"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.
Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.
Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa dirimu?...
“Aku pernah melihatmu saat acara kemarin dan kebetulan mendengar namamu... di Inggris. Maaf, aku berperilaku tidak sopan,” ucap Andersen, suaranya terdengar hampa di telinganya sendiri.
Ia memberikan alasan yang paling klise, sebuah kebohongan yang diharap cukup untuk memuaskan rasa ingin tahu seorang bangsawan yang terbiasa hidup dalam bayang-bayang.
Gadis itu terdiam. Jemari lentiknya bertumpu di dagu dengan keanggunan seorang pemikir ulung, seolah ia sedang memilah-milah tumpukan memori di dalam kepalanya. Sebuah katalog wajah dan nama di simpan dengan rapi.
Scarlette tidak menyanggah, tidak pula mengiyakan. Namun, sebuah senyuman perlahan terukir di wajahnya... Senyum tipis yang penuh teka-teki, jenis senyum cryptic yang membuat Andersen meremang.
Lelaki itu tahu betul, Scarlette bukanlah jenis lawan yang bisa dikelabui dengan sekadar alasan "kebetulan".
Langkah kaki Andersen yang berat akhirnya membawanya kembali ke dalam dekapan apartemen tua itu. Di luar sana, angin Belanda masih melolong, namun di dalam ruangan ini, hanya ada keheningan yang menyesakkan.
Andersen duduk di tepi tempat tidur yang berderit pelan. Di bawah cahaya lampu meja yang temaram dan bergetar. Seolah aliran listrik di gedung ini pun sudah enggan untuk bekerja.
lelaki itu, merobek plastik roti margarinnya. Bunyi plastik yang berderik itu terdengar cukup keras di tengah kesunyian, sebuah pengingat bahwa ia benar-benar sendirian di garis waktu yang asing ini.
Aroma manis dari margarin yang ada di rotinya itu menyeruak, mencoba memberikan sedikit rasa nyaman pada sarafnya yang masih tegang.
Ia menyeruput kopi dark chocolate dinginnya, membiarkan rasa pahit yang pekat itu membasahi kerongkongannya yang kering. Di layar ponselnya, Andersen membiarkan sebuah video acak berputar tanpa suara.
Lelaki itu tidak butuh hiburan, hanya butuh cahaya untuk memastikan kegelapan tidak menelannya bulat-bulat.
Pikirannya tetap tertuju pada Scarlette. Senyuman tipis gadis itu masih membekas di ingatannya.
Senyum yang indah namun mematikan, seperti belati yang dibungkus kain sutra. Andersen merutuki kecerobohannya. Di dunia ini, pertemuan mereka di pesta itu belum terjadi. Bagi Scarlette, dirinya hanya seorang pria asing yang mencurigakan.
lelaki itu mengunyah rotinya perlahan, merasakan tekstur lembut yang kontras dengan kekacauan di jiwanya.
Sungguh ironis, dimana Andersen memiliki seluruh rahasia tentang masa depan, namun dirinya bahkan tidak tahu...
Apakah dirinya sanggup bertahan melewati malam ini tanpa menjadi gila. Setiap kunyahan adalah usaha untuk tetap memijak bumi, sementara jiwanya terus ditarik kembali ke danau perak dan bayangan wanita yang memberinya "pilihan kedua".
Cklek!..
Suara mekanisme kunci yang berputar itu terdengar seperti denting pelatuk senjata di telinga Andersen. Ia tersentak, hampir tersedak roti di mulutnya.
Di ambang pintu yang terbuka tanpa izin itu, berdiri sosok yang baru saja menghantui pikirannya.
Scarlette.
"Mengapa kau mengikutiku sampai ke sini, Scarlette?" desis Andersen. Suaranya rendah, bergetar di antara amarah dan rasa lelah yang luar biasa.
Gadis itu melangkah masuk dengan keanggunan seorang predator yang baru saja menemukan mangsa di sarangnya. Matanya yang tajam menyisir setiap sudut ruangan kecil itu, menilai setiap debu dan bayangan dengan ketelitian seorang penyidik.
"Mengikutimu?" Scarlette mengulangi kata itu dengan nada meremehkan, suaranya jernih namun sedingin angin musim dingin.
"Apa yang kau bicarakan? Kita bahkan belum pernah bertemu secara resmi."
"Katakan padaku, Tuan yang penuh teka-teki... bagaimana kau bisa mengetahui namaku?.."
Scarlette menatap langsung ke dalam manik mata Andersen, mencari kebohongan di sana.
"Nama 'Scarlette' bukanlah konsumsi publik. Itu adalah identitas yang hanya kuberitahu kepada saudari-saudariku. Tidak ada orang luar, apalagi pria asing yang baru kutemui di apartemen kumuh ini."
"Tadi di dalam lift, aku sempat bertanya kepada mereka... saudari-saudariku yang ada di Inggris."
"Apakah mereka pernah menyebut namaku pada orang asing. Dan jawaban yang kudapat hanya satu: tidak tahu. Jadi..."
"Siapa kau sebenarnya?" suara Scarlette memecah kesunyian, lebih tajam dari sebelumnya.
Tanpa ragu, ia berjalan melintasi tempat tidur Andersen yang berantakan, menginvasi ruang pribadi pria itu dengan keberanian yang provokatif. Ia berhenti tepat di depan Andersen, wajah mereka hanya terpaut beberapa inci.
Di bawah temaram lampu tidur, mata Scarlette berkilat, mencari celah di balik topeng kelelahan Andersen.
Andersen terdiam sejenak. Ia perlahan meletakkan roti margarinnya di atas laci, tepat di bawah lingkaran cahaya lampu yang kekuningan. Ia memutar tubuhnya, menghadap sepenuhnya ke arah sang bangsawan Inggris yang keras kepala itu.
"Mengapa kau begitu berani masuk ke sini?.." bisik Andersen, suaranya rendah dan mengancam.
"Apa kau tidak punya rasa takut?.. Kau sendiri yang bilang aku ini mencurigakan."
Dalam satu gerakan yang cepat dan tidak terduga, Andersen mendorong bahu Scarlette. Gadis itu terkesiap saat tubuhnya jatuh terbaring di atas kasur yang empuk.