Fasha mengamuk setelah membaca sebuah novel, bukan karena ceritanya buruk, tapi karena tokoh antagonis pria yang ia sukai, mati mengenaskan tanpa keadilan.
Tak disangka, Fasha malah mendapati dirinya telah bertransmigrasi ke dalam novel itu, tepat di tubuh gadis yang akan segera kehilangan suara… dan dijual sebagai istri pada pria yang sama.
Untuk mengubah takdir, Fasha hanya punya satu tujuan yaitu menyelamatkan Sander dari kematian tragisnya—meski itu berarti harus menikah dengannya terlebih dulu.
Karena kali ini, penjahat itu… adalah suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Kamu tahu Siapa Namaku?
Sander membawa bros pemberian Fasha ke kamar yang bersebrangan dengan milik Fasha, kemudian ia mengambil sebuah kotak beludru, meletakkan bros itu dengan hati-hati di dalamnya, lalu menulis 'RUANG BELAJAR' pada selembar karton keras dan menempelkannya di pintu.
“Chris, besok suruh toko penjahit mengirimkan beberapa pakaian untuk Fasha. Pastikan ukurannya pas.”
“Baik. Apakah saya perlu membeli yang modelnya lucu?”
“Terserah.. Apa saja boleh..”
Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 7.45. Biasanya, pada jam segini ia sudah menyelesaikan empat proyek. Namun kini, Sander hanya menatap tumpukan dokumen di hadapannya, perasaan gelisah perlahan merambat di dadanya.
Suara kertas yang dibalik terdengar semakin keras, seolah menegur ritme hidupnya yang mulai berantakan.
“Kakak… cepat ke sini…”
Suara Fasha terdengar samar, seperti terhalang dinding kaca. Sander berhenti membaca, mengernyit, lalu berdiri.
Di atas tempat tidur, tampak gumpalan bergerak di balik selimut.
“Kakak…”
Nada itu seperti tangisan yang dipaksakan.
“Hm?”
“Aku… aku terjebak…”
Tadi Fasha berniat merapikan selimut yang kusut. Tapi seluruh tubuhnya masih terasa nyeri, sehingga tak cukup kuat untuk melakukannya, ia malah merangkak masuk ke dalam selimut, lalu menyadari bahwa ia tak bisa keluar karna selimut itu memiliki ritsleting yang entah bagaimana tertutup dari luar.
Sander yang masuk hanya menatap ritsleting yang tertutup rapat itu beberapa detik sebelum berkata datar,
“Fasha, siapa yang mengajarimu menutup ritsleting dari dalam?”
“Hah?” Wajah Fasha memerah. Ia tergagap, tak tahu harus menjawab apa.
'Bukan… bukan begitu… aku tidak sebodoh itu… aku juga tidak tahu kenapa ritsletingnya bisa tertutup'
Ia ingin berpura-pura bodoh, tapi juga tak ingin dianggap benar-benar bodoh. Ia sendiri tak tahu kapan ritsleting itu tertutup.
Udara dingin masuk ketika Sander membuka ritsleting. Fasha perlahan merangkak keluar. Begitu kepalanya muncul, ia menatap Sander dengan wajah memelas.
“Kak… sebenarnya aku lagi main petak umpet sama kakak.”
“Oh.”
Pakaian Fasha berantakan, memperlihatkan kulit pucat dan bekas kemerahan yang masih jelas di tubuhnya.
“Ganti baju dan turunlah untuk makan malam.”
Tanpa sengaja, Fasha melirik jam tangan Sander. Ia tahu, Sander selalu makan tepat pukul delapan.
Namun sekarang sudah lewat dari waktu tersebut.
'Mungkin… karena tadi menolong aku.'
Uap masih mengepul dari hidangan di meja. Pengurus rumah pasti baru saja pergi.
“Fasha, dua hari ini kamu harus makan makanan yang hambar.”
“Baik…”
Bubur millet itu hangat, dengan lapisan tipis krim dan aroma lembut. Fasha menyuapnya perlahan, sesekali melirik ke arah Sander.
Sander makan dengan gerakan rapi dan cepat. Dua roti kukus kecil masih tersisa di piringnya—jelas disiapkan untuk Fasha.
Jam menunjukkan pukul 8.20, waktu biasanya semua sudah dibersihkan.
Fasha menggigit rotinya, perasaan bersalah menyelinap di dadanya.
'Aku pasti sudah membuat rutinitasnya berantakan… tapi tubuh ini lelet banget!'
Namun Sander tidak menegurnya. Jadi Fasha melanjutkan makan dengan kecepatannya sendiri.
“Kak… di rumah aku nggak perlu makan cepat, ya?” katanya pelan.
“Kalau di sana, aku harus makan cepet banget… kalau nggak, nggak kebagian. Terus perutku sakit.”
Ia menunjuk perutnya, wajahnya tampak sedih.
“Kakak, di sini… sakit nggak?”
Sander sudah lama menderita maag akibat telat makan atau bahkan melewatkan waktu makan, itu juga yang membuatnya harus selalu mengikuti jadwal yang sudah di tentukan.
“Tidak.” jawab Sander dengan datar, padahal Fasha sudah hafal sifat Sander melalui buku yang ia baca.
“Kak… lain kali makan pelan-pelan aja. Di sini nggak ada yang marah, nggak ada yang mukul. Kalau udah kenyang… pasti rasanya senang.”
Suasana hati Sander memang sedang buruk. Rutinitas yang kacau membuatnya tidak nyaman.
Ia menjawab singkat, lalu berdiri dan memasukkan piring ke mesin pencuci piring.
“Fasha, siapa yang mengajarimu memanggil dengan sebutan aneh begitu?”
'Di panggil suami nggak mau, sekarang manggil kakak juga protes..'
“Kak… aku nggak ngerti.”
“Kamu tahu siapa namaku?”
“Iya… Sander… Sanderioz Carter.”
Nama itu diucapkannya dengan hati-hati. Nama yang sudah ia bisikkan berkali-kali dalam hatinya, tapi ketika benar-benar mengatakannya di depan orangnya, terasa canggung dan bergetar.