“Aku perintahkan kau untuk menjaga Lea dalam kondisi apapun.” — Martin De Gaulle
Begitulah awal mula semuanya.
Sebuah perintah yang mengikat Elios Leopold—tangan kanan sang Godfather. Pria dingin, berbahaya, dan setia tanpa syarat.
Elios selalu ada di sisi Lea—Eleanore Moreau. Menjaga, melindungi, dan memastikan gadis itu tak pernah sendirian. Dari kedekatan yang terus terjalin, perasaan pun tumbuh seiring berjalannya waktu.
Lea menyadari perasaannya lebih dulu. Tapi Elios… tidak.
“Aku akan menjadi apapun yang kau mau. Mama, Papa, saudara dan sahabat. Asal kau yang meminta, aku akan mewujudkannya.” — Elios Leopold
Ucapan itu membuat Lea berharap. Namun, di saat Lea mengucapkan permintaannya, akankah Elios mampu menepatinya?
Dari perlindungan lahir ketergantungan.
Dari kedekatan tumbuh hasrat yang terlarang.
Jika Elios mengabulkan permintaan itu, akankah Lea sanggup menghadapi kegilaan pria berbahaya yang telah menjadikannya satu-satunya tujuan hidup?
Terjerat Hasrat Monsieur Leopold
Yuk baca novel ini guys!
Seperti apa kisah protektif, posesif dan obsesi Monsieur Leopold terhadap bidikannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sheninna Shen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anjing Doberman
...“Akhirnya... aku bisa bertemu dengan anjing Doberman peliharaan Martin.” — Betrand (Klan Ferguso)...
Saat pukul 7 malam, Elios kembali mengetuk pintu kamar Lea. Namun gadis itu tak memberi sahutan. Ia mencoba memutar gagang pintu. Dan pintu tersebut tak dikunci—seperti biasanya.
“Lea... boleh aku masuk?” tanya sesaat membuka sedikit celah pintu tanpa melihat ke dalam.
“Tidak.” Lea menjawab dengan ketus. Ia sedang berbaring di atas kasur sambil membelakangi pintu. Tubuhnya memeluk dengan erat boneka beruang besar yang dihadiahkan oleh Elios setahun yang lalu.
Elios menghela nafas. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar dan memutuskan untuk berbicara dari depan pintu saja. “Kejadiannya tidak seperti yang kau bayangkan.”
“Aku tidak peduli.”
“Sumpah demi Tuhan, aku tak berbohong.”
Mendengar ucapan sumpah Elios, seketika sebuah senyuman mengambang di wajahnya. Karena ia tahu... Elios adalah orang yang tak pernah berdusta.
“Aku mau sendiri.” Dusta Lea menyuruh Elios pergi. Harapannya adalah, jika pria itu pergi segera, maka pria itu juga akan segera pulang. Jadi... ia akan menunggu kepulangan pria itu.
...****************...
Malam itu, tepat di parkiran mobil kelab malam milik De Gellure, Elios dan anak buahnya bersiap-siap di dalam mobil. Sebagian besar anak buahnya ada di area parkiran dan kelab malam.
Alat dengar hitam yang menggantung di telinga Elios dan anak buahnya, semua dalam status siaga.
Sekitar sejam lebih mereka menunggu, hingga akhirnya target terlihat sedang menjalankan misi kotor mereka di tanah bisnis De Gellure.
“Frank?” panggil Elios sesaat usai menekan tombol di headsetnya.
“Standby, Monsieur Leopold.” Frank terlihat sedang menyamar menggunakan wig rambut kribo menutupi telinga dan berwarna hitam. Ia berdiri di depan mobil yang ada di area parkiran, tak jauh dari lokasi Elios berada. Tangannya sedang memegang sebatang rokok.
“Kau dan tim fokus menyelamatkan korban.”
“Baik!”
“Brad?”
“Standby, Monsieur.”
“Bagaimana di area luar?”
Brad terlihat sedang mengenakan topi kupluk dengan stelan hiphop. Ia berpura-pura kebingungan mencari di mana posisi ia memarkirkan mobilnya tadi. “Target sedang menawarkan pelanggan.”
“Okay. Jangan sampai ketahuan.”
“Sovia?”
“Standby, Monsieur.”
“Kondisi di dalam?”
Di tengah kebisingan musik yang ada di area kelab malam, sesekali Sovia terlihat senyum dan melambaikan tangan pada beberapa pelanggan setia kelab itu. Ia bertugas seperti biasa. Tapi malam ini, ia memiliki target yang berbeda.
Sesekali ia ikut berdansa di lantai dansa, hanya agar terlihat ia sedang bekerja seperti biasa. Tapi matanya, gesit menelusuri setiap area yang ada. “Target sedang mencari pelanggan di beberapa table dan di lantai dansa.”
“Okay. Semuanya, fokus. Kalau misi ini gagal, aku sendiri yang akan menghabisi nyawa kalian.”
“Di copy!” Brad, Frank dan Sovia menyahut serentak.
“Yang lain?” Elios memastikan keberadaan anak buahnya yang terbagi menjadi beberapa tim. Tim Brad, Tim Frank dan Tim Sovia.
“Di copy, Monsieur!” sahut semua anak buah dengan serentak.
Semua siaga memegang pistol yang sudah dilengkapi peredam suara. Begitupun dengan Sovia. Walaupun ia seorang wanita, tapi dia adalah atlit bela diri dengan kemampuan yang tak perlu dipertanyakan lagi. Itu lah alasan kenapa Elios merekrutnya.
Dalam hitungan menit, pergerakan Elios dan anak buahnya dimulai.
“Move!” Brad sudah lebih dulu mengunci target dan memulai perintah bergerak.
Dengan begitu, semua tim Elios bergerak.
Brad dan tim yang sudah mengintai target, mereka langsung mendekat dan mengarahkan pistol ke tubuh mereka.
“Hands up!” bisik Brad pada seorang pria yang diketahui sedang memperkenalkan pelanggannya pada seorang anak gadis yang terlihat masih berusia 10 tahun. Sementara pelanggannya berlari meninggalkan lokasi karena tak ingin terlibat.
Sementara Sovia, ia mendekat ke arah pria yang sedang menawarkan jasanya pada pelanggan. Sovia menekankan pistol ke alat kelamin pria itu—tapi dengan posisi tenang dan tidak terlihat oleh pelanggan lain.
“Ikut aku,” perintah Sovia tenang.
Pria tersebut merasa kesal karena ditargetkan oleh seorang wanita dan membuat transaksinya gagal. Jadi, ia pun mencoba meraih pistol yang diarahkan Sovia tadi. Tapi sayang, dugaannya tak sesuai ekspetasi. Keduanya terlihat adu tinju.
Hal tersebut membuat seisi kelab malam menjadi rusuh dan tak terkendali.
Melihat keributan tersebut, tim Sovia pun ikut beraksi secara terang-terangan. Tak ada pertumpahan darah yang mengakibatkan kematian. Hanya saja, pergaduhan itu membuat berantakan seisi kelab malam. Ada begitu banyak serpihan kaca botol wine, bir, dan minuman alkohol lainnya yang dijadikan sebagai senjata darurat.
Tapi tim Sovia sudah tak peduli. Lebih baik seperti itu asalkan misi malam ini berhasil. Jika tidak? Nyawa mereka melayang.
Sementara Frank dan timnya langsung menyergap semua komplotan Klan Ferguso yang masih berkeliaran di area parkir.
Dan Elios, ia berhasil menyergap sebuah mobil yang diketahui adalah tangan kanan langsung dari Klan Ferguso. Tanpa rasa takut, ia melepaskan sebuat tembakan ke arah ban mobil sebelum mobil tersebut bergerak.
“Ck!” Betrand—tangan kanan Klan Ferguso—terdengar berdecak. Ia turun dari mobil dengan kedua tangan yang memegang senjata api. “Akhirnya... aku bisa bertemu dengan anjing Doberman peliharaan Martin.”
“Doberman... De... Geulle....” ejek Betrand sambil menyeringai.
Doberman De Geulle. Itulah julukan Elios di mata para rival. Si anjing penjaga dan satpam abadi bagi pemiliknya. Tapi Elios tak pernah terusik dengan julukan itu.
Elios tak berniat mendengarkan ocehan Betrand. Ia melepaskan sebuah besi panas tepat di bahu Betrand. Dan tentu saja hal itu membuat Betrand terkejut bukan kepalang. Kali pertama bertemu dengan anjing gila itu, dan dipertemuan pertama juga ia diperlakukan dengan sangat gila.
“Di mana Monsieur kalian?” ucap Elios melangkah mendekat ke arah Betrand dengan sangat gagah. Kemudian ia menempelkan ujung senjata apinya tepat di dahi Betrand yang sedang kesakitan.
“Aku Monsieur mereka, bajingan keparat!” Betrand meringis kesakitan. Ia mengarahkan pistol tepat ke dada Elios.
“De Geulle sudah mengirimkan peringatan pada klan kalian. Tapi—”
“Kau pikir kau suci?!” potong Betrand tak membiarkan Elios berbicara. “Kau pun melakukan hal yang sama.”
Elios mengerutkan keningnya.
“Cucu kesayangan Monsieur De Geulle. Kau sudah bercinta dengan posisi apa saja dengannya?”
Emosi Elios mendadak tersulut saat Lea yang ia jaga sepenuh hati di sebut-sebut oleh mulut yang kotor itu. Tanpa ampun, ia melepaskan sebuah tonjokan yang sangat kuat tepat ke wajah Betrand.
Hidung Betrand patah dan mengeluarkan darah segar.
Lalu ia kembali menonjok Betrand sampai tersungkur ke jalan setapak parkiran. Betrand berusaha menembak Elios. Tapi tembakannya melesay karena ia sudah tak memiliki tenaga lagi untuk bertarung dengan anjing itu.
Tinju bertubi-tubi terus Elios berikan pada Betrand. Hingga akhirnya ia melepaskan sebuah tembakan tepat ke dada Betrand.
Dan malam itu... musuhnya mati dengan sangat mengenaskan. Hal tersebut memicu kemarahan yang luar biasa bagi Robert—kakak kandung Betrand, sekaligus penerus klan Ferguso.
...****************...
...Pstttt... buat yang belum tau Anjing Doberman itu yang mana. Ini ya aku share fotonya 🥰...
Bersambung....
EL jika kamu bicara. baik2 dg Martin pastinya Martin akan mempertimbangkan niat baik kamu. jangan berpikir pendek dulu ok