Hallo besti 🖤, cerita ku ini tentang cewek bernama Syakila Almeera yang memiliki sifat ceria, aktif, ekspresif, lembut, dan penuh cinta bertemu dengan Agha yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Syakila.
mereka berdua di satukan oleh pernikahan paksa, dan banyak drama didalam pernikahan mereka, apakah Agha akan jatuh cinta dengan Syakila yang terus-menerus memperlakukan Agha dengan penuh cinta atau akankah Agha tetap terjebak di lingkaran bernama masa lalu. Maka saksikan dan baca terus cerita happiness ini yah, jangan lupa komen like dan follow untuk info selengkapnya, bay bay besti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Umai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Berusaha terbiasa
Pagi harinya Agha bangun ketika azan subuh berkumandang, langsung saja mandi dan siap-siap untuk pergi sholat berjamaah di masjid, sementara Syakila yang sedang datang tamu bulanan nya langsung turun kebawah dan menyiapkan sarapan untuk Agha dan rencana akan menyiapkan bekal makan siang juga itupun jika Agha mau membawanya, jika tidak Syakila tidak di akan sakit hati, toh emang semuanya butuh proses kan.
"Enaknya masak apa yah, em sup ayam aja deh sama ambal udang kesukaan A'a." Gumam Syakila sambil mengeluarkan bahan yang dibutuhkannya dari kulkas.
Sejauh ini Syakila masih memasak makanan yang Agha suka, sebab terlihat Agha mulai menerima Syakila yang tinggal dengannya dan tidak ada juga perkataan Agha yang terbilang kasar membuat hati sakit, tidak Agha tidak melakukan itu makanya Syakila sedikit senang.
Tak lama masakan siap bertepatan dengan Agha yang pulang dari masjid, terlihat wajah Agha yang tampan dengan ekspresi datarnya tapi siar matanya tidak bisa bohong, terpancar ada kesedihan, amarah, serta benci menjadi satu. Syakila sudah menyadari itu saat Agha pulang kerja tadi malam, takut bertanya yang bisa membuat Agha marah, maka Syakila memutuskan untuk diam dan melayani kebutuhan Agha.
"A'a sarapan dulu yuk, habis itu baru siap-siap ke kantor." Agha hanya menjawab dengan deheman dan duduk menunggu Syakila yang menyiapkan makanya.
Mereka makan dengan khidmat, kemudian Agha naik ke atas untuk masuk kedalam ruang kerjanya menyiapkan hal yang akan di bawanya, sementara Syakila menyiapkan pakaian kerja Agha. Untuk hari ini Syakila menyiapkan kemeja kream, pantalon (celana bahan casual) coklat, jas Coklat, sepatu kulit coklat, sabuk (tali pinggang) kulit coklat, jam tangan rolex cosmograph daytona silver.
Setelah itu Syakila turun ke bawah menyiapkan bekal makan siang untuk Agha beserta cookies yang di buatnya, sementara di lain tempat Agha yang sibuk menyiapkan beberapa berkas, laptop dan iPad nya ke dalam tas Coach Racer Messenger In Signature Canvas - CT716 Black tas yang sering di gunakan nya karena simpel.
Drrt....
Suara getaran handphone Agha memenuhi ruangan kerja nya yang sunyi, sebelum di angkat melihat sebentar siapa yang menelpon, tertera nama Jhonatan.
"Why?."
"Have you set the schedule?." (Apakah Anda sudah menetapkan jadwalnya?).
"Done, tomorrow."
"Okay."
Tut!
Telepon terputus, emang mereka jika bicara di telepon sesingkat itu, tapi jika bertatap muka dah panjang yang di bahas apalagi kalau tentang kerjaan.
Agha langsung masuk ke kamarnya lebih tepatnya ke dressing room dan melihat pakaian dan lainnya udah di siapkan Syakila, tanpa berlama-lama Agha langsung memakai dan merasa rapi Agha langsung turun ke bawah sambil membawa tasnya, saat sampai bawa dan akan langsung berangkat, dirinya di tahan oleh Syakila.
"A'a ini bekal makan siang sekalian ada camilan di dalamnya, semoga A'a suka yah." Mendengar itu Agha menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa tiba-tiba?."
"Kila gak mau A'a makan yang aneh-aneh, mulai sekarang makan siang A'a Kila yang siapkan." Tak mau ambil pusing, Agha langsung mengambil lunch box bag berwarna abu dengan ekspresi datarnya.
"Salim A'a." Ucap Syakila sambil menyodorkan tangannya meminta tangan Agha, dan Agha memberikan tangannya.
Setelah itu Agha lansung masuk kedalam mobil, hari ini Agha tidak menyetir, melainkan Helmi yang mengajukan untuk menjadi supir Agha untuk beberapa hari kedepan. Helmi takut terjadi hal-hal tak di inginkan terjadi kepada Agha, mau gimana juga si Agha ini sedang ada konflik dengan Tom Hartono, pria gila yang sulit di tangkap seperti belut.
Selama perjalanan suasana mobil terasa sunyi, Helmi yang mencari topik agar ekspresi bosnya yang seperti itu berencana mengusili bosnya.
"Widih, bawa bekel nih sekarang?."
"Diam lah."
"Enak kan bos kalau ada yang ngurusin, mana di masakin juga, apalagi tidur ada yang temani."
"Kau bosan hidup ya." Ucap Agha dengan nada emosi.
Mendengar itu Helmi terkekeh pelan, dirinya senang melihat perubahan kecil bosnya, bisa di lihat dengan warna outfit kerja nya yang berganti warna, bisanya hanya hitam, putih dan abu-abu serta sudah ada yang memasak makan siang untuknya melihat semenjak kejadian tiga tahun lalu yang sangat kelam, tapi syukurlah bosnya perlahan keluar dari black zone nya.
Sampai di kantor Agha langsung mengadakan meeting sesuai jadwal, di siang hari Agha siap sholat Zuhur langsung berangkat meeting di Al Group dan kembali ke kantor di jam empat sore, langsung saja ke mushola di lantai paling atas gedung kantornya untuk sholat ashar dan baru masuk ke ruangannya.
Di bukanya pintu ruangannya, Agha merasa ada hal yang dilupakannya tapi dia bingung apa, setelah beberapa saat barulah teringat akan bekal makan siangnya yang tadi pagi di bawakan Syakila, langsung saja di ambil dan berjalan menuju pantry untuk memanaskan makanan.
"Beh parah, baru di makan sekarang." Ucap Helmi saat sampai di pantry untuk mengembalikan gelas kopi nya, eh melihat Agha yang sedang makan bekal nya.
"Lupa gue."
"Wih, seorang Erlan Agha Harrison lupa?." Ucap Helmi dengan nada remeh.
"Gini-gini juga gue manusia ya."
"Iya deh, btw bos, lu udah ngabarin buk bos kalau besok berangkat ke Italia?."
"Harus banget, izin?."
"Ya elah, bos inget buk bos istri lu, jangan gitu tar tidur di luar lu baru tau rasa."
Agha diam saja sambil memakan makanannya, dalan diamnya Agha memikirkan juga perkataan Helmi yang mengharuskan dia memberitahu Syakila. 'Apakah harus, toh bentaran aja kan, tapi tar panjang pula urusannya, ribet banget.' Batin Agha.
...****************...
Agha memarkirkan mobilnya di bagasi dan masuk kedalam rumahnya, hari ini Agha pulang sore karena besok dirinya akan berangkat.
"Assalamu'alaikum." Ucap Agha saat masuk kedalam rumah.
"Waalaikumsalam, A'a udah pulang. Duduk dulu A'a, Kila mau ambil minum dulu." Agha pun duduk di sofa ruang tamu menunggu Syakila kembali.
"Ini A'a, minumnya." Ucap Syakila memberikan segelas air putih, dan Agha menerimanya.
"Besok saya berangkat ke Italia." Ucap Agha tanpa melihat ke arah Syakila.
"Berapa hari A'a?." Tanya Syakila sambil melihat ke arah Agha.
"Belum tau, ada masalah yang harus di selesaikan disana."
"Kalau gitu Kila tunggu A'a di rumah aja." Ucap Syakila setelah diam beberapa detik.
"Kembali lah ke rumah orang tua mu, jangan sendirian di rumah ini."
"Ih A'a ngusir Kila." Ujar Kila dengan nada terkejut.
"Bukan itu maksud ku, lebih aman jika di rumah orang tua mu. Kondisi saya saat ini sulit untuk di jelaskan, jadi ikutin saja ucapan saya, mengerti?." Ucap Agha dengan nada tegas.
"Berarti berat masalahnya, yaudah Kila ikut kata A'a."
"Kamu siapkan pakaian kamu, sebentar lagi kita kesana."
"Pakaian A'a mau di siapkan juga?."
"Tidak perlu."
"Baiklah." Syakila langsung naik ke atas untuk memasukkan pakaian nya kedalam koper beserta kebutuhan lainnya seperti skincare.
"Oh iya, bisa-bisanya aku lupa kalau A'a ada rumah di negara tempat perusahaan A'a, jadi gak perlu siapin apapun kan disana udah lengkap." Ucap Syakila sambil menata barang di kopernya.