Episode 1 – Pertemuan yang Tak Pernah Terduga
Arga Wibawa adalah putra dari seorang ayah yang memiliki perusahaan ternama di Jakarta. Takdir mempertemukannya kembali dengan Alya Putri Kirana, cinta pertamanya yang tak pernah bisa ia lupakan.
Sejak perpisahan mereka di bangku SMA, Arga harus mengikuti kedua orang tuanya pindah ke Bali karena ayahnya mendapatkan proyek besar di sana. Mau tak mau, Arga meninggalkan Jakarta dan melanjutkan pendidikan kuliahnya di Pulau Dewata. Meski waktu terus berjalan, bayangan Alya tak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
Bertahun-tahun kemudian, Arga akhirnya lulus dari kuliahnya. Dengan tekad yang kuat, ia memutuskan kembali ke Jakarta untuk mencari sang pujaan hati. Sebulan setelah kelulusannya, Arga bersiap dan terbang menuju kota yang penuh kenangan itu.
Setibanya di Jakarta, Arga mulai mencari pekerjaan sambil berusaha menelusuri keberadaan Alya.
Sementara itu, kehidupan Alya tak berjalan semulus ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandi Wabaswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Awal Yang Baru
Alya menarik napas dalam-dalam ketika kunci rumah sederhana itu berputar di pintu. Rumah itu kecil, dindingnya sederhana, perabotnya seadanya. Namun bagi Alya, rumah ini terasa seperti kebebasan pertama yang ia rasakan dalam hidupnya. Bersama Arga, ia tidak lagi dipaksa untuk menjadi seseorang yang bukan dirinya. Ia bisa memilih, mencintai, dan hidup sesuai hatinya sendiri.
Arga tersenyum, matanya berbinar meski rumah mereka sederhana. “Ini memang sederhana, Alya, tapi kita akan membuatnya menjadi rumah kita. Tempat di mana kita bisa bahagia, tanpa tekanan, tanpa paksaan.”
Alya tersenyum, hatinya hangat. “Aku senang, Arga… meski tidak mewah, aku merasa bebas di sini. Aku bisa menjadi diriku sendiri.”
Hari-hari mereka dimulai dengan kesederhanaan. Mereka berbagi pekerjaan rumah, berbagi tanggung jawab, dan belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan yang jauh dari kemewahan. Arga mulai menata keuangan mereka, mencari pekerjaan tambahan, sementara Alya membantu dengan apa yang bisa ia lakukan. Setiap tantangan yang mereka hadapi terasa lebih ringan karena mereka saling mendukung.
Namun di sisi lain, di rumah Alya yang lama, suasana penuh kemarahan dan kekecewaan. Orang tua Alya murka. Putri mereka pergi tanpa izin, tanpa pesan, meninggalkan semua rencana mereka hancur begitu saja. Ibu Alya menutup mata, menahan amarah yang membara. Ayahnya menggeram pelan, tidak percaya bahwa Alya bisa bertindak begitu nekat.
Rayhan, yang mengetahui kabar itu dari orang tua Alya, berdiri di ruang tamu, wajahnya merah karena marah dan kecewa. Matanya menatap kosong seakan mencari tanda bahwa Alya akan kembali, namun yang terlihat hanyalah kesunyian. “Kau pasti akan menyesal, Alya,” gumam Rayhan pelan namun penuh ancaman. “Percayalah… suatu hari, kau akan menyesal.”
Kata-kata itu tidak terdengar oleh Alya, tetapi di hati Arga, kata-kata itu menjadi pengingat bahwa perjalanan mereka tidak akan mudah. Dunia akan menantang mereka, orang-orang yang marah dan kecewa akan terus menguji tekad mereka. Namun Arga memandang Alya, menahan tangannya erat. “Tidak apa-apa, Alya. Apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama. Tidak ada yang bisa memisahkan kita selama kita berjuang bersama.”
Alya menatap Arga, air matanya jatuh pelan, campuran lega dan bahagia. Ia sadar, memilih cinta sejatinya tidak hanya berarti meninggalkan kemewahan, tetapi juga menghadapi dunia yang keras, menghadapi kemarahan orang tua dan Rayhan. Namun ia tidak menyesal. Hatinya telah memilih jalan yang benar—jalan yang tulus dan sesuai dengan perasaannya sendiri.
Hari-hari berikutnya terasa menantang, tetapi mereka mulai menemukan ritme kehidupan baru. Memasak bersama, berbagi cerita, bekerja bersama, dan tertawa walau dengan kesederhanaan yang mereka miliki. Setiap langkah kecil adalah kemenangan, bukti bahwa cinta dan kerja keras bisa bertahan di tengah dunia yang penuh tekanan.
Di malam hari, ketika mereka duduk di depan jendela rumah sederhana itu, Alya menatap langit. Bintang-bintang muncul satu per satu, dan ia tersenyum. “Arga… aku senang kita bisa memulai hidup baru bersama. Walau sederhana, ini adalah rumah kita, dan aku merasa aman di sini.”
Arga menggenggam tangan Alya, matanya berbinar. “Kita memang tidak punya kemewahan, tapi kita punya satu sama lain. Dan itu lebih berharga daripada semua yang pernah ditawarkan Rayhan.”
Mereka tersenyum bersama, mengetahui bahwa meskipun tantangan akan terus datang—kemarahan orang tua, ancaman Rayhan, atau kesulitan hidup—mereka kini memiliki sesuatu yang tak bisa diambil siapa pun: cinta yang tulus dan tekad untuk menghadapi dunia bersama-sama.
Bab 11 berakhir dengan rasa hangat dan penuh harapan. Alya dan Arga telah memulai babak baru, meninggalkan kemewahan yang dipaksakan, menghadapi tekanan dunia, dan membuktikan bahwa cinta sejati bukan soal harta atau status, tetapi tentang keberanian untuk memilih hati sendiri.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰