NovelToon NovelToon
Selalu Ada Ruang

Selalu Ada Ruang

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Tentara / Lari Saat Hamil / Nikahmuda / Persahabatan / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:20.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bojone_Batman

Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.

Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.

KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Belum terpecahkan.

Jalan yang bergelombang membuat mobil jelajah terus bergoyang. Tiba-tiba Nira menyentuh bibirnya dengan wajah terpaku ke luar jendela.

Bang Ronald segera mengurangi kecepatan mobil. "Mau apa nih bumil??" Tanya Bang Ronald.

Nira terkejut karena merasa tetap tidak enak hati. Bang Ronald menangkap keraguan itu, ia pun ikut tersenyum geli melihat kelakuan lugu Nira.

"Pilih sendiri, jangan sampai Abang salah pilihkan." Kata Bang Ronald kemudian menepikan mobilnya.

Nira bagaikan berada di surga makanan, pasar malam itu begitu ramai dan segala makanan ada disana.

"Pilihlah sesukamu..!!"

Nira menoleh, hatinya bergetar namun ia segera menunduk. Terbersit rasa sakit tersendiri dalam hatinya merasakan sesuatu yang tidak ia pahami.

:

"Nira nggak nyangka Abang suka jajan juga. Nira sangka Abang seblak doyan rokok saja." Ujar Lira saat melihat Bang Ronald lahap menyantap seblak.

"Gitu ya?? Laki-laki hanya sedikit tertutup soal makanan, padahal sama saja." Jawab Bang Ronald sambi menghabiskan suapan terakhirnya.

Nira menghela nafas panjang, ia sempat ternganga padahal baru tiga suapan masuk ke dalam mulutnya.

Nampaknya tidak terlalu banyak berbeda. Bang Ronald melahap seblaknya tapi ia saat mulut masih kepedasan, pria tersebut tetap menghisap rokok. Tak paham darimana asalnya, Nira seakan seperti pernah merasakan hidup bersama pria yang juga kebut-kebutan soal rokok.

Bang Ronald menguarkan asap rokoknya jauh dari bumil dan berlawanan dengan arah angin.

Setelah Nira selesai makan, ada seorang pria memarahi seorang wanita, mungkin mereka adalah sepasang kekasih. Tapi yang menjadi persoalan adalah sikap kasar pria tersebut.

Seketika Nira gemetar, ia menunduk menyembunyikan rasa takutnya.

"Kamu kenapa?? Lawan rasa takutmu..!! Selama bersama Abang, pernahkah Abang kasar padamu??" Ujar Bang Ronald menenangkan Nira.

Akhirnya secara perlahan Nira mampu melawan rasa takutnya dan mulai tenang.

"Tolong perempuan itu, Bang..!!"

Bang Ronald tersenyum tipis kemudian menghampiri pria tersebut.

//

Perut Dinda sudah mulas sejak tadi pagi. Tapi kali ini rasanya luar biasa lebih menyakitkan. Dinda menggenggam perutnya dengan erat, wajahnya memerah karena menyiksa rasa sakit yang luar biasa. Ia mencoba bersandar pada dinding dapur, tapi tubuhnya hampir tak bisa menopang beban tubuhnya sendiri. Air mata mulai mengucur di pipinya, bukan hanya karena rasa sakit, tapi juga karena ia sendirian di rumah saat ini.

Dinda berusaha meraih telepon di meja yang ada di dekatnya untuk memanggil bantuan, tapi setiap gerakan kecil saja membuat rasa sakit semakin menyakitkan. Perutnya yang sudah mulai membesar karena kehamilan seolah jadi titik fokus pada semua rasa tidak nyaman itu yang menyergapnya.

tok.. tok.. tok..

"Rama..!!" Terdengar suara Bang Ardi memanggil.

Sekuat tenaga Dinda menyahut dari dalam rumah. "Baaaang, tolooong..!!!!"

Tak menunggu waktu lama, Bang Ardi mengintip lewat pintu samping dan mengintip ke arah dapur.

"Astaghfirullah, Dindaaa????" Bang Ardi menerobos masuk ke dalam rumah tapi tangannya pun sibuk menghubungi seseorang di seberang sana.

:

Bang Rama berlari sampai terpeleset di depan rumah saat mendengar kabar Dinda akan segera melahirkan.

"Saya sudah hubungi bidan, sebentar lagi pasti datang." Kata Bang Ardi, ia sampai tidak sadar tangannya masih menopang Dinda yang sudah mulai merasakan kontraksi semakin sering.

Bang Rama tau tapi juga memahami hal tersebut. Memang pada kenyataannya saat itu sang istri sedang membutuhkan bantuan.

Bersamaan dengan itu, Bu Nurmala menarik tangan Vania, istri Bang Ardi.

"Lihat... Suamimu lebih mengutamakan wanita lain daripada kamu. Bahkan sampai sekarang kamu belum juga hamil. Kamu mandul????? Kamu tidak sadar, sund*l ini masih menggoda Ardi. Kalau kau tidak ada gunanya untuk Ardi, seharusnya uangmu berguna untuk menyelamatkan pernikahanmu." Omel Bu Nurmala berteriak di rumah Bang Rama.

Setengah mati malunya Bang Ardi saat itu, apalagi Bang Rama terus menatap wajah ibunya dengan penuh amarah.

"Bawa ibumu pergi..!!!" Perintah Bang Rama tenang namun penuh ketegasan.

Bang Rama bukannya tidak berani. Ia hanya ingin memberi muka pada Bang Ardi sebagai sahabatnya, membuat Dinda tenang tanpa banyak keributan sekaligus berhati-hati menjaga mentalnya.

Tak banyak bicara, Bang Rama segera mengambil alih Dinda dari tangan Bang Ardi.

Bang Ardi yang sudah terlanjur malu langsung mengarahkan Ibu Nurmala dan Vania untuk pulang tapi Ibu Nurmala menolak.

"Kamu mau melepaskan wanita ini begitu saja???? Penjarakan dia..!!! Kau habis banyak uang untuknya tapi dia memilih laki-laki." Teriak Bu Nurmala.

Dada Bang Rama terasa panas. Ia sudah berusaha menahan diri dari amarah tapi ibu Nurmala terus saja menguji kesabarannya. Ia membaringkan Dinda dengan hati-hati lalu menarik krah gamis bu Nurmala.

"Beraninya kau bertingkah di depan istriku..!!!!"

"Ramaa.. Raammmm.. Tolong lepaskan ibuku, biar saya saja yang menasihati beliau." Kata Bang Ardi penuh permohonan.

"Kalau nasihatmu berguna, seharusnya manusia gendut ini sudah berubah, tapi dia sama sekali tidak peduli. Bawa dia pergi jauh dari mataku, kalau sempat saya lihat dia lagi, saya sendiri yang akan membeset kulitnya tanpa ampun..!!!" Ujar Bang Rama memberikan peringatan keras.

"Iya Ram.. Iyaaa.. Saya minta maaf..!!" Jawab Bang Ardi. "Ayo, dek..!!" Bang Ardi mengajak Vania pulang.

//

Entah sudah berapa bulan sejak Kinan hilang. Rumah Bang Rico yang dulu selalu terang kini sunyi sepi dan gelap, segelap hatinya. Seperti biasa, Bang Rico hanya berdiam diri di kamar, menatap foto-foto kenangan bersama istri. Tubuhnya semakin kurus, wajahnya pucat seperti orang sekarat.

"Habiskan makanannya dong, Ric," ujar Bang Arben sambil menaruh mangkuk makanan di mejanya.

Tapi Bang Rico tidak menyentuhnya sama sekali. Ia hanya menatap foto Kinan dengan bibir bergetar. "Aku salah, aku bukanlah suami yang baik untuknya. Dia pergi saat aku belum sempat menjelaskan apapun.

Bang Arben mendesah berat, ia sungguh prihatin melihat keadaan Bang Rico. Tim pencariannya pun sampai kehilangan informasi tentang Kinan.

Sudah beberapa kali Bang Rico keluar rumah tengah malam, berjalan tanpa arah tujuan mencari jejak Kinan, hingga akhirnya ditemukan oleh teman-temannya yang sudah sangat khawatir. Pernah suatu hari, Bang Rico tiba-tiba jatuh pingsan di kamar karena kurang makan dan tidak tidur selama berhari-hari.

Saat dibawa ke rumah sakit, dokter mengatakan kondisinya sangat memprihatinkan. Stress berat dan kurang nutrisi membuat tubuhnya sangat lemah. Jika tidak segera mendapatkan penanganan, bisa berdampak serius pada kesehatan jantung dan otaknya.

"Pulang, dek.. Pulang sayang..!!!" Ratapnya pilu.

//

Nira sangat bahagia karena Bang Ronald bisa mengatasi permasalahan tadi. Senyumnya pun merekah.

"Oiya, besok jadwalmu check up ke dokter kandungan. Biar besok Abang saja yang antar ke rumah sakit, Mama ada pertemuan dengan jajaran anggota." Kata Bang Ronald.

Sejenak Nira terdiam. Pandang matanya menerawang jauh.

"Kenapa, dek? Capek?? Ngantuk?? Atau lapar??" Tanya Bang Ronald.

"Hmm.. Pertemuan anggota ya, kenapa sepertinya ada hal familiar yang Nira pernah rasakan." Jawab Nira.

"Familiar??? Kamu pernah hidup di lingkungan militer???? Pernah ikut pertemuan istri anggota??? Atau suamimu juga anggota???" Berondong Bang Ronald penasaran.

Seketika kepala Nira terasa berat berkunang-kunang. "Ng_gak.. Nira nggak bisa ingat."

Bang Ronald pun paham. "Maaf.. Maaf ya, mungkin Abang terlalu terburu-buru. Pokoknya kalau ada sesuatu yang kamu ingat, cepat bilang sama Abang..!!"

.

.

.

.

1
dyah EkaPratiwi
haduh kenapaa lagi ainay
Maysuri
y allah bang ron masaknya pisang goreng....engk banget deh lu bang....🤦🤦🤦
Maysuri
🤣🤣🤣 siapa lg lah klw engk bojo sendiri y nay....semangat nay berjuang 💪💪
Tanti
siapa ini mba Nara?? apa sesuai dugaan bang Rico??
Tanti: tebak- tebakan ini.....
lanjut mba Nara
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
semangat nay😭
Maysuri
akibat keegoisannya bumil yg setinggi gunung himalaya,sekarang malah menahan rindu yg membumung tinggi bagai awan d angkasa,jd sakit sendirikan....🤦🤦
Ella
Stres berjamaah sdh abang²nya🤣🤣
dyah EkaPratiwi
semangat nay
Maysuri
sahabat sejati ni....semangat mbak nara 💪💪
Tanti
Nay, kamu akan aman dlm penjagaan sahabat-sahabat bang Ronald
next mba Nara
Maysuri
🤦 engk paham a dngan ibu 1 ini bah......kok bisa dia lompat pagar berduri....🤔🤔🤔
Bojone_Batman: Dan terjadi hal seperti ini di dunia nyata.
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
😭😭😭 semoga ainay baik2 aja, bener2 ya Bu nurmala
dyah EkaPratiwi
😭😭😭
Maysuri
aaaaahhhhh.....kok aq yg terenyuh....sedih banget tau....🤭🤭
Maysuri
sangkinkan bahagianya ya bang sampai engk karuan perasaannya ya bang....😁😁 semangat mbak nara...💪💪💪
Maysuri
🤣🤣🤣 a allah....
dyah EkaPratiwi
🤭🤭🤭 gacor bang
Ayu FazRina Satiasari
torr...monitor ketua lapor..anggota gacor🤭🤭🤭🤭🤣🤣
Maysuri
apa mungkin ya ibunya bang ardi sakit jiwa....🤦🤦se.sangat mbak nara 💪💪💪
Maysuri
sabar y bang roon......semua wanita emang kek gitu sifatnya wanita,mau yg bocil atau mau yg dah dewasa,kalau lg cemburu....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!