NovelToon NovelToon
Sekte Aliran Abadi

Sekte Aliran Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Dan budidaya abadi / Sistem
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Di puncak Gunung Qingyun yang berkabut, gerbang Sekte Aliran Abadi telah miring dimakan rayap. Tidak ada teknik dewa, tidak ada tumpukan batu roh, tidak ada ribuan murid yang bersujud. Hanya ada Su Lang, pemuda biasa dengan tulang kultivasi rata-rata, dan sebuah plakat kayu tua warisan mendiang gurunya.
​Su Lang memiliki sebuah "Sistem Pondasi Sekte". Benda itu tidak memberinya kekuatan instan. Sistem itu hanya sebuah panduan kaku yang menuntut keringat darah. Ingin beras? Cangkul tanah di belakang gunung. Ingin teknik pernapasan dasar? Perbaiki atap aula utama dengan tangan sendiri. Ingin menjadi kuat? Latih satu gerakan pedang sepuluh ribu kali di bawah air terjun musim dingin.
​Ini bukan kisah tentang penaklukan dunia atau pembantaian musuh yang arogan. Ini adalah catatan harian seorang pemuda yang menolak membiarkan api sektenya padam membangun kembali kejayaan dari serpihan genting pecah satu napas , satu langkah satu hari pada satu waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32 perlarian berdarah dari karanh merah

"Lima puluh ribu batu roh, terjual kepada tamu di Bilik VIP Empat!"

Suara ketukan palu juru lelang bergema seperti vonis mati di seluruh Aula Tengkorak Naga. Keheningan yang mengikuti begitu mencekam hingga suara tetesan air dari atap gua terdengar jelas. Ratusan pasang mata, yang biasanya penuh dengan kerakusan, kini dipenuhi dengan niat membunuh yang murni.

Di dalam bilik VIP, Li Yun dan Lin Yue secara refleks berdiri, tangan mereka sudah berada di senjata masing-masing. Hanya Su Lang yang tetap duduk tenang, menyesap sisa tehnya yang sudah dingin.

"Guru, kita baru saja memasang papan target raksasa di punggung kita," bisik Li Yun, keringat dingin membasahi pelipisnya.

"Target?" Su Lang terkekeh pelan di balik topeng peraknya. "Bukan, Li Yun. Kita baru saja menebar jaring. Ikan-ikan besar di luar sana tidak akan bisa menahan diri untuk tidak menggigit."

Seorang pelayan wanita dengan gemetar mengantarkan gulungan peta kuno yang terbuat dari kulit monster laut. Su Lang menyerahkan kantong pembayaran tanpa melihatnya, lalu berdiri.

"Ayo pergi. Pesta yang sebenarnya akan dimulai di dermaga."

***

### Labirin Maut

Keluar dari Aula Tengkorak Naga tidaklah mudah. Meskipun ada aturan gencatan senjata di dalam aula, aturan itu berakhir tepat satu inci di luar pintu keluar.

Begitu mereka melangkah ke jembatan gantung yang menghubungkan aula dengan area pemukiman, mereka dihadang. Bukan oleh satu kelompok, tapi tiga kelompok bajak laut sekaligus.

Di tengah jembatan, **Hiu Besi** berdiri dengan jangkar raksasanya. Di sisi kiri, pada atap karang, **Nenek Racun** berjongkok dengan lalat-lalat hijaunya yang berdengung. Dan di belakang mereka, puluhan anak buah dari Keluarga Hai yang selamat dari pertempuran laut sebelumnya sudah menunggu dengan dendam membara.

"Serahkan petanya, dan tinggalkan semua batu rohmu, maka aku akan memberimu kematian yang cepat," geram Hiu Besi, otot-otot birunya berkedut.

Su Lang tidak berhenti berjalan. "Li Yun, Hiu Biru itu milikmu. Lin Yue, bersihkan lalat-lalat di atas. Aku akan mengurus tikus-tikus di belakang."

"Sombong!" Hiu Besi meraung, mengayunkan jangkarnya yang seberat dua ton. Angin yang dihasilkan ayunan itu cukup untuk membelah kayu kapal.

*CLANG!*

Li Yun menahan jangkar itu dengan satu tangan—bukan dengan kekuatan otot murni, melainkan dengan memusatkan *Qi Guntur* di titik tumpu jangkar tersebut, menciptakan ledakan tolak balik yang mengejutkan Hiu Besi.

"Lawanmu adalah aku, Ikan Gendut!" Li Yun melesat, cakarnya memercikkan kilat biru.

Sementara itu, Nenek Racun mulai meniupkan seruling tulang. Ribuan lalat hijau yang membawa larva parasit terbang menyerbu ke arah Lin Yue.

"Dinginnya Jiwa, Bekukan Langit!" Lin Yue memutar pita sutranya. Udara di sekitar jembatan turun hingga di bawah nol derajat. Lalat-lalat itu, yang bergantung pada suhu hangat untuk bertahan hidup, membeku seketika dan jatuh ke jurang seperti hujan kerikil es.

Su Lang berbalik menghadap puluhan anggota Keluarga Hai. Dia tidak mencabut pedangnya. Dia hanya mengangkat tangan kanannya.

**[Aktifkan: Penguraian Material - Jangkauan Area.]**

"Hancur."

*Syuuut...*

Zirah logam dan senjata yang dibawa oleh anak buah Keluarga Hai tiba-tiba kehilangan strukturnya. Pedang mereka berubah menjadi debu besi, dan pelat dada mereka rontok menjadi butiran pasir logam.

"Apa?! Senjataku!"

"Sihir macam apa ini?!"

Tanpa senjata dan zirah, mereka hanyalah kultivator tingkat rendah yang ketakutan. Su Lang hanya perlu melepaskan satu gelombang tekanan aura Tingkat 7 untuk membuat mereka jatuh pingsan karena syok mental.

***

### Menuju Dermaga

Pertempuran di jembatan hanya berlangsung lima menit. Li Yun berhasil memberikan luka bakar listrik yang dalam di dada Hiu Besi, sementara Lin Yue membuat Nenek Racun terpaksa melarikan diri setelah kakinya membeku hampir putus.

Namun, saat mereka sampai di dermaga, situasi jauh lebih buruk.

Seluruh Pelabuhan Karang Merah telah berubah menjadi medan perang. Kapal-kapal bajak laut kecil mulai bergerak mendekati *Naga Penyeberang*. Dan yang paling mengerikan, di tengah pelabuhan, sebuah bayangan hitam raksasa mulai muncul dari dalam air.

Itu adalah *The Specter*, kapal milik Raja Bajak Laut Hantu. Kapal itu tidak bersandar di dermaga; dia "muncul" dari kedalaman laut seperti hantu yang bangkit dari kubur.

"Guru! Kapal kita dikepung!" teriak Chen Ling dari atas dek *Naga Penyeberang*. Dia sedang mengaktifkan formasi pertahanan kapal sendirian.

"Lompat!" perintah Su Lang.

Mereka bertiga melesat di udara, mendarat dengan mulus di atas dek kapal mereka.

"Kecepatan penuh! Tabrak apa pun yang menghalangi!" Su Lang mengambil alih kemudi.

*Naga Penyeberang* meraung. Empat inti monster angin bekerja melampaui batas. Kapal itu melesat maju, menghancurkan dua perahu kecil bajak laut yang mencoba menghalangi jalan keluar.

Namun, *The Specter* sudah menunggu di mulut pelabuhan.

Raja Bajak Laut Hantu berdiri di anjungan kapalnya yang terbuat dari tulang paus. Dia menatap Su Lang melalui kabut tipis. Fragmen di lehernya bersinar ungu gelap, memberikan aura kematian yang mencekik.

"Kau punya sesuatu yang aku inginkan, anak muda," suara Raja Hantu bergema di kepala Su Lang. "Bukan petanya... tapi kuali di dalam jiwamu."

Su Lang terkejut. "Dia bisa merasakannya?"

**[Analisis Sistem: Fragmen ke-5 memiliki kemampuan 'Resonansi Jiwa'. Target menyadari keberadaan fragmen lain dalam jarak dekat.]**

"Kalau kau menginginkannya, datang dan ambil di laut terbuka!" Su Lang berteriak, suaranya diperkuat dengan Qi.

*Naga Penyeberang* melakukan manuver tajam, meluncur di celah sempit antara karang tajam, keluar menuju Lautan Kabut dengan kecepatan tinggi.

***

### Pengejaran di Tengah Kabut

Pengejaran itu berlangsung berjam-jam. Di belakang mereka, *The Specter* mengikuti tanpa suara, namun jaraknya terus memendek. Kapal hantu itu tidak terpengaruh oleh arus atau angin; ia meluncur di atas air seolah-olah ditarik oleh ribuan tangan tak terlihat di bawah laut.

"Dia semakin dekat!" lapor Lin Yue dari menara pengawas. "Kapal itu mengeluarkan kabut hitam yang mulai menyelimuti buritan kita!"

"Guru, biarkan aku mencoba serangan guntur jarak jauh!" usul Li Yun.

"Jangan. Energi gunturmu akan terserap oleh kabut kematiannya," cegah Su Lang. "Kita butuh sesuatu yang lebih kuat. Chen Ling, ambilkan aku sepuluh *Batu Api Bumi* dari gudang!"

Su Lang berlari ke bagian belakang kapal. Dia menggunakan fitur penempaan sistem secara *real-time*. Dia menggabungkan Batu Api Bumi dengan beberapa batang besi sisa dan mengukir *Rune Ledakan Matahari*.

Dalam sepuluh menit, Su Lang telah menciptakan tiga "Ranjau Laut Alkimia".

"Lemparkan ke air sekarang!"

*Plung! Plung! Plung!*

Ketiga ranjau itu tenggelam. Saat *The Specter* melewati titik tersebut...

*BOOOOOMM!*

Ledakan api murni (elemen Yang) meledak dari bawah air. Karena kapal hantu itu terbuat dari energi Yin dan kayu lapuk, ledakan elemen api adalah racun baginya. Bagian depan *The Specter* hancur, dan teriakan-teriakan roh terdengar dari dalam kabut hitamnya.

Kapal hantu itu melambat untuk pertama kalinya.

"Berhasil!" sorak Chen Ling.

"Hanya sebentar," kata Su Lang, matanya tetap waspada. Dia melihat bagian kapal yang hancur itu mulai menyatu kembali secara perlahan. "Kita harus sampai di titik koordinat peta itu sebelum dia pulih sepenuhnya."

Su Lang membuka peta kulit monster yang dia beli. Di bawah cahaya lampu kapal, peta itu tampak berubah. Koordinatnya tidak statis; mereka bergerak mengikuti arus bawah laut.

"Ini bukan peta daratan," Su Lang menyadari sesuatu. "Ini adalah peta makhluk hidup. Makam Paus Purba... paus itu masih bergerak! Dia adalah *Zombie Paus* raksasa yang membawa makam di punggungnya!"

"Apa?!" Li Yun ternganga. "Kita mencari makam di atas mayat yang berenang?"

"Itulah sebabnya Raja Hantu menginginkannya," Su Lang menjelaskan. "Hanya dia yang bisa mengendalikan mayat sebesar itu jika dia punya petanya. Dan dengan Fragmen ke-5, dia akan menjadi tak terkalahkan di lautan ini."

Tiba-tiba, laut di depan mereka bergejolak hebat. Sebuah pusaran air raksasa terbentuk secara mendadak.

Dan dari tengah pusaran itu, muncul sebuah menara tulang setinggi lima puluh meter yang merupakan bagian dari sirip punggung Paus Purba.

"Kita sampai," bisik Su Lang.

Namun, di belakang mereka, kabut hitam kembali menebal. *The Specter* telah pulih dan kini melesat dengan kemarahan penuh. Raja Hantu berdiri di haluan, tangannya terangkat ke langit.

"Mati kau, pencuri!"

Raja Hantu melepaskan serangan mental skala besar. Langit berubah menjadi wajah tengkorak raksasa yang menganga, siap menelan *Naga Penyeberang*.

Su Lang berdiri tegak di dek belakang. Dia tidak menggunakan pedangnya. Dia mengeluarkan kuali hitamnya, membiarkannya membesar hingga menutupi seluruh kapal.

"Kau menyebutku pencuri?" Su Lang menyeringai buas. "Aku adalah pemilik sah dari apa yang kau pakai di lehermu itu!"

Su Lang mengadu kekuatan resonansi Fragmen ke-4 melawan Fragmen ke-5.

*WUUUUUUNNNNGGG!*

Dua gelombang energi tak kasat mata berbenturan di udara, menciptakan badai spiritual yang membuat air laut di sekitar mereka terangkat ke langit.

Pertempuran untuk fragmen kelima baru saja dimulai di atas punggung raksasa yang sudah mati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!