Delaney Harper ditinggalkan oleh tunangannya tepat di hari pernikahan mereka. Rumor perselingkuhannya menyebar dengan cepat, membuat ayah Delaney murka. Namun, ibu tirinya memiliki rencana lain.
Ia memaksa Delaney menikah dengan seorang pria yang bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya.
Seorang pria bernama Callum Westwood.
Callum Westwood, CEO Westwood Corp, adalah sosok yang hampir tidak Delaney kenal, tetapi reputasinya dikenal oleh semua orang. Dingin. Kejam. Tak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Dan ironisnya… dia adalah tetangga Delaney, hanya dua blok dari rumahnya—meski mereka belum pernah sekalipun berbicara.
Selain menyelamatkan Delaney dari skandal kehamilan di luar nikah, pernikahan itu ternyata merupakan cara Callum untuk membayar sebuah hutang besar dari masa lalu. Hutang yang ia tanggung sejak sepuluh tahun lalu dan ia simpan rapat-rapat sebagai rahasia.
Namun, apa sebenarnya yang terjadi sepuluh tahun lalu?
Dan bagaimana nasib pernikahan tanpa cinta ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lulaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
“Psst, Mbak?”
Delanay menoleh ke asal suara. Di sana, Nana berkedip padanya seolah memberi kode bahwa mereka harus berbisik-bisik.
“Apa?” tanya Delanay tanpa suara. Cukup bibirnya yang bergerak.
“Diantar konglomerat rasanya gimana?”
Delanay terperangah. Kenapa Nana bertanya hal seperti itu di tengah-tengah meeting?
“Tadi sampe heboh lho, Mbak,” kata gadis itu.
Tentu saja heboh. Semua orang tak menyangka kejadian Delanay diantar-jemput saat makan siang, kini kembali terjadi. Bedanya, ini masih pagi. Bahkan mereka sempat berpikir itu hanyalah sebuah mimpi.
Bagaimana tidak? Porsche Callum masuk ke pelataran E Beauty dan terlihat begitu mencolok.
Walaupun butik ini adalah tempatnya para konglomerat memanjakan diri, tapi baru pertama kalinya seorang karyawan butik, diantar memakai mobil seharga satu pulau. Porsche Callum terbilang langka, atau mungkin hanya satu-satunya di dunia. Lihat, plat mobil tersebut. Plat khusus untuk seorang Callum Westwood.
“Rasanya nggak gimana-gimana,” balas Delanay pelan.
Mata wanita itu terus mengikuti gerak Elara yang sedang memaparkan proyek baru. Proyek gaun yang beberapa waktu lalu sempat mereka diskusikan.
Nana ikut menatap Elara, berpura-pura mencatat hal-hal penting. Tapi bibirnya justru berbicara pada Delanay.
“Kok bisa sih? Padahal yang nganter ganteng, pake mobil mewah, romantis lagi. Masa nggak ngerasain apapun sih, Mbak?”
“Emang harus kayak apa?” tanya Delanay sambil mengerutkan kening. Menatap lekat gadis yang agak centil itu.
“Bahagia, berbunga-bunga, kayak di surga.”
Astaga. Delanay hanya bisa menggeleng. Nana dan segala ke-lebay-annya.
“Nggak git—”
“Untuk meeting kali ini, aku rasa cukup. Masih ada waktu dua minggu sebelum gaun kita launching. Aku ingin semuanya bekerja sungguh-sungguh. Mulai dari pemilihan bahan sampai finishing, tolong lakukan sebaik mungkin. Jika ada hal yang perlu ditanyakan, silakan langsung tanya padaku. Atau kirim saja lewat email. Mengerti?”
“Baik Bu.”
Serentak, semua pegawai di ruangan itu beranjak dari kursinya. Meninggalkan Elara bersama keempat asistennya. Delanay, Nana, Lira, dan Dinda. Mereka berempat adalah orang yang paling dipercaya Elara dalam hal keuangan juga pengembangan butik.
“Bisa nggak, pas meeting jangan berisik sendiri?”
Elara yang tau Nana tidak konsentrasi pada meeting, memandang gadis itu tajam.
Sedangkan yang dipandang malah memperlihatkan giginya, nyengir.
“Maaf, Bu.”
Elara memutar mata. Membereskan sisa meeting dibantu Delanay. “Lagian lo kalau mau tau gimana rasanya dianter konglomerat, nanti gue anterin deh. Pake becak,” kata wanita tahun itu.
Nana melongo.
“Emang konglomerat naik becak ya?”
“Menurut lo?” geram Elara.
Ya, pertanyaan Nana tidak salah. Aneh saja mendengar orang kaya yang memiliki jet dan pulau pribadi, bahkan mungkin negara sendiri, pernah naik becak yang tarifnya bahkan hanya seupil dari besar pendapatannya.
“Udah dong. Ini pada mau makan siang apa nggak?” Dinda adalah penyelamat situasi.
“Makanlah,” serobot Nana.
Kelimanya lantas keluar dari ruang meeting lantai dua. Dan memilih makan siang di sebuah kedai mi ayam pinggir jalan. Letaknya di seberang butik. Begitu sederhana dan mencolok di antara gedung-gedung tinggi. Meski begitu, di sinilah tempat favorit Delanay dan teman-temannya.
"Mas, biasa ya!” Lira yang berjalan di depan, berteriak pada si penjual.
“Siap, Neng.” Mas Trisno—pria 35 tahun dengan handuk kecil di lehernya itu tampak mengacungkan jempol. Hafal betul pesanan kelima pegawai butik E Beauty itu.
“El, nanti malem lo dateng ke pesta Narayanan?” tanya Delanay, begitu mereka duduk di kursi dekat pintu masuk. Pertanyaan itu tentu saja mengundang beragam reaksi. Kalau Elara mengangguk santai, justru ketiga yang lain terperangah.
“Mbak Del diundang ke pesta Narayanan? Yang itu?” tanya Nana syok sekaligus kepo.
“Aku cuma nemenin suami.”
“Astaga, Mbak. Mujur bener hidupmu. Tau gitu aku nyari suami konglomerat biar bisa gabung sama kalian,” keluh Nana. Dia menelungkupkan kepala, terisak pura-pura, hanya demi mendramatisir keadaan.
Lira mencebik. “Kamu mau punya suami konglomerat? Dasar, tukang ngimpi. Terus mau di kemanain si itu?”
Melly membuka wajahnya. “Namanya Zidan, Kutu Kupret.”
Ah, mulai lagi.
Kalau sudah kumpul berlima memang hanya Nana dan Lira yang mendominasi. Mereka itu si duo pembuat onar. Namun bagi Delanay, kalau tidak ada mereka rasanya sangat sepi. Ada yang kurang.
“Lo udah punya gaun, Del?”
Elara teringat oleh permintaan ibunya. Tadi pagi, Clara mengirim chat padanya untuk memilihkan Delanay gaun pesta.
Delanay menggeleng. Dia hendak mengatakan sesuatu, tapi pesanan mi ayam sudah datang detik itu juga. Jadilah pembicaraan mereka terpotong. Sekarang Delanay lebih asyik membumbui mi-nya.
“Nanti nyari sama gue aja. Gue juga belum punya,” terang Elara yang mencomot piring sambal. “Pokoknya kita pilih yang paling seksi.”
Sambil memutar garpunya, alis Delanay naik. “Kenapa harus seksi?”
“Karena di sana neraka. Lo butuh gaun yang lebih terbuka biar nggak kepanasan.”
Neraka? Panas? Tidak ada yang mengerti arti ucapan Elara.
“Apa selama ini pesta orang kaya nggak pake AC?” Nana tetap Nana. Selain si tukang kepo juga centil, ada satu lagi sifat yang menarik darinya. Kadang-kadang bicaranya ngawur.
“Bukan gitu, Dodol,” desah Elara. “Kalo lo mikir pesta itu tempatnya bersenang-senang, lo salah besar. Di sana, lo lebih banyak di-stalker-in sama yang lain. Salah milih gaun, salah bertingkah sedikit aja, yang ada lo digunjing. Makanya gue nyuruh Delanay pilih gaun yang paling seksi, plus paling mahal. Biar kalau digunjing, dia keliatan keren. Toh, gunjingan mereka panas, Say.”
Ah, sekarang sadarlah Delanay. Pesta para orang kaya mengerikan.
Sepanjang dia bekerja hari ini, benaknya terus bertanya-tanya. Bagaimana kalau nanti dia salah memilih gaun? Bagaimana kalau nanti Delanay mempermalukan suami? Apalagi kalau sampai mempermalukan nama Westwood. Apa dia akan dihujat netizen juga?
Kata Elara, di pesta nanti akan ada banyak reporter.
Delanay jadi takut melakukan kesalahan. Ditambah lagi ini pertama kalinya dia keluar. Membawa dua nama keluarga sekaligus. Westwood dan Harper.
Ah, teringat soal Harper. Sudah lama Delanay tidak mengontak sang ayah.
Sekitar tiga harian ini, Delanay tidak mendengar atau melihat wajah George. Apa pria itu sibuk?
Biar bagaimanapun, George adalah ayah kandungnya. Delanay sayang pada pria itu. Tak biasanya mereka sampai putus komunikasi.
BRAK
Suara pintu yang terbanting kencang, membuat Delanay dan Dinda —keduanya tengah menyusun beberapa jenis bahan sebelum dilaporkan kelebihan dan kekurangannya—menoleh kaget.
Di pintu, Lira tampak ngos-ngosan seperti baru saja melihat hantu.
“Kenapa, Li?” tanya Dinda bingung.
“Anu ituh... hah hah Mbakh,” jelas sekali gadis itu kesulitan menormalkan napasnya. “A-ada yang carih Mbak Del.”
“Nyari aku?”
Kali ini kepala berhias bando pelangi itu manggut-manggut. Lira terus menunjuk ke belakang. “Nama-nyah Pak Dion.”
Pak Dion? Memangnya kapan Delanay kenal pria bernama Dion?
“Ngapain nyari Mbak Delanay?” Pertanyaan Dinda mewakili Delanay.
Menarik napas dalam-dalam, Lira menjawab, “Nggak tau. Katanya cuman disuruh Pak Callum ke sini. Buat jemput Mbak Del. Sekarang dia lagi ngobrol sama Bu Elara.”
Demi mendengar kata ‘disuruh Pak Callum’, Delanay langsung bangkit. Wanita itu berjalan melewati Lira dan berkata, “Nanti kerjaan ku biar aku yang nyelesain. Kalian nggak usah nerusin.”
Melewati anak tangga, Delanay melihat beberapa karyawan melirik padanya. Ada yang penasaran, sinis, tapi banyak juga yang acuh tak acuh. Menurut mereka, Delanay dan gosip sudah seperti makanan sehari-hari.
Mulai dari masa Delanay berpacaran dengan Jovan, dekat dengan Sean, sampai menikah dengan Callum, semua orang sudah kebal.
“Tuh orangnya dateng,” kata Elara saat Delanay sampai di lobi.
“Ada apa ya?”
Elara hanya mengendikan bahu. Sedangkan pria yang Delanay tau pasti Pak Dion itu, tersenyum dan mengangguk sopan padanya.
“Maaf, Bu. Saya Dion, sekertaris Keluarga Westwood. Saya disuruh Pak Callum untuk menjemput Bu Delanay,” jelas pria itu.
Dijemput? Buat apa? Delanay sudah makan siang lho.
“Dijemput? Emangnya mau kemana, Pak?”
“Kata Pak Callum, Bu Delanay harus ke salon untuk perawatan.”
Hah? Perawatan?
thor sekali2 kasih tau dong siapa yg perkosa delanay? penasaran banget deh😔😂
mantap thor😂
jadi pingin cepet2 ngliat mereka ke pesta🥰
makin seeruuu nih🥰