NovelToon NovelToon
Emily Rose

Emily Rose

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ana kimtae

Hanya tentang seorang perempuan yang menjadi selingkuhan laki-laki yang katanya mencintai nya.. Benarkah ini cinta atau hanya nafsu semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana kimtae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mau dibawa kemana

"Mmmmmm....ahhhhh...sayangggg...."

Desahan Emily terdengar saat Jeon memelintir puting yang sudah tegang miliknya.Gadis itu membusungkan dadanya karena Jeon melahap dengan rakus payudara besar milik Emily.

"Enak..hmmm..."

Pria tampan itu menelusuri dada dan perut Emily dengan lidahnya yang panjang.Rasa nikmat menggelitik di perut Emily.Basah karena liur Jeon juga sentuhan yang membuatnya seakan terbang.Jeon mengangkat sebelah kaki Emily dan mengemut jempol kaki milik gadis itu.Bibirnya mengecupi dari ujung kaki sampai pangkal paha Emily.Paha yang sedikit berlemak milik Emily di endusnya dan digigit-gigit kecil.Lenguhan dan desahan terdengar begitu rapuh dari bibir mungil milik Emily.

"Mas....ahhhh...ahnnnnn...aku aku yang di atas"ucapannya terbata karena rasa nikmat yang sudah menguasai kepalanya.

Jeon tersenyum miring melihat gadis itu kesusahan untuk mengangkat tubuhnya sendiri.Emily tidak langsung ke intinya,dia menatap tubuh telanjang milik Jeon.Gadis itu tersenyum karena semua yang ada di diri Jeon adalah miliknya.

Tangan lentik itu menggenggam penis Jeon yang sangat besar.Emily menaik turunkan tangannya di kebanggaan milik kekasihnya.Jeon menggeram saat mulut basah kekasihnya mengulum penisnya yang sudah mengeluarkan cairan precum.

"Hahhhh...erghhhhh"

Mata kelam milik Jeon seolah mengabut karena kenikmatan yang telah diberikan oleh Emily.Gadis itu benar-benar selalu bisa memanjakan kejantanannya,dia tak pernah bosan memberikan servis terbaik.Emily tau caranya untuk bisa membuat Jeon tak ingin mengakhiri sesi bercinta mereka.Inilah kenikmatan yang baru dia dapatkan seumur hidupnya.Hanya gadis inilah yang bisa memberikan padanya.

Emily mengecup pucuk penis milik Jeon, lidahnya menyesap dan memainkan penis itu seperti sedang memakan es krim kesukaannya.Gadis itu terlihat kepayahan saat penis panjang itu masuk hanya setengah saja kedalam mulutnya.Berkali-kali tenggorokannya tersodok kebanggaan milik Jeon, sampai dia merasa tersedak dan ingin muntah.

Gadis itu bangkit dan segera menaiki tubuh Jeon yang masih terbaring sembari meremas payudara besar itu.Rasa sakit mulai terasa saat dirinya memposisikan lubang senggamanya di atas penis milik Jeon.

Sedikit demi sedikit dia menurunkan bokong sintalnya untuk mencari posisi yang pas.Tapi sialnya Jeon tak sabaran dan segera mengangkat bokongnya untuk melesakkan penisnya kedalam lubang kenikmatan milik Emily.

"Ahhhhh....massssss...ahhhhhh"

Jeon mengangkat dan menurunkan pinggul ramping itu dengan kedua tangan besarnya.Gadis itu tak kuasa untuk tak mendesah dan merengek merasakan sakit dan nikmat secara bersamaan.Emily menggoyangkan pinggulnya dan menaikkan tempo genjotannya sampai Jeon menggeram resah karena rasa nikmat.Penisnya seperti dipijat dan di cengkeram oleh lubang sempit milik Emily.

"Ohh...masss..aku akuu..ahhhh"

Emily terkulai lemas di atas dada bidang milik Jeon, pelepasan yang baru saja tiba sangat nikmat dirasakan olehnya.Jeon mengelus rambut panjang dan punggung sempit kekasihnya.

"Doggy style sayang.."setelah dirasa gadis itu sudah rileks Jeon segera meminta Emily untuk menunggingkan bokongnya supaya dia bisa segera mengobrak abrik lubang senggamanya.

Gadis itu menuruti keinginan kekasihnya, dengan perlahan dia menungging di depan Jeon.Pria itu menyentuh vagina becek milik Emily, dia memasukkan dua jari sekaligus memainkan vagina itu sampai Emily kembali mendesah dan melenguh merasakan kenikmatan yang diberikan Jeon.

Lidah hangat milik Jeon mengecupi sepanjang punggung polos Emily.Desahan dan geraman keduanya menjadi simponi yang indah terdengar di kamar milik mereka.

"Aku masukin ya sayang.."

Jlebbbbbbbbb

Tanpa mendengar jawaban Emily pria itu langsung menusukkan penisnya ke dalam Vagina Emily.

"Ahhhhhhhhhh....fuckkkk"

Jeon merasakan kembali kenikmatan yang diberikan lubang kenikmatan milik Emily.Jeon makin gencar memaju mundurkan pinggulnya tak lupa tangannya meremas payudara besar milik kekasihnya.

"Ahhhhh..ahhhhh...ohhhh... terlalu dalam mass...ahhhhhh..ahhhhhhh..ohhhhhh"

"Fuckkkk....Arrghhhh fuckkkk"

Hingga entah hujaman yang keberapa Jeon baru mendapatkan putihnya, tubuhnya bergetar dan ambruk menimpa tubuh Emily.Nafasnya menderu, sungguh gadis ini membuat Jeon gila.Vagina sempitnya payudara besarnya membuat Jeon tak bisa berpaling dari gadis muda ini.

"Mas...kapan kita menikah.."

"Secepatnya sayang.. setelah mami merestui kita,aku akan segera menikahi mu"

Emily mendengus dan beranjak dari tempat tidur lalu memunguti baju yang berserakan.Gadis itu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.Sungguh Jeon sangat menyebalkan, sampai kapan mereka akan menunggu restu dari wanita gila itu.Emily masuk kedalam bathtub untuk menyegarkan tubuhnya.Dia sangat lelah, entah mengapa dia tak ingin lagi membicarakan pernikahan karena jawaban Jeon akan sama.

Jeon memejamkan matanya tiba-tiba saja kepalanya pusing luar biasa.Dia bisa saja menikahi Emily tanpa persetujuan orang tuanya tapi apakah ini akan bagus bagi citra dia kedepannya.Dia ingin Emily mengerti dan menunggu sebentar lagi sampai Maminya menurunkan ego hingga merestui pernikahan mereka.

Emily keluar setelah menghabiskan waktu hampir setengah jam dikamar mandi.Jeon sudah tak disana, sepertinya dia pergi ke ruang kerja miliknya.Rasa kesal semakin besar di hati Emily,pria itu tak mengerti dirinya.Dengan cepat gadis itu mengambil bajunya asal,jam masih menunjukkan pukul sebelas malam dia ingin pergi dari rumah ini Rasanya sesak jika harus selalu mengerti dan dibiarkan bertanya-tanya tanpa diberikan kejelasan.

Emily mengemudikan mobilnya tanpa arah,dia menangis.Entah apa yang sekarang dia tangisi, dirinya atau nasibnya.Jeon memang mencintainya sangat mencintainya tapi pria itu seolah buta dan tuli dengan keadaan Emily.Dirinya hanya dijadikan tempat untuk melampiaskan nafsunya tanpa segera menikahi.Untuk apa Jeon bercerai dengan wanita ular itu jika dirinya belum sepenuhnya bisa memiliki hubungan yang sakral dengan Emily.

"Arrghhhhhhhh...sialannnn"Emily berteriak didalam mobilnya.Sungguh dia sangat kesal dengan keadaan ini, hatinya sakit selalu harus mengalah.

Drtttt drtttttt drtttttt

Emily melirik ponsel miliknya,Jeon menghubungi dirinya.Mungkin pria itu baru sadar kalau Emily pergi dari rumah.

Gadis itu memarkirkan mobilnya di sebuah klub malam yang lumayan besar di kota itu.Emily memasuki gedung itu setelah melewati beberapa sekuriti untuk memberikan tanda pengenal miliknya.Gadis itu segera duduk di area bar untuk memesan minuman.

Matanya memeta seluruh ruangan,dia melihat panggung utama tempat dj bermain.area itu sangat megah dilengkapi dengan layar LED raksasa.

Di lantai dansa terdapat beberapa pasang muda mudi sedang bergoyang sembari berpelukan.letaknya ditengah dilengkapi dengan sound system dan pencahayaan mutakhir.Mungkin karena ini masih terlalu sore makanya suasana belum sepenuhnya ramai.

"Mau minum apa,suara bartender kembali terdengar"

"Apa saja yang tidak terlalu banyak alkohol"

"Ada mojito,Pina colada atau vodka cranberry.Pilihan aman lainnya beer,cider atau campuran Vodka soda"

"Terserah"Emily tak memberikan pilihan karena jujur saja gadis itu tak begitu suka masuk keluar klub malam seperti itu.Dia hanya sedang kesal dan tidak tahu harus pergi kemana.

Lelaki muda itu memberikan segelas orange jus pada Emily.Bibirnya tersenyum saat melihat raut wajah Emily yang bingung karena diberikan air berwarna oranye itu padahal dia meminta minuman beralkohol.

"Kamu tidak pernah terlihat di sini,aku yakin kamu bukan pemabuk"

Emily mendengus dan meminum orange jus yang diberikan bartender tadi.Wajah sembabnya membuat pria itu penasaran apa yang membuat gadis itu kemari.

"Putus cinta...?"

"Apakah sangat terlihat jelas"jawab Emily sembari memajukan wajahnya ke arah pria itu.Lelaki itu tertawa melihat Emily yang tidak bersikap canggung padanya, padahal mereka baru saja bertemu.

"Ini masih sore jadi kamu bisa bebas duduk disini mengobrol denganku,jika sudah terlalu ramai kamu akan tersingkir oleh para pemabuk yang akan membuatku sibuk.Namaku Andrew by the way"

Pria itu mengulurkan tangan dan disambut dengan baik oleh Emily.."Emily rose.."

"So...siapa yang sudah membuatmu menangis seperti ini.."

"Yang jelas dia seorang pria.."

Andrew terkekeh geli mendengar ucapan Emily,bibir gadis itu mencebik saat mengatakannya.Mungkin saja gadis ini seumuran dengan adik perempuannya.Dilihat dari sisi manapun gadis ini terlihat menarik.Kulit putihnya, rambut panjangnya akan menarik para serigala lapar yang akan segera memenuhi klub ini.

"Pulanglah..disini bukan tempatmu,bocah dilarang masuk ke area ini"

"Umurku sudah legal dan kamu sangat tidak sopan mengusir pelanggan "

Andrew tertawa lagi dia merasa senang bisa bertemu dan berkenalan dengan gadis cantik ini.Pria itu melambaikan tangan pada sosok yang baru saja memasuki klub.Pria itu tersenyum dan ber tos ria dengan Andrew tanpa melihat gadis yang sedang duduk disampingnya.

"Tumben kesini,lagi suntuk..?"

"Ya begitulah..cari inspirasi bisa dimana saja kan,biasa ya"ucapnya memberikan gestur tangan menunjuk satu minuman dan segera di racik oleh Andrew.

Emily memalingkan wajahnya dan terkejut saat melihat Leon duduk disampingnya.Pria itu menoleh saat merasakan ada orang yang menatap dirinya.

"Emily..."

Emily tersenyum dan mengangkat orange jus miliknya.Dia tau Leon akan banyak bertanya terlihat dari raut wajahnya yang sedang terheran-heran.

"Aku tidak mabuk, karena pria itu rese"ucapnya sembari menunjuk pada Andrew.

Pria yang dibicarakan hanya tertawa mendengar Emily yang sedang mengadukan dirinya pada Leon.

"Elu kenal...?"

"Dia inspirasi gue.."

Andrew hanya membulatkan bibirnya membentuk huruf O.Dia segera meninggalkan mereka berdua setelah memberikan minuman yang dipesan oleh Leon.

"Jadi...apa yang membawa si manis ini duduk ditempat seperti ini"

"Mencari inspirasi, mungkin"

Leon tertawa, gadis itu benar-benar mengikuti ucapannya tadi.Pria itu menatap wajah Emily yang terlihat sembab dan sendu.Dia yakin gadis ini habis menangis tapi apa alasannya.

"Ada apa..?mau cerita..?"

Emily menatap pria di sampingnya, menatap lekat dari ujung kaki sampai ujung kepala pria tampan itu.

"Kamu gak mau ngajak aku ke apartemen lagi.."

"Hahh.."Leon masih mencerna pertanyaan dari Emily.Apa maksudnya..

"Ayo pulang ke apartemen kamu.."

Tanpa banyak bertanya lagi Leon segera mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan meletakkan di meja.Dia segera berpamitan pada Andrew dan dibalas tawa ejekan dari sang empu.Leon tak perduli dia hanya ingin segera membawa gadis itu pergi dari sana.

"Bawa mobilku saja"Emily memberikan kunci mobilnya pada Leon.Pria itu menuruti gadis itu setelah berlari menitipkan kunci mobilnya sendiri pada Andrew.

Mobil itu melesat membelah jalanan dengan cepat, mereka sampai di apartemen milik Leon dan pria itu segera mengemasi beberapa kertas yang berserakan di atas meja.

Ponsel Emily kembali berdering tapi gadis itu tetap tak berniat untuk menjawab panggilan itu Sungguh dia tidak perduli lagi sekarang,jika Jeon memang menginginkan seperti ini Emily akan menerima.

Leon meminta Emily untuk duduk di sofa dan segera berlalu untuk mengambil minuman dingin untuknya.Leon kembali dengan minuman dan beberapa camilan.Pria itu menatap wajah sendu milik Emily, sungguh dia tak menyukai ketika gadis itu menjadi orang yang pendiam.

"Maukah kamu memelukku.."

Tanpa banyak kata Leon memeluk tubuh Emily mengusap punggung sempit gadis itu.Tanpa sadar mata mereka bertemu dan Leon mendekat untuk mengecup bibir mungil itu.Leon terkejut saat Emily merespon ciumannya dengan lumatan dari bibir manisnya.Tak ingin membuat suasana terlihat canggung Leon membalas pagutan bibir manis itu dengan lumatan dan gigitan-gigitan kecil.

"Ahhhhhh.."

.

.

.

Jeon menarik surainya frustasi, berkali-kali dia menghubungi kekasihnya tapi tak mendapatkan jawaban dari sana.Dia tidak tau gadis itu pergi kemana, karena selama ini Emily tidak pernah bercerita tentang teman-temannya.

Jeon tidak pernah bertanya karena yang dia tau kekasihnya lebih senang menghabiskan waktu sendirian dirumah atau pergi ke salon juga shopping sendirian.

Dia tau Emily marah padanya tapi dia tidak pernah bereskpektasi kalau kekasihnya akan pergi dari rumah dengan kondisi dirinya yang mungkin sedang menangis.

"Sialan kau Jeon"umpatnya pada diri sendiri.

1
Nur Janah
harusnya Emily tak melarang jeon berhubungan dg istrinya karena mereka memang sah
Nur Janah
pasti setelah ini akan ada jeon jr lg🤭
Nur Janah
baru awal ceritanya Udah menarik thor
Ana Dinozzo
yuk baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!