NovelToon NovelToon
Legenda Sang Bayangan

Legenda Sang Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Kultivasi Modern
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: kansszy

sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32

Aku tidak lagi memakai nama Kenzy.

Bukan karena aku membencinya, tapi karena nama itu terlalu berat untuk dibawa ke jalanan. Di setiap kota kecil yang kulewati, aku hanya menyebut diriku “orang lewat”. Kadang penjaga penginapan memanggilku dengan nama asal-asalan. Kadang mereka tidak bertanya sama sekali. Dan aku menyukainya begitu.

Tanpa nama, aku tidak perlu menjelaskan masa lalu.

Hari-hariku sederhana. Bangun sebelum matahari tinggi, berjalan mengikuti jalur dagang atau hutan sepi, bekerja apa saja yang bisa ditukar dengan makanan: memperbaiki pagar, mengawal kafilah kecil, atau sekadar membantu petani mengusir binatang liar. Aku masih membawa pedang, tapi jarang kugunakan. Bukan karena aku lupa caranya—melainkan karena setiap kali pedang itu terhunus, masa lalu ikut bangkit bersamanya.

Aku belajar sesuatu sebagai pengembara: dunia ini jauh lebih luas daripada dendam satu keluarga.

Di desa-desa kecil, orang tidak peduli tentang Scarlet, Lin, atau Tong. Mereka peduli apakah panen gagal, apakah anak mereka sakit, apakah besok hujan turun tepat waktu. Masalah mereka kecil, tapi nyata. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa berguna tanpa harus menghancurkan siapa pun.

Namun malam tetap sulit.

Saat api unggun mulai meredup dan suara serangga menjadi satu-satunya teman, pikiranku kembali ke aula keluarga Tong. Ke kursi Tauke Besar yang kini mungkin sudah diduduki orang lain. Ke wajah Basyir yang tenang. Ke pertanyaan yang tidak pernah terjawab: apakah keputusanku membuat segalanya lebih baik, atau hanya memindahkan masalah?

Aku sering membuka catatan Hanzo di malam-malam seperti itu.

Buku kecil itu kini penuh lipatan, noda hujan, dan bekas waktu. Tapi kata-katanya tidak berubah. Ia menulis tentang bertahan hidup dengan cara yang salah. Tentang rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar pergi. Anehnya, membaca tulisannya membuatku merasa tidak sendirian.

Kami berdua memilih jalan keluar yang berbeda.

Ia memilih mati.

Aku memilih pergi.

Aku tidak tahu mana yang lebih pengecut.

Di sebuah kota pelabuhan kecil, aku hampir kehilangan kendali. Seorang pria mabuk berteriak tentang perang lama, tentang klan-klan besar yang hanya tahu mengorbankan orang kecil. Kata-katanya kasar, tapi jujur. Untuk sesaat, aku ingin mengaku. Ingin bilang bahwa aku salah satu dari mereka. Bahwa aku pernah memerintahkan kematian demi stabilitas.

Tapi aku diam.

Aku belajar bahwa pengakuan tidak selalu membawa kelegaan. Kadang, diam adalah satu-satunya cara untuk terus berjalan.

Aku pernah menolong seorang anak kecil yang terjebak di reruntuhan gudang. Tangannya berdarah, matanya penuh takut. Saat aku menggendongnya keluar, ia menggenggam bajuku erat, seolah aku satu-satunya hal yang nyata di dunia yang runtuh itu.

Ibunya berterima kasih sambil menangis. Ia tidak tahu siapa aku. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa lega karena itu.

Jika ia tahu, mungkin terima kasihnya akan terasa berbeda.

Lebih berhati-hati.

Lebih penuh jarak.

Sebagai pengembara, aku belajar hidup tanpa dipuja dan tanpa ditakuti. Tidak ada orang yang menunduk saat aku lewat. Tidak ada yang menunggu perintah. Dan anehnya, di situlah aku menemukan kedamaian yang tidak pernah kutemukan sebagai pemimpin.

Tapi kedamaian bukan berarti bebas dari luka.

Suatu malam, aku bermimpi tentang Hanzo lagi. Kami tidak bertarung. Kami hanya duduk di tepi sungai, seperti saat masih kecil. Ia bertanya kenapa aku pergi dari Tong. Aku tidak bisa menjawab. Aku terbangun dengan dada sesak dan mata basah.

Aku sadar sesuatu pagi itu: aku bukan lari dari kekuasaan. Aku lari dari kemungkinan menjadi monster yang sama seperti mereka yang menghancurkan desaku.

Dan mungkin… itu cukup.

Di jalan, aku bertemu orang-orang yang juga melarikan diri dari masa lalu: mantan tentara, janda perang, anak-anak tanpa rumah. Kami tidak saling bertanya terlalu banyak. Kami saling memahami tanpa perlu cerita lengkap. Setiap orang membawa beban sendiri, dan jalan ini cukup lebar untuk semuanya.

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri: apakah suatu hari aku akan kembali? Bukan untuk memimpin, tapi untuk melihat. Untuk tahu apakah keluarga Tong masih berdiri, atau sudah berubah menjadi sesuatu yang asing.

Jawabannya selalu sama: belum.

Aku masih belajar hidup tanpa rencana besar. Masih belajar menerima bahwa tidak semua hidup harus punya tujuan agung. Beberapa cukup punya hari esok.

Saat aku menatap bayanganku di air sungai, aku hampir tidak mengenali diriku sendiri. Wajahku lebih tua, mataku lebih tenang, dan pundakku—untuk pertama kalinya—tidak dipenuhi beban dunia.

Aku bukan pahlawan.

Aku bukan pemimpin.

Aku bahkan bukan Kenzy, setidaknya bukan Kenzy yang dulu.

Aku hanya seorang pengembara tanpa nama, berjalan di dunia yang pernah ingin kuubah dengan darah, kini kucoba pahami dengan langkah pelan.

Dan mungkin, di akhir jalan nanti, ketika aku cukup berani untuk berhenti…

aku akan menemukan jawaban atas satu pertanyaan terakhir:

Apakah meninggalkan segalanya membuatku kalah—

atau justru akhirnya membuatku menjadi manusia?

1
Adi Arkan Imani
bagus
KanKaaan!!!
cocok buat orang yang lagi mencari cerita dan inspirasi
Adi Arkan Imani
lumayan
kansszy: heeheeee maksih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!