NovelToon NovelToon
Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.

Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.

Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.

Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelarian Berdarah

Langit malam di atas kota berkilau seperti pecahan kaca—indah, dingin, dan berbahaya.

Dari lantai tertinggi sebuah gedung pencakar langit, Jovan menatap ke bawah dengan ekspresi yang tak pernah berubah: tenang, datar, tanpa sedikit pun rasa ragu.

Di bawah sana, kota bergerak seperti biasa. Lampu lalu lintas, klakson, orang-orang yang pulang ke rumah mereka. Mereka tidak tahu bahwa di salah satu ruangan gelap di gedung ini, nasib seseorang sedang diputuskan.

Seorang pria berlutut di tengah ruangan. Wajahnya lebam, bibirnya pecah, dan darah mengalir dari sudut pelipisnya.

Kedua tangannya terikat di belakang kursi. Napasnya terengah, dadanya naik turun seperti hendak meledak.

“Jovan… aku mohon… aku hanya...”

“Diam !” Satu kata itu cukup membuat seluruh ruangan membeku.

Jovan melangkah maju. Sepatunya yang mengilap berhenti tepat di depan pria itu. Ia menunduk sedikit, menatap mata yang penuh ketakutan itu tanpa emosi. “Kau menjual rute pengiriman kami pada keluarga Varga,” ucapnya tenang. “Empat truk kami dibakar. Tujuh orang mati.”

Pria itu menggeleng keras. “Aku terpaksa! Mereka mengancam keluargaku!”

Jovan tersenyum tipis, bukan senyum hangat, melainkan senyum seseorang yang sudah melihat terlalu banyak kematian.

“Kau tahu aturan kami,” katanya. “Keluarga boleh dilindungi. Tapi kau tidak boleh menjual keluarga ini.”

Isyarat kecil dari jarinya membuat dua pengawal maju.

Pria itu berteriak. Memohon. Menangis. Tapi Jovan sudah berbalik.

Satu tembakan menggema.

Darah memercik ke lantai marmer.

Bagi Jovan, itu bukan pembunuhan. Itu hanya penegakan aturan.

Beberapa jam kemudian, iring-iringan mobil hitam meninggalkan gedung itu menuju bandara pribadi. Jovan duduk di kursi belakang, wajahnya diterangi cahaya kota yang lewat seperti bayangan.

“Semua bersih?” tanyanya.

“Ya, Tuan Jovan,” jawab Leon, tangan kanannya. “Tapi… kita mendeteksi pergerakan keluarga Varga. Mereka tidak tinggal diam.”

Jovan menatap lurus ke depan. “Biarkan mereka datang.”

Mobil melaju cepat memasuki jalan bebas hambatan.

Dan saat itulah ledakan mengguncang dunia mereka.

Boom!

Mobil depan terhempas, terbakar. Kaca pecah. Teriakan terdengar. Mobil mereka berbelok liar ketika hujan peluru menghantam dari sisi jalan.

“Penyergapan!” teriak seseorang.

Jovan meraih pistol. Tapi sebelum ia sempat membidik, sebuah peluru menembus bahunya. Tubuhnya terhantam ke kursi. Darah mengalir.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Jovan merasakan sesuatu yang jarang ia kenal: bahaya yang nyata.

“Keluar dari sini!” teriaknya.

Mobil mereka menerobos barikade, melaju tanpa arah. Satu per satu pengawal tumbang.

Leon menoleh. “Tuan Jovan, kita kehilangan mereka!”

Jovan menggertakkan gigi. Matanya gelap. Ini bukan serangan biasa. Ini perang.

Mobil akhirnya keluar dari kota dan masuk ke jalanan sempit yang asing. Nafas Jovan semakin berat. Darah mengotori jas mahalnya.

Ia sadar…kali ini, dunia gelap yang ia kuasai sedang mencoba menelannya hidup-hidup.

.

Angin malam menerpa wajah Jovan saat mobil melaju tanpa arah di jalan yang semakin sempit. Lampu kota sudah jauh di belakang. Kini yang terlihat hanya pepohonan gelap dan jalanan berliku yang seolah menelan siapa pun yang masuk terlalu dalam.

“Tuan, kita keluar dari wilayah kota!” teriak Leon dari kursi depan.

“Teruskan!” balas Jovan, menekan bahunya yang berdarah.

Di spion, dua mobil hitam masih mengejar. Lampu mereka seperti mata pemangsa.

Dor!

Kaca belakang pecah. Peluru menghantam jok di samping Jovan.

“Belok ke kanan!” perintah Jovan.

Leon membanting setir. Mobil mereka hampir terguling sebelum akhirnya masuk ke jalan tanah yang lebih kecil. Debu mengepul, menyembunyikan mereka sesaat dari pandangan.

“Tuan, sinyal hilang!” Leon panik.

“Bagus,” gumam Jovan.

Namun nasib tidak semudah itu.

Sebuah truk tua tiba-tiba muncul dari tikungan. Leon membanting rem, terlambat.

Brakkk!

Tabrakan keras membuat dunia Jovan berputar. Tubuhnya terlempar, kepalanya membentur pintu. Rasa sakit meledak di seluruh sarafnya. Truk itu menerobos pergi tanpa mempedulikan pengendara lain.

Suara tembakan dan teriakan memudar.

Gelap menelannya.

Ketika Jovan kembali sadar, dunia terasa sunyi. Mobil mereka terbalik di pinggir jalan.

Leon tak bergerak.

“Tuan…?” suara itu tak ada lagi.

Jovan mencoba bangkit. Tubuhnya menjerit. Darah hangat mengalir dari bahu dan pelipisnya.

Jovan berusaha kembali ke dalam mobil. “Leon!” teriaknya, menyeret tubuhnya yang hampir tak bertenaga.

Tangannya berhasil meraih pintu yang penyok, mencoba membukanya. Namun pada detik berikutnya...

BOOM!

Ledakan menghantam keras. Api menyembur dari dalam mobil. Tubuh Jovan terhempas, terguling ke lereng tanah di tepi jalan, jatuh menggelinding menuju arah desa.

Di balik kobaran api itu, Leon terperangkap di dalam kendaraan yang kini menjadi peti mati.

Dan Jovan…tak pernah sempat menyelamatkannya.

Tubuh Jovan berhenti menggelinding ketika punggungnya menghantam tanah lembap. Dunia terasa berputar, pandangannya kabur oleh darah dan debu. Dari kejauhan, suara api yang melahap mobil masih terdengar, disertai letupan kecil seperti dentuman jantung yang sekarat.

Leon…

Nama itu terlintas, lalu menghilang bersama kesadarannya.

Hujan tipis mulai turun, membasahi tanah dan rambutnya yang berantakan.

Jovan tergeletak di tepi jalan desa, tak lagi tampak seperti pewaris mafia, melainkan hanya seorang pria yang kalah oleh nasib.

Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar.

Mika baru saja pulang dari kebun dengan keranjang buah di lengannya ketika matanya menangkap sosok gelap di pinggir jalan. Ia berhenti, jantungnya berdegup tak karuan.

“Mas…?”

Pria itu tidak bergerak.

Mika meletakkan keranjangnya dan berlari mendekat. Saat melihat darah di wajah dan bajunya, napasnya tercekat.

“Ya Allah…”

Ia menempelkan jarinya ke leher pria itu. Masih ada denyut tapi lemah.

Mika menelan ludah. Ini bisa membawa masalah. Orang asing, luka tembak, dan desa kecil—itu kombinasi berbahaya.

Namun ia juga tahu satu hal:

jika ia meninggalkannya di sini, pria ini pasti mati.

Dengan tangan gemetar, Mika mulai menyeret tubuh Jovan menuju rumah kecilnya di tepi kebun.

Mika bukan tipe gadis yang keluar malam tanpa alasan.

Sejak ibunya meninggal dan ayahnya sakit-sakitan, dialah yang mengurus kebun kecil mereka. Setiap dua hari sekali, Mika harus memetik buah sebelum matahari terbit agar bisa dijual pagi-pagi di pasar kecamatan. Jika terlambat, harga akan jatuh.

Itulah sebabnya, saat fajar belum benar-benar muncul, Mika sudah berada di jalan desa dengan keranjang di lengannya.

Di desa itu, jam segini bukan waktu berbahaya, tidak ada klub malam, tidak ada geng, hanya petani dan pedagang yang mulai bergerak.

Mika sudah terbiasa dengan sunyi itu.

.

Di kejauhan, dari balik kabut dan api yang masih menyala, sebuah mobil hitam berhenti.

Seorang pria turun perlahan. Tatapannya menembus asap menuju arah tubuh Jovan yang tergeletak jauh di lereng.

“Dia tidak mungkin selamat,” gumamnya.

Sudut bibirnya terangkat.

Senyum puas—bukan karena kemenangan, tapi karena ia yakin lawannya telah mati.

Tanpa memeriksa lebih jauh, pria itu kembali ke mobil.

Mesin menyala.

Mereka pergi.

Tak pernah mereka tahu bahwa di bawah sana, di jalan desa yang sunyi, takdir baru saja memilih untuk tidak membiarkan Jovan mati.

.

hai reader semuanya, nih....author kasih hadiah karya terbaru bergenre mafia.

selamat membaca dan semoga terhibur....

😘😘😘😘

1
Mulaini
Semoga aja Leon masih hidup dan mungkin yang terbakar supirnya.
Mulaini
Siapa laki² yang turun dari mobil hitam apakah salah satu musuh Jovan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!