Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 "Ruangan OSIS"
Lorong kelas di lantai dua terasa lebih sunyi dibanding biasanya.
Hujan masih turun di luar, suaranya teredam oleh dinding tebal sekolah. Jendela-jendela besar di sisi lorong dipenuhi titik-titik air yang merambat turun perlahan, meninggalkan jejak seperti urat-urat tipis yang tak beraturan. Cahaya pagi yang tadi abu-abu kini semakin redup, membuat lampu-lampu koridor menyala lebih terang dari biasanya.
Cherrin berjalan di sisi kiri lorong, sementara Icha di sebelah kanannya.
Langkah mereka tidak tergesa.
Tidak juga santai.
Lebih tepatnya—hati-hati.
Icha melirik Cherrin sekilas, lalu menurunkan suaranya. “Lo nggak apa-apa?”
Cherrin mengangguk kecil. “Iya.”
Jawaban refleks.
Bukan kebohongan.
Tapi juga bukan kebenaran utuh.
Icha sudah mengenal ekspresi itu terlalu lama untuk percaya sepenuhnya. Ia tidak memaksa, hanya menghela napas pelan, lalu memperlambat langkah agar sejajar dengan Cherrin.
“Lorong ini biasanya rame,” gumam Icha, lebih ke dirinya sendiri. “Hari ini sepi banget.”
Cherrin mengedikan bahunya. "Gue juga nggak tau Cha."
"Sumpah Cher, muka Lo tegang banget, macem orang kebelet" Icha tertawa ngakak, pasalnya ekspresi Cherrin sungguh lucu. Ya, Icha sudah tau tentang gosip yang beredar luas tentang sahabatnya itu. Ia agak terkejut, dan bertanya langsung pada Cherrin saat gadis sampai di lokal, terlebih Zivaniel terus mengekori gadis itu.
"Cha.." Cherrin berdecak kesal.
Icha terkikik geli. "Sumpah, Lo habis daki gunung mana sih? Sampai seorang es batu kayak Zivaniel luluh sama elo?" Icha terus meledek Cherrin,
Cherrin mendengus. "Nggak usah di bahas!"
"Tapi lucu!"
Mereka memang tidak berniat ke lantai dua.
Awalnya, mereka hanya ingin menghindari kerumunan di lantai satu—tempat gosip masih terlalu hangat, terlalu ramai, terlalu penuh tatapan. Icha menarik Cherrin ke tangga samping dengan alasan sederhana: cari udara.
Namun tanpa sadar, kaki mereka membawa mereka ke arah yang tidak direncanakan.
Ruang OSIS.
Pintu kayu cokelat tua itu berada di ujung lorong, sedikit terbuka. Dari celah pintu, cahaya lampu menyembur keluar, kontras dengan lorong yang redup. Suara-suara samar terdengar dari dalam—beberapa rendah, beberapa tertawa kecil, beberapa jelas sedang berdiskusi serius.
Icha melambat.
Cherrin ikut melambat.
Langkah mereka hampir berhenti bersamaan.
“Eh…” Icha berbisik. “Itu ruang OSIS, ya?”
Cherrin mengangguk.
Ia mengenali papan nama di dinding sebelah pintu. Tulisan RUANG OSIS tercetak tebal, sedikit pudar di ujung huruf-hurufnya.
Mereka seharusnya berbalik.
Dan mereka hampir melakukannya.
Namun tepat saat Cherrin hendak menggeser kakinya—
pintu itu terbuka lebih lebar.
Bukan oleh mereka.
Melainkan dari dalam.
Suara kursi bergeser terdengar jelas, diikuti oleh suara laki-laki yang ringan tapi lantang.
“Jadi kesimpulannya, kegiatan bakti sosial tetap minggu depan, divisi humas urus publikasi, logistik cek ulang dana, dan—”
Suara itu berhenti.
Terpotong.
Karena seseorang berdiri tepat di ambang pintu.
Zivaniel.
Ia berdiri setengah membelakangi ruangan, satu tangan masih memegang gagang pintu. Jas OSIS-nya dikenakan rapi, lencana ketua terpasang di dada kiri. Wajahnya tetap tenang seperti biasa—hingga matanya menangkap dua sosok di lorong.
Cherrin.
Icha.
Untuk sepersekian detik, tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang bicara.
Hanya suara hujan samar di luar dan dengungan lampu.
Zivaniel menatap Cherrin.
Cherrin menatap balik.
Ia tidak tahu kenapa dadanya mengencang lagi—padahal mereka baru berpisah beberapa menit lalu.
Icha bereaksi lebih dulu.
“Oh—!” Ia tersenyum kikuk. “Maaf, kami cuma lewat.”
Zivaniel mengangguk tipis. “Tidak apa.”
Suaranya terdengar ke dalam ruangan.
Dan itu cukup.
Beberapa pasang mata di dalam langsung terangkat.
Rapat OSIS yang tadi berjalan rapi mendadak mengalami jeda kolektif. Kursi-kursi berderit pelan saat beberapa anggota menoleh ke arah pintu. Beberapa wajah menunjukkan rasa ingin tahu yang tidak disembunyikan sama sekali.
Terutama—
Raka.
Wakil ketua OSIS itu bersandar malas di kursinya, satu tangan memegang pulpen, tangan lain menyilang di dada. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya begitu melihat siapa yang berdiri di lorong.
“Oh?” katanya, nada sengaja dinaikkan sedikit. “Tamu kita pagi ini menarik juga.”
Beberapa anggota lain mulai berbisik.
Ada yang mencondongkan badan.
Ada yang langsung tersenyum lebar.
Zivaniel tidak menoleh ke mereka. Tatapannya tetap di depan.
Namun suaranya berubah sedikit—lebih resmi. “Rapat dilanjutkan.”
Ia hendak menutup pintu.
Namun Raka lebih cepat.
“Eits,” katanya sambil berdiri. “Sebentar, Ketua. Jangan dingin-dingin amat.”
Ia melangkah mendekat ke pintu, lalu menyandarkan siku di kusen, tepat di depan Zivaniel—namun matanya justru tertuju ke Cherrin.
“Ini Cherrin, kan?” katanya santai. “Yang lagi hits itu.”
Cherrin membeku.
Icha refleks meraih ujung lengan Cherrin, seolah memberi sinyal, tenang.
“Iya,” jawab Raka sendiri sambil terkekeh. “Bener. Masa gue lupa sih.”
Beberapa anggota OSIS lain ikut tertawa kecil.
Bukan tawa jahat.
Tapi cukup untuk membuat Cherrin ingin menghilang.
Zivaniel akhirnya menoleh ke Raka.
Tatapannya datar.
“Raka,” katanya pendek.
Nada peringatan.
Namun Raka hanya mengangkat kedua tangan, pura-pura menyerah. “Santai. Cuma nyapa.”
Ia melirik Icha. “Yang satu lagi temannya, ya?”
Icha tersenyum tipis. “Icha.”
“Nama yang manis,” komentar seseorang dari dalam ruangan.
Icha menahan ekspresi.
Cherrin menunduk.
Zivaniel melangkah setengah langkah ke depan—cukup untuk menutup sebagian pandangan mereka terhadap Cherrin.
“Kalau tidak ada urusan OSIS,” katanya tenang, “tolong—”
“Eh, jangan gitu,” potong Raka cepat. “Kebetulan banget, loh.”
Ia menoleh ke anggota OSIS lain. “Kalian nggak penasaran?”
“Penasaran apa?” sahut Dimas dari sudut ruangan, sambil menyeringai.
“Kenapa Ketua kita jadi rajin ke gerbang pagi-pagi,” jawab Raka ringan. “Dan kenapa gosip sekolah hari ini lebih rame dari pengumuman lomba.”
Tawa kecil kembali muncul.
Beberapa anggota mencoba menahan, tapi gagal.
Zivaniel berdiri diam.
Namun Cherrin bisa merasakan perubahan di udara.
Bukan marah.
Bukan juga malu.
Lebih seperti… kesabaran yang sedang diuji.
“Raka,” ulang Zivaniel. Kali ini lebih rendah.
Raka menatapnya, lalu tertawa kecil. “Oke, oke. Gue berhenti.”
Ia menoleh ke Cherrin lagi. “Tapi serius, Cherrin. Kalau lo mau gabung OSIS, bilang aja. Kayaknya ketua kita nggak bakal nolak.”
Seseorang bersiul pelan.
Icha mengerjap, lalu tertawa kecil—terlalu cepat, terlalu keras. “Haha… kami beneran cuma lewat.”
Cherrin mengangguk cepat. “Iya. Maaf.”
Zivaniel membuka pintu lebih lebar, lalu menahan daun pintu dengan tubuhnya sendiri.
“Silakan,” katanya pelan pada Cherrin dan Icha. “Jalan.”
Nada itu—
bukan permintaan.
Icha langsung menarik Cherrin mundur satu langkah. “Ayo.”
Namun sebelum mereka benar-benar pergi—
Dimas bersuara lagi, kali ini lebih santai. “Eh, Ketua. Jangan lupa poin terakhir.”
Zivaniel menoleh sedikit dengan alis yang bertaut. “Apa?”
“Keamanan acara,” jawab Dimas sambil tersenyum ke arah Cherrin. “Terutama dari… gangguan luar.”
Beberapa tertawa lagi.
Kali ini, Zivaniel menoleh penuh.
Tatapannya lurus.
Hening jatuh seketika.
“Gangguan itu,” katanya tenang, “urusan gue.”
Tidak ada nada ancaman.
Namun justru itu yang membuatnya berat.
Raka mengangkat alis, lalu tertawa kecil. “Oke. Noted.”
Cherrin tidak menunggu lagi.
Ia berjalan pergi, langkahnya cepat namun tertahan, seolah takut berisik. Icha mengikuti, tetap di sisinya.
Lorong kembali sunyi.
Namun jantung Cherrin masih berdentum terlalu keras.
Beberapa langkah menjauh, Icha akhirnya bersuara. “Mereka ngeselin, ya.”
Cherrin mengangguk. “Gue nggak sengaja…”
“Bukan salah lo,” potong Icha cepat. “Serius.”
Cherrin menggigit bibir.
Di belakang mereka—
di balik pintu yang kini tertutup—
rapat OSIS dilanjutkan.
Namun atmosfernya sudah berubah.
Raka kembali duduk, bersandar, lalu menyeringai. “Lo protektif banget, Ketua.”
Zivaniel duduk di kursinya.
Menata berkas.
“Lanjut,” katanya singkat.
Namun Dimas menyandarkan dagu di tangannya. “Jadi gosip itu bener?”
Tidak ada jawaban.
“Ketua,” lanjut Dimas, lebih pelan. “Lo sadar, kan?”
Zivaniel mengangkat pandangan.
“Sadar apa.”
“Kalau lo berdiri di samping seseorang,” jawab Dimas, “seluruh sekolah otomatis lihat dia.”
Hening.
Zivaniel menunduk lagi.
“Rapat,” katanya dengan nada datar, membuat semua anggota OSIS bersorak kecil.