NovelToon NovelToon
Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horror Thriller-Horror
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Malam itu hujan turun dengan derasnya, membasahi setiap sudut desa yang sepi dan terpencil. Di tengah derasnya air yang menembus tanah, seseorang menulis nama-nama di tanah basah—tanpa sadar, setiap huruf yang terbentuk membawa kutukan yang mengerikan.

Rina, seorang wanita muda yang baru pindah ke desa itu, menemukan catatan-catatan aneh yang tertinggal di halaman rumah barunya. Setiap malam hujan, suara bisikan menakutkan mulai terdengar, bayangan misterius muncul, dan orang-orang di sekitarnya mulai mengalami kejadian-kejadian mengerikan yang seolah dipandu oleh tulisan-tulisan itu.

Ketika Rina mencoba mengungkap misteri di balik kutukan tersebut, ia sadar bahwa tulisan-tulisan itu bukan sekadar simbol, melainkan catatan dendam dari arwah yang tak pernah tenang. Semakin ia menggali, semakin kuat kutukan itu menghantuinya—hingga akhirnya, ia harus menghadapi keputusan paling mengerikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Raja Dibawah Tanah

Hujan tidak lagi terasa seperti hujan.

Tetesannya berat. Lambat. Seolah jatuh dari sesuatu yang hidup.

Desa sunyi setelah pertarungan tadi malam. Tidak ada warga yang benar-benar tidur. Mereka hanya duduk di rumah masing-masing, memeluk lutut, menunggu pagi yang tak pernah benar-benar datang.

Kabut tetap ada.

Dan tanah…

tanah terasa hangat.

Rina berdiri sendirian di halaman balai desa. Matanya sembab, tubuhnya kelelahan setelah menghubungkan seluruh warga dalam satu ritme energi. Ia masih bisa merasakan sisa emosi mereka di dadanya—ketakutan, putus asa, harapan kecil yang hampir mati.

Ia berlutut.

Tangannya menyentuh tanah basah.

Getaran halus menjalar ke telapak tangannya.

Bukan gempa.

Bukan langkah.

Sesuatu… bernapas di bawah sana.

Rina menarik tangannya cepat.

Napasnya memburu.

“Dia bangun…”

Suara langkah mendekat.

Bayu datang membawa lampu minyak. Wajahnya pucat.

“Kau belum tidur?”

Rina menggeleng pelan.

“Kau merasakannya juga?”

Bayu diam beberapa detik.

Lalu mengangguk.

“Tanahnya… seperti hidup.”

Angin berhembus dingin.

Kabut di ujung jalan bergerak pelan, seperti membuka jalan untuk sesuatu yang tak terlihat.

Pak Adi datang tergesa.

“Rina… ada yang aneh di rumah warga bagian timur.”

Rina langsung berdiri.

“Apa?”

Pak Adi menelan ludah.

“Tanah di bawah rumah mereka… naik.”

---

Mereka berlari ke ujung desa.

Beberapa warga sudah berkumpul. Wajah-wajah ketakutan menatap satu rumah kecil milik keluarga Sumarni.

Tanah halaman rumah itu menggembung.

Seperti sesuatu mendorong dari bawah.

Anak-anak menangis.

Seorang pria berbisik gemetar.

“Itu bukan longsor…”

Tanah bergerak lagi.

Retak.

KRRAAAKK—

Lumpur pecah terbuka.

Bau busuk langsung menyebar.

Bau kematian lama.

Dari dalam retakan, tangan hitam muncul.

Bukan arwah biasa.

Kulitnya seperti tanah basah. Retak-retak. Mengeluarkan uap tipis.

Warga menjerit mundur.

Tangan itu mencengkeram tanah.

Lalu tubuhnya naik perlahan.

Makhluk itu tinggi.

Kurus.

Tidak memiliki wajah.

Hanya lubang hitam besar di kepalanya.

Tapi yang membuat Rina membeku Makhluk itu berlutut.

Seperti menyembah sesuatu di bawah tanah.

Lalu satu lagi muncul.

Dan satu lagi.

Puluhan.

Mereka tidak menyerang.

Mereka… berbaris.

Pak Adi berbisik.

“Ini… bukan serangan…”

Rina menatap tanah retak itu.

Suara berat terdengar dari bawah.

BUKAN suara manusia.

BUKAN suara arwah.

Lebih dalam.

Lebih tua.

Seperti bumi sendiri berbicara.

Tanah bergetar.

Warga jatuh terduduk.

Lampu minyak padam satu per satu.

Kabut berkumpul di tengah retakan.

Dan perlahan—

Sebuah kepala muncul.

Tidak besar.

Tidak mengerikan seperti monster biasa.

Justru… terlalu tenang.

Wajah lelaki tua.

Mata tertutup.

Kulitnya abu-abu seperti batu.

Saat kepalanya muncul sepenuhnya, semua makhluk tanpa wajah langsung menunduk.

Rina merasa jantungnya berhenti.

Ia tahu.

Inilah sumbernya.

Raja arwah tanah.

Makhluk yang selama ini hanya mengirim pelayan.

Matanya terbuka.

Hitam sepenuhnya.

Semua warga langsung menjerit kesakitan.

Beberapa memegang kepala.

Beberapa muntah.

Bayu jatuh berlutut.

“Apa… ini…”

Suara makhluk itu tidak keluar dari mulutnya.

Tapi terdengar di kepala semua orang.

“Akhirnya… kalian membangunkanku.”

Rina menggertakkan gigi.

“Kami tidak membangunkanmu.”

Makhluk itu tersenyum tipis.

“Simbol-simbolmu… menggali ingatan lama tanah ini.”

Tanah bergetar lagi.

Rumah-rumah berderit.

“Desa ini dibangun… di atas makamku.”

Warga membeku.

Pak Adi gemetar.

“Makam…?”

Makhluk itu menoleh pelan ke arah Rina.

“Kau pewaris penjaga lama.”

Rina terkejut.

“Apa maksudmu?”

Makhluk itu berdiri sepenuhnya dari tanah.

Tubuhnya tidak memiliki kaki jelas. Bagian bawahnya menyatu dengan lumpur.

“Dulu ada penjaga yang menahan kami di bawah tanah.”

Suara itu semakin berat.

“Tapi manusia melupakan perjanjian.”

Bayu berbisik.

“Perjanjian apa…?”

Makhluk itu menatap seluruh desa.

Dan tiba-tiba—

Semua warga melihat gambaran yang sama.

Kilasan masa lalu.

Desa ini dulu hutan kosong.

Para leluhur datang.

Mereka melakukan ritual.

Mengikat arwah tanah agar tidak bangkit.

Sebagai gantinya…

setiap generasi harus menjaga simbol.

Harus menghormati tanah.

Harus tidak membangun di pusat makam.

Tapi waktu berjalan.

Orang lupa.

Rumah dibangun.

Balai desa berdiri tepat di atas segel utama.

Rina gemetar.

“Balai desa…”

Makhluk itu mengangguk.

“Kalian tinggal di atas penjara kami.”

Hening panjang.

Seorang warga menangis.

“Kami tidak tahu…”

Makhluk itu menatapnya tanpa emosi.

“Ketidaktahuan tidak menghapus akibat.”

Tanah kembali bergetar.

Makhluk tanpa wajah mulai bangkit berdiri.

Tidak menyerang.

Menunggu perintah.

Rina maju selangkah.

“Kau ingin menghancurkan desa?”

Makhluk itu memiringkan kepala.

“Aku hanya ingin kembali.”

“Ke mana?”

“Ke dunia yang kalian ambil.”

Angin berhenti.

Hujan tiba-tiba reda.

Sunyi mutlak.

Makhluk itu menunjuk tanah.

“Desa ini harus tenggelam.”

Jeritan pecah.

“Tidak!”

“Rumah kami!”

“Anak-anak kami!”

Rina maju lagi.

“Kami bisa memperbaiki perjanjian!”

Makhluk itu menatapnya lama.

Seolah menilai.

“Kau berbeda.”

Rina menahan napas.

Makhluk itu mendekat.

Udara menjadi berat.

“Kau mendengar tanah.”

Rina gemetar.

“Apa yang harus kami lakukan?”

Makhluk itu berbisik langsung di pikirannya.

“Satu penjaga harus menggantikan segel.”

Dada Rina langsung dingin.

Pak Adi langsung sadar.

“Tidak… jangan bilang…”

Makhluk itu menatap Rina.

“Seseorang harus menjadi ikatan baru.”

Bayu menggenggam lengan Rina.

“Tidak. Kita cari cara lain.”

Makhluk itu menggeleng pelan.

“Tanpa penjaga… tanah akan mengambil semuanya.”

Retakan tanah melebar.

Rumah di ujung desa mulai miring.

Jeritan warga terdengar lagi.

Rina memejamkan mata.

Ia tahu arti kata itu.

Penjaga.

Bukan sekadar ritual.

Tapi pengorbanan.

Ia akan terikat dengan tanah.

Tidak hidup.

Tidak mati.

Menjadi segel selamanya.

Bayu menggenggam tangannya kuat.

“Kita bisa melawan!”

Rina menatapnya.

Matanya lembut.

“Kali ini… bukan tentang menang atau kalah.”

Air mata Bayu jatuh.

“Jangan bilang kau mau…”

Rina tidak menjawab.

Ia menatap seluruh desa.

Anak-anak yang ketakutan.

Orang tua yang gemetar.

Rumah-rumah yang mereka pertahankan selama puluhan malam.

Ia menarik napas panjang.

“Jika aku menjadi penjaga… desa selamat?”

Makhluk itu mengangguk.

“Selama simbol dijaga… aku kembali tidur.”

Hening panjang.

Pak Adi menangis diam-diam.

“Kita tidak bisa kehilanganmu…”

Rina tersenyum kecil.

“Aku tidak benar-benar pergi.”

Angin berhembus lembut.

Untuk pertama kalinya sejak semua dimulai…

hujan berhenti sepenuhnya.

Tanah menunggu.

Makhluk tanah menunduk.

Seolah memberi kesempatan terakhir.

Rina melangkah maju menuju retakan besar.

Setiap langkah terasa berat.

Bayu berteriak.

“RINA! PASTI ADA CARA LAIN!”

Rina berhenti.

Menoleh.

Matanya hangat.

“Kau yang harus menjaga mereka nanti.”

Bayu jatuh berlutut.

Tidak mampu bergerak.

Rina berdiri di tepi retakan.

Tanah hangat menyentuh kakinya.

Arwah kecil muncul di sekelilingnya.

Berputar pelan.

Seperti mengucapkan selamat tinggal.

Ia mulai menulis simbol terakhir di tanah.

Simbol yang belum pernah ia tulis sebelumnya.

Simbol pengikat jiwa.

Tanah bercahaya.

Angin berputar.

Makhluk tanah menutup mata.

Energi besar mengalir dari tubuh Rina ke bumi.

Warga merasakan tekanan hebat.

Cahaya putih meledak.

Tanah menutup perlahan.

Retakan hilang.

Makhluk tanpa wajah lenyap satu per satu.

Sunyi.

Hanya kabut tipis tersisa.

Balai desa berdiri kembali.

Tanah kembali tenang.

Bayu berlari ke tempat Rina berdiri.

Kosong.

Hanya simbol bercahaya di tanah basah.

Pak Adi berlutut.

Air matanya jatuh.

“Dia… menjadi penjaga…”

Angin malam berhembus lembut.

Seolah seseorang masih ada.

Mengawasi.

Menjaga.

Dan jauh di bawah tanah…

Raja arwah kembali tertidur.

Namun....Simbol di tanah berdenyut pelan.

Seperti jantung.

Seperti seseorang…

masih hidup di sana.

1
anggita
woouu serem juga😯. like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!