NovelToon NovelToon
Love After Getting Married

Love After Getting Married

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Kaya Raya / Dokter / Tamat
Popularitas:113.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tulisan_nic

IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Albie Putra Dewangga, 32 tahun.
Dokter bedah trauma—pria yang terbiasa berdiri di antara hidup dan mati, tapi justru kalah saat menghadapi percintaan.
Kariernya gemilang. Tangannya menyelamatkan nyawa.
Namun hatinya runtuh ketika Alya, kekasihnya yang seorang model, memilih mengejar mimpi ke Italia dan menolak pernikahan.
Bagi Albie, itu bukan sekadar perpisahan melainkan kegagalan.
Di malam yang sama, di sebuah bar ia bertemu Qistina Aulia, 22 tahun.
Mahasiswi cantik dengan luka serupa, ditinggal pergi oleh pria yang ia cintai.
Dua hati yang patah.
Dua gelas yang terus terisi.
Hadir satu keputusan gila yang lahir dari mabuk, kesepian, dan rasa ingin diselamatkan.
“Menikah saja denganku. Aku cowok kaya dan tampan,dan bisa membahagiakan mu."
Kalimat itu terucap tanpa rencana, tanpa cinta atau mungkin justru karena keduanya terlalu lelah berharap.
Apakah pernikahan yang dimulai dari luka bisa berubah menjadi cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan 1

*

"Keyakinan yang tidak menawar takdir, hanya memohon kekuatan untuk menjalaninya."

*

*

Pagi hari, Qistina di kejutkan dengan suara muntah dari kamar Ibunya. Ada apa dengan Ibu? Bukankah tadi malam baik-baik saja?

Qistina bergegas mendatanginya, Bapak sudah lebih dulu di samping Ibu mengurut lembut punggungnya.

Tangan satunya lagi memegang segelas air hangat.

"Pak, Ibuk mual muntah lagi?" tanya Qistina panik

"Iya, menurut dokter di rumah sakit kalau muntahnya jadi lebih sering itu tandanya tidak bisa di tunda lagi. Bapak akan bawa Ibu ke rumah sakit." jawab Bapak dengan wajah cemas.

"Iya Pak, Ibu harus di bawa ke dokter. Bawa aja motornya, biar nanti aku ke kampus bisa jalan kaki."

Bapak mengangguk, tangannya masih mengelus pelan punggung istrinya itu.

Wajah Ibu pucat, nampak sekali ia menahan nyeri. Akhir-akhir ini nyeri di perut kanan bagian atas lebih sering terjadi. Hasil periksa di poli penyakit dalam kemarin masih belum membuahkan hasil. Rencananya hari ini hasil laboratoriumnya keluar.

"Duh...sesaknya makin kerasa." Suara Ibu bergetar.

Qistina jongkok di sebelah Ibunya yang tengah duduk di samping ranjang.

"Ibuk, sabar ya. Nanti ke rumah sakit sama Bapak." Qistina mencoba menguatkan Ibunya. Jujur, hati Qistina sangat takut dan cemas dengan keadaan Ibu. Ia tidak pernah tega melihat Ibunya menahan sakit seperti itu.

Cepat Qistina memakaikan sweater dan hijab instan pada Ibunya, memastikan tubuh itu hangat dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Bapak sudah siap, duduk di atas motor yang sudah ia panaskan mesinnya. Dengan di bantu Qistina, Ibu sudah duduk di jok di boncengan.

"Pak kalau ada apa-apa cepat kasih kabar Qistina ya."

Qistina sambil bersalaman dengan keduanya. Yang di jawaban dengan anggukan Bapak.

***

Bapak dan Ibu sudah pergi menuju rumah sakit, Qistina menghela nafas sejenak merebahkan punggungnya di sandaran kursi.

"Semoga nggak ada masalah serius sama kesehatan Ibu."

Matanya terpejam sebentar, tiba-tiba ia teringat dengan pesan yang di kirim Calvin semalam.

Masih menjadi tanda tanya untuknya, apa sebenarnya yang di maksud Calvin dengan bukti-bukti foto. Perasaan dia tidak pernah belaku bodoh, sejak satu tahun hubungannya dengan cowok itu belum pernah sekalipun dia mengirimkan gambar aneh-aneh. Hanya Pap kegiatan biasa. Atau foto dirinya tersenyum manis dengan anggle andalan. Tidak ada yang perlu di cemaskan soal itu. Tapi, kenapa Calvin mengirim pesan seperti itu?

Qistina meraih ponselnya, membaca ulang pesan dengan kursor berkedip.

< apa maksud kamu?> Qistina membalasnya.

Tak lama balasan dari Calvin muncul.

Qistina tercekat, matanya nanar melihat balasan barusan. LC? Melayani cowok-cowok? Apa maksudnya?

< Tapi aku akan merahasiakan ini, asal kamu mau balikan lagi sama aku. Layani aku sama seperti kamu melayani cowok-cowok itu >

Qistina mengepalkan tangan, tidak terima dengan tuduhan-tuduhan yang Calvin kirimkan. 'Dia mau apa lagi sih? Sengaja banget bikin hidup orang terganggu.'

Singkat Qistina mengetik balasan itu. Dia sedang tidak bisa berfikir banyak. Dia memilih untuk tidak memperpanjang masalah, menghindari Calvin rasanya adalah pilihan paling tepat. Ia letakkan ponsel di atas meja, lalu bergegas ke kamar mandi. Bersiap menuju kampus.

***

Masih pagi, rumah sakit pusat masih nampak lengang. Albie berjalan menuju ICU, namun pandangannya menangkap seorang pria paruh baya tengah duduk dengan kepala tertunduk di depan ruang laboratorium.

"Itu, Bapak yang sama istrinya kemarin. Tapi kenapa wajahnya cemas sekali?" Albie sambil berjalan menghampiri.

"Assalamualaikum Pak, gimana kabarnya?" tanya Albie ramah.

Bapak itu mendongak, menatap wajah Albie dengan tatapan sayu. Nampak sekali kalau ada banyak yang sedang ia pikirkan.

"Wa'alaikumsalam Dok, Alhamdulillah saya sehat." jawabnya sambil memaksakan senyum.

"Ibu di dalam pak?" Albie sambil menunjuk ruang laboratorium.

"Iya Dok, tadi pagi muntah-muntah, terus nyeri di perutnya. Saya teringat pesan dokter kemarin. Kalau muntahnya hebat Jagan di tahan, langsung di tangani. Jadi saya cepat-cepat bawa istri saya kemari." Bapak itu memberi penjelasan.

"Nyerinya di perut kanan atas menjalar ke punggung ya Pak?"

"Iya Dok, sampe minum aja nggak bisa. Minum dikit langsung muntah."

Albie mengangguk-angguk. Dia sudah menebak apa yang di rasakan Ibu itu sejak pertama kali mereka bertemu. Tapi, ia tidak mau bicara hanya berdasarkan tebakan perlu diagnosis akurat untuk mengetahui jenis penyakit.

"Saya kasihan istri saya Dok, melihat dia menahan sakit. Tapi istri saya tidak pernah mengeluh berlebihan. Dia percaya rasa sakit kalau di sertai sabar akan menjadi pahala, dan penggugur dosa." Suara Bapak itu sedikit bergetar, nampak ada tangis yang ia tahan.

Albie terkesiap, menatap lekat pada Bapak. Kalimat itu bagai gelas kaca jatuh di lantai. mengusik relung hati Albie terdalam. Bagaimana bisa, orang masih berfikir seperti itu di kala sedang merasakan kesakitan hebat. Pastilah orang ini memiliki keyakinan yang sangat kuat, keyakinan yang bagaimana? Membuat Albie tertarik untuk tahu kelanjutannya.

"Maaf Pak, boleh saya bertanya?" Manik mata Albie menatap serius.

Bapak tadi mengangguk, "Boleh Dok, tanya tentang apa?"

"Yang membuat Ibu percaya dan yakin bahwa penyakitnya bisa menjadi pahala dan penggugur dosa apa Pak?"

Bapak itu menarik napas panjang sebelum menjawab. Tangannya yang sejak tadi menggenggam ponsel perlahan mengendur, seolah ia sedang menata kata-kata agar tak ikut runtuh bersama perasaannya.

"Karena kami percaya, Dok,"ucapnya pelan, namun mantap. "...hidup ini bukan tentang seberapa lama kita kuat, tapi seberapa ikhlas kita menerima apa yang datang."

Ia menunduk sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lirih.

"Istri saya selalu bilang… rasa sakit itu bukan hukuman. Kadang ia datang sebagai cara Tuhan mendekatkan hamba-Nya. Saat tubuh kita lemah, hati justru sering kali lebih jujur."

Albie terdiam. Kata-kata itu terdengar seperti pengakuan yang lahir dari perjalanan panjang.

"Kalau sakit hanya dianggap musuh, kita akan sibuk melawannya. Tapi kalau sakit diterima sebagai pengingat, kita belajar untuk berserah," lanjut Bapak itu. "Bukan berarti pasrah tanpa usaha, Dok. Kami tetap berobat, tetap mencari jalan sembuh. Tapi hati kami tidak ikut memberontak."

Matanya berkaca-kaca, namun senyumnya tetap bertahan.

"Istri saya percaya, setiap helaan napas saat menahan sakit, setiap air mata yang tidak ia keluhkan, itu semua tidak hilang sia-sia. Mungkin di mata manusia itu cuma penderitaan… tapi di hadapan Tuhan, siapa tahu itu sedang menimbang ulang hidup kami."

Albie menelan ludah. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.

"Dan saya, Dok," lanjut Bapak itu pelan, "belajar dari dia. Kalau saya tidak bisa meringankan sakitnya, setidaknya saya bisa ikut bersabar. Karena keyakinan seperti itu… tidak datang dari buku. Ia tumbuh dari hati yang sudah lama mengenal dirinya dan penciptanya."

Albie menunduk sejenak, merasakan sesuatu yang hangat sekaligus perih menyusup ke dadanya. Untuk pertama kalinya pagi itu, ia lupa bahwa dirinya seorang dokter—ia hanya seorang manusia yang sedang belajar memahami iman dalam bentuk paling sunyi.

*

*

*

~Salam hangat dari Penulis 🤍

1
miamio
tata bahasa dlm penyebutan org yg usia nya jauh lebih tua knp gtu y? manggil "mas" hanya ke tokoh utama..padahal naufal jg dokter yg usaia dan tingkatan karirnya jaaaaauuuuh diatas dia...manggil rekan kerja yg senior baik umur dan pengalaman jg asal sebut nama dan unggah ungguh..sayank klo cerita yg uda bagus tp kesan nya kuranf deep krn hal tsb
_Nic: Di kehidupan nyata, ada beberapa orang yang lebih suka di sebut nama tanpa embel² didepannya. Contohnya tipe seperti Naufal, yang enjoy menghadapi kehidupan. Terimakasih atas komentarnya kak, baca juga novel aku lainnya ya🙏 Semoga bisa memenuhi ekspektasi kakak🤍🤍
total 1 replies
Rina Mariana
baik dan menyenangkan
_Nic: Terimakasih 🤍🤍🤍 Baca novel ku yang lainnya juga kak, semoga bisa menemani disela aktivitas kakak💕
total 1 replies
Kikin
ok
_Nic: Terimakasih 🤍🤍🤍
total 1 replies
SANG
Keren💪👍
SANG: Masama dek💪👍
total 2 replies
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
🙂
_Nic: Terimakasih untuk ekspresinya kak, semoga cerita ini mampu menghibur kakak🙂
total 2 replies
Iffanaya 😽
hadeuh pikiran mu pal
Iffanaya 😽
papa gk tu 😭😭🤣🤣
💕⃝🅐🅩🅘🅩🅘④⑨
semangat autor
_Nic: Terimakasih banyak kak, Author senang sekali di semangati begin🫠💕Kakak juga semangattt yaaa🔥
total 1 replies
neny
alhamdulillah happy ending,,terima.kasih kak othor,, cerota nya menarik untuk di baca,,smg sukses selalu,,🤲🤍
_Nic: Maasyaallah terimakasih banyak akak, sudah menemani perjalanan Albie & Qistina. Semoga cerita ini menghibur akak. Nantikan cerita mereka selanjutnya ya kak💕
total 1 replies
Herman Lim
wahh ada extra part nya donk Thor
_Nic: Insyaallah, Author sedang menyiapkan cerita lanjutannya kak💕 Do'a kan semuanya lancar dan cerita Albie & Qistina kembali jadi teman di sela aktivitas akak.
Jangan lupa kasih ulasan dan rating 5 untuk cerita ini ya kak. Terima kasih sudah menemani perjalan sejauh ini💕
total 1 replies
..dheenda..
belum tamaaat kan kaa
_Nic: Tamat kak, do'a in Author untuk kelancaran karya lanjutannya ya💕 Jangan lupa kasih ulasan dan bintang 5 untuk cerita ini kak.
Insyaallah Author sedang siapkan cerita lanjutannya
total 1 replies
neny
gini kan enak,,dlm rmh tangga tuh komukasi,,saling percaya,saling terbuka,,itu kunci nya
neny: eehh,,skrng malah dituduh bapak nya anak alya,,qis,,qis,,ada2 ajh km mah🤣🤣🤣
total 2 replies
neny
yasudahlah,,mau gmn lg,,niat menolong malah menjdi kesalah fahaman,,mknya lain kali apa2 tuh cerita biee,,
neny
kapookk km bieee,,makanyaa,,jd orang jng terlalu baik,,sdh tau alya itu pernah nyakitin qistina,,eeh malah mau2 nya bujukin alya,,orang tua nya jg ngapain udh dibantu,malah nge jelasin segala ke qistina,,mana ngejelasin nya setengah2 lg🤦🤦
neny: emng iya kak,,klau dia gk berharap gk mungkin dia ngmng gtu sm qistina,,kan dia yg minta tlng spy alya bs tenang,dan ktnya cuma albie yg bs nenangin alya🤦
total 2 replies
Herman Lim
waduh moga aja gpp sama janin qis setelah ini kamu harus tegas albie jgn jadi lelaki yg plin-plan KLO mank niat bantu tapi ya harus tegas
Herman Lim: hooh kak pengen bgt aku pites dia da syukur dapat bini bgs malah sok paten
total 2 replies
Anonim
Up nyaa kok lama sih kak doubel dong
_Nic: Maaf ya kak, kemarin dan hari ini ada kendala dengan server platform nya, jadi ada kendala untuk up bab. Insyaallah kalau sudah normal, akan up seperti biasanya. Terimakasih sudah mengikuti dan memberi dukungan untuk cerita ini ya kak. Kalau kakak berkenan silahkan baca kisah dokter Naufal di karya yang berjudul Ajari Aku Percaya Cinta. Sudah Up 36 bab. Sekali lagi terimakasih banyak kak💕
total 1 replies
..dheenda..
nunggu updatenya semoga kehamilannya baik2 aja .
dan qistina dibawa kabur daddy aja deh🤭 gemes abisnya
_Nic: Sabar ya akak, mau update masih belum bisa. Karna PF lagi eror, belum bisa up Bab🥲
total 1 replies
Herman Lim
kapok u kan albie maka jgn pendam sdr ngomong
_Nic: kalang kabut kan dia, ya kak/Shy/
total 1 replies
neny
koma lama deh qistina,, biar albie kapookkk
neny: kan ada kak,,koma tp bayi nya masih hidup,,ya kka nya 4 bulan nan ajh,,biar kapok albie nya🤭
total 4 replies
neny
mah kan,,repot klau udh kyk gini,,,angel lah🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!