Pernikahan rahasia. Ciuman terlarang. CEO dingin yang jatuh pada gadis tomboy.
Benny, seorang CEO yang anti wanita dan memilih hidup sendiri, terpaksa menikah dengan Cessa—putri sahabatnya yang berusia delapan belas tahun. Pernikahan mereka dimulai sebagai kontrak penuh aturan: tanpa cinta, tanpa sentuhan, tanpa perasaan.
Namun satu ciuman menghancurkan segalanya.
Tinggal serumah membuat batasan runtuh, kecemburuan tumbuh, dan hasrat berubah menjadi dosa. Saat Cessa mencintai tanpa ragu, Benny justru berperang dengan prinsip, moral, dan ketakutan terbesarnya: jatuh cinta pada wanita yang seharusnya tak boleh ia miliki.
Ini bukan kisah cinta yang aman.
Ini kisah tentang memilih perasaan… atau menghancurkan hidup sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiisan kasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“Kalimat yang Pernah Hidup”
Video itu berhenti.
Namun kalimatnya tidak.
“Aku tidak akan pernah benar-benar mencintai siapa pun. Itu membuatku lemah.”
Cessa menatap layar yang sudah gelap.
Ruangan terasa sempit.
Benny berdiri di depannya, wajahnya pucat—bukan karena ketahuan, tapi karena sadar: masa lalunya kini berdiri di antara mereka.
“Itu sebelum aku mengenalmu,” ucap Benny pelan.
Cessa mengangkat tangan, menghentikannya.
“Aku tahu itu lama,” katanya. Suaranya tenang. Terlalu tenang.
“Cessa—”
“Yang aku tidak tahu,” lanjut Cessa, “adalah kapan kalimat itu benar-benar mati.”
Keheningan jatuh.
Benny mendekat satu langkah. “Hari pertama kamu memaksaku mengaku homo di ruang kantor.”
Cessa hampir tertawa kecil—hampir.
“Waktu kamu memelukku tanpa takut,” lanjut Benny, “aku sadar aku tidak kebal.”
Cessa menatapnya lurus.
“Kalimat itu adalah tameng,” kata Benny. “Bukan prinsip.”
“Tameng yang kamu pegang lama sekali,” balas Cessa.
Benny mengangguk. “Karena aku takut kehilangan kendali.”
“Dan sekarang?” tanya Cessa.
Benny menelan ludah. “Sekarang aku takut kehilangan kamu.”
Itu jujur.
Terlalu jujur.
Cessa memalingkan wajah. Dadanya sesak—bukan karena ragu, tapi karena sadar betapa besar jarak yang sudah mereka tempuh.
“Ben,” ucapnya pelan, “aku tidak takut kamu pernah mengatakan itu.”
Benny menatapnya.
“Aku takut kalau suatu hari, di saat paling sulit… kamu kembali percaya pada kalimat itu.”
Benny terdiam.
Dan di situlah letak luka paling dalam.
Pagi datang tanpa tidur.
Cessa duduk di balkon. Angin dingin menyentuh kulitnya. Ia tidak menangis. Tidak marah. Ia berpikir.
Ia mengingat semua momen.
Benny yang dulu menolak sentuhan.
Benny yang pura-pura kebal.
Benny yang akhirnya memilih berdiri.
Perubahan itu nyata.
Tapi apakah perubahan itu cukup kuat saat tekanan datang bertubi-tubi?
Pintu balkon terbuka.
Benny keluar, membawa dua cangkir kopi.
“Aku nggak tidur,” katanya.
“Aku tahu,” jawab Cessa.
Ia menerima kopi itu. Hangat.
“Kalau kamu mau pergi lagi,” ucap Benny pelan, “aku tidak akan menahan.”
Cessa menoleh cepat. “Kenapa kamu selalu menyiapkan opsi pergi?”
Benny terdiam.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang ‘tetap’?” lanjut Cessa.
Benny menatapnya lama.
“Aku ingin kamu memilih,” jawabnya.
“Aku sudah memilih!” suara Cessa akhirnya naik. Bukan marah—frustrasi. “Aku kembali. Aku berdiri di sampingmu. Aku menghadapi media. Aku tidak kabur saat video itu muncul.”
Benny menelan ludah.
“Tapi kamu masih bersiap kalau aku pergi,” bisik Cessa.
Keheningan menggantung.
Benny akhirnya mengerti.
Selama ini ia belajar mencintai.
Tapi belum belajar meminta.
Ia selalu siap kehilangan—sebagai mekanisme bertahan.
“Kalau aku bilang tetap?” tanya Benny pelan.
Cessa menatapnya.
“Kalau aku bilang aku ingin kamu tetap, bukan karena takut sendirian… tapi karena aku memilih hidup bersamamu?” lanjut Benny.
Jantung Cessa berdetak lebih cepat.
“Kamu belum pernah bilang itu,” katanya lirih.
Benny menarik napas dalam.
“Tetaplah,” ucapnya.
Bukan perintah.
Bukan permohonan.
Keputusan.
“Aku tidak ingin mencintaimu setengah,” lanjut Benny. “Aku tidak ingin siap kehilangan lagi. Aku ingin mempertahankan.”
Air mata akhirnya jatuh dari mata Cessa.
Bukan sedih.
Bukan lega.
Tapi karena kalimat itu… tidak pernah ia dengar sebelumnya.
Di kantor, tekanan makin memuncak.
Audit memasuki tahap akhir. Beberapa anggota dewan mulai goyah. Investor bertanya-tanya.
Dan Diana—
masih berdiri sebagai pengamat yang sabar.
Namun kali ini, ia menerima laporan berbeda.
“Opini publik mulai berpihak ke Benny,” ujar asistennya.
Diana terdiam.
“Dan video lama itu… justru membuatnya terlihat lebih manusiawi.”
Diana menutup laptop perlahan.
“Jadi,” gumamnya, “dia benar-benar berubah.”
Ia menatap jendela kota.
“Atau dia akhirnya belajar mencintai.”
Malam itu, Cessa berdiri di ruang tengah rumah mereka.
Ia menatap foto kecil di meja—foto mereka yang diambil diam-diam oleh Axel saat makan malam keluarga.
Mereka terlihat… nyata.
Benny keluar dari ruang kerja.
“Audit selesai besok,” katanya.
Cessa mengangguk.
“Apa pun hasilnya,” lanjut Benny, “aku nggak akan mundur lagi.”
Cessa mendekat.
“Kamu tidak perlu jadi kuat sendirian,” katanya pelan.
Benny tersenyum kecil. “Aku tahu.”
Cessa menarik napas.
“Kalimat di video itu memang pernah hidup,” katanya jujur. “Tapi hari ini… aku melihatnya mati.”
Benny memejamkan mata sebentar.
“Karena kamu membunuhnya,” lanjut Cessa. “Bukan karena aku memaksamu.”
Itu perbedaan terbesar.
Benny meraih tangannya. Tidak ragu.
“Besok,” ucap Cessa pelan, “kita hadapi hasilnya.”
Benny mengangguk.
“Bareng,” tambah Cessa.
“Bareng,” ulang Benny.
Namun tepat sebelum mereka masuk kamar
Ponsel Benny bergetar.
Pesan dari dewan direksi.
Keputusan Audit Final — Rapat Darurat Besok Pukul 08.00
Dan di bawahnya—
Agenda: Evaluasi Posisi CEO
Benny menatap layar itu lama.
Cessa membaca di wajahnya.
“Besok,” bisiknya.
Benny mengangguk pelan.
Benny akhirnya berkata ‘tetap.’
Cessa akhirnya melihat masa lalu benar-benar mati.
Namun esok pagi—
mereka mungkin harus menghadapi kehilangan yang lebih besar dari sekadar rasa takut.*