NovelToon NovelToon
Luka Yang Tak Bersuara

Luka Yang Tak Bersuara

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: wnd ayn

Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.

Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.

Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.


Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.

Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?

noted: terbagi dua season

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 2

Malam turun perlahan di kediaman Alice.

Lampu-lampu kecil menyala hangat di ruang tamu. Aroma teh melayang pelan, bercampur dengan wangi kayu dari rak buku yang Alice pilih sendiri. Setelah seharian mengurus kafe, rumah kecil itu menjadi satu-satunya tempat ia bisa bernapas tanpa harus terlihat kuat.

Alice duduk di sofa, memeluk cangkir hangat.

Ketukan pintu terdengar.

Alice tersenyum.“Masuk saja. pintunya tidak ku kunci.”

Pintu terbuka.

Seorang wanita masuk dengan mantel krem, rambut hitamnya tergerai rapi, senyum tenangnya tetap sama seperti dulu.

“Alice.”

Alice berdiri.“Rania.”

Mereka berpelukan singkat, hangat, seperti dua orang yang sudah terlalu sering bertemu untuk terkejut lagi.

“Kamu pulang larut lagi?” tanya Alice.

Rania terkekeh kecil.“Cabang baru di selatan. Rey memaksa semua bunga dicek satu-satu.”

Bel pintu berbunyi lagi.

“Dan itu dia,” gumam Alice.

Pintu terbuka, memperlihatkan Rey dengan jas gelap dan wajah sedikit lelah.

“Maaf telat,” katanya.

“Kami tutup toko terakhir jam sembilan.”

Rania menoleh.“Lihat? Partner bisnis paling ribet.”

Rey tersenyum kecil.“Jangan lupa, partner hidup juga.”

**

Di meja kecil, Alice meletakkan kue sisa kafe hari ini.

Rania menatapnya sambil mengambil satu potong.

“Bagaimana dengan kafe?”

“Baik,” jawab Alice pelan.

“Hampir setiap hari aku di sana.”

Rania mengangkat alis.“Rajin sekali.”

Alice tersenyum kecil.

“Aku cuma mengisi waktu luang. Kalau terlalu lama di rumah, kepalaku ramai sendiri. Lagipula sekarang kita jarang berkumpul. Kamu dan Rey sibuk dengan toko.”

Rey menyandarkan punggung ke sofa, menatap Alice dengan senyum menggoda.

“Mengisi waktu luang… atau mengisi hati karena sering ketemu dokter tampan itu?”

Alice terbatuk kecil.“Rey.”

Rania ikut tersenyum.“Kita melihat. Waktu kita mampir ke kafe minggu lalu.”

Alice memiringkan kepala.“Kalian cuma lewat.”

“Lewat tapi sempat lihat,” sahut Rey.

“Ada dokter berdiri di depan kafe kamu. Kalian mengobrol cukup lama.”

Rania menambahkan,“Dia pakai jas putih, tinggi, wajahnya tenang. setelah itu buru-buru nyebrang ke rumah sakit.”

Alice terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis.“Itu Levandro. Dia sering ke kafe sebelum bekerja.”

Rey menyeringai.“Sering ke kafe… atau sering menemui kamu?”

Alice menghela napas kecil.“Kalian ini.”

Rania tertawa pelan.“Tenang Alice. Kita hanya senang melihat mu tidak sendiri terus.”

Alice menunduk sebentar.“Dia baik. Tapi kita hanya saling menyapa, terkadang mengobrol. Tidak lebih.”

Rey menatap Alice dengan nada lebih lembut. “Kadang, hal kecil justru yang paling berkesan.”

Sunyi sejenak.

Rania memutar sendok di cangkir tehnya.“Kamu terlihat lebih hidup sekarang, Alice.”

Alice tersenyum samar.“Mungkin karena aku mulai belajar menerima orang baru.”

Rey mengangguk pelan, lalu ragu sejenak sebelum bicara,“Kalau begitu… bagaimana dengan yang lama?”

Alice menatapnya.

Rania ikut terdiam.

Nama itu tidak langsung disebut, tapi Alice sudah tahu arahnya.

Rey akhirnya berkata pelan,“Danzel.”

Ruangan terasa sedikit berubah.

Alice tidak langsung menjawab.

Ia menatap kue di mejanya, lalu berkata lirih,“Aku tidak membencinya. Aku hanya… lelah mengingat.”

Rania menatap Alice penuh hati-hati.“Tapi kenangan tidak selalu bisa diam, kan?”

Alice menghela napas kecil.“Aku tahu.”

Rey bersandar kembali.“Kadang orang yang pergi justru baru sadar saat kita tidak lagi di sana.”

Alice tersenyum tipis, nyaris pahit. “Dan kadang orang yang ditinggal, sudah terlalu lama belajar kuat sendiri.”

Sunyi kembali turun.

Nama Danzel menggantung di antara mereka—tidak diucapkan keras, tapi terasa berat.

**

Keesokan harinya

Koridor rumah sakit selalu sama.

Putih. Terang. Sunyi yang sibuk.

Levandro berjalan cepat di antara perawat dan pasien yang lalu-lalang. Jas putihnya berkibar ringan di setiap langkah. Di papan dada tertulis namanya rapi:

**Dr. Levandro Mahesa.**

Sebagai dokter di rumah sakit ternama itu, waktunya jarang benar-benar milik sendiri. Jadwal operasi, konsultasi, panggilan darurat—semuanya datang tanpa izin.

Namun, di sela kesibukan itu, pikirannya sering berhenti pada satu tempat kecil di seberang gedung.

Kafe milik Alice.

Levandro berhenti di depan ruang rawat inap. Ia membuka map pasien, membaca sekilas, lalu menghela napas pelan.

Entah sejak kapan, pagi tanpa menyapa Alice terasa aneh.

Padahal awalnya hanya kebiasaan.

Mengambil kopi sebelum jaga.

Mengucap terima kasih.

Menukar senyum ringan.

Tapi Alice berbeda.

Tidak banyak bicara, tapi matanya seperti menyimpan cerita yang tidak pernah ia paksakan keluar.

Seorang perawat mendekat.

“Dok, pasien kamar 312 sudah siap.”

Levandro mengangguk.

“Saya ke sana.”

Di dalam kamar, ia kembali menjadi dokter—tenang, fokus, profesional.Namun saat ia selesai memeriksa, pikirannya melayang lagi.

Ia teringat pagi tadi.

Alice berdiri di balik meja, rambut diikat seadanya, matanya sedikit lelah tapi tetap hangat.“Kopi hitam, ya, Dok.”

Kalimat sederhana itu selalu membuat paginya terasa lebih ringan.

Levandro menghela napas kecil.Ini tidak seharusnya terjadi.

Ia dokter.

Ia profesional.

Ia tidak boleh membawa perasaan ke ruang kerja.

**

Hingga pada sore hari

Hari itu jadwal Levandro selesai lebih awal.

Tidak ada panggilan darurat, tidak ada operasi susulan. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, jam di pergelangan tangannya tidak menuntut apa pun.

Matahari masih menggantung rendah, memantulkan warna keemasan di kaca-kaca gedung rumah sakit.

Levandro berdiri sebentar di depan loker staf, memandangi jas putih yang baru saja ia gantung. Seragam itu selalu membuatnya terlihat kuat, rapi, dan profesional. Tapi di baliknya, ia tetap manusia yang kadang ingin berhenti menjadi siapa pun selain dirinya sendiri.

Dan saat pikirannya melayang, satu nama muncul tanpa diminta.

Alice.

Ia melangkah keluar rumah sakit dengan kemeja sederhana. Tanpa stetoskop. Tanpa map pasien. Hanya dirinya sendiri.

Menyeberang jalan.

Bel kafe berbunyi lirih saat ia masuk.

Aroma kopi dan kayu menyambut.

Alice sedang menata bunga kecil di meja dekat jendela. Rambutnya tergerai, wajahnya diterpa cahaya sore yang membuatnya tampak lebih tenang dari biasanya.

Ia menoleh.

“Dokter?”Nada suaranya terdengar sedikit heran, sedikit senang.

Levandro tersenyum kecil.

“Hari ini aku bebas lebih cepat.”

Alice melirik jam.“Masih sore.”

“Justru itu,” jawabnya.

“Biasanya kita hanya bertemu saat aku terburu-buru.”

Ia mendekat ke meja kasir.

“Kali ini aku tidak ingin kopi lalu pergi.”

Alice berhenti sejenak.“Lalu?”

Levandro menarik napas kecil, seperti mengumpulkan keberanian.

“Aku ingin mengajak kamu menikmati sore. Kalau kamu mau.”

Alice menatapnya.

Tidak lama, tapi cukup untuk membuat udara terasa lebih pelan.

“Menikmati sore… bagaimana?” tanyanya hati-hati.

“Tanpa jas dokter,” jawab Levandro.

“Tanpa meja kasir. Tanpa siapa-siapa yang terburu-buru.”

Alice tersenyum tipis.“Baik. Tapi jangan kaget kalau soreku sederhana.”

Levandro tersenyum.“Aku tidak mencari yang mewah.”

Mereka keluar bersama.

1
Ophy60
Danzel....jangan datang membawa masalah untuk Alice.Selesaikan dulu hubunganmu sama Rachel...
Mundri Astuti
preeet lah danzel, kesalahan terberat kamu mengabaikan Alice saat Alice butuh bantuan kamu tuk bawa papanya ke RS, hingga papanya Alice meninggal dunia
Ophy60
Susah y Alice melupakan masa lalu..
Ophy60
Danzel jangan menemui Alice lagi. Yg ada nanti Rachel salah paham dan mengganggu Alice.
Nurhayati
ngapain jg dy dket2 sm kamu danzel, dy udh berdamai dgn diri sendiri. klo bs jgn ganggu dia deh ntar pcar mu tau rachel mlah ganggu alice. kan bahaya
Sari Nilam
up nya lama
Mundri Astuti
nih ya danzel klo kamu beneran nikah sama Rachel, kamu akan kehilangan harga dirimu, Krn kamu dibawah kuasa Rachel dan keluarganya, suatu saat kamu bermasalah sama Rachel, bisa abis harga dirimu diinjak" , secara kamu kerja di perusahaan keluarga rachel
Ophy60
Bingung kan Danzel.Ninggalin Rachel kerjaan dr keluarga Rachel,sama Rachel tapi ga benar² cinta sama Rachel.
partini
sekarang dulu masa bodoh,, mending balik deh yg dulu masih cinta biar ga terlalu banyak drama nanti kamu kerja aja lagi
Ophy60
Semangat pak Dokter...
Meski masih mengingat masa lalu paling tidak Alice sudah mulai berusaha menerima orang baru.
Ophy60
Maunya Alice sama orla thor.Enak saja udah ninggalin Alice,bahkan saat Alice dalam kondisi sangat terpuruk juga ga ada masa mau sama Alice lagi.
partini
si dokter tamvan mau bertempur dengan masa lalu ,cape loh dok harus siap kan mental dan kesabaran seluas samudra dan patah hati
Nurhayati
sperti komen ku yang eps kmrn ato yg eps sblumnya, aq gak rela klo Alice berjodoh sm danzel. klopun berjdoh aq berharap alice sm orang lain dlu bru ktemu danzel lg. klo bisa danzel lah yg berjuang u mndapatkan hati alice kmbli. bru impas pnderitaannya
partini
ye elah zel kamu jadi kacung keluarga pacar mu ,, penyesalan datang di Ahir kalau awal itu pendaftaran nama nya
hemmmm masa lalu itu berat bersaing dengan masa lalu melelahkan,jarang sih novel yg bisa move on jadi aku tebak pemenang nya masa lalu
Sari Nilam: aku sih timbya alice dengan doker ..lupakan danzel yang dengan mudah melupakanmu .
jadi pelayan kel pacar sendiri biarpun punya jabatan ...miris .tp itu pulihanmu zel..nikmatilah.
total 1 replies
Ophy60
Alice jangan sama Danzel y thor....buat Danzel menyesal.
Ophy60
Danzel cowo jd cowo ga tegas.
Mundri Astuti
yg berikutnya buat Alice bahagia dng dunia barunya thor, lebih sukses dan mandiri Thor, buat danzel tau Rachel yg aslinya
partini
S2 apa kaya gini juga Thor mengseddih terus
Nurhayati
aku kcewa smga alice tdak bejdoh sm danzel. wlo ibu danzel yg mnolong pun aq tak rela klo alice berjdoh sm danzel
partini
kamu akan menyesal seumur hidup mu zel.,semoga yg di katakan ayahmu betul nanti ada seseorang yg begitu sayang dan cinta padamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!