungnya.
Leonel berdiri mematung di balik pilar, menatap interaksi keduanya dengan rahang yang mengeras hingga otot-otot di wajahnya menonjol. Tangannya terkepal erat di balik saku celana, berusaha menahan diri agar tidak melangkah maju dan menarik Aira menjauh dari cowok itu.
Hingga—
Duk!
Sepatu itu meleset dari targetnya, menghantam tepat kepala Leonel yang sejak tadi berdiri memperhatikan mereka. Suasana yang tadinya riuh mendadak senyap. Aldaren berhenti tertawa, sementara Aira terpaku di tempatnya dengan mata membulat sempurna.
Wajah Leonel yang semula mengeras, perlahan menggelap. Ia tidak berteriak, ia hanya menatap sepatu yang terjatuh di kakinya, lalu perlahan mengangkat pandangan ke arah Aira dengan tatapan yang mampu membekukan siapa pun yang melihatnya.
Ada sedikit rasa takut yang menjalar di dada Aira, namun amarahnya jauh lebih mendominasi. Dengan langkah ragu, gadis itu mendekat, bermaksud mengambil kembali sepatunya yang tergeletak tepat di depan sepatu Leonel. Tidak ada kata maaf yang keluar, bibirnya terkatup rapat karena ego dan rasa sakit hati yang belum reda.
Namun, di luar dugaan siapa pun, saat Aira baru saja menunduk, Leonel bergerak lebih cepat. Tanpa sepatah kata pun, ia menyambar tubuh Aira dan menggendongnya seperti karung beras di bahunya. Aira tersentak, sempat memukul punggung Leonel dengan brutal, tapi pria itu tidak bergeming.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...