Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.
Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.
Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.
Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.
Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?
noted: terbagi dua season
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 2
Malam turun perlahan di kediaman Alice.
Lampu-lampu kecil menyala hangat di ruang tamu. Aroma teh melayang pelan, bercampur dengan wangi kayu dari rak buku yang Alice pilih sendiri. Setelah seharian mengurus kafe, rumah kecil itu menjadi satu-satunya tempat ia bisa bernapas tanpa harus terlihat kuat.
Alice duduk di sofa, memeluk cangkir hangat.
Ketukan pintu terdengar.
Alice tersenyum.“Masuk saja. pintunya tidak ku kunci.”
Pintu terbuka.
Seorang wanita masuk dengan mantel krem, rambut hitamnya tergerai rapi, senyum tenangnya tetap sama seperti dulu.
“Alice.”
Alice berdiri.“Rania.”
Mereka berpelukan singkat, hangat, seperti dua orang yang sudah terlalu sering bertemu untuk terkejut lagi.
“Kamu pulang larut lagi?” tanya Alice.
Rania terkekeh kecil.“Cabang baru di selatan. Rey memaksa semua bunga dicek satu-satu.”
Bel pintu berbunyi lagi.
“Dan itu dia,” gumam Alice.
Pintu terbuka, memperlihatkan Rey dengan jas gelap dan wajah sedikit lelah.
“Maaf telat,” katanya.
“Kami tutup toko terakhir jam sembilan.”
Rania menoleh.“Lihat? Partner bisnis paling ribet.”
Rey tersenyum kecil.“Jangan lupa, partner hidup juga.”
**
Di meja kecil, Alice meletakkan kue sisa kafe hari ini.
Rania menatapnya sambil mengambil satu potong.
“Bagaimana dengan kafe?”
“Baik,” jawab Alice pelan.
“Hampir setiap hari aku di sana.”
Rania mengangkat alis.“Rajin sekali.”
Alice tersenyum kecil.
“Aku cuma mengisi waktu luang. Kalau terlalu lama di rumah, kepalaku ramai sendiri. Lagipula sekarang kita jarang berkumpul. Kamu dan Rey sibuk dengan toko.”
Rey menyandarkan punggung ke sofa, menatap Alice dengan senyum menggoda.
“Mengisi waktu luang… atau mengisi hati karena sering ketemu dokter tampan itu?”
Alice terbatuk kecil.“Rey.”
Rania ikut tersenyum.“Kita melihat. Waktu kita mampir ke kafe minggu lalu.”
Alice memiringkan kepala.“Kalian cuma lewat.”
“Lewat tapi sempat lihat,” sahut Rey.
“Ada dokter berdiri di depan kafe kamu. Kalian mengobrol cukup lama.”
Rania menambahkan,“Dia pakai jas putih, tinggi, wajahnya tenang. setelah itu buru-buru nyebrang ke rumah sakit.”
Alice terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis.“Itu Levandro. Dia sering ke kafe sebelum bekerja.”
Rey menyeringai.“Sering ke kafe… atau sering menemui kamu?”
Alice menghela napas kecil.“Kalian ini.”
Rania tertawa pelan.“Tenang Alice. Kita hanya senang melihat mu tidak sendiri terus.”
Alice menunduk sebentar.“Dia baik. Tapi kita hanya saling menyapa, terkadang mengobrol. Tidak lebih.”
Rey menatap Alice dengan nada lebih lembut. “Kadang, hal kecil justru yang paling berkesan.”
Sunyi sejenak.
Rania memutar sendok di cangkir tehnya.“Kamu terlihat lebih hidup sekarang, Alice.”
Alice tersenyum samar.“Mungkin karena aku mulai belajar menerima orang baru.”
Rey mengangguk pelan, lalu ragu sejenak sebelum bicara,“Kalau begitu… bagaimana dengan yang lama?”
Alice menatapnya.
Rania ikut terdiam.
Nama itu tidak langsung disebut, tapi Alice sudah tahu arahnya.
Rey akhirnya berkata pelan,“Danzel.”
Ruangan terasa sedikit berubah.
Alice tidak langsung menjawab.
Ia menatap kue di mejanya, lalu berkata lirih,“Aku tidak membencinya. Aku hanya… lelah mengingat.”
Rania menatap Alice penuh hati-hati.“Tapi kenangan tidak selalu bisa diam, kan?”
Alice menghela napas kecil.“Aku tahu.”
Rey bersandar kembali.“Kadang orang yang pergi justru baru sadar saat kita tidak lagi di sana.”
Alice tersenyum tipis, nyaris pahit. “Dan kadang orang yang ditinggal, sudah terlalu lama belajar kuat sendiri.”
Sunyi kembali turun.
Nama Danzel menggantung di antara mereka—tidak diucapkan keras, tapi terasa berat.
**
Keesokan harinya
Koridor rumah sakit selalu sama.
Putih. Terang. Sunyi yang sibuk.
Levandro berjalan cepat di antara perawat dan pasien yang lalu-lalang. Jas putihnya berkibar ringan di setiap langkah. Di papan dada tertulis namanya rapi:
**Dr. Levandro Mahesa.**
Sebagai dokter di rumah sakit ternama itu, waktunya jarang benar-benar milik sendiri. Jadwal operasi, konsultasi, panggilan darurat—semuanya datang tanpa izin.
Namun, di sela kesibukan itu, pikirannya sering berhenti pada satu tempat kecil di seberang gedung.
Kafe milik Alice.
Levandro berhenti di depan ruang rawat inap. Ia membuka map pasien, membaca sekilas, lalu menghela napas pelan.
Entah sejak kapan, pagi tanpa menyapa Alice terasa aneh.
Padahal awalnya hanya kebiasaan.
Mengambil kopi sebelum jaga.
Mengucap terima kasih.
Menukar senyum ringan.
Tapi Alice berbeda.
Tidak banyak bicara, tapi matanya seperti menyimpan cerita yang tidak pernah ia paksakan keluar.
Seorang perawat mendekat.
“Dok, pasien kamar 312 sudah siap.”
Levandro mengangguk.
“Saya ke sana.”
Di dalam kamar, ia kembali menjadi dokter—tenang, fokus, profesional.Namun saat ia selesai memeriksa, pikirannya melayang lagi.
Ia teringat pagi tadi.
Alice berdiri di balik meja, rambut diikat seadanya, matanya sedikit lelah tapi tetap hangat.“Kopi hitam, ya, Dok.”
Kalimat sederhana itu selalu membuat paginya terasa lebih ringan.
Levandro menghela napas kecil.Ini tidak seharusnya terjadi.
Ia dokter.
Ia profesional.
Ia tidak boleh membawa perasaan ke ruang kerja.
**
Hingga pada sore hari
Hari itu jadwal Levandro selesai lebih awal.
Tidak ada panggilan darurat, tidak ada operasi susulan. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, jam di pergelangan tangannya tidak menuntut apa pun.
Matahari masih menggantung rendah, memantulkan warna keemasan di kaca-kaca gedung rumah sakit.
Levandro berdiri sebentar di depan loker staf, memandangi jas putih yang baru saja ia gantung. Seragam itu selalu membuatnya terlihat kuat, rapi, dan profesional. Tapi di baliknya, ia tetap manusia yang kadang ingin berhenti menjadi siapa pun selain dirinya sendiri.
Dan saat pikirannya melayang, satu nama muncul tanpa diminta.
Alice.
Ia melangkah keluar rumah sakit dengan kemeja sederhana. Tanpa stetoskop. Tanpa map pasien. Hanya dirinya sendiri.
Menyeberang jalan.
Bel kafe berbunyi lirih saat ia masuk.
Aroma kopi dan kayu menyambut.
Alice sedang menata bunga kecil di meja dekat jendela. Rambutnya tergerai, wajahnya diterpa cahaya sore yang membuatnya tampak lebih tenang dari biasanya.
Ia menoleh.
“Dokter?”Nada suaranya terdengar sedikit heran, sedikit senang.
Levandro tersenyum kecil.
“Hari ini aku bebas lebih cepat.”
Alice melirik jam.“Masih sore.”
“Justru itu,” jawabnya.
“Biasanya kita hanya bertemu saat aku terburu-buru.”
Ia mendekat ke meja kasir.
“Kali ini aku tidak ingin kopi lalu pergi.”
Alice berhenti sejenak.“Lalu?”
Levandro menarik napas kecil, seperti mengumpulkan keberanian.
“Aku ingin mengajak kamu menikmati sore. Kalau kamu mau.”
Alice menatapnya.
Tidak lama, tapi cukup untuk membuat udara terasa lebih pelan.
“Menikmati sore… bagaimana?” tanyanya hati-hati.
“Tanpa jas dokter,” jawab Levandro.
“Tanpa meja kasir. Tanpa siapa-siapa yang terburu-buru.”
Alice tersenyum tipis.“Baik. Tapi jangan kaget kalau soreku sederhana.”
Levandro tersenyum.“Aku tidak mencari yang mewah.”
Mereka keluar bersama.
Meski masih mengingat masa lalu paling tidak Alice sudah mulai berusaha menerima orang baru.
hemmmm masa lalu itu berat bersaing dengan masa lalu melelahkan,jarang sih novel yg bisa move on jadi aku tebak pemenang nya masa lalu