Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.
Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.
Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.
Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.
Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.
Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Adam meminta semua kru yang tidak berkepentingan keluar dari ruang studio. Hanya menyisakan dirinya, Kiandra, dan beberapa kru yang sedang mengatur pemotretan istrinya.
Dia berdiri dari kursinya dan menepuk tangan sekali, cukup keras sampai membuat beberapa orang refleks menoleh ke arahnya. Tatapannya menyapu seluruh isi studio, wajahnya datar tapi auranya jelas bikin suasana jadi sedikit tegang.
“Yang tidak berkepentingan, silahkan keluar terlebih dahulu,” ucapnya dingin, tanpa senyum. “Pemotretan lanjut, tapi secukupnya aja.”
Satu per satu kru yang merasa hanya numpang lalu-lalang mulai membereskan barangnya dan keluar dari ruangan. Pintu studio tertutup pelan, menyisakan Adam, Kiandra, fotografer, dan beberapa kru inti yang masih sibuk ngatur lampu, kamera, sama properti. Suasana jadi lebih hening, cuma terdengar suara shutter kamera dan instruksi singkat dari fotografer.
Adam memilih berdiri sedikit menyamping, tangannya masuk ke saku celananya. Dari posisi itu, matanya tidak lepas dari Kiandra yang berdiri di tengah set. Istrinya terlihat cantik, terlalu cantik menurutnya. Setiap gerakan kecil Kiandra, setiap tatapan ke kamera, membuat rahang Adam mengeras. Bukan hanya bangga saja yang dia rasakan, tapi juga merasa tidak rela yang semakin lama semakin menyesak.
Padahal di ruangannya, semua berkas menumpuk. Ponselnya sudah beberapa kali bergetar, pasti dari asisten dan juga kiennya. Tapi Adam sama sekali tidak peduli. Baginya, tidak ada yang lebih penting daripada memastikan istrinya aman, tidak ada yang berani kurang ajar, tidak ada mata iseng yang kelewatan menikmati Kiandra lebih dari yang seharusnya.
Sesekali dia melangkah sedikit lebih dekat, berdiri di sudut yang jelas kelihatan dari kamera. Seolah-olah keberadaannya di situ adalah peringatan tak tertulis buat siapa pun yang ada di ruangan itu. Ini istrinya. Jangan macam-macam.
Salah satu kru perempuan yang lagi sedang rambut Kiandra melirik ke arah Adam, lalu tersenyum kecil sambil berbisik, tapi cukup jelas buat Kiandra dengar.
“Suami anda sangat posesif, nyonya. Dari tadi dia mantengin anda terus, kayak takut anda tiba-tiba hilang dari pandangannya,” katanya setengah bercanda.
Kiandra menghela napas pelan, matanya masih fokus ke pantulan dirinya di cermin kecil di depan. Sudah biasa. Dari dulu Adam memang seperti itu, tapi tidak membuat laki-laki itu setia. Adam tetap berselingkuh di belakangnya.
“Abaikan saja,” jawab Kiandra singkat, nada suaranya datar tapi terselip lelah.
Kru itu hanya terkekeh kecil, lalu melanjutkan pekerjaannya. Sementara Adam, meski pura-pura tidak mendengar, jelas menangkap ucapan itu. Alisnya sedikit berkerut, tapi dia tetap berdiri di tempat, tidak berniat menjauh sedikit pun.
Buat Adam, ini bukan soal posesif atau tidak. Ini soal rasa memiliki yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata. Dan selama pemotretan itu belum selesai, selama Kiandra masih berdiri di depan kamera dengan semua mata tertuju padanya, Adam tidak akan ke mana-mana. Dia akan tetap di situ, jadi bayangan yang selalu ada di belakang istrinya.
Selang beberapa waktu kemudian, suara shutter kamera akhirnya berhenti. Fotografer menurunkan kameranya, lalu mengangguk puas sambil tersenyum lebar. Beberapa kru langsung mulai beres-beres, ada yang matiin lampu, ada juga yang mengobrol pelan mengenai hasil foto barusan. Pemotretan Kiandra untuk hari ini telah selesai.
Kiandra melangkah turun dari set, bahunya sedikit pegal tapi wajahnya terlihat lega. Pandangannya langsung tertuju ke satu orang yang dari tadi tidak ke mana-mana. Adam masih berdiri di tempat yang sama, posisi tubuhnya nyaris tidak berubah, seolah memang berniat menjadi patung penjaga.
Kiandra mendekat, berdiri tepat di depannya. Adam langsung menoleh, sorot matanya melembut begitu melihat istrinya dari jarak dekat.
“Kamu tidak bekerja” ucap Kiandra sambil melipat tangan di depan dada. Nadanya tidak marah, lebih ke heran bercampur gemas.
Adam mengangkat bahu santai, bibirnya melengkung tipis. “Setelah ini aku akan bekerja.” jawabnya ringan, jelas-jelas cari alasan.
Kiandra mendengus pelan. Dia tahu betul, kalau sudah begini, Adam pasti keras kepala. Laki-laki itu kemudian melirik jam tangannya, lalu mencondongkan badan sedikit ke arah Kiandra.
“Ayo, kita balik ke ruanganku,” ajaknya, nadanya tegas tapi lembut.
Kiandra menggeleng kecil. “Kamu duluan aja. Aku mau ganti baju dulu,” katanya sambil menunjuk pakaiannya yang masih outfit pemotretan.
Belum juga dia melangkah pergi, Adam sudah lebih dulu menahan pergelangan tangannya, genggamannya gak keras tapi cukup membuat Kiandra menghentikan langkahnya.
“Kamu bisa ganti pakaianmu di ruanganku, sayang,” katanya, kali ini dengan nada maksa yang khas. Tatapannya seolah tidak memberikan ruang untuk membantah.
Kiandra menatap Adam beberapa detik, lalu menghela napas panjang. Bola matanya berputar malas, ekspresinya campur aduk antara pasrah dan kesal kepada suaminya itu.
“Emmm… iya,” jawabnya akhirnya, tanpa semangat.
Adam tersenyum puas, seolah baru saja memenangkan sesuatu yang besar. Tangannya langsung merangkul bahu Kiandra, mengarahkannya untuk berjalan bersamanya keluar dari studio. Beberapa kru yang melihat cuma bisa saling pandang dan senyum-senyum kecil, sudah paham betul dinamika pasangan itu.
Sementara Kiandra berjalan di samping Adam, dia hanya bisa menggeleng pelan. Di satu sisi dia kesal dengan sifat posesif suaminya, tapi di sisi lain, entah kenapa, perhatian berlebihan itu selalu membuat hatinya terasa hangat.
Begitu Adam hendak mendorong pintu ruangannya, suara kecil yang sangat mereka kenal tiba-tiba menggema di lorong.
“Mommyyy!” teriak Zayyan nyaring.
Langkah Adam dan Kiandra otomatis terhenti. Keduanya menoleh hampir bersamaan ke arah suara itu. Wajah Kiandra yang tadinya agak lelah langsung berubah cerah, senyumnya mengembang lebar begitu melihat sosok kecil berlari ke arah mereka.
“Sayangnya mommy sudah pulang,” ucap Kiandra sambil tersenyum hangat, kedua tangannya langsung direntangkan lebar, siap menyambut.
Zayyan tertawa lepas, langkah kakinya semakin cepat sampai akhirnya tubuh kecil itu menabrak dada Kiandra. Kiandra langsung memeluk putranya erat, mengangkatnya sedikit lalu menciumi pipi dan wajahnya berkali-kali tanpa peduli sekitar.
“Huh, mommy sangat merindukanmu,” ucap Kiandra sambil terus mencium wajah Zayyan, suaranya penuh rindu yang tidak bisa dia tutupi.
Zayyan cekikikan, tangannya melingkar di leher Kiandra. “Zay juga lindu mommy,” jawabnya polos, pengucapannya masih cadel tapi bikin hati siapa pun meleleh.
Adam yang berdiri di samping mereka memperhatikan adegan itu dengan ekspresi setengah iri. Dia mendekat sedikit, lalu menunduk sejajar dengan wajah putranya.
“Zayyan tidak merindukan daddy?” tanya Adam dengan wajah dibuat-buat memelas, alisnya sedikit dinaikkan.
Zayyan langsung diam. Bocah kecil itu menatap Adam, lalu menoleh ke Kiandra, seakan sedang berpikir keras mencari jawaban yang paling aman. Beberapa detik berlalu, dan Adam mulai kehilangan kesabaran.
“Hei, kenapa kamu tidak jawab? Kamu beneran tidak merindukan daddy?” protes Adam kesal, nadanya sengaja dilebihkan.
Tiba-tiba Zayyan tertawa keras. “Hahahaha… Zay lindu daddy, tapi cedikit,” ucapnya sambil tertawa meledek, wajahnya penuh ekspresi jahil.
Adam mendengus kesal. “Dasar anak nakal,” gumamnya.
Tanpa peringatan, Adam langsung meraih tubuh Zayyan dari gendongan Kiandra. Zayyan kaget, lalu langsung tertawa terbahak-bahak ketika Adam mulai menggelitiki perutnya. Sambil tetap menggelitik, Adam melangkah masuk ke dalam ruangannya. Suara tawa Zayyan memenuhi ruangan, bercampur dengan teriakan kecilnya yang meminta ampun.
Kiandra cuma bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat tingkah ayah dan anak itu.
Tak lama kemudian, Marsha mendekat ke arah Kiandra dengan wajah sedikit tidak enak. “Maaf kak, aku bawa Zayyan ke sini. Anak itu tidak mau diajak pulang ke rumah mama,” ucapnya jujur.
Kiandra menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, pekerjaan kakak juga sudah selesai,” jawabnya santai.
Lalu Kiandra melirik ke arah Marsha. “Kamu mau di sini dulu atau langsung pulang?” tanyanya lagi.
“Aku langsung pulang aja,” jawab Marsha tanpa ragu.
“Ya sudah, hati-hati. Kakak terima kasih sebelumnya,” ucap Kiandra tulus.
Dalam hati, Kiandra memang lebih tenang menitipkan Zayyan pada Marsha. Dia jauh lebih percaya adiknya sendiri dibanding harus menitipkan putranya pada Nisa, adiknya Adam.
kejam ya tapi si nayla nya aja nggak niat berubah
dijauhkan dari nayla dan nayla2 yg lain 😅😅😅
apapun niat nayla semoga gagal
atau haris bakal berubah jd mucikari??😅😅😅
atau cerita ini akan segera tamat??