Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Abimana mematung di kursinya, matanya masih menatap pintu kayu yang baru saja tertutup dengan dentuman pelan. Keheningan di ruangan itu mendadak terasa menyesakkan. Suara tawa meremehkan Arunika seolah masih terngiang di telinganya, mencabik-cabik wibawa yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
"Sial!" umpatnya pelan sembari menyugar rambutnya dengan kasar.
Ia menyandarkan punggung, menatap langit-langit ruangan dengan napas yang memburu. Pikirannya kalut. Selama ini, dalam bayangannya, Arunika hanyalah seorang mahasiswi pendiam yang bisa ia kendalikan. Gadis yang akan menurut saja saat ia menetapkan aturan "orang asing" dalam pernikahan mereka. Namun, apa yang baru saja terjadi sungguh di luar prediksinya.
"Ada apa dengannya?" gumam Abimana dengan rahang mengeras. "Selama ini dia dikenal sebagai murid yang pendiam... kenapa tiba-tiba bisa menjadi setajam itu?"
Ada rasa tidak nyaman yang mulai menggerogoti dadanya. Bukan hanya karena harga dirinya terusik setelah "disidang" balik oleh mahasiswinya sendiri, tapi juga karena tatapan mata Arunika tanpa kacamata tadi terus terbayang. Mata yang jernih namun penuh api perlawanan.
Dan yang paling mengganggunya adalah bagaimana Arunika menyebut nama Claudia.
Abimana meraih ponselnya yang tergeletak di meja, melihat ada satu pesan masuk dari Claudia yang menanyakan kapan mereka bisa makan siang bersama. Namun, untuk pertama kalinya, Abimana merasa enggan untuk membalasnya. Logikanya masih terjebak pada kata-kata Arunika: Investasi yang paling merugikan.
"Dia pikir dia siapa bisa menilaiku seperti itu?" desisnya ketus, meskipun jauh di dalam lubuk hatinya, ada rasa penasaran yang mulai tumbuh. Arunika yang sekarang jauh lebih berbahaya daripada yang ia duga.
Kini Arunika kembali ke dalam kelas menghampiri Risa.
"Arunika, bagaimana? Apakah si kutub itu melakukan sesuatu padamu?" tanya Risa dengan penasaran tinggi.
"Tidak ada apa-apa, hanya menanyakan kenapa dengan penampilanku." jawab Arunika singkat.
Risa menyipitkan mata, jelas sekali tidak puas dengan jawaban singkat Arunika. Ia melipat tangan di dada sambil terus mengamati ekspresi wajah sahabatnya yang terlihat jauh lebih tenang—atau mungkin lebih puas—daripada sebelumnya.
"Hanya menanyakan penampilan? Nika, seorang Abimana Permana memanggil mahasiswinya ke ruangan pribadi hanya untuk urusan fashion? Itu sangat tidak masuk akal!" Risa berbisik heboh, hampir habis suaranya karena saking penasarannya.
Arunika duduk perlahan, lalu memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. "Ya, begitulah. Mungkin dia kaget karena selama ini dia pikir aku ini mahasiswi yang bisa dia tekan begitu saja. Tapi dia salah besar."
"Terus, terus? Kamu jawab apa?"
Arunika menoleh ke arah Risa, sebuah senyum tipis yang tampak sangat berkelas menghiasi bibirnya. "Aku bilang saja kalau dia terlalu percaya diri kalau mengira aku berubah untuknya. Aku juga sempat menyebut nama Claudia."
Mata Risa hampir keluar dari kelopak matanya. "Claudia? Wanita yang tadi pagi sama dia? Gila! Kamu benar-benar berani, Nika! Terus mukanya gimana? Langsung pucat? Atau makin jadi es batu?"
"Lebih ke frustrasi, kurasa." jawab Arunika santai.
Di tengah percakapan seru mereka, ponsel Arunika bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari grup keluarga yang isinya membuat napas Arunika kembali tertahan sejenak.
Ibu: "Nika, sore ini jangan pulang telat ya. Keluarga Abimana mau datang ke rumah. Kita ada makan malam terakhir sebelum persiapan akad nikah minggu depan. Abi juga ikut datang menjemput."
Arunika memejamkan mata sesaat. Baru saja ia merasa menang di ruangan dosen tadi, kini ia harus kembali menghadapi kenyataan bahwa sandiwara besar ini akan segera dimulai di depan orang tua mereka.
"Ada apa lagi?" tanya Risa yang menyadari perubahan raut wajah Arunika.
"Makan malam." jawab Arunika pendek. "Si Kutub itu akan datang ke rumah nanti sore."
Setelah mendapatkan pesan dari ibunya, tidak lama sebuah pesan kembali masuk.
Ting!
[Pulang bersama saya! Mama ingin kamu ke rumah sebentar]
Pesan itu bagai perintah mutlak yang tak bisa dibantah. Arunika menatap layar ponselnya dengan tatapan dingin, namun bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan yang tipis.
"Kenapa?" tanya Risa yang menyadari perubahan ekspresi Arunika.
Arunika hanya menunjukkan layar ponselnya. Risa membaca pesan singkat dari Abimana itu lalu menutup mulutnya, menahan pekikan. "Waduh, Nika! Ini sih bukan ajakan, ini perintah. 'Pulang bersama saya!'—singkat, padat, dan sangat menyebalkan. Tapi tunggu, dia bilang Mama ingin kamu ke rumahnya dulu?"
"Sepertinya begitu." jawab Arunika tenang sembari menyampirkan tas di bahunya. "Dia tidak punya pilihan lain selain menjemput calon istrinya sendiri."
"Hati-hati, Nika. Jangan sampai kamu malah jatuh cinta beneran di dalam mobil yang sempit itu!" goda Risa sembari melambai.
Arunika hanya membalas dengan lambaian tangan tanpa menoleh. Ia berjalan menuju area parkir khusus dosen. Dari kejauhan, ia sudah melihat mobil sedan hitam milik Abimana. Pria itu berdiri di samping pintu mobil dengan kacamata hitam, tampak sangat tidak sabar.
Begitu Arunika sampai di hadapannya, Abimana tidak membukakan pintu. Ia justru menatap Arunika dari atas ke bawah dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Cepat masuk. Saya tidak punya banyak waktu." ucap Abimana dingin, langsung masuk ke kursi kemudi.
Arunika tidak membalas. Ia membuka pintu sendiri dan duduk dengan anggun di samping Abimana. Aroma maskulin yang kuat dan segar memenuhi indra penciumannya, menciptakan suasana yang sangat intim namun canggung.
Mobil mulai melaju. Selama beberapa menit, hanya ada keheningan yang menyesakkan di antara mereka. Abimana fokus pada jalanan, namun rahangnya yang mengeras menunjukkan bahwa ia masih memikirkan kejadian di ruangannya tadi.
"Kenapa diam?" tanya Arunika memecah keheningan, suaranya terdengar sangat santai seolah mereka tidak sedang dalam perang dingin. "Bukankah Bapak tadi sangat ingin 'mendiskusikan nilai' dengan saya?"
Abimana mengerem mobilnya sedikit mendadak saat lampu merah. Ia menoleh, menatap Arunika dengan tajam. "Di depan Mama nanti, jaga sikapmu. Jangan tunjukkan perubahan sikapmu yang... aneh ini. Bersikaplah seperti Arunika yang biasanya."
Arunika tertawa kecil, kali ini tanpa suara. "Arunika yang penurut dan diam maksud Bapak? Sayangnya, Pak Abimana, gadis itu sudah hilang sejak Bapak membawa kekasih Bapak ke kampus tadi pagi. Sekarang, Bapak harus terbiasa dengan Arunika yang sekarang."
Mobil Abimana berhenti dengan sempurna di depan sebuah rumah bergaya modern klasik yang megah. Abimana turun tanpa sepatah kata pun, diikuti oleh Arunika yang tetap bersikap tenang meski hatinya berdegup kencang. Ia tahu, setelah ini ia harus berhadapan dengan calon ibu mertuanya.
Begitu pintu utama dibuka, Liana sudah berdiri di sana dengan senyum lebar. Namun, senyum itu seketika membeku menjadi ekspresi takjub saat matanya tertuju pada sosok di samping putranya.
"Nika? Ini... benar-benar Arunika?" tanya Ibu Liana, melangkah mendekat dengan mata yang tak berkedip.
Arunika segera meraih tangan Ibu Liana dan menciumnya dengan takzim. "Iya, Tante. Maaf jika penampilan Nika sedikit berbeda hari ini."
"Berbeda katamu? Sayang, kamu cantik sekali!" seru Liana sembari memegang kedua pipi Arunika. "Tanpa kacamata ini, matamu terlihat sangat indah. Kenapa selama ini disembunyikan? Abi, lihat calon istrimu ini! Kamu pasti sangat bangga memilikinya, kan?"
Abimana yang berdiri di belakang mereka hanya berdehem kaku. Ia membuang muka ke arah lain, menghindari tatapan penuh selidik ibunya. "Hanya penampilan luar, Ma. Tidak perlu berlebihan." sahutnya dingin.
Liana mencubit lengan putranya dengan gemas. "Kamu ini, selalu saja kaku! Ayo masuk, Nika. Tante sengaja memintamu ke sini karena ada perhiasan keluarga yang ingin Tante tunjukkan. Ini harus kamu pakai di hari pernikahan nanti."
Saat melangkah masuk, Ibu Liana menggandeng tangan Arunika dengan akrab, meninggalkan Abimana yang masih terpaku di ambang pintu.
Arunika sempat melirik ke arah Abimana melalui bahunya. Ia memberikan sebuah senyuman tipis—senyum yang seolah berkata, "Lihat, semua orang menyukaiku kecuali kamu, dan itu adalah masalahmu, bukan masalahku."
Abimana mengepalkan tangan di saku celananya. Ia merasa semakin terpojok. Di kampus dia terganggu, di rumah pun ibunya kini sepenuhnya berpihak pada gadis yang tadinya ia anggap remeh itu.
Semangaaaaaat.... 💪💪💪