NovelToon NovelToon
Suami Hyper Anak SMA

Suami Hyper Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Teen Angst / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Raey Luma

"DAVINNNN!" Suara lantang Leora memenuhi seisi kamar.
Ia terbangun dengan kepala berat dan tubuh yang terasa aneh.
Selimut tebal melilit rapat di tubuhnya, dan ketika ia sadar… sesuatu sudah berubah. Bajunya tak lagi terpasang. Davin menoleh dari kursi dekat jendela,
"Kenapa. Kaget?"
"Semalem, lo apain gue. Hah?!!"
"Nggak, ngapa-ngapain sih. Cuma, 'masuk sedikit'. Gak papa, 'kan?"
"Dasaaar Cowok Gila!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hampir saja!

Koridor semakin terasa sesak ketika Leora kembali melangkah keluar dengan tas di bahu. Rey masih berdiri di tempat yang sama — bersandar pada dinding, kedua tangannya terlipat di dada.

Langkah Leora melambat.

Rey menatap sekilas ke arah kelas, ke dalam ruangan tempat murid-murid sibuk menyiapkan hadiah untuk Davin, llalu kembali menatap kekasihnya.

“Ikut aku,” katanya singkat.

Nada suaranya datar

"Kemana?"

"Harus aku jelasin sekarang?" tanya Rey, lebih ke nada kesal.

Tanpa bertanya lebih jauh, Leora berjalan di sampingnya. Mereka menyusuri koridor panjang menuju tangga.

Beberapa siswa melewati mereka sambil membawa buket dan kantong hadiah. Menyebut satu nama yang sama.

Davin.

Davin.

Davin.

Rey tidak menanggapi.

Namun rahangnya mengeras.

Leora bisa merasakannya ketegangan itu menular seperti udara dingin.

Mereka berhenti di parkiran. Rey menghidupkan motornya, lalu mengajak Leora untuk duduk di belakangnya.

"Ayo naik"

Tanpa sepatah katapun, Leora segera menaiki motor di depannya.

Suara mesin berbunyi, angin menyapu pelan. Membuat Leora sedikit mendapatkan angin segar.

Tiba tiba, diperjalanan Rey bertanya:

“Mulai dari kapan…” suaranya berat, tertahan, “dia bisa bikin satu sekolahan kayak gini?”

Leora terdiam.

Tak ada nama Davin yang disebut secara langsung. Namun keduanya tahu.

Rey menunduk sesaat, lalu berkata lagi, “Aku cuma kasih dia pelajaran, tapi dia malah makin bersinar…”

“Dan sekarang semua orang ngomongin dia.”

“Rey… jangan diambil hati,” ujar Leora pelan. “Dia cuma jadi sorotan sementara. Karena kejadian kecil kemarin.”

Rey tertawa kecil — hambar.

“Sekolah kita cuma butuh satu momen buat lupa siapa yang selama ini berkuasa,” katanya pelan. “Dan aku baru sadar… betapa gampangnya mereka pindah haluan.”

Setelah itu ia diam lagi.

Angin sedikit lebih kencang kali ini, menerpa seragam Leora.

Ia memeluk kekasihnya dari belakang seolah memberikan kekuatan, bahwa Leroa adah salah satu orang yang akan slalu ada untuknya.

"Rey, kamu percaya aku kan?",

"Tergantung..."

"Aku sayang kamu, tanpa perlu alasan apapun. Sekalipun sekolahan punya idola baru, aku tetap enggak akan pernah ninggalin kamu" kata Leora, meyakinkan.

Angin berhenti terasa. Jalanan terasa sunyi. Rey pun memghentikan semnetara lajunya.

“Kalau kamu bilang kamu nggak akan ninggalin aku…” ucap Rey pelan, “buktikan.”

“Buktikan gimana?”

“Aku capek, Leora. Keluarga di rumah nuntut aku supaya sempurna. Sekolah mulai ngeremehin aku, dan temen-temen cuma datang pas butuh nama besar doang.”

Suara Rey pecah.

Ia menunduk — kedua tangannya bergetar di stang motor.

“Semua orang bisa berpaling kapan aja…”

“Selama ini cuma kamu yang aku punya.”

Leora terdiam.

Rey menoleh pelan, kembali menatapnya.

“Aku butuh kamu sepenuhnya,” katanya lirih. “Hari ini.”

Kata 'sepenuhnya' menancap kuat di telinga Leora. Ia refleks menjaga jarak.

“Rey… jangan bilang—”

“Aku butuh kamu,” ulang Rey lebih keras. “Cuma itu yang bisa bikin kepalaku berhenti berisik.”

Leora menggeleng pelan.

“Rey… ini bukan cara yang benar.”

Ekspresi Rey berubah.

“Jadi, kamu sama aja kayak mereka?” suaranya dingin. “Cuma bilang bakal stay… tapi pergi saat aku butuhin?”

Leora menelan ludah. “Aku nggak pergi. Aku di sini. Tapi—”

Rey tiba-tiba memukul dadanya sendiri. Sekali, tapi cukup keras.

“Kalau aku nggak punya siapa-siapa lagi…” napasnya tersengal, “aku nggak tau bakal ngelakuin hal apa ke diriku.”

Leora sontak panik.

“Rey! Jangan ngomong gitu!”

Rey tersenyum tipis, “Kalau kamu ninggalin aku sekarang… mungkin lebih baik aku—”

“STOP!”

Leora menahan tangannya. Suara Rey bergetar… “Kamu bilang kamu milikku.”

Leora terdiam. Ia merasa terjepit.

Lama ia tak menjawab.

Akhirnya…

“Baik…” ucapnya pelan. “Aku ikut kemauan kamu sekarang.”

Mata Rey melembut.

Mereka kembali naik motor. Tak ada kata-kata dan perdebatan lagi. Hanya suara mesin… dan perasaan aneh yang menekan dada Leora.

Dan sekarang tujuan mereka adalah basecamp Rey. Tempat di mana Rey mendapat segala keinginannya.

***

Basecamp Rey berada di sebuah bangunan semi-tertutup di belakang deretan ruko tua. Bau rokok, cat dinding yang memudar, serta tumpukan stik biliar di sudut ruangan menyambut mereka saat pintu besi digeser terbuka.

Beberapa anak Rey yang sedang duduk santai langsung berdiri.

“Bang.”

“Bang Rey dateng.”

Satu-satu mereka menyapa, nadanya sopan, bahkan tersenyum ramah pada Leora.

“Eh, Kak Leora… silakan masuk,” ujar salah satu dari mereka.

Tidak ada tatapan dan godaan yang merendahkan.

Mereka begitu menghormati Rey, dan itu berarti, mereka menghormati Leora juga.

Rey hanya mengangguk tipis.

“Pada keluar dulu,” katanya datar.

Beberapa wajah tampak kebingungan.

“Sekalian refreshing. Gue transfer ke Daren, kalian makan atau nonton kek… bebas.”

“Serius, Bang?” tanya Daren setengah tak percaya.

Rey sudah lebih dulu membuka ponsel, jempolnya bergerak cepat. Ponsel Daren bergetar sesaat kemudian.

“Udah masuk. Jangan balik sebelum gue bilang.”

Mereka semua langsung bersorak kecil dan cukup sopan, tidak berlebihan.

“Oke, Bang! Makasih Bang!”

“Kalem ya, jangan ribut,” pesan Rey.

“Siap, Bang!”

Satu per satu mereka keluar — menutup pintu sambil cekikikan pelan, seperti tahu sesuatu akan terjadi tapi pura-pura tidak tahu.

Hening.

Ruangan menjadi jauh lebih sunyi. Hanya suara kipas angin tua yang berputar, gemeretak pelan.

Leora berdiri di tengah ruangan. Rey mendekat. Langkahnya pelan… tapi berat.

Tatapan matanya lembut, namun dipenuhi sesuatu yang lain.

Lalu dalam sedetik, tangannya menyentuh pipi Leora. Jempolnya mengusap pelan.

“Kamu cantik banget sayang,” ucapnya lirih.

Leora menelan ludah. Jantungnya berdegup.

Mereka semakin dekat. Nafas beradu. Hidung hampir bersentuhan.

Rey membungkuk sedikit. Jarak bibir hanya tinggal beberapa centimeter.

Leora sempat memejamkan mata —

.

.

.

— lalu…

Tok tok tok tok!

Disusul suara batuk… yang terlalu dramatis.

“EHEM… EHEMMM… EHEMMM!!!”

Rey refleks menegakkan badan. Leora langsung membuka mata — kaget setengah mati.

Suara ketukan kembali terdengar.

Kali ini lebih cepat.

Toktoktoktoktoktok—!!

Rey menahan kesal.

“Siapa lagi sih….”

Ia melangkah ke pintu dan membukanya.

Seorang ibu-ibu berdiri di depan. Rambutnya disanggul seadanya, wajahnya tampak linglung seperti orang yang salah alamat.

“Ma—maaf, Nak…” ucapnya terbata. “Ini… rumah Pak Gendot bukan…?”

Rey mengernyit.

“Ibu siapa?”

Ibu itu tidak menjawab. Ia malah masuk begitu saja.

Leora spontan mundur satu langkah.

Dan…

Begitu wajah ibu itu tampak jelas — mata Leora melebar.

“Bi– Marni…?”

Namun sebelum namanya terucap keras, Bi Marni menatap Leora tajam, lalu mengangkat telunjuk ke bibirnya.

Jangan bicara. Leora langsung membeku.

Rey muncul di belakangnya.

“Bu? Kenapa masuk tiba-tiba? Ibu salah alamat kayaknya?”

Bi Marni melirik Rey dengan ekspresi polos — tapi wajahnya justru makin mencurigakan.

“Aduh, Nak… tadi saya… ini… salah jalan… saya kira ini tempat yang saya cari."

Ia berpura-pura melihat sekeliling. “tempat service perabotan.”

Rey mengerjap.

“Bu… ini jelas bukan—”

“TAPI YA SUDAHLAH YA,” potong Bi Marni cepat sambil batuk-batuk lagi.

“EHEM—EHEM! NENG! ANU—”

Rey menoleh.

“Bu… dia pacar—”

“NENG, TOLONG ANTERIN IBU DULU YA,” ujar Bi Marni sembari menyambar tangan Leora.

“Loh—”

“SOALNYA IBU NIH… KAKI NGGAK KUAT NAIK ANGKOT,” lanjutnya dramatis.

“Saya nggak—” Rey mencoba bicara.

Bi Marni sudah separuh menarik Leora ke pintu.

“TERIMA KASIH YA NAK, KALIAN COCOK SEKALI—”

Pintunya hampir tertutup. Rey terpaku di sana dengan sejuta kesal yang menumpuk di dadanya.

Setelah beberapa meter...

“BI—!” Leora berbisik, panik.

Bi Marni membalas dengan bisikan sangat kecil namun tegas: “Kamu ikut Bibi. Sekarang.”

Leora terpaksa mengangguk. Sebelum Rey sempat mencegah, mereka sudah jalan cukup jauh.

Setelah merasa aman, Bi Marni langsung menarik napas lega.

“ASTAGHFIRULLAH… hampir saja Non Leora jadi lauk tambahan dosa hari ini,” gumamnya setengah berbisik.

Leora gugup, malu, sekaligus... lega.

“Bi… kok bisa ada di sini…”

Bi Marni tersenyum lembut. “Nanti Bibi cerita. Sekarang… kita harus naik angkot dulu”

1
Neneng
g suka bgt sm leora
Raey Luma
Bacaan yang ringan dan santai. Cocok untuk menemani waktu luang.
muna aprilia
lanjut kak bagus ceritanya
banyak" in update kak
diah nursanti
lanjut thor,,,penasaran,itu Rey udah tau kalo leora tinggal ma davin ya??
Raey Luma: kita lihat nanti kak🤭
total 1 replies
diah nursanti
leora bener2 gak punya hati,buat leora menyesal thor
diah nursanti
hah,,,jadi leora tau semua kelakuan Rey nyelakai Davin???cinta memang buta,,awas leora nanti km bakal nyesel
muna aprilia
lanjutkan kak
diah nursanti
keras kepala bnget leora,,tau rasa nanti kalo dikerjain Rey lagi
Raey Luma: Namanya orang jatuh cinta kak😃
total 1 replies
muna aprilia
lanjut
diah nursanti
leora keras kepala banget jadi cewek
Shifa Burhan
author tolong jawaban donk dengan jujur

*kenapa di novel2 pernikahan paksa dan sang suami masih punya pacar, maka kalian tegas anggap itu selingkuh, dan pacar suami kalian anggap wanita murahana, dan suami kalian anggap melakukan kesalahan paling fatal karena tidak menghargai pernikahan dan tidak menghargai istrinya, kalian akan buat suami dapat karma, menyesal, dan mengemis maaf, istri kalian buat tegas pergi dan tidak mudah memaafkan, dan satu lagi kalian pasti hadirkan lelaki lain yang jadi pahlawan bagi sang istri

*tapi sangat berbanding terbalik dengan novel2 pernikahan paksa tapi sang istri yang masih punya pacar, kalian bukan anggap itu selingkuh, pacar istri kalian anggap korban yang harus diperlakukan sangat2 lembut, kalian membenarkan kelakuan istri dan anggap itu bukan kesalahan serius, nanti semudah itu dimaafkan dan sang suami kalian buat kayak budak cinta dan kayak boneka yang Terima saja diperlakukan kayak gitu oleh istrinya, dan dia akan nerima begitu saja dan mudah sekali memaafkan, dan kalian tidak akan berani hadirkan wanita lain yang baik dan bak pahlawan bagi suami kalau pun kalian hadirkan tetap saja kalian perlakuan kayak pelakor dan wanita murahan, dan yang paling parah di novel2 kayak gini ada yang malah memutar balik fakta jadi suami yang salah karena tidak sabar dan tidak bisa mengerti perasaan istri yang masih mencintai pria lain

tolong Thor tanggapan dan jawaban?
Raey Luma: Sementara contoh yang kakak sebutkan mungkin lebih menonjolkan karakter pria yang arogan, sehingga apa pun yang dia lakukan selalu tampak salah di mata pembaca. Apalagi di banyak novel, perempuan yang dinikahkan secara paksa biasanya digambarkan berasal dari tekanan ekonomi atau tanggung jawab keluarga, sehingga karakternya cenderung lebih lemah dan rapuh. Dan itu yang akhirnya membuat tokoh pria terlihat seperti pihak yang “dibenci”.


Beda dengan alur ceritaku di sini, di mana pernikahan mereka justru terjadi karena hal konyol dua orang ayah yang sama-sama sudah kaya sejak lama, jadi dinamika emosinya memang terasa berbeda.

Kurang lebih seperti itu sudut pandangku. Mohon maaf kalau masih ada bagian yang kurang, dan terima kasih sudah berbagi opini 🤍
total 2 replies
Felina Qwix
kalo aja tau Rey si Davin suaminya Leora haduh🤣🤣🤣
Raey Luma: beuuh apa ga meledak tuh sekolah🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!