Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu
Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.
“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPPL 33
Zahra dan Zaidan kini duduk berhadapan di kantin rumah sakit yang tidak terlalu ramai. Suasana pagi itu cukup tenang. Beberapa keluarga pasien tampak sarapan dengan wajah lelah, dan sebagian perawat berjalan cepat sambil membawa map.
Awalnya Zahra menolak ajakan Zaidan untuk turun.
“Aku nggak lapar,” katanya pelan.
Namun Bu Anti justru mengernyit. “Dari semalam kamu belum makan, Ra. Jangan keras kepala.”
“Aku takut Ibu sendirian.”
Belum sempat perdebatan kecil itu berlanjut, seorang perawat masuk untuk memeriksa tekanan darah Bu Anti.
Zaidan memanfaatkan momen itu.
“Sus, saya minta tolong temenin pasien sebentar di sini, ya,” pintanya sopan.
“Baik, Mas,” jawab perawat itu ramah.
“Udah sana. Sarapan dulu,” ujar Bu Anti lagi, kali ini lebih tegas.
Akhirnya Zahra menyerah. Dan sekarang, mereka duduk berhadapan di meja kecil dekat jendela kantin.
Tak lama kemudian pesanan datang. Teh hangat dan ketoprak.
Zahra sempat terdiam ketika melihat piring di depan Zaidan.
“Mas pesannya sama?”
“Iya,” jawabnya singkat.
Padahal tadi ia bahkan tidak terlalu memperhatikan menu. Ia yang tidak memilih makan dan hanya memesan apa yang Zahra sebutkan.
Beberapa detik mereka hanya duduk diam hingga akhirnya Zahra memegang sendoknya, tapi belum juga mulai makan.
Zaidan mengangkat pandangannya. “Dimakan.”
Zahra menoleh pelan.
“Kamu belum makan dari semalam,” lanjutnya, suaranya datar tapi tidak terdengar memaksa. “Habisin.”
Nada itu bukan nada komando seperti di kantor. Lebih seperti… perhatian yang ditahan agar tidak terdengar terlalu lembut. Pria itu sadar, untuk beberapa saat Zahra harus sedikit dipaksa, makan contohnya.
Zahra akhirnya menyuapkan ketoprak ke mulutnya.
Hangat, manis, dan gurih.
Baru perempuan itu sadari jika perutnya ternyata memang kosong.
Sepanjang mereka makan, tidak ada percakapan.
Zaidan juga mulai makan, tapi sesekali ia melirik tanpa Zahra sadari, memastikan perempuan itu benar-benar menghabiskan makanannya.
Ia tahu Zahra tidak akan makan jika diajak bicara terlalu banyak. Jadi ia memilih diam.
Sejujurnya mulut Zaidan gatal ingin mengatakan dan bertanya banyak hal. Terutama mengenai pengakuan Zahra tadi malam. Namun semuanya harus Zaidan tahan. Ini bukan saat yang tepat untuk membahas hal itu.
Zaidan terus memperhatikan perempuan di depannya itu. Zahra terlihat lebih tenang saat fokus pada makanannya. Sesekali ia meniup teh hangatnya sebelum meneguk pelan.
Zaidan memperhatikan piring Zahra yang mulai kosong.
“Tambah?” tanyanya singkat.
Zahra menggeleng cepat. “Cukup.”
“Tehnya habisin.”
Zahra menatapnya sebentar, lalu tanpa sadar sudut bibirnya sedikit terangkat. “Iya, Mas.”
Zahra sendiri bingung kenapa dirinya tersenyum. Namun tak bisa dipungkiri, ada rasa hangat yang dirasakannya ketika ia melihat Zaidan berdiri di depan pintu masuk kamar inap ibunya tadi.
Tetapi… Zahra tetap tidak ingin menaruh harapan yang tinggi. Zahra tidak ingin jatuh dalam jika ternyata Zaidan memutuskan untuk mundur.
“Tunggu. Kenapa aku takut jika dia pilih untuk mundur? Apakah aku berdosa jika berharap dengannya?” batinnya berbisik.
Pikiran-pikiran itu tanpa diduga membuat raut wajahnya berubah tanpa disadarinya. Zaidan yang matanya tak lepas dari Zahra tentu segera menyadari hal itu.
“Ada apa?”
Zahra tersentak. Ternyata ia melamun.
“Tidak apa-apa, Mas,” ucapnya.
“Apa yang kamu pikirin, Ra?” Zaidan bertanya dengan lembut, namun tetap terselip nada paksaan di sana.
“Mas Zaidan memang seperti ini?” Bukannya menjawab, Zahra malah bertanya balik pada pria itu.
“Maksudnya?”
“Suka maksa.”
Zaidan menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.
“Emang aku maksa, ya?”
Zahra mengangguk cepat sebagai jawaban.
“Maaf.”
“Jujur… aku tu nggak pernah berinteraksi seperti ini dengan perempuan, selain dengan kedua kakakku dan juga sepupu-sepupuku. Aku nggak pernah berteman dekat juga dengan perempuan. Mungkin hal ini yang bikin aku kesannya sedikit memaksa. Tapi serius… aku nggak maksa kok. Kalau kamu nggak cerita… ya nggak apa-apa.”
Lagi dan lagi Zaidan salah langkah. Sepertinya ia harus lebih dalam lagi belajar dengan Jonathan bagaimana berinteraksi dengan perempuan.
Zahra diam beberapa saat, memperhatikan Zaidan yang sedang mengangkat gelas tehnya. Uap tipis masih mengepul, mengaburkan sebagian wajah pria itu.
Ia seperti sedang menimbang sesuatu.
“Kalau Mas sudah selesai, saya mau pergi duluan.”
Zaidan menurunkan gelasnya. “Mau ke mana?” Baru duduk sebentar kok sudah mau pergi, pikirnya.
“Mau ke bagian administrasi. Saya mau pindahin kamar Ibu sesuai kelas asuransi.”
Alis Zaidan sedikit berkerut. “Kenapa harus dipindahin? Kan sudah saya bilang, biarin di situ saja.”
Zahra menarik napas pelan. “Mas… saya nggak punya uang buat bayar tagihannya nanti.”
“Sudah saya bilang, jangan pikirin biayanya, Ra. Biar itu urusan saya.”
“Saya nggak mau punya hutang budi sama Mas.” Nada Zahra mulai terdengar lebih tegas. “Lagian kita nggak ada hubungan apa-apa.”
Zaidan terdiam sejenak. Lalu ia menarik napas panjang, seolah memantapkan sesuatu.
“Makanya… terima saya, Zahra.” Tatapannya lurus. “Terima saya jadi masa depan kamu.”
Zahra membeku.
Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada bercanda. Zahra yakin, ia melihat keseriusan di mata pria itu
“Mas…” suaranya melemah. “Mas nggak ilfeel sama saya?”
Zaidan menatapnya tanpa berkedip. “Ilfeel karena apa?”
Zahra tak menjawab. Ia hanya menunduk.
“Karena kamu pernah hamil?” tanya Zaidan, kali ini lebih pelan.
Tangan Zahra langsung mencengkeram ujung tasnya di pangkuan. Ia tak sanggup mengangkat wajah.
Beberapa detik terjadi keheningan.
“Saya nggak mempermasalahkannya, Zahra,” lanjut Zaidan. “Itu bukan maumu. Itu bukan pilihanmu.”
Suara pria itu tidak keras, tapi tegas. Seolah sedang menyatakan sebuah keputusan yang sudah ia pikirkan matang-matang.
“Ketika saya memilih kamu… saya sudah siap menerima lebih dan kurangmu.”
Zahra menelan ludah. Dadanya terasa sesak.
“Yang kamu alami itu bukan aib,” lanjut Zaidan. “Yang salah itu orang yang menyakitimu. Bukan kamu.”
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.
Zahra buru-buru mengusapnya, tapi semakin ia tahan, semakin deras pula air matanya mengalir.
Ia tidak terbiasa diperlakukan seperti ini. Ia tidak terbiasa dianggap tidak rusak. Tidak sedikit orang-orang di kampungnya dulu memandangnya dengan tatapan menjijikkan, hingga akhirnya Bu Anti memutuskan untuk pindah dari kampung halamannya itu.
“Mas nggak takut?” tanyanya lirih. “Mas polisi. Karir Mas bagus. Nama baik Mas penting. Kalau orang tahu saya pernah—”
“Saya lebih takut kehilangan kamu karena kamu terus merasa nggak pantas,” potong Zaidan.
Kalimat itu membuat Zahra terisak pelan.
Sejujurnya… ia tidak ingin membohongi dirinya sendiri. Ia punya perasaan pada pria di depannya ini.
Cara Zaidan hadir setiap kali ia butuh. Cara ia marah bukan karena harga diri, tapi karena ingin melindungi.
Semua itu tidak mungkin tidak menyentuh hatinya.
Tapi setiap kali perasaan itu muncul, bayangan masa lalunya selalu datang lebih dulu dan menghancurkan keberaniannya.
“Saya cuma takut, Mas…” suaranya gemetar. “Takut nanti Mas nyesel. Takut suatu hari Mas lihat saya dengan cara berbeda.”
Zaidan menggeleng pelan.
“Zahra,” katanya lembut, “yang saya lihat dari kamu itu perempuan yang kuat. Yang tetap kerja, tetap rawat ibunya, tetap bertahan setelah disakiti.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
“Kalau kamu pikir kamu kotor atau nggak pantas… berarti kamu belum lihat diri kamu seperti saya melihat kamu.”
Tangis Zahra makin tak tertahan. Oa sama sekali tidak menyangka mendengar ucapan itu dari bibir Zaidan.
Ia menggeleng kecil dan tersenyum pedih di sela air matanya. “Saya nggak pernah berharap ada orang yang bisa ngomong begitu ke saya.”
“Saya nggak ngomong buat bikin kamu luluh,” jawab Zaidan pelan. “Saya ngomong karena itu yang saya rasakan.”
Zahra menutup wajahnya sesaat, mencoba menenangkan diri. Hatinya lelah terus berlari. Dan hari ini, ia merasa mungkin dirinya memang tidak harus terus menolak kebahagiaan hanya karena masa lalu.
Namun tetap saja, ada satu hal yang masih membuatnya ragu.
Ia menurunkan tangannya perlahan, menatap Zaidan dengan mata merah.
“Mas…” suaranya lembut namun masih penuh kehati-hatian, “kalau saya terima Mas… Mas jangan pernah kasihan sama saya. Saya nggak mau dicintai karena iba.”
Zaidan menatapnya lama.
“Kalau saya kasihan, saya sudah mundur dari tadi malam,” jawabnya jujur.
Dada Zahra makin terasa sesak. Bukan karena kesedihan, tetapi karena akhirnya ia merasa memiliki ‘rumah’.
“Berarti… hari ini kita pacaran, kan?” tanya Zaidan dengan senyum merekah di bibirnya.
...****************...
Marhaban tiba marhaban tiba...
Marhaban ya Ramadhan 🙏🙏. Selamat menjalankan ibadah puasa buat yang menjalankan. Semoga kita diberikan kemudahan dan keberkahan dalam menjalankan ibadah puasa ini. ❤️❤️
Jempol dong jempolnya jangan kendor 😍
Selamat dobel Z.
Gk ada bonchap thor🤭
papa tadi said: gak usah lope lope an, gak lihat suaminya disini... 😤😤😤
🤣🤣🤣🤣🤣
Keluarga idola nih....orang kaya tapi gak pernah memandang status, baik hati dan tidak sombong.
Berbahagia kamu Zahra, bisa menjadi bagian dari keluarga ini